Aku dan Prinsipku

Aku kaget waktu Devi dengan enteng mengatakan bahwa pria yang bersamanya siang itu di kafe sudah beristri.

“Gila kamu Dev. Suami orang kok dijadikan kekasih. Memangnya tidak ada pria lain apa?“ tanyaku.

“Memangnya kenapa? Kalau dia cinta aku dan aku cinta dia, apakah tidak boleh?“  tanyanya ringan.

“Ya, janganlah! Kasihan istrinya tahu!“ jawabku melengos.

“Aku kan manusia biasa, dia juga manusia biasa. Kalau istrinya sudah tidak bisa menyenangkan hatinya lagi, apa tidak boleh kalau kemudian kami saling jatuh cinta dan kemudian menjadi sepasang kekasih?“ tanyanya sambil tertawa.

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Meskipun aku tidak setuju dengan pendapatnya itu, tapi aku tidak berani mengkritiknya lebih jauh. Aku baru mengenalnya beberapa bulan, tidak pantas saja rasanya tiba-tiba mengkritik atau menasehatinya. Apalagi itu adalah masalah pribadi.

Aku sudah sering dengar cerita-cerita tentang istri atau suami yang berselingkuh. Menurut berita-berita yang kubaca bahkan sudah seperti trend di sini. Setelah beberapa bulan di Jakarta, di tempatku bekerja, kenyataan itu aku saksikan sendiri. Aku benar-benar miris! Seolah orang-orang sudah tak takut dosa lagi. Pacaran, selingkuh bahkan berzina adalah hal yang biasa saja. Apakah ini petanda kiamat sudah dekat? Ah, entahlah!

“Hey, melamun saja Non?“ Rina tiba-tiba sudah disampingku.

“Hmmm... aku memang lagi melamun. Saya tak habis pikir, bagaimana kok orang mau-maunya menjadi kekasih lelaki beristri.“ Aku masih menerawang, masih asyik dengan pikiran sendiri.

“Menjadi teman selingkuhan maksudmu?“

“Ya apalah namanya, selingkuhan kek, teman tapi mesra kek! Kok mau-maunya sih! Ya, tidak usahlah pikir dosa. Tapi pikir jika tindakan dia itu sangat mungkin menyakiti orang lain. Iya gak? Kan kasihan dengan istri atau suami lawan selingkuhannya itu.“ Aku benar-benar sewot kali ini.
“Iya sih. Aku juga tidak setuju. Alasannya sih karena cinta. Tapi ngomong-ngomong kamu sewot begini memangnya kenapa?“

“Ya, aku tidak bisa terima saja. Apa pun alasannya, merusak keutuhan rumah tangga orang lain bagiku adalah tindakan amoral. Apalagi melibatkan wanita dan anak-anak dalam hal ini sebagai objek penderita. Aduh... dimana hatinya, kok tega menyakiti sesama wanita.“

“Jika yang berselingkuh itu pihak istri, bagaimana menurutmu?“ pancing Rina nakal.

“Wah kalau itu sudah benar-benar gila namanya. Mau jadi apa bangsa ini jika kaum wanitanya rusak begitu. Bayangkan anak-anak yang akan lahir dari wanita seperti itu? Rusak! Benar-benar rusak jadinya!“ jawabku berapi-api.

“Sudahlah Non, tidak usah dipikirkan.Yang jelas tugas dakwah kita semakin berat. Oh ya, proposal ke Raza Farma itu sudah kamu siapkan belum? Date line-nya sudah dekat kan?“ Rina pun segera berlalu ke mejanya.

“Aku menghela napas panjang lantas kembali beralih ke tumpukan jurnal-jurnal di meja kerjaku. Benar kata Rina, buat apa juga memikirkan hal itu. Ah, sudahlah! Tugas yang harus aku siapkan masih banyak.

“Sebelum meninggalkan kantor, Rina mengingatkan aku tentang jadwal diskusi islam bulanan sabtu ini. Kami janjian akan datang. Beberapa teman SMA yang sama-sama aktif di Rohis dulu juga akan datang. Sekalian reunian. Sudah lama juga tidak berjumpa dengan teman-teman lama. Terutama semenjak kepergianku melanjutkan studi ke Jerman.

***

Acara diskusi siang itu berjalan lancar meskipun ramai ditambah riuhnya suasana dengan kehadiran beberapa anak yang ikut hadir bersama orang tua mereka. Aku cukup senang, terutama karena bertemu dengan teman-teman lama.

Ada Ira yang sudah punya satu momongan. Hasna yang juga masih membujang seperti diriku. Ani yang baru menikah juga datang. Riri yang sudah lama menikah namun belum mendapat buah hati juga hadir bersama suaminya.

Dulu kami satu geng. Geng jilbaber yang terkenal pintar-pintar tapi bawel. Teman-teman seangkatan kami dulu cukup segan dengan geng kami. Geng pembela keadilan dan menolak segala ketidakbenaran. Pokoknya siapa yang melakukan kesalahan atau ‚dosa’ bakal kita ceramahin. Masa-masa SMA yang penuh warna. Selalu ada kerinduan untuk kembali ke zaman itu.

Selesai acara, kami belum beranjak juga dari tempat kami. Justru acara bebas ini kesempatan kami untuk mengobrol lebih banyak.

“Gimana kabar orang Jerman ini?“ tanya Riri yang berinsut mendekati tempatku duduk.

“Iya nih, kirain sudah jadi orang Jerman.“ Sambung Hasna.

“Apaan sih? Enggak lah. Tidak ada yang ikhwan soalnya.“ Jawabku seadanya. Diikuti tawa oleh yang lain.

“Itu gampang saja. Kalau sudah nikah, kamu ajarin dia menjadi seorang ikhwan.“ Rina ikut nimbrung. Tawa yang lain semakin ramai.

“Bisa saja kamu. Mana ada yang mau sama aku. Mau dekat-dekat saja mereka tidak berani. Tampang angker begini.“

“Tampang kamu kayak teroris kali.“ Langsung disambut tawa lagi.

“Lah, ngomong-ngomong, kamu sendiri kenapa belum menikah?“ tanyaku ke arah Hasna. Sengaja kualihkan pembicaraan. Aku cukup jengah jika ditanya soal satu ini.

“Soalnya ikhwan idaman hatinya belum datang.“

“Memangnya idaman hatinya kemana?“

“Bisa saja kamu Ir. Idaman hati yang mana?“ kata Hasna merah padam.

“Itu-tu yang lagi menimba ilmu di Kairo.“ Kata Ira sambil memonyongkan mulutnya dan melirik nakal ke arah Hasna.

“Oh itu tokh...“ hampir serempak kami menyahut.

“Apaan? Haram-haram. Mana ada idaman-idaman segala. Aku belum ketemu jodoh saja.“ Balas Hasna. Tawa kami semakin lepas. Hasna berhasil dikerjain. Kami tak kuat menahan tawa. Riri sampai beberapa kali menghapus ujung matanya dengan tissu. Dia ketawa sampai air matanya ikut keluar.

Riri menjejeri langkahku saat tinggal kami berdua. Aku bermaksud menuju ke halte bus setelah mengucapkan salam kepadanya.

“Ana, ada yang pengen aku obrolin denganmu. Kapan kamu ada waktu?“ Ujarnya begitu dia berada di dekatku.

Riri adalah sahabatku paling dekat diantara yang lainnya. Tidak ada rahasia diantara kami. Meskipun kami sekelas, tapi usianya lebih muda setahun dariku. Tingkahnya yang kadang kolokan membuatku bertambah sayang kepadanya. Jika dia mendapat kesulitan atau ada ganjalan di hati, maka akulah yang pertama dicarinya. Diantara kami dia yang paling dulu menikah. Seorang ikhwan melamarnya ketika Riri semester akhir dibangku  kuliah.

“Ada apa Ri? Hmmm..., sekarang juga boleh.“ Kataku sambil melihat ke sekeliling. Sudah sepi dan matahari sangat terik. Mau pulang juga masih panas.

“Tapi aku tidak bisa sekarang. Suamiku menungguku.“ Katanya sambil menengok ke arah tempat parkir motor di bawah pohon. Suaminya sedang berbincang dengan seorang kawan ikhwan yang lain.

“Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau besok sore? Insya Allah saya ada waktu. Kita ketemu di mana?“

“Bagus banget kalau begitu. Kebetulan besok suamiku ada acara. Bagaimana kalau saya ke rumahmu saja?“

“Oke-oke“ kataku semangat.

“Terima kasih Ana, sampai jumpa besok ya, assalamu ‚alaykum.“

“Wa’alaykumussalam...“

***

Aku hampir tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. Apa? Riri meminangku barusan untuk suaminya? Mana  mungkin?

“Gila apa kamu Ri?! Mana mungkin? Kamu pasti sudah gila!“ gusar aku memandang wajahnya yang kelihatan senduh. Riri pun jadi kikuk.

“Aku... aku sudah pikirkan masak-masak Ri. Tidak ada jalan lain. Aku tidak mau masalah anak ini menjadi pikiran kami terus. Saya harap dengan menikah lagi Mas Irwan bisa dapat keturunan. Dan aku, aku akan lebih tenang jika wanita lain itu adalah kamu.“

“Tapi... tapi itu sungguh gila Ri! Tidak mungkin tidak ada jalan lain. Apa kamu yakin, kamu tidak akan dapat keturunan?“

“Tujuh tahun Ri, sudah tujuh tahun kami menunggu. Tapi hasilnya...“ Riri tidak dapat menguasai diri lagi. Air matanya menderas. Kuraih dia dalam pelukanku. Aku pun tidak tahan melihatnya. Air mataku ikut jatuh.

“Tidak Ri! Maafkan aku. Aku rasa, itu bukan penyelesaian yang tepat buat masalahmu.“

“Apa yang harus aku lakukan Na? Aku tidak punya cara lain. Jika Mas Irwan harus kawin lagi, aku harap hanya denganmu. Tolonglah, aku mohon.“ Isaknya menghiba.

“Nggak akan Ri! Nggak akan! Apapun, itu akan melukai hatimu.“

“Saya ikhlas Na. Atau setidaknya, aku akan belajar...“

“Nonsense! Jangan mengambil keputusan yang terburu-buru. Coba pikirkan cara lain. Kenapa juga harus ada keturunan. Apa itu mesti? Apakah suamimu menuntut adanya keturunan? Apakah mertuamu menekan kalian?“ Seruku berapi-api. Jika betul ada yang menuntutnya atau menekannya, sungguh keterlaluan!

Riri menggeleng lemah, „Tidak ada yang menuntut apalagi menekan. Suami dan keluarga kami sama-sama mengerti. Ini bukan kehendak kami. Tapi saya merasa bersalah. Sebagai istri, saya merasa tidak lengkap jika tidak mampu memberikan keturunan.“

“Riri, itu bukan kesalahan kamu. Soal anak itu adalah urusan Allah. Sabar saja, apalagi kamu dan suamimu tidak mengalami kelainan apa-apa kan?“ Emosiku mulai menguap. Aku justru bertambah iba kepadanya.

“Sudahlah. Masalah itu jangan dipikirkan lagi. Berdoa lagi, semoga Allah mau membukakan pintu rezkinya untuk kalian.“

“Tapi bagaimana jika gagal lagi?  Bagaimana jika kami sampai tua tidak mendapat keturunan?“

“Jangan pesimis dulu Ri, kamu masih muda. Masih ada banyak kesempatan.“ Bujukku.

Sore itu akhirnya kami lalui dengan suasana yang agak sendu. Riri banyak diam dan termenung. Aku mencoba mencairkan suasana, tapi selalu gagal. Nampak sekali Riri tertekan dengan perasaannya sendiri. „Maafkan aku sobat. Permintaanmu tak mungkin kukabulkan kali ini.“ Ucapku membatin.

Menjadi istri kedua? Hal yang sangat tidak mungkin aku lakoni. Apapun alasannya. Aku memilih untuk tidak kawin selamanya jika harus menjadi istri kedua. Itu sudah menjadi prinsipku!

Entah sejak kapan, aku membenci wanita-wanita yang menjadi istri kedua apalagi sampai merebut suami orang. Entahlah! Perasaanku mengatakan bahwa tindakan wanita seperti itu akan menyakitkan pihak lainnya, yang tragisnya adalah sesama wanita. Meskipun katanya ikhlas, aku tetap curiga, siapa yang tahu hatinya mungkin saja terluka. Ah, menjadi istri kedua terlalu riskan bagiku.

Bagaimanapun permintaan Riri hari itu tetap mengganggu pikiranku. Aku tetap tidak rela jika suaminya kawin lagi. Aku tidak bisa membayangkan perasaan Riri jika ini terjadi. Mungkinkah suami Riri tetap akan menikah, meskipun tidak denganku? Ah, aku berharap tidak! Kenapa tidak ada cara lain? Apakah begini seharusnya? Jika tidak ada anak maka jalan keluarnya harus beristri lagi? Apakah menikah hanya untuk punya anak?

Lantas bagaimana dengan anak-anak malang yang tidak punya orang tua? Kemana mereka harus mencari pengganti orang tuanya? Ah, sungguh tidak adil. Bukankah di dunia ini Allah ciptakan berpasang-pasangan? Ada pemuda dan ada pemudi, ada janda dan ada duda, begitu juga dengan anak-anak yatim piatu dan pasutri yang tidak dikarunia anak.

Rina terkekeh mendengar penjelasanku, „Itu teorinya Non. Tapi mereka tidak selalu berjodoh kan? Ada pemudi, tapi jodohnya bukan pemuda. Ada juga janda tapi berjodoh dengan pemuda. Itu semua urusan yang di atas Non. Ngapain juga dipusingkan.“

“Ya, iya sih. Tapi kalau alasannya buat punya anak, tidak harus kawin lagi kan? Kenapa tidak angkat anak saja misalnya?“

“Mungkin harus darah daging sediri? Tapi kamu sudah usulin tidak ke Riri?“

“Belum sih, coba aku usulin saja ya.“

“Sebaiknya begitu Na. Mudah-mudahan jalan ini bisa memecahkan masalah Riri.“

“Tapi ngomong-ngomong, kamu sendiri belum menikah bukan karena benci pernikahan bukan?“ tanya Rina, mukanya nampak serius kali ini. Dia menatap tepat ke mataku.

Aku tersentak, sejenak perasaanku galau. Aku mengalihkan pandang ke luar jendela, apakah aku membenci pernikahan? Pertanyaan itu bergema di hatiku. Sejenak aku bimbang. Menurut Mama, aku terlalu berlebih-lebihan soal kriteria cowok yang kuinginkan sebagai suami. Kesan Mama, aku seperti menghindari cowok, atau tepatnya pernikahan setelah berkali-kali Mama batal memperkenalkan aku dengan cowok pilihannya.

“Hey, kok malah melamun?“ tepukan halus Rina di pundakku membuyarkan lamunanku.

“Entahlah Rin. Aku tidak benci menikah. Aku cuma  hati-hati saja, perasaan ngeri sih memang ada. Takut salah. Aku berharap menikah sekali dan bahagia selamanya.“

***

Sudah hampir setahun aku di Jakarta. Menjadi dosen paruh waktu di beberapa universitas swasta sekaligus sebagai peneliti di pusat kajian obat. Selama itu aku tidak pernah serius memikirkan soal menikah. Tapi pertanyaan Rina tadi di kantor benar-benar mengusik hatiku. Yang jelas aku bukan tidak ingin menikah. Aku akui bahwa menikah itu adalah sunnah Nabi. Hanya saja, memang waktunya belum tiba.

Mama duduk di kursi meja makan tepat di hadapanku. Menatapku agak serius, meneliti wajahku. Aku menyipitkan mata, melihat reaksi Mama yang seperti itu. Apa maksudnya Mama menelitiku sampai begitu sekali?

“Sadar atau tidak, usiamu sudah semakin bertambah. Sudah kepala tiga Na! Kapan kamu akan mengakhiri masa lajangmu?“ ujar Mama lembut. Jika bukan Mama, ingin rasanya aku memarahinya. Bagiku, tidak ada batasan usia kapan seseorang harus menikah. Waktu itu bisa kapan saja. Jika sudah bertemu yang cocok tak peduli umurnya masih muda atau sudah tua sekalipun. Tidak perlu dipaksa-paksa, apalagi dengan alasan sebutan perawan tua.

“Entahlah Ma. Ana belum kepikiran ke sana.“ Jawabku malas-malasan.

“Belum kepikiran bagaimana Na? Ya harus dipikirkan dong Na. Ini menyangkut masa depanmu. Dulu kamu selalu menolak calon yang Mama tawarkan. Waktu itu, Mama tidak memaksamu memandangkan kamu juga masih sibuk kuliah. Sekarang kamu tunggu apa lagi? Doktor sudah, kerjapun sudah. Jadi tunggu apa lagi?“

“Hmm... Entahlah Ma. Ana rasa semua itu akan datang pada waktu yang tepat. Mungkin selama ini memang belum waktunya.“

“Iya, tapi kapan?“

“Entahlah!“ jawabku menerawang. Jawabanku ini membuat Mama enggan melanjutkan perbincangan selanjutnya. Dia kelihatannya mengerti perasaanku ketika ini. Aku tidak ingin memperpanjang pembicaraan. Mungkin karena aku memang tidak punya jawaban untuk itu. Ah, biarkan saja!

Mungkinkah masa itu akan tiba? Aku tidak punya jaminan. Tiba-tiba aku merasa gamang. Apa yang aku cari sebenarnya? Hidup yang kujalani selama ini mengalir tanpa riak yang berarti. Hanya rutinitas yang berputar dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Aku tidak punya teman yang banyak. Hanya berkisar teman dari masa lalu dan teman disekitar semasa sekolah dan kini bekerja. Tidak pernah lebih. Apalagi sampai punya pacar.

Bagaimana gerangan aku bisa menemukan seseorang yang memenuhi kriteriaku selama ini. Aku tidak muluk-muluk tentang kriteria suami yang kutetapkan. Yang penting sholeh dan yang pasti setia akan bersamaku selamanya. Ataukah itu memang sudah sangat sulit ditemukan di era sekarang ini. Zaman dimana selingkuh dan perzinahan sudah merajalela? Mungkinkah lelaki setia hanya ada dalam impian saja?

Suara hp menyadarkanku dari lamunan. Nama Riri terpampang di skrin hp-ku.

“Hallo Ri, apa kabarmu?“ tanyaku penuh rindu. Sudah hampir tiga bulan aku tidak mendengar suaranya semenjak dia meminangku untuk suaminya.

“Ada kabar gembira yang ingin kubagi denganmu Ana.“ Katanya riang. Suaranya agak bergetar, seolah menahan bahagia yang meletup-letup dari dadanya. Aku diam menunggu dengan harap-harap cemas. Semoga bukan kabar jika Riri sudah menemukan calon istri lain buat suaminya.

“Kami jadi punya anak. Kami memutuskan untuk mengangkat anak. Seorang bayi mungil yang sehat dan cantik dititipkan oleh ibunya kepada kami, sebelum ibunya menghembuskan napasnya yang terakhir. Bapak bayi itu meninggal ketika sang bayi masih dua bulan dalam kandungan.“

“Syukurlah Ri. Aku turut bahagia mendengarnya.“

“Na, maafkan aku ya?“

“Kenapa?“

“Hari itu, aku benar-benar buntu. Keputusan untuk melamarmu ketika itu adalah ideku semata-mata. Ketika aku ceritakan, Mas Irwan marah sekali. Kami sempat berdebat panjang. Sampai akhirnya, kami mengalah dan memutuskan bahwa solusi masalah kami adalah mengangkat anak. Alhamdulillah dua hari ini kami sudah resmi menjadi orang tua dari Nurul Aini.“

“Alhamdulillah, saya benar-benar bahagia mendengarnya Na. Selamat ya, selamat buat kalian semua. Semoga ananda Nurul Aini bisa menjadi cahaya mata kalian. Amin.“

Aku baru saja hendak meninggalkan kantor untuk lunch ketika langkah Rina bergegas ke mejaku.

“Ada bule yang mencarimu.“

“Bule? Bule mana?“

“Katanya, kolegamu dulu di Jerman.“

Kolega dari Jerman? Kolega mana yang ingin bertemu denganku? Ada urusan apa dia mencariku? Dan banyak lagi tanya yang bermunculan di benakku, ketika akhirnya terjawab, siapa orangnya. Seorang lelaki tinggi tegap, bermata biru sedang berdiri di pintu kantor dan sejenak tersenyum sopan sambil menganggukan kepalanya ketika pandangan kami bertemu. Ada desir halus di hatiku. Tidak mungkin lelaki itu. Bagaimana dia bisa ada di tempat ini. Aku masih terkesima, ketika tiba-tiba Rina menyenggol lenganku.

“Ayo, temui dong! Kasihan tuh, dia menunggumu.“

Gugup aku melangkah ke arah pintu. Pikiranku masih terus berputar. Setelah berpisah setahun yang lalu, aku sudah melupakannya. Kupikir tak mungkin lagi bertemu dengannya.

“Assalamu ‚alaykum Ana?“

Aku makin terkesima, bagaimana mungkin dia mengucapkan kata-kata itu. Dulu waktu di Jerman, dia selalu menyapaku dengan  kata „Hallo“. Malah saya hampir menyapanya dengan kata hallo barusan. Aku masih melongo ketika dia dengan sopan menyampaikan keinginannya untuk mengajakku lunch bersama. Ada yang ingin di sampaikannya, katanya.

Dulu aku diam-diam mengaguminya. Aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa lelaki ini begitu menarik. Sikapnya yang sopan dan sportif sesungguhnya sudah membuat hatiku porak-poranda dibuatnya. Hasilnya aku selalu gugup bila berada di dekatnya. Tapi akhirnya perasaan itu harus aku pendam bahkan kuhapus dengan paksa dari hatiku. Dia bukan muslim. Hubungan kami tidak mungkin menjadi!

“Setelah kepergianmu, aku sadar, aku kehilangan. Kamu telah membuatku jatuh cinta. Bukan hanya kepadamu, tetapi juga kepada agamamu. Keduanya sangat mempesona. Aku sadar ketika itu, jika tidak dapat memilikimu pun setidaknya aku ingin memeluk agamamu.“

“Enam bulan aku belajar Islam di Islamic Centre, hingga akhirnya aku mantapkan hatiku mengucap ‚La ilaha illallah, Muhammadur rasulullah’. Aku masih menahan langkahku untuk mencari jejakmu. Hingga akhirnya aku putuskan untuk mencarimu. Setidaknya jika aku tidak dapat memilikimu, aku sudah cukup gembira menyampaikan berita ke islamanku kepadamu.“

Aku tak tau harus berkata apa. Entah kenapa, aku seperti orang yang tersihir. Mungkinkah pertemuan ini adalah jawaban atas doa-doa yang kupanjatkan selama ini?

“Ana, apakah aku sudah terlambat untuk memilikimu? Apakah kamu sudah dimiliki oleh seseorang?“

Kuhela napas. Kutata perasaanku, aku tidak boleh melongo terus di depannya. Kukuatkan hati untuk menjawab,

“Aku milik seseorang yang sangat mencintaiku. Jika kamu mau, kamu boleh memintaku langsung kepadanya.“

“Maksudmu?“ tanyanya dengan gugup. Jelas mukanya bingung.

“Aku milik ibu dan bapakku Thomas. Kamu harus menyampaikan lamaranmu kepada mereka.“ Kataku tergelak. Tidak tahan melihat mukanya yang bingung begitu. Akhirnya kami tertawa bersama. Kebahagian jelas nampak dari mukanya. Akhirnya ya Allah, masa itu tiba juga. Alhamdulillah!

Foto ilustrasi: google

Profil Penulis:

Andi Inci, lahir di Bone, 2 April 1973. Sementara ini berdomisili di Kuala Lumpur, Malaysia. Ibu empat anak ini dapat dihubungi di http://inci73.wordpress.com atau lewat facebook-nya (Andi Sri Suriati Amal). Dan kini bergabung di Komunitas Ummi Menulis.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...