ANNA

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Ketahuilah! Melepaskan bukan berarti meniadakan cinta. Ah,jangan dulu kita bicara soal melepaskan. Terlalu sakit. Sebaiknya kita bicara soal pertemuan. Empat tahun yang lalu, di sebuah lembaga bimbingan belajar, kala itu aku masih kelas tiga SMA. Aku bertemu dengannya, seorang gadis berwajah manis, berpipi gembul, tersenyum anggun. Aku ingat betul, saat itu ia mengenakan jilbab berwarna merah marun.

Satu minggu pertama aku masih belum berani untuk sekadar menanyakan nama. Tapi setan memang pintar mencari celah. “Nama saya Anna, double ‘N’. Anna,” begitu jawabnya, jawaban yang sampai kini masih melekat kuingat. Seusai berkenalan aku sering mengajaknya salat di masjid luar. Karena memang masjid di tempat bimbel kami berdekatan dengan pura. Tak nyaman saja rasanya salat disitu. Kami saling bertukar nomor ponsel, saling smsan, menanyakan kabar juga bercerita banyak hal. Kala itu aku seorang REMAS di sekolahku dan dia siswi biasa di sekolahnya. Tak bisa dipungkiri kami semakin dekat, sangat dekat. Aku sering mengajarinya pelajaran fiska. Di tempat Bimbel kami selalubersama. Bisa dibilang kemana-mana berdua.

Suatu ketika ia mengundangku untuk menghadiri walimah, kakaknya menikah. Aku datang bersama Yadi sahabatku. Adat di Lombok, ketika walimah berlangsung keluarga pengantin mengenakan kebaya dan biasanya tanpa jilbab. “Di, taruhan yuk! kalau Anna ntar gak pakai jilbab, saya akan akhiri hubungan saya dengan Anna,” aku berkata penuh Percaya diri. Yadi hanya tersenyum dan mengangguk. Benar saja, tak lama kemudian Anna menghampiri kami dengan kebaya yang melekat di badan dan tanpa jilbab yang menutup kepala. Aku malu, ingin marah, sedih, kecewa. “Itu kakakku, Mas. Kak Azhar.” Ia menunjuk mempelai pria. Aku terdiam beberapa menit. “Ann, kenapa gak pake jilbab?” tanyaku sambil menahan rasa yang campur aduk di dada. Ia menatapku, aku berkaca-kaca, sekuat tenaga menahan agar air ini tak jatuh. “Yaa ... gimana lagi Mas, masak saya adek kandungnya ndak pake kebaya.”

“Tapi kan masih bisa pake jilbab, Ann! Kamu tahu siapa saya,kamu kebayang gak gimana rasanyaorang yang selalu ngingetin orang lain buat pake jilbab tapi ternyata orang terdekatnya sendiri gak pake jilbab?” suaraku begetar. Anna menunduk dalam.

“Anna janji, setelah ini Anna akan pakai jilbab yang benar.” Saat itu aku pun berjanji padanya jika ia mau berubah menjadi lebih baik aku akan tetap mendampinginya. Di perjalanan pulang Yadi terus mengancam agar aku benar-benar mengakhiri hubunganku dengan Anna. “Ayo... Buktiin kata-katamu!” Aku hanya terdiam.

Ah, sebenarnya Tuhan selalu membuka jalan untuk kita kembali, namun seringkali kita tak sadar dan lebih memilih melanjutkan menapaki jalan yang salah. Seperti kala itu, aku tak menepati janjiku untuk meninggalkan Anna, aku terus mendampinginya dengan dalih membersamainya menjadi semakin baik. Suatu malam kami berdua belajar fisika, hanya berdua. Kami belajar di rumah kakaknya dan malam itu sedang tak ada siapa-siapa di rumah. Aku merapal doa pada Tuhan, “Ya Allah... jangan sampai terjadi apa-apa di antara kami.” Aku memintanya membuka pintu, agar lalu lalang orang di luar ikut membantu menjaga kami. Detik berganti menit, bersyukur yang kami lakukan malam itu hanya belajar.

Kami semakin dekat layaknya sepasang kekasih, meskipun tak pernah ada ikrar yang terucap. Kami saling cemburu, saling perhatian, saling memberi kabar. Ia bercerita padaku tentang perhitungan pamannya, “Kata paman kita cocok, Mas.”

“Kalo Mas sih antara percaya dan tidak, tapi ya nggak apa-apa kalau sekedar buat motivasi.” Ia terdiam, menunduk. “Ada yang ingin aku ceritakan, Mas. Setelah aku cerita terserah Mas mau nganggep aku gimana.”  Ia masih menunduk. Dengan berat ia menceritakan masalalunya. Masalalu yang aku yakin tidak semua lelaki bisa menerimanya. Aku menangis, ia pun menangis. Rasanya remuk, aku merasa Tuhan tidak adil. Aku tak pernah macam-macam dengan seorang perempuan, menyentuh pun tidak, tapi kenapa Tuhan membuatku jatuh cinta pada seorang wanita yang punya masalalu kurang bagus. “Saya berjanji akan menerima bagaimanapun masalalumu, saya janji gak akan mengungkitnya, asalkan kamu mau berubah, mau belajar.” Ia mengangguk, masih dengan sesenggukan yang sesekali terdengar.

Beberapa bulan setelahnya ia fokus belajar untuk SNMPTN dan aku bersiap-siap berangkat ke Jakarta, mondok, demi meraih mimpi sebagai hafidz. Aku memutuskan untuk berpisah sementara, supaya ia fokus belajar. “Ann, kita cukup sampai disini! Perasaan Mas ke kamu sudah gak sama lagi.” Ah, aku tahu saat itu ia sangat sedih, tapi ini yang terbaik buat dia.Lihatlah, lagi-lagi Allah membukakan jalan agar kita kembali, agar kita saling melepaskan. Dan lagi-lagi aku tak menggubrisnya, setelah mendengar kabar ia diterima di Malang aku menghubunginya lagi. Kami kembali dekat. Sebelum ia berangkat ke Malang aku berpesan agar ia ikut Lembaga Dakwah Kampus, agar ada yang membantu menjaganya. Setengah tahun kami tak saling memberi kabar, karena aku tak bisa pegang HP di pondok.Aku menghubunginya lagi saat liburan. Saat kami sama-sama pulang, kami bertemu. Kami jalan-jalan hingga sore, photobox berdua, bahkan kami sengaja menunggu orang-orang selesai salat agar kami bisa salat berjamaah berdua.Ia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya di Malang, tentang LDK, katanya ia sudah ikut LDK dan tinggal sekontrakan dengan akhwat-akhwat berjilbab lebar. Aku turut senang mendengarnya, pertemuan itu adalah pertemuan yang paling membekas di hatiku. Hingga kini.

Tiba saatnya aku harus kembali ke Jakarta, aku meminta abah mengantarku ke bandara lebih awal. Tentu aku berbohong padanya tentang jadwal keberangkatan. Demi agar aku bisa menemui Anna. Setelah abah pulang, aku menghubungi Anna agar ia datang ke bandara. Kami bercengkerama berdua, hingga aku tak bisa menahan diriku. Kala itu aku melakukan kesalahan terbesar. Menyentuh tangan Anna, ia bingung. “Kamu kenapa, Mas?” tanyanya. “Ann, aku serius sama kamu, makanya aku berani melakukan ini.” Aku berdalih, Anna hanya terdiam. Beberapa menit kemudian aku berangkat, dengan membawa tumpukan rasa bersalah. Sejak saat itu ia mulai mempertanyakan tentang kebenaran hubungan kami, ia bertanya, “Mas, kita ini bener gak sih? kakak-kakak LDK gak ada tuh yang pacaran, smsan, telfonan.”

“Emang kenapa?”

“Gak apa-apa sih, tanya aja.”

Ah, aku maasih terlalu berat untuk melepasnya, meski aku tahu apa yang kami lakukan ini salah.

Suatu hari ia menceritakanmateri pengajian yang barusaja ia dapatkan, tentang haramnya pacaran. Katanya materi pengajian itu persis seperti apa yang telah kami lakukan. “Awalnya gak ngapa-ngapain, ntar lama-lama berani megang.” Ia punmemutuskan agar kita sama-sama saling belajar melepaskan. “Pelan-pelan. Seminggu sekali smsan, hari jumat, sabtu dan minggu.” Begitu katanya. Waktu berselang, “smsannya satu bulan sekali, gak boleh telepon!” aku menurut saja, meski rasanya begitu tersiksa. Kadang aku mencari-cari alasan agar bisa menghubunginya, tapi ia tak pernah membalas. Melepaskan memang tak semudah yang dibayangkan, rasanya tak adil saja, aku yang sudah berkorban perasaan mau menerima ia dengan masalalunya dan saat aku benar-benar mencintainya ia memilih untuk pergi. Aku masih terus mencoba menghubunginya, hingga ia akirnya ia membalas.

Penjelasan dari semuanya sebenarnya sederhana, sangat sederhana. Kita bisa saja seperti yang lain, seperti mereka. Bisa. Sangat bisa. Kita bisa saja setiap hari saling menyapa, berbagi cerita, mengingatkan ini dan itu. Kita bisa saja berjalan bersama, di sepanjang perjalanan yang kita sebut “perjalanan panjang nan terik ini” kita bisa saja melupakan setiap kerinduan yang setiap saat menikam hati-hati kita. Tapi kita sama-sama tahu, bahwa yang dinilai bukan hanya hasil akhirnya saja, tapi langkah demi langkah menuju akhir itu juga terhitung, kan? Kita takut. Sama-sama takut jika satu di antara kita menjadi sebab kelalaian, kelalaian dari mencintai siapa yang paling berhak dicintai, kita takut membuat-Nya cemburu, kita sama, hanya saja aku lebih suka pergi agar kamu tak tertahan disini, di jalanku yang belum saatnya kita tempuh bersama. Tapi semoga kita paham bahwa orang yang menjaga perasaannya juga sama, seperti orang-orang yang tak menjaganya. Mereka sama, sama-sama mencinta, sama-sama merindu, bedanya hanya mereka berharap lebih dari kebahagiaan karena kebersamaan, sementaramereka mengharap keberkahan, keberkahan yang akan mengantar pada mimpi-mimpi mereka. Tentang suami dan istri yang berjalan bersama di jalan penuh keridhoannya, di jalan yang kita sebut jalan perjuangan. Di sana mereka berharap melahirkan generasi-generasi tangguh yang mampu melawan dirinya sendiri, melawan kemungkaran, berdiri kokoh menjadi pilar peradaban. Saya yakin kamu paham ini, Mas. Jadi biarkan saya pergi. Lepaskan saya, jangan tahan saya!”

Aku masih  tak bisa melepasnya, kurasa ini tak adil. Aku sudah berkorban perasaan mau menerima masalalunya, tapi setelah aku benar-benar jatuh cinta ia membuangku. Setelah itu aku masih saja terus memikirkannya, merinduinya. Aku takut kelak ia menikah dengan orang lain, aku tak rela. Ia pernah berkata ingin segera menikah sedangkan aku harus selesai S2 baru diijinkan menikah. Hidupku seperti habis untuk berpikir bagaimana cara melamar Anna secepatnya.Waktu terus berjalan, masih dengan ketidakikhlasanku melepasnya. Aku terus melangkah dengan perenungan-perenugan, butuh waktu lama sekali hingga aku menyadaribahwa ketidakikhlasanku selama ini salah. Melepaskan memang tak pernah mudah. Bisajadi, Tuhan tak akan mengizinkan kita menggenggam sebelum kita mampu melepaskan. Aku ikhlas, jika harus melihatnya menikah dengan orang lain. Meski tentu akan jadi sakit sekali, aku rela melepaskannya, juga sejuta harapku bersamanya. Tapi melepaskan bukan berarti meniadakan cinta, cintaku pada Anna tetap pada porsinyabahkan mungkin terus bertambah, tapi cintaku pada-Nya juga utuh, hingga aku rela dengan segela ketetapan-Nya kelak.Jika Allah belum mengizinkanmu menikah, maka lepaskanlah!

Profil penulis:

Zahra Annisa. Lahir di kota Ngawi, Jawa Timur, 15 September 1994. Untuk berkorespondensi dengan penulis silakan hubungi 085730567908 atau email: annisazhaa15@gmail.com atau Facebook: Zha. Penulis berdomisili di Jalan Joyoutomo gang 5 no 15, Merjosari, Malang.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...