Aku, Bara, dan Misteri Bunuh-Membunuh

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Nayla Dyayu

 


Aku sudah kehabisan ide. Misteri kematian Piter memang tidak terpecahkan. Tak ada pesan kematian. Tak ada jejak mencurigakan. Tak ada saksi mata. Tak ada apa dan siapa. Hanya Piter yang tergeletak tak berdaya di samping kolam taman kota hari itu. Taman yang selalu ramai bahkan hingga tengah malam karena letaknya yang strategis dan berada di tepian jalan raya yang selalu ramai lalu lintas. Namun, tak ada yang melihat saat peristiwa kematian Piter berlangsung. Pagi hari Piter ditemukan tak bernyawa, dan jelas itu bukan kasus bunuh diri.

“Bagaimana menurutmu, apa ini pernah terjadi di kasus-kasus sebelumnya?” tanyaku pada Bara, sang pemeran tokoh utama dalam cerita detektifku.

“Tidak pernah. Kasus pembunuhan dalam ruang tertutup bisa kita pecahkan, begitupun kasus-kasus lain yang tampak mustahil. Hanya saja kali ini kau memilih tempat yang salah. Taman kota itu… ah kau tahu lah, membunuh di tempat seramai itu akan sulit menemukan trik si pelaku,” ucap Bara pesimis. Aku menghela nafas panjang. Kali ini aku benar-benar melakukan kesalahan besar.

“Benar-benar aneh. Bagaimana mungkin seorang penulis cerita detektif mengungkapkan kasus pembunuhan, tanpa mengetahui trik dari si pelaku pembunuhan karangannya sendiri?” Bara bertanya sinis. Tatapannya penuh sindiran. Sesaat aku menyesal membuat karakter tokoh Bara sebagai seorang pria ambisius yang sedikit angkuh dan suka menyalahkan.

“Aku didesak deadline. Saat itu aku hanya berpikir untuk membuat kasus yang trik-nya benar-benar tidak bisa ditebak pembaca,” sahutku sedikit membela diri.

“Dan sekarang kau harus melanjutkan cerita detektif bersambungmu itu yang deadline-nya semakin dekat. Kau tentu tidak ingin redaktur majalah yang membesarkan nama kita kecewa, pun image kita hancur di depan pembaca.” Perkataan Bara tidak pernah menenangkan, selalu membuatku tertekan. Setiap kasus yang aku pecahkan selalu berada pada penekanan bahwa aku harus memecahkan misteri demi misteri yang menaikkan nama Bara. Bara sudah sangat terkenal. Detektif ternama yang sepertinya telah banyak diperbincangkan. Semenjak Bara dimunculkan sosoknya dalam wujud kartun, Bara telah menghiasi banyak produk, mulai dari sebagai tokoh dalam game, gambar pada merk sepatu, tas maupun pakaian, terakhir ceritanya mendapat tawaran untuk difilmkan. Dan Bara sekali-kali tidak pernah mau kalau reputasinya hancur.

“Kalau begitu kali ini engkaulah yang harus memecahkan misteri itu. Aku yang menciptakan karaktermu, tetapi aku tidak lebih terkenal darimu. Sekarang berusahalah, sebelum orang-orang tidak menghargaimu lagi sebagai seorang detektif.” Aku tersenyum sinis. Kali ini aku yang akan membuat Bara tertekan. Ambisinya untuk selalu terkenal kini di ujung jurang kehancuran.

“Ingat, karirmu sebagai penulis juga bisa jatuh!” Bara berkata dengan nada ancaman.

“Aku tak peduli lagi dengan karirku. Memangnya siapa selama ini yang lebih disorot? Bukan aku! Siapa yang wajahnya menghiasi tokoh dalam game, yang menghiasi berbagai produk? Aku bukan apa-apa! Jadi aku tidak takut jika harus merusak karirku!” sahutku dengan sengit. Bara tak mampu lagi berkata-kata. Gurat wajahnya mulai menunjukkan ketidakberdayaan. Namun, Bara yang ambisius segera menunjukkan kepercayaan diri, sesaat setelah ia memaksa otaknya berpikir.

“Aku tahu sesuatu. Kita bisa memecahkan misteri ini. Tentunya dengan bertanya kepada orang yang lebih hebat darimu, yang kemampuan analisisnya tak sebanding denganmu yang amatiran.” Kata-kata Bara sedikir menyinggung perasaanku, tapi aku juga tertarik melihat apa yang akan diperbuatnya. Biasanya Bara tak pernah sekali pun terlibat secara langsung memberikan ide untuk memecahkan kasus.

Bara keluar dari naskahku. Sosoknya yang tergambar sebagai lelaki berusia 20 tahun yang cerdas, muncul dalam wujud kartun jepang. Ketampanannya sempat membuatku terpana. Kartunis yang menggambarkan sosok Bara memang berasal dari Jepang, sehingga Bara dilukiskan dalam bentuk kartun Jepang yang mempesona. Walaupun sebenarnya aku berpikir nama Bara tidak cocok dilukiskan seperti itu, kecuali ia menyandang nama ala Jepang juga. Namun, redaktur majalah tempat terbit cerita detektif Bara sendiri yang memintanya agar Bara dilukiskan seperti itu.

“Aku harus pergi. Kau tahu, kurasa berkunjung ke Baker Street 22IB adalah solusi yang tepat untuk permasalahan kita,” ucap Bara yakin. Aku teringat, lokasi itu adalah tempat rumah sewaan Sherlock Holmes berada. Apakah Bara akan menceritakan kasus ini pada salah satu detektif idolaku itu?

“Bagaimana cara kau menemuinya?” tanyaku singkat.

“Tentu saja aku akan menembus dimensi dunia fiksi. Aku akan masuk ke dalam novel Detektif Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle itu. Di mana kau menaruh novel-novel yang kau punya itu?” Aku sedikit tercekat. Bisakah seperti itu? Menembus dunia fiksi?

Bara benar-benar melakukannya. Ia memasuki novel Sherlock Holmes koleksiku. Ia pergi menembus helaian kertas novel itu. Aku menunggunya dengan penasaran. Aku yakin kemampuan analisis Holmes yang hebat dapat memecahkan misteri kematian di taman kota itu.

Seperempat jam berlalu. Tak kusangka Bara kembali dengan wajah putus asa. Aku menerka-nerka, mungkin seseorang yang ahli pikir seperti Holmes juga tidak mampu menebak trik dari si pelaku pembunuhan.

“Aku sudah ke Baker Street 22IB dan Sherlock Holmes tidak ada di sana. Kurasa ia sedang meninjau lokasi tempat terjadinya kasus. Lagipula kalaupun dia ada di sana, ia akan terkejut, sama terkejutnya dengan wanita pemilik rumah sewaan itu. Aku tidak cocok masuk ke dunia itu karena aku tampil sebagai sosok kartun Jepang. Sulit kalau aku harus berpura-pura menjadi klien Sherlock Holmes,” tutur Bara menjelaskan. Aku paham dan langsung mendapatkan ide.

“Kalau begitu dunia yang cocok denganmu adalah komik Jepang. Ayo, masuklah ke dalam komik Detektif Conan koleksiku. Berpura-puralah menjadi klien dan meminta pendapat Shinichi Kudo. Masuklah ke seri komik yang pertama saat Shinichi belum mengecil menjadi Conan.” Aku memberikan solusi yang kurasa sangat jitu.

“Apa? Shinichi Kudo, detektif SMU yang sombong itu? Aku tidak mau menemuinya. Aku ini seorang mahasiswa cerdas, detektif hebat. Aku tidak mungkin bertanya kepada anak ingusan itu.”

“Lalu, kau punya solusi lain? Saat ini tidak ada jalan lain, kalian sama-sama tokoh yang digambarkan dalam bentuk kartun Jepang. Tidak ada masalah bagimu untuk muncul di dunia serial anime Detektif Conan itu. Ayo, pergilah!” Aku meminta Bara dengan sedikit memaksa. Tak ada pilihan lain, Bara pun menembus helaian kertas dan menyusup ke komik itu. Aku menunggunya dengan tidak sabaran.

Bara kembali setelah satu jam berlalu. Kurasa waktu itu cukup bagi Shinichi untuk mengungkapkan kenyataan kasus dan membongkar trik si pelaku. Namun, setelah aku amati ternyata Bara kembali dengan raut wajah yang sama dengan sebelumnya.

“Itu kasus yang mustahil. Korban ditemukan tewas dengan banyak luka goresan pisau di sekujur tubuhnya, sebelum akhirnya pisau itu ditancapkan tepat di jantungnya. Sekitar tanah tempat korban ditemukan juga penuh goresan pisau, pun batang pohon mahoni tua di sana juga tergores-gores pisau. Di ranting paling atas pohon yang daunnya sudah rontok semua itu tergantung tas korban. Waktu kematian korban diperkirakan jam satu dini hari, sementara kita tahu malam itu taman kota ramai dikunjungi karena pergantian tahun dan ada pesta kembang api hingga dini hari. Shinichi tidak mampu memecahkan kasus ini, terlalu mustahil dan mengada-ngada, katanya.” Bara menjelaskan panjang lebar. Aku menelan ludah. Mungkin aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar karena membuat kasus yang rumit ini. Goresan pisau di tanah dan di batang pohon itu tidak dapat dijelaskan. Untuk menggantung tas di ranting tertinggi itu,seseorang juga harus memanjat.  Kenapa ada goresan, kenapa tas digantung, dan kenapa tak ada yang melihat kejadian di saat yang ramai itu benar-benar membuat kasus ini begitu aneh. Tak ada jejak dan sidik jari tertinggal juga membuatnya semakin mustahil.

“Lalu kita harus bagaimana? Tak ada harapan lagi. Kita telah hancur. Cerbung itu tidak dapat dilanjutkan,” ucapku pasrah. Mendengar itu Bara spontan mendorongku ke belakang, membuat punggungku menabrak dinding dengan cukup keras. Aku meringis menahan sakit.

“Kenapa kau begitu ceroboh? Seharusnya kau bisa berhati-hati menciptakan kasus. Kau tahu aku tidak ingin reputasiku hancur. Aku tetap ingin dikenang sebagai detektif asli Indonesia yang hebat dan tak pernah gagal!” Bara mulai membentakku. Matanya menyala-nyala menunjukkan emosi yang begitu sulit tertahankan. Aku mulai ketakutan akan tingkahnya.

“Kenapa kau bersikap kasar? Bagaimanapun aku perempuan yang lebih lemah darimu. Aku yang membentuk tokohmu dan membuatmu terkenal.”

“Ya, tetapi aku lebih baik tidak usah kau ciptakan daripada aku harus berakhir dalam kegagalan seperti ini.” Bara masih menatapku berang. Sesaat kemudian ia tersenyum sadis dengan mata yang berbinar-binar.

“Aku tahu solusi dari semua ini. Yes, aku tahu!” Bara terlonjak senang, masih dengan senyum sadisnya.

“Jika kau mati, maka cerita itu tidak dapat dilanjutkan. Orang-orang pun tidak akan peduli lagi dengan pemecahan kasus itu. Dan aku akan tetap dikenang sebagai tokoh cerita yang hebat. Reputasiku tidak hancur, dan mungkin saja aku akan diceritakan oleh penulis lain yang lebih berbakat. Jadi, matilah!” Bara mulai mencekikku. Aku tidak menyangka ia berniat membunuhku.

“Hentikan! Bagaimana mungkin seorang detektif ternama sepertimu ingin membunuh seorang perempuan? Aku punya solusi lain, jadi hentikan!” Aku hampir kehabisan napas saat Bara melepaskan tangannya dari leherku. Aku terbatuk-batuk mendapati daerah sekitar leherku yang sakit. Nafsu membunuh Bara benar-benar menakutkan.

“Kembalilah ke naskah. Aku akan menyelesaikan cerita itu. Percayalah!”

“Baiklah, kuberi waktu tiga jam. Jika tidak ada perkembangan, maka aku akan membunuhmu,” ancam Bara. Aku mengangguk kecil.

Aku pun mulai mengetik bait demi bait ceritaku. Ide itu mengalir deras dan menghasilkan kalimat-kalimat yang mengantarkan aku pada solusi kasus ini. Aku harus segera mengakhirinya sebelum Bara membunuhku. Kali ini dengan emosi yang kuat aku membuat alur cerita. Sesekali aku mendengar Bara protes dengan alur yang kubuat, tapi aku tak mempedulikannya. Aku terus meneruskan cerita. Suara protes Bara yang terakhir sempat meninggi kudengar, perlahan surut dan menghilang. Akhirnya aku menuliskan tanda baca terakhir dalam ceritaku itu. Titik.

***

Kurasa inilah dunia yang kejam. Orang sudah terbiasa saling menyakiti, bunuh-membunuh, tak peduli seberapa dekat hubungannya. Bara sudah menemaniku berkarir selama ini. Sebelum ia sempat membunuhku, aku membunuhnya. Tokoh Bara tidak ada lagi. Aku membuat alur cerita di mana Bara meninggal karena kecelakaan. Sesaat aku menyesal karena menuliskan kematian Bara yang membuatnya menghilang untuk selamanya, padahal aku bisa membuatnya jatuh sakit saja dan tidak bisa berkegiatan memecahkan kasus untuk sesaat. Tetapi, mengingat Bara pernah berniat membunuhku, membuat nafsu membunuhku muncul juga. Setelahnya, misteri kematian di taman kota tak lagi dipecahkan, karena detektif yang baru hadir memecahkan misteri kematian Bara yang misterius. Tokoh detektif yang kuciptakan kali ini lebih santun, tidak seperti Bara yang pembangkang.

Namun, tidak semua berjalan baik sesuai dugaanku. Pembaca kecewa Bara pergi untuk selamanya. Karyaku tidak diterima lagi. Aku dianggap gagal mengakhiri cerita itu. Karirku sebagai penulis cerita detektif mulai diragukan. Aku mulai berada di ambang kehancuran. Begitulah. Harusnya aku tidak perlu membalas perbuatan Bara dengan kejahatan pula. Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan memang tidak akan membekas baik. Bara telah lama menemani masa emasku dan aku membuat semuanya hilang. Hancur. Sia-sia.

Selesai.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...