AKU MAKHLUK ANDROMEDA

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 

Penulis : A. A. Fathnan

Berpuluh-puluh lampu blitz menerpa wajah pemuda dua puluh tujuh tahun yang keluar dari gedung lantai 30 itu. Beberapa orang berperawakan tinggi besar berjas dan berdasi mengawalnya dengan sangat ketat. Sementara itu belasan wartawan dengan kamera, mikrofon dan alat perekam lainnya saling menyerbu dengan berbagai pertanyaan. Pemuda itu adalah Fahmi Firmansyah, seorang Doktor astronomi termuda Tokyo Institute of Technology (TIT).

   Lima belas menit yang lalu ia telah mengakhiri acara jumpa pers di gedung pertemuan Andalas, Jakarta. Ada satu hal yang membuatnya begitu disoroti publik minggu-minggu ini. ia dinobatkan sebagai satu-satunya utusan Indonesia dalam sebua proyek besar NASA. Sebuah proyek eksplorasi Galaksi Andromeda.

“Doktor Fahmi, apakah Anda yakin dengan keputusan Anda untuk menerima tawaran NASA?” Seorang wartawati melemparkan pertanyaan di tengah berisiknya suara lampu blitz dan kerumunan wartawan.

Fahmi Firmansyah menarik nafas panjang sebelum kemudian menjawab pertanyaan itu dengan tenang. “Saya yakin, karena ini bukan keputusan saya sendiri. Kami dari Jakarta Space Center telah merundingkannya dalam beberapa pertemuan dan membahas beberapa riset. Keputusannya adalah menerima tawaran tersebut”.

“Doktor Fahmi, tadi Anda mengatakan bahwa pesawat yang akan Anda gunakan dalam eksplorasi ini adalah pesawat luar angkasa mutakhir. Buatan NASA dan ESA, betulkah?”

“Ya, memang benar. NASA dan ESA bekerja sama dengan Indonesia, Malaysia, Turki dan Pakistan dalam pembuatan pesawat SuperVoyage ini. Pesawat ini menggunakan teknologi Zero Point dan dapat membuat medan gravitasinya sendiri. Mesin pesawat ini ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan zat emulsi apapun. Dan yang paling penting energinya yang luar biasa besar. Beribu-ribu kali energi nuklir. Sehingga perjalanan luar angkasa bisa dipotong beratas-ratus kali lipat,” Fahmi menjawab pertanyaan itu, singkat dan padat.

“Maaf, Doktor Fahmi, apakah Anda percaya begitu saja pada NASA? Mengingat ketegangan yang belakangan terjadi antara barat dan Islam. Apakah itu tidak menyinggung sebagian negara Islam yang lain?”

Fahmi terdiam sejenak, ditatapnya wartawan itu. Sebuah Co-Card yang tergantung di lehernya menunjukkan bahwa ia seorang wartawan media massa Islam.

"Hmm… saya sendiri tidak memiliiki rasa curiga apa-apa dengan NASA, karena memang sudah terjalin hubungan yang baik antara Indonesia dengan negara-negara barat. Apalagi dengan semakin majunya perkembangan sains di Indonesia yang didasari Islam. Saya kira ini peluang baik bagi Indonesia untuk mengembangkan teknologi dan sains modern.” Fahmi menjawab pertanyaan itu terburu-buru karena sebuah mobil sedan telah menunggunya di jalan depan tangga.

   Orang-orang berperawakan tinggi besar berjas dan berdasi mengamankan Fahmi dari wartawan yang semakin berisik. Cahaya lampu blitz tak henti-hentinya menerpa wajah Fahmi sampai ia masuk sedan itu.

Fahmi duduk di jok belakang. Baru beberapa meter saja mobil itu berjalan tiba-tiba…

“Tuut…. Tuut… Tuut…!”

Handphone Fahmi berbunyi. Sebuah email ber ID-kan ‘mysteriousman’ baru saja masuk. Sudah yang kesekian kalinya e-mail itu masuk tanpa menunjukkan identitas yang jelas. Kali ini ia tak begitu penasaran dengan email itu. Dan benar saja, email itu berisikan tulisan yang sama.

“Hati-hati dengan NASA! Mereka pembohong pengkhianat!”

Fahmi menarik nafas dalam-dalam. Ia menduga penulis itu adalah orang yang sangat membenci Amerika. Namun Fahmi tak menggubrisnya. Toh email itu takkan memberikan pengaruh apa-apa pada Fahmi. Selama ini ia menganggap bahwa NASA adalah partner professional. Walau kebanyakan krunya adalah non-muslim, tak pernah terbukti benar bahwa orang-orang NASA berbohong padanya. Fahmi memasukkan kembali HP-nya ke kantong baju. Ia menengok ke samping, remang petang mulai merajai langit. Ia harus segera sampai rumah dan istirahat secukupnya, karena besok pertemuan dengan para astronot Tim eksplorasi Andromeda mengantri di jadwal padatnya.

   Fahmi mengangkat kepalanya. Pandangannya tertuju pada ujung sebuah pesawat setinggi 25 meter. Cahaya lampu sorot terpantul dari badan pesawat itu ke seluruh ruangan hangar. Fahmi membayangkan seminggu lagi ia akan duduk di sana menjadi utusan dunia. Dan yang terpenting menjadi utusan ibu pertiwi. Hari ini ia akan bertemu dengan astronot-astronot dari negara luar yang juga berperan dalam eksplorasi galaksi Andromeda. Namun sebelum pertemuan dimulai, Fahmi menyempatkan diri singgah di pabrik pesawat NASA untuk melihat-lihat SuperVoyage, pesawat yang akan ia naiki selama perjalanan ke Andromeda. Pesawat itu berbentuk silinder dinamis dengan warna silver metalik.

   Setengah jam kemudian Fahmi sudah ada di sebuah ruangan lantai 30 kantor pusat NASA, Washington DC. Udara musim panas Amerika tak terasa karena dua buah AC menyulap suhu ruangan seluas 15x30 meter itu menjadi seperti di pegunungan. Fahmi bersama rombongan dari Jakarta Space Center disambut dengan hangat oleh orang-orang NASA. Di dalam ruangan juga telah menunggu astronot Turki Omar Al Faiz, dari Malaysia Wahab Razaq, dari Pakistan Ali Al Fauqi. Namun belum terlihat astronot NASA yang akan bergabung dalam eksplorasi itu. Baru sekitar lima menit menjelang dimulai acara mereka datang dengan pengawalan penuh. Pintu ruangan terbuka otomatis. Seorang berbaju hijau tua ala militer masuk disusul oleh dua orang berjas dan seorang dengan jaket sport. Mereka duduk di seberang Fahmi di tempat yang memang disediakan untuk utusan NASA.

   London, landasan penerbangan ulang alik ESA Lapangan terbuka itu penuh sesak oleh lautan manusia. Kebanyakan adalah wartawan. Masing-masing mereka sibuk dengan urusan mereka. Beberapa wartawan melakukan reportase, ada yang sedang memperbaiki kamera, ada juga yang sibuk mengambil foto. Lima menit lagi pesawat SuperVoyage akan tinggal landas menuju galaksi Andromeda dan tak sedikit yang enggan melepaskan kesempatan emas itu. Wartawan mancanegara berdatangan. Tampak pesawat SuperVoyage berdiri tegak di atas landasan 50 meter persegi dan dalam radius 30 meter, para wartawan mengelilinginya. Walau tak beremisi, mesin pesawat itu akan menimbulkan medan magnet yang luar biasa besar dalam radius 20 meter yang akan merusak alat elektronik atau mesin apapun.

   100 meter dari tempat wartawan berkumpul, di bawah gedung tingkat 50 seorang pemuda berdiri memegang koper. Matanya yang tertutup kacamata hitam menerawang ke pesawat SuperVoyage yang berdiri jauh darinya. Sebuah rencana tengah bergejolak dalam kepala pemuda itu, yang membuatnya tak henti tersenyum sendiri. Sudah kurang lebih 2 minggu ini ia menteror atau lebih tepatnya mengingatkan astronot muda itu akan sebuah bahaya. Namun agaknya usahanya tak banyak membuahkan hasil. Pagi itu pesawat SuperVoyage tetap meluncur, di dalamnya astronot Islam dan NASA terbang bersama.

Orang itu adalah Arif Ardian. Kulitnya yang sawo matang menunjukkan bahwa ia adalah orang Asia asli. Sebuah peci putih dan jenggot tipis menghiasi kepala dan wajahnya yang serius. Pemuda itu mengeluarkan PDA dari saku bajunya. Sebuah email yang telah ia tulis malam sebelumnya tampak siap kirim di layar berukuran 5x10 cm itu.

   Arif Ardian memasukkan kembali PDA-nya lalu berjalan membawa kopernya ke dekat tempat peluncuran SuperVoyage. Ia juga tak ingin melewatkan peristiwa yang mungkin akan disesali orang dunia nantinya. Sampai di sana pesawat SuperVoyage sebentrar lagi akan meluncur. Alex D. Fahmi F dan rombongannya sedang menaiki tangga. Wartawan sibuk memotret Arif A mengeluarkan PDA-nya.

   Hitungan mundur sepuluh dimulai. “Ten… Nine… Eight… Seven… ” Arif A mengetik ‘send’ dalam layar PDA-nya. Email pun terkirim. “Three… Two… One… Go… ” Pesawat SV meluncur bersama lambaian tangan manusia. Sebuah lubang ruang waktu tertinggal dalam kehampaan sepersekian detik setelah pesawat SuperVoyage melesat. Medan magnet yang begitu kuat membuat ruangan di sekitar pesawat SV berada menjadi kelabu dan bergelombang.

   Sementara Arif A tersenyum dingin. Sudah lima hari Fahmi Firmansyah berada di Andromeda tepatnya di tata surya Calvyx setelah sebelumnya seminggu ia habiskan di perjalanan. Tiga planet telah ia eksplorasi beserta beberapa satelit dan asteroid namun hingga kini timnya belum menemukan sedikitpun tanda kehidupan. Kecuali Fahmi. Ya, selama tiga hari ini Fahmi telah melakukan pengamatan secara teleskopis dan terjun langsung. Ia menemukan sebuah kejadian aneh. Namun Alex, sang astronot Amerika tak mau mempercayainya. Itu semua dimulai dua jam yang lalu.

  “Tuut… Tuut… Tuut…” Fahmi menangkap suara dari komputer. Dalam keheningan dia mengernyitkan dahinya. Ia menatap layar LCD 4o inchi di depannya, tampak sebuah icon bertuliskan telescop finder. Ia memegang mouse lalu mendouble click icon itu. Muncul sebuah gambar kecil dan di atasnya tertulis “WARNING! UNIDENTIFIED OBJECT!” Fahmi tercengung! Buru-buru ia click zoom, gambar itu terlihat lebih besar. Sebuah benda tampak terang berada di latar hitam dan bintang berkedip. Benda itu sendiri berbentuk kapsul berwarna coklat mulus dengan bagian belakangnya bercahaya merah, orange, kuning, seperti ekor komet.

   Di balik kacamata minusnya mata Fahmi menyipit. Otaknya mulai mereka-reka. Tak mungkin itu sebuah komet! Di tata surya Calvyx tak ada satupun lintasan komet. Tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi Alex lewat kamera komunikasi di komputernya. Ketika tersambung, di monitor tampak gambar Alex Deloye di ruang kerjanya, menyambutnya dengan suara baritone yang tak lagi asing di telinga Fahmi.

“Halo Fahmi, ada masalah apa?” “Alex, kau sudah tahu apa yang kutemukan?!”

“Sebentar… pasti tentang objek yang belum terdeteksi itu!”

“Ya… aku percaya itu sebuah pesawat ulang-alik dan di dalamnya pasti ada yang menggerakkan. Ini berita besar bagi proyek kita. kita harus memberitakannya ke bumi!”

“Tunggu… Jangan gegabah, kau belum mengkajinya. Sebaiknya kita tutup mulut. Barangkali dugaanmu meleset.”

“Tak mungkin!!! Aku mengetahuinya Alex.” Fahmi mengeraskan suaranya.

Sejenak terjadi keheningan. “Jika kau tak mau memeriksanya, aku akan mengajak kru lain untuk langsung memeriksanya.”

“Tunggu… Oke, oke. Kalau begitu kau kutunggu di ruang kontrol setengah jam lagi. Kita akan bahas masalah ini di sana. Berdua saja.” Gambar di komputer berubah gelap.

Sudah lima belas menit setelah Fahmi menutup pembicaraannya dengan Alex. Ia masih terdiam di depan komputer itu. Beribu pikiran menggelayuti otaknya. Ada apa sebenarnya dengan NASA? Ada apa di balik semua ini? ia jadi ingat akan email-email misterius yang ia terima sebelum keberangkatannya ke Andromeda. Ya, email yang ber-ID mysteriousman itu.

   Terakhir, ia terima sebuah email beberapa menit sebelum peluncuran SuperVoyage. Isinya sama dengan email-email sebelumnya yang memperingatkan Fahmi akan kebohongan NASA. Fahmi berujar dalam hati, mungkinkah orang yang mengirim email itu berkata benar? Entahlah, perang berkecamuk di dada Fahmi. Fahmi hendak mengakhiri lamunannya dan berfikir untuk segera menemui Alez, ia beranjak dari kursi. Namun ia teringat akan satu pesan terakhir yang ia terima. Email itu belum dibacanya sampai akhir. Ya, Ia pikir isinya akan sama saja. Namun entah mengapa kali ini ada keinginan besar yang membuatnya duduk kembali di kursi dan mencoba mencari data email itu dari memori PDA-nya. Fahmi menemukan email itu dalam tumpukan email yang siap di hapus.

“…. mengenang kembali 20 tahun yang lalu. Kau akan mengetahui bahwa ada yang hilang dari saku arsip NASA. Di awal tahun 2001. Galaxio…” Sampai sana dada Fahmi berdebar kencang. Galaxio adalah sebuah proyek robot yang diinisiasi ilmuwan Amerika untuk menjawab tantangan kecerdasan buatan dalam teknologi nyata. Robot mirip manusia yang diinginkan memiliki AI (Artificial Intellegence) itu kini tak lagi terdengar. Tenggelam bersama hilangnya beberapa ilmuwan di bidang itu. “Galaxio menemui kebuntuan. Formulasi kecerdasan buatan yang didesain Profesor Fukuyama gagal membuat desain robot berjalan maksimum, bahkan untuk dapat merespon gerak. Galaxio terancam menjadi proyek besi bekas tak terpakai. Hingga akhirnya Hebert Sharon menawarkan desain program kecerdasan buatannya yang dipastikan mampu bekerja dengan baik. Programmnya dijalankan pada satu sample robot mirip manusia.

   Luar biasa mencengangkan, Galaxio #1 mampu berbicara dan memiliki kemampuan komunikasi nyaris seperti manusia, seperti anak-anak. Prof Fukuyama sangat bahagia. hidupnya yang sebatang kara terhibur dengan kelahiran Galaxio #1, meski bukan ia yang menemukan. Hobert Sharon hanya memberi peringatan bahwa programnya dapat sewaktu-waktu gagal karena tak teruji mampu membangun kestabilan kecerdasan. Namun dengan kondisi Galaxio saat itu, Prof Fukuyama tak menghiraukan kemungkinan buruk apapun, semua ilmuwan optimis Galaxio adalah solusi teknologi masa depan yang takkan terbantahkan sejarah. Hingga suatu hari setelah tiga bulan kelahirannya, galaxio #1 ia memberontak dan tak mampu diberi instruksi. Ia kabur dengan membawa Prof Fukuyama sebagai sandera. Di tengah padang Arizona Galaxio #1 ditangkap militer Amerika dengan Prof Fukuyama telah meninggal. Sejak itu Galaxio diblack list dan seluruh pihak yang bersinggungan dengannya dipaksa tutup mulut sehingga kejadiannya diketahui publik. Galaxio #1 beserta 100 unit robot lainnya yang telah 80% jadi dibuang ke luar angkasa demi keamanan dan kerahasiaan.

   Proyek peluncuran Satelit Fukuyama menjadi kedok untuk menutupi proyek pembuangan Galaxio yang sesungguhnya. Untuk itu NASA dilibatkan, dan akulah yang kala itu membuat desain peluncur Satelit Fukuyama. Percaya atau tidak Fahmi, 2 tahun yang lalu kami menemukan foto aneh dari Galaxi Calvyx di Andromeda. Satelit pengintai kami, AndroSpy memotret kehidupan yang berkembang pesat di salah satu planet di galaksi Calvyx. Foto-foto yang dikirimkan jelas sekali menggambarkan kehidupan modern para robot canggihdi plant bernama Hades yang tak lain adalah Galaxio yang membuat koloni ”

Fahmi terbelalak. Ia tahu cerita setelah itu. ilmuwan dunia dikumpulkan untuk mendukung peluncuran eksplorasi Andromeda untuk menemukan koloni Galaxio yang kini telah di depan matanya. Fahmi berdiri tak tenang dan mencoba mencari pegangan, namun ia kembali duduk dan membaca beberapa kalimat setelah itu…

“… Tim Eksplorasi dikirimkan untuk melihat koloni Galaxio… Ilmuwan Islam dilibatkan untuk mengurangi kemungkinan kerugian yang timbul jika saja misi tidak berhasil…” Jantung Fahmi berhenti berdetak. Ia tak sanggup melanjutkan membaca email itu. Diambilnya perangkat komuniksai dan ia mencoba menghubungi Omar, astronot asal Turki yang ada di ruang sebelahnya. Sepintas dilihatnya nama pengirim email itu, Fikri Hasan, mantan anggota divisi riset NASA. Fahmi menunggu, panggilannya tak kunjung terjawab. Ia berganti memanggil Wahab, astronot Malaysia, tak ada jawaban. Lalu Ali Al Fauqi astronot Pakistan, tak juga ada jawaban. Fahmi membanting earphone-nya. Ia lalu berlari keluar, melalui pintu ruang kerjanya. Ketika terbuka, dilihatnya Alex Deloye berjalan di ujung lorong pesawat ke arahnya, bersama rombongan saintis NASA dan sebuah robot. Ya, robot berbadan besar. Matanya merah menyala, dan lengannya memegang laser gun.

   Fahmi tak sempat berfikir apakah robot itu Galaxio atau bukan. Ia segera berlari, tak dipedulikannya desingan laser gun yang bersileweran di telinganya. Ia terus berlari ke suatu ruangan : roket penyelamat! Alex Deloye terus mengejarnya. Sampai Fahmi menaiki roket itu dan meluncur menembus ruang hampa. Alex Deloye tetap mengejar menggunakan roket yang lain dan tinggal landas dari SuperVoyage. Fahmi melaju dalam roket itu dengan kecepatan tinggi. Tak dihiraukannya lagi ke arah mana ia pergi. Ia hanya berdzikir dan terus berdzikir.

“Ya Allah, selamatkanlah Islam, selamatkanlah orang-orang yang membuat Islam Jaya. Dan matikanlah mereka dalam keadaan syahid…” Doa itu Fahmi panjatkan sebelum kemudian sebuah asteroid besar menabrak roket Fahmi. Yogyakarta, 29 April 2009.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...