Bulan Kusut Api
03 Okt 2011 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 2587 kaliPenulis: Pringadi Abdi Surya
Pungguk merindukan bulan
Sebagaimana mestinya, sebagian besar laki-laki percaya perihal jatuh cinta pada pandangan pertama. Sementara sisanya memilih berpendapat bahwasanya cinta itu adalah proses, setelah mengalami penjajakan tertentu yang menimbulkan rasa aman, nyaman dan kepercayaan.
Malam tadi, bulan dilingkari kubah raksasa. Ia nampak seperti telur mata sapi yang digoreng matang sempurna dengan minyak yang bukan jelantah sehingga tak ada noda yang menghiasi putihnya yang selama ini didzalimi oleh mitos. Bahwa makan putih telur itu tidak ada gunanya. Yang paling bergizi adalah bagian yang berwarna kuning. Padahal sebaliknya, kuning telur justru mengandung kolesterol yang tinggi!
Orang-orang pintar berkepala plontos menyebutnya haloo, yang memang lebih populer untuk matahari – sejenis fenomena optik yang terjadi akibat adanya es dalam awan sirus yang dingin. Biasanya awan ini terletak pada ketinggian 5–10 km di lapisan troposfer atas. Bentuk dan orientasi kristal-kristal ini menentukan bentuk haloo yang terjadi. Aku menganggapnya kubah yang megah. Orang-orang Ambon menyebutnya payung bulan. Tetapi apapun itu, konon ia menjadi pertanda akan pergantian musim. Seperti malam tadi, yang memulai kulminasi matahari keesokan hari, haloo menampakkan diri.
Pengalaman pertama aku melihatnya, tentu aku jatuh cinta. Kata ganti –nya di sini tidak menjadi milik bulan semata sebab sudah kukatakan semula bahwa bulan dalam pikiranku adalah metafora. Ia adalah lambang sesuatu (atau lebih tepat seseorang) yang kupikir bisa membuat jantungku seperti diketuk dengan cepat untuk mempersilahkannya masuk dan menyambutnya dengan secangkir teh bersama makanan-makanan ringan khas musim panas.
Namanya Alina. Tujuh dari sepuluh laki-laki pasti akan bilang dia cantik.
Jika rambut yang kusut bisa disisir, bagaimana dengan hati?
Aku termasuk satu dari tiga lelaki yang tersisa. Alina tidak cantik, tetapi sangat cantik. Kau mau tahu bagaimana caraku berkenalan dengannya?
“Hei, kau Alina, bukan?”
“Ya, kamu siapa?”
“Boleh aku tahu tanggal lahirmu?”
“Untuk apa kamu tahu tanggal lahirku?”
“Tidak untuk kusantet tentunya....”
“ 24 April. Ada apa?”
“Pasti hujan.”
“Hujan?”
“Ya, karena semua malaikat menangis kehilangan bidadari seindah dirimu, Lin...”
Dan dia tertawa. Merah pipinya. Wanita cantik jika tersipu akan terlihat lebih cantik. Dadaku yang biasanya berdetak seirama dengan detik jam dinding mendadak secepat shinkansen itu.
“Kau mau ke Kemaro ya, Selasa besok?”
“Apa urusanmu?”
“Jadi kau akan bolos sekolah?”
“Jangan banyak tanya!”
“Seperti tahun-tahun sebelumnya?”
“Apa yang kau tahu tentang tahun-tahun milikku sebelumnya itu?”
“Tidak banyak.”
“Apa?”
“Aku suka melihat kau mengepang rambutmu dan caramu mengenakan baju berwarna merah itu.”
Alina diam. Di desa kami, memang sedikit orang Cina. Lebih sedikit lagi orang Cina yang kurang berkecukupan. Dan hampir semua yang berkecukupan itu selalu menutup diri dari masyarakat sekitar. Keneng yang toke bangunan itu memagari area rumahnya (yang seperti istana) dengan tembok lebih dari tiga meter. Tembok yang kami coret-coreti dengan kapur-kapur berwarna dan kami pukul-pukul dengan batu sampai batakonya retak, bolong, dan kami bisa mengintip ke dalam. Yang kami lihat, adalah beberapa bangunan bertingkat dan alat-alat berat yang hanya bisa kami lihat jika ada perbaikan jalan raya. Karena sikap yang tertutup dan arogan itulah, penduduk asli kerap tidak menyukai orang-orang Cina.
Alina bukan keluarga Cina yang kaya, tetapi tetap kena imbasnya. Ko Awi, ayah Alina, hanya berjualan oli dan spare part kendaraan bermotor di ruko yang disewakan Ko Ahong—yang juga memiliki perternakan ayam di Talang Ilir. Aku pertama melihatnya di kelas 1 SMA, semester kedua, Alina baru pindah dari Martapura. Tidak seperti perempuan Cina pada umumnya yang bermata sipit, Alina tidak bermata terlalu sipit. Kulitnya putih dan sepertinya begitu halus (aku belum pernah bersentuhan dengannya). Kontras dengan itu, rambutnya yang dibiarkan panjang terlihat begitu hitam dan lebat. Melihat dirinya pertama kali, aku langsung kepincut. Dan butuh waktu nyaris dua tahun, ketika takdir akhirnya menempatkan aku dan dia di kelas yang sama, untuk sekadar berkenalan.
“Kamu jangan menggodaku lagi!”
“Aku tidak menggodamu....”
“Laki-laki mana yang bukan penggoda?”
“Aku hanya ingin berteman denganmu.”
“Teman?”
“Kau belum punya pacar?”
Alina terdiam. Diamnya itu mengingatkan aku pada dirinya setahun yang lalu ketika kulihat ia berbaju merah bersama keluarganya menyetop angkutan pedesaan warna hijau di depan simpang Talang Bulu itu. Seperti tahun sebelumnya juga, ia akan pergi ke pulau Kemaro, ke kelenteng-kelenteng, sembahyang, dan merayakan tahun baru di sana. Tidak pernah ada tahun baru Cina di desa kami. Tidak pernah ada izin bagi non-pribumi untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan resmi. Aku tidak mengerti pasal apa yang bisa melarang-larang hak asasi untuk bahagia. Mungkin karena Keneng yang tidak pernah mau menyumbang tiap kali AMS meminta dana pengembangan olahraga. Mungkin karena Ahong tidak mau bertanggungjawab pada limbah kotoran ayam di kali. Mungkin karena hal-hal itulah, masyarakat dendam kepada orang Cina.
10 Komentar :
Cinta memang penuh lika-liku. Apalagi cinta tanpa restu.
Cinta padaNya saja. Berliku juga tapi pasti berestu.
sampai saat ini saya masih belum bisa memahami perasaan cinta yang dituliskan bung Pringadi. kebajikan milik semua orang, tetapi kebajikan yang berlandskan iman cuma dimiliki mukmin.
a good ending, bung!
cerpen terbaik hari ini... love it.. penuh sentakan... terutama kalimat:
" Haruskah cinta melenyapkan pelakunya?"
jempol bang, sy syuka... terus berkarya ya...
Cerpennya keren, sayang judulnya terkesan epigon punya Benny. Menurutku lebih keren jika judulnya ALINA. Itu saja saranku.
Tema yang sering jadi topik, Cinta terlarang antara Cina-Melayu, Tapi dikemas apik, legenda Siti fatimah tu beneran tu? romantis sekali, tapi tetap tak bisa dirubah, cnta pada Allah dan orangtua adalah yang tertinggi,,nice story, cuma konflik dan endingnya agak datar
Isi Komentar :




