Akhir Sebuah Perang

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis : Donny Muhammad Ramdhan

 

Mosul, Irak, 2004

 

Aku melihat yang tak kau lihat

Ketika buta hati manusia

Ketika gelap merampas cahaya

raga jiwa sayang sang cinta

 

Apa yang engkau harap, Kawan?

Untuk melangkah tiada jalan

Untuk bermakna tiada alasan

Untuk memilih tiada pilihan

 

Hanya menunggu ajal merengkuh jiwa

Hanya menunggu doa mencapai nirwana

Walau yang kulihat hanya manusia

angkuh, khianat, dan membunuh manusia

 

Kata-kata itu ditulis Jen tanpa sengaja ketika ia tengah dalam proses menulis sepucuk surat. Memang pada awalnya, ketika ia menerima secarik kertas dan sepucuk amplop yang sengaja dibagikan, ia merasa yakin dan tahu apa yang akan ditulisnya, namun kemudian ia mengalami kesulitan untuk melanjutkan suratnya, karena untuk beberapa saat ia terdiam dan tanpa sepenuhnya sadar menulis kata-kata puitis itu dan meletakkannya persis di bawah kalimat,

 

Dengan Hormat, Sir,

Seiring saya ajukan surat ini kepada Anda, saya, Kopral Jennifer Morgana-Weaver, telah membulatkan hati untuk mengundurkan diri dari dinas ketentaraan dengan pertimbangan….

 

Dan dia tidak melanjutkannya. Alih-alih, ia malah menggubah sebuah puisi spontan yang diakui atau tidak, merupakan manifestasi dari apa yang dirasakannya.

Dan kemudian ia terdiam. Terdiam cukup lama sampai hari mulai gelap dan sayup-sayup terdengar suara adzan Magrib, dan lampu-lampu mulai dinyalakan.

Dan kemudian ada suatu saat ia menarik nafas panjang, seolah-olah memformat ulang isi benaknya, lalu melanjutkan suratnya.

 

Hai, Mom,

Apa kabar? Aku di sini baik-baik saja—yah, setidaknya secara fisik aku baik-baik saja, meski secara mental, patut dipertanyakan. Kamu bisa lihat sendiri, bukan? Dari apa yang kutulis sebelum memutuskan menulis surat untukmu ini, sedikit-banyak bisa memberitahumu betapa bingung, gelisah dan… takutnya aku. Dan aku tidak menemukan apa-apa untuk meredam perasaan-perasaan itu selain pengetahuan bahwa aku disayangimu, dan kepulanganku dinantikan olehmu. Mungkin inilah yang membuatku mempertimbangkan untuk mengundurkan diri. Tapi aku jadi semakin bingung ketika aku sadar kalau aku mengundurkan diri, lalu apa selanjutnya?Dinas Ketentaraan yang aku tahu selama ini! Dan akankah aku menyakiti perasaanmu jika memutuskan ini? Akankah aku menyakiti perasaanmu, Mom, karena berkhianat dari… Dad’s legacy untuk mengikuti jejaknya di Ketentaraan? Mungkin aku telah menyakiti perasaan-mu dengan mengungkapkan ini, yang mungkin membuatmu tak sudi menerimaku sebagai seorang pengecut.

Tapi keputusan itu masih dalam tahap pertimbangan. Aku belum memutuskannya. Mungkin belum patut dicemaskan. Terlebih lagi sejauh ini aku belum pernah menemui lingkungan yang hostile—puji Tuhan karenanya, dan aku berharap tidak pernah menemuinya. Meski, memang atmosfer hostile itu selalu ada, apalagi komandan battalion selalu mengingatkan kami untuk selalu waspada karena serangan bisa datang kapan saja, di mana saja.

Waspada….

Mom, akankah kewaspadaan yang kami pancang dalam jiwa kami sebagai prajurit, bahkan terus menerus diingatkan hingga membawa kami kepada kecenderungan menjadi paranoid, sanggup menutupi kenyataan bahwa hidup itu begitu rapuh? Tapi, mungkin sebagai prajurit tidaklah pantas aku mempertanyakan itu, tapi…ide tersebut selalu ada, bukan?Dan kadang ide tersebut membuatku kesal. Kesal dalam artian, jika memang hidup ini rapuh, dan diakui kerapuhannya oleh seluruh umat manusia, lalu kenapa kami ada di sini? Jawaban yang bisa kupegang saat ini hanyalah, “Kami hanya melaksanakan perintah.”

Jadi pada dasarnya, kami tidak memiliki pilihan, bukankah begitu, Mom? Tapi… entahlah….

Entahlah, Mom… aku sungguh tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan… selain berharap aku bisa pulang secepatnya.

Jadi, doakan putrimu ini, untuk pulang secepatnya… dengan selamat.

 

Dengan seluruh cintaku,

Putrimu,

Jen          

 

Jen akhiri suratnya. Ia lipat kertas tersebut dan memasukannya ke dalam amplop. Kemudian, ia termenung. Termenung akan suratnya itu, yang sebenarnya ada elemen kebohongan di dalamnya. Ia berbohong ketika ia menyatakan belum pernah menemui lingkungan yang “tidak ramah”. Sebenarnya ia pernah menempuh panasnya pertempuran, hanya beberapa jam sebelum menulis surat itu. Dan sepertinya pengalaman itu membuat Jen sedikit “terkejut”,  karena, jika tidak, surat itu tidak akan pernah ditulisnya, bukan?

Ketika itu pukul 13.00. Hanya patroli rutin di jalanan sempit kota Mosul, kota yang dikenal pula dengan sebutan Al Mawsil.

Patroli tersebut terdiri dari enam personel—termasuk Jen—dengan puncak rantai komando pada seorang sersan, berjalan menyusuri seruas jalan kecil yang diapit bangunan-bangunan tua. Jalan tersebut berakhir pada sebuah pertigaan dan persis menumbuk sebuah gedung bertingkat dua. Hujan rintik-rintik ketika itu, dan sepertinya hujan tersebut cukup mengganggu pandangan sehingga Jen sedikit terlambat menyadari ketika matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan dari atap gedung tersebut. Dan dia tidak bereaksi sampai terlihat sebentuk asap dan sesuatu meluncur ke arahnya… sebuah roket!

“RPG! Arah jam 12!” teriak Jen.

Dengan teriakkan Jen tersebut, seluruh personel berpencar mencari perlindungan di dinding-dinding bangunan yang menghimpit jalan sempit itu, dan hanya Jen yang berhasil mencapai mulut sebuah gang, yang menurutnya merupakan tempat yang leluasa untuk berlindung sekaligus membalas serangan. Hanya saja, sedikit diketahuinya kalau tindakannya itu malah membuatnya terpisah dari rekan-rekannya, karena, ketika roket meledak, Jen terlempar makin ke dalam gang… yang mungkin hal tersebut patut disyukurinya karena, dengan terlemparnya ia, ia terhindar dari reruntuhan bangunan yang menimpa mulut gang.

“Laporan status! Kalian baik-baik saja?!” Terdengar suara sang Sersan berteriak.

“A-OK, Sarge!” jawab seluruh personel, termasuk Jen.

Tapi, status “baik-baik saja” tersebut, sepertinya agak sulit dipertahankan karena kemudian terdengar oleh Jen rentetan tembakan. Rentetan tembakan yang gencar yang berasal dari gedung asal roket tadi, rentetan tembakan yang direspon seorang rekan Jen dengan teriakan, “Sialan! Aku tidak bisa membalas menembak, Sersan! Dinding ini tidak bisa bertahan lebih lama!”

“Sir!” teriak Jen, “Saya berada di gang. Saya bisa berjalan memutar ke sisi lain blok dan mengalihkan perhatian mereka!”

“Oke!” jawab si Sersan, lalu ia berkata pada seorang yang lain, “Hey, Weisburg! Kau bisa melewati reruntuhan itu untuk mem-back-up Jen?”

“Negatif! Terlalu terekspos!”

“Brengsek!”

“Aku bisa pergi sendiri, Sir!”

“Negatif! Kita bisa menghubungi markas untuk mengirim helikopter!”

“Tapi, memakan waktu lama, Sir!”

Sejenak tak ada tanggapan dari si Sersan.

“Dengan segala hormat, Sir!” teriak Jen, “Jangan remehkan saya karena saya perempuan!”

“Baiklah! Berhati-hatilah, Kopral!”

Maka Jen pun segera beranjak dan dengan laras senapan M16 teracung ke depan, ia berjalan cepat. Berusaha tetap waspada dan berusaha sesegera mungkin.

Pada dasarnya gang tersebut sepi; hanya beberapa orang yang berlarian di gang tersebut, terutama perempuan dan anak-anak yang berusaha menghindari daerah “panas”. Tapi, seorang saja yang ada di gang tersebut, cukup membuat Jen harus ekstra hati-hati; benaknya tidak boleh terlepas dari aturan kontak senjata : Jangan menembak bila tidak ditembak.

Untuk inilah aku dilatih, pikir Jen di setiap langkahnya. Aku bisa melakukannya. Aku bisa melakukannya. Aku bisa membuktikan aku bisa! Aku dilatih untuk ini!

Tapi, tentunya dalam sesi latihan, angkatan bersenjata tidak menggunakan manusia sebagai target latihan, karenanya ada perasaan terguncang ketika Jen mencapai perempatan gang dan berencana untuk belok, ia melihat seorang pria Irak yang dipersenjatai senapan AK-47. Pria itu baru keluar dari sebuah bangunan dan dia tampak terkejut melihat Jen, dan dalam keterkejutannya itu, ia meraih senapannya untuk menghabisi Jen, tapi tentunya ia kalah cepat, karena laras M16 Jen telah terarah kepadanya. Jen hanya merunduk sedikit untuk menahan tubuhnya dari sentakan senjata-nya sebelum melepaskan tembakan.

Jen terdiam sejenak, menyaksikan tubuh pria itu terkoyak logam 5.56 mm. Ia rasakan seolah-olah ada yang terengut dari batinnya seiring tubuh pria itu terkapar menyentuh jalan. Tapi ia segera mengumpulkan kekuatan batinnya dan segera beranjak meneruskan langkahnya. Kalau aku tidak menghabisinya, dia yang akan menghabisiku, bukan? Sepertinya pemikiran tersebut cukup membantunya.

Di akhir gang, Jen berlindung di dinding, dan dengan hati-hati ia mengintip gedung yang tadi memuntahkan roket. Tampak dari jendela dan atap gedung itu, bermunculan laras-laras senjata yang menghujani rekan-rekannya dengan peluru.

Hujan masih rintik-rintik ketika itu, dan karena itu pula ia tidak memutuskan untuk bertindak di mulut gang itu. Bisa saja dia menembakkan senapannya di sana, tapi hujan membuatnya ragu akan ketepatan tembakkannya. Tapi… bukankah dia ke sana hanya untuk mengalihkan perhatian para milisi itu? Tentunya akurasi tidak terlalu penting, bukan? Ataukah dia lupa? Atau… dia ingin memperkukuh pernyataannya kalau dia bisa, atau dengan kata lain; “pembuktian diri”?

Apapun alasannya, alih-alih bertindak di mulut gang itu, Jen berlari menyeberang jalan, memasuki sebuah bangunan yang bersebelahan dengan gedung para milisi itu, yang terpisah hanya oleh seruas jalan kecil. Kemudian ia mencari jalan untuk mencapai atap gedung. Dan memang dia berhasil mencapai atap itu dan memang merupakan tempat yang sangat leluasa untuk membalas serangan.

Pertama-tama ia berlindung di dinding tepi atap gedung, kemudian melempar granat ke gedung sasaran dan dilanjutkan dengan menembakkan senapannya. Dan apa yang dilakukannya itu memang berhasil menarik perhatian para milisi tersebut, dan membangun jendela kesempatan bagi rekan-rekannya untuk membalas serangan sekaligus menerobos dan mengamankan gedung tersebut. Hanya saja, setelah beberapa tembakkan ia lepaskan, setelah beberapa orang berhasil ia jatuhkan, ia baru tersadar, siapa yang ditembakinya. Dilihatnya anak-anak yang usianya tak lebih dari 15 tahun, bersenjatakan senapan dan pelontar roket.

Apa yang dilihatnya membuat mata Jen terbelalak. Seketika benaknya mengacu pada aturan kontak senjata, dan memang dia tidak bersalah karena ia tengah ditembaki, namun perasaannya telah mengajukan pertanyaan yang terlampau sulit untuk dijawab oleh aturan kontak senjata : apakah cukup manusiawi aku mengambil nyawa mereka yang masih belia? Dan pertanyaan itu membuat jari Jen kaku dan berhenti menembak. Dan seolah-olah merupakan jawaban bagi Jen atas pertanyaannya itu, sebutir peluru menghantam dadanya yang meski terlindung oleh kevlar, tetap saja terasa sakit hingga membuatnya kesulitan bernafas, dan daya dorong peluru tersebut membuat Jen terjengkang. Di saat itulah dunia serasa sunyi baginya, dan rasa bersalah seketika menghantui perasaannya.

Untuk sesaat ia terdiam seraya menahan rasa sakit, lalu ia kerahkan seluruh kekuatan lahir dan batinnya untuk merayap ke arah tangga dan meninggalkan atap itu. Namun, sebelum ia mencapai tangga tersebut, sebuah ledakan terdengar, dan sedikit diketahuinya kalau ledakan tersebut membuat sebagian gedung runtuh, dan membuat Jen ikut jatuh bersamanya.

Namun bagaimanapun, sepertinya Tuhan masih menginginkan Jen hidup. Ia tersadar, dan kemudian berusaha bangkit meski badannya terasa sakit, perih dan pegal. Ia temukan dirinya berada di atas reruntuhan yang menimpa gang di belakang gedung dan ia kehilangan senapannya. Ia raih pistol M9 Berreta di pinggangnya dan mulai berjalan dengan niat yang masuk akal; untuk kembali bersama rekan-rekannya.

Hujan terasa sedikit lebih lebat ketika itu, tidak lagi sekedar gerimis, namun tidak bisa juga dikatakan deras. Bagaimanapun, hujan tersebut membuat jarak pandang Jen terbatas. Jen berjalan dengan sangat hati-hati, dengan pistol tergenggam erat, dengan punggung agak merapat ke dinding. Di ujung gang yang merupakan belokan, Jen berhenti, untuk mengintip sebelum melanjutkan. Saat mengintip, ia melihat seorang perempuan berkerudung duduk bersimpuh di tengah gang, agak jauh dari tempatnya; duduk tanpa peduli gang yang basah, tanpa peduli akan hujan. Dilihatnya perempuan itu tengah mendekap seorang bocah laki-laki. Bocah yang seketika Jen melihatnya, Jen tahu kalau bocah itu telah mati. Lalu dilihatnya pula di tangan kanan perempuan itu terdapat sepucuk pistol. Pistol yang praktis menurut Jen merupakan ancaman. Ancaman yang cukup memberi alasan bagi Jen untuk mengarahkan pistolnya ke perempuan itu.

"Maaf, Nyonya," ucap Jen seraya melangkah mendekati perempuan itu. "Saya harap Anda mau menjatuhkan pistolnya dan meletakan kedua tangan Anda di kepala."

Si perempuan tidak merespon apa-apa. Ia tidak bergeming sama sekali.

"Jatuhkan pistol Anda, Nyonya!" ucap Jen lagi setengah berteriak.

"Tembak saja…" respon perempuan itu datar dan dingin, dengan bahasa Inggris yang fasih.

Jen terpekur seketika. Dilihatnya perempuan itu menoleh, menatap Jen dengan pandangan yang sarat kebencian.

"Tidakkah akan lebih mudah?" lanjut perempuan itu. "Atau akan lebih mudah jika seperti ini," Perempuan itu dengan cepat mengangkat pistolnya ke arah Jen.

Jen sempat terkejut, dan sempat pula terpikir untuk menarik picu, hanya saja seolah-olah ada sesuatu yang mencegahnya.

"Jangan paksa saya menembak Anda, Nyonya!" ucap Jen setegas mungkin.

"Tembak saja! Lalu kita lihat bagaimana Tuhan menyelamatkan saya!" bentak perempuan itu.

Maka, kedua perempuan itu saling mengacungkan senjata, mengancam satu sama lain, di bawah siraman hujan. Kemudian dua perempuan itu terdiam sejenak. Sejenak yang bagi Jen terasa sangat lama dan membuatnya lelah dan ragu. Dan keraguannya itu sepertinya tampak dari sorot mata Jen hingga membuat perempuan berkerudung itu menyeringai dan….

"Bang!" si perempuan berteriak keras hingga membuat Jen terkejut dan memaksa batinnya yang lelah, yang tak sanggup lagi menahan hasrat untuk segera mengakhiri semua ini. Maka tanpa sadar ia menarik picu.

Klik!

Entah kenapa dan bagaimana, pistol itu tidak meledak. Dan hal ini membuat Jen makin terkejut. Pistolnya tidak berfungsi! Pistol ini mestinya bekerja!

Sepertinya tidak hanya Jen yang terkejut, tapi perempuan itu pun tampaknya terkejut, hanya saja responnya agak berbeda. Keterkejutan perempuan itu mengubah seringai kebenciannya menjadi senyum. Ya, senyum. Senyum yang dilanjutkan dengan perkataan lembut, "Nah, Anda lihat bagaimana Tuhan menyelamatkan saya. Sekarang jika saya tarik picu ini, siapakah yang akan menyelamatkan Anda?"

Jen terpekur ketika itu. Terpekur yang diselubungi rasa takut yang dalam, yang sempat membuatnya berpikir hidupnya hanya beberapa saat lagi, yang membuat tangannya gemetar hingga tak sanggup menggenggam pistolnya lagi. Pistolnya pun terjatuh.

Seolah pasrah akan nasibnya, Jen memejamkan mata.

"Tenanglah, Nak. Aku tidak akan membunuhmu. Pistol ini kosong," ucap perempuan itu lembut dan sungguh membuat Jen terpekur dan membuka matanya kembali.

Dilihatnya perempuan itu masih mengacungkan pistol ke arahnya namun sorot matanya tidak lagi penuh kebencian, malah sebaliknya.

"Atau kamu ingin aku mecobanya?" lanjut perempuan itu, masih tersenyum.

"Kamu tahu, kita ini perempuan, kan? Penyedia kehidupan—provider of life….  Praktis tak ada satu pun manusia selain Adam dan Hawa yang datang ke bumi ini tanpa melalui lubang kecil kita yang sering dianggap hina…. Lalu… yang kulihat hanya manusia… yang angkuh, khianat, dan membunuh manusia…" lanjut perempuan itu lagi, masih dengan nada suara yang datar, meski tampak matanya mulai berkaca-kaca, dan kemudian ia menangis… menangis membiarkan air matanya membaur dengan air hujan.

Dengan melihatnya menangis, dengan mendengar apa yang dikatakan perempuan itu, Jen merasa terguncang dan merasa tak berdaya. Dan ia pun ikut menangis.

"Tapi aku percaya," ucap perempuan itu lagi. "Aku percaya akan ada suatu saat nanti, ketika setiap sakit hati 'kan terbalaskan dengan sangat adil—"

Tiba-tiba, bagai halilintar meledak di atas sana, terdengarlah suara tembakan. Suara tembakan yang mengiringi melesatnya sebutir peluru dan kemudian menembus tubuh perempuan itu.

Jen terkejut seketika. Matanya terbelalak. Melihat dengan jelas bagaimana darah menyembur dari lubang peluru itu. Melihat dengan jelas tubuh perempuan itu terpuruk. Melihat dengan jelas sorot mata perempuan itu memudar dari cahaya hidup.

"Kau baik-baik saja, Kopral?" Terdengar oleh Jen suara si Sersan.

"Pistolnya kosong, Sir…" ucap Jen dalam keadaan terguncang.

"Kau seharusnya memeriksanya sebelum berangkat, kau tahu itu."

Kemudian Jen merunduk untuk meraih pistol dari tangan mayat perempuan itu. Lalu ia buka magazine pistol itu dan memang pistol itu kosong, tak ada satu pun peluru di dalamnya.

"Maksud saya pistol perempuan ini, Sir," ucap Jen.

"Tapi dia mengancammu, kan?"

"Tapi pistolnya kosong, Sir!"

"Aku tidak tahu soal itu, Kopral! Yang kutahu dia acungkan pistol terkutuk itu ke arahmu!"

"Tapi pistolnya kosong, Sir!"

"Hentikan, Kopral! Jangan terlalu sentimentil!"

"Tapi—"

"Ini perang, Nona! Perang! Apa yang kau harap dari perang?!"

Perang….

Ya… ini perang….

Perang yang seiring Jen menatap suratnya dan menyegelnya dengan kecupan panjang, tidak diketahuinya kapan akan berakhir.

Atau mungkin tidak akan pernah….

George Orwell pernah menulis, “Perang bukanlah untuk dimenangkan, tapi untuk diteruskan.” Atau mungkin kata-kata Plato ini lebih tepat,

 

“Hanya mayat yang bisa melihat,

 akhir sebuah perang.”

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...