Berkorban Tanda Kesungguhan
Anyway, apa kaitannya antara bulan Dzulhijjah dengan mimpi-mimpi yang Nida sebutkan di atas, ya?
Ok, yang mau mau tahu dan penasaran banget dengan jawabannya, Nida punya dua cerita menarik, nih…
Habil vs Qabil…
Hmmm, siapa yang nggak kenal dengan dua tokoh ini? Kakak beradik pertama di dunia yang kehidupannya nggak pernah akur. Bahkan di akhir hayatnya, salah satu dari mereka (Qabil) membunuh saudara kandungnya sendiri (Habil). Wow, very sad ending, yaaa…
Ngomong-ngomong, Sobat Nida tahu nggak alasan si Qabil membunuh Habil? Yep, akar permasalahannya adalah kedengkian, tapi masih ada lagi akar di balik akar yang bisa kita ambil pelajaran darinya.
Ceritanya, masing-masing dari mereka memiliki saudara kembar perempuan, yakni Iqlima dan Lubuda. Ketika keempatnya beranjak dewasa, Nabi Adam bermaksud menikahkan mereka dengan kembaran saudaranya. Sementara Habil menerima keputusan Ayahnya, Qabil sang kakak justru menolak dengan alasan Iqlima saudara kembarnya lebih cantik daripada Lubuda saudara kembal Habil.
Bingung harus berlaku bagaimana, Nabi Adam pun mengadukan perkara ini kepada Tuhannya. Kemudian Allah memberikan keputusan agar keduanya menyerahkan qurban kepada Allah. Siapa yang qurbannya diterima, maka ia boleh menentukan sendiri jodohnya. Keduanya sepakat. Habil memberikan qurban terbaik berupa hewan ternak yang gemuk-gemuk demi menunjukkan kesungguhannya dalam mentaati perintah Tuhan, sedangkan Qabil mengqurbankan hasil pertanian miliknya yang sudah tidak bagus dengan hati yang nggak ikhlas pula!
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban” [Q.S Al-Maidah: 27]
Sobat Nida pasti bisa menebak, qurban siapakah yang diterima oleh Allah? Tentu aja qurban Habil, donk… Alasannya udah jelas banget: dia memberikan qurban terbaiknya untuk Allah.
Sayangnya, kesepakatan suci antara mereka dengan Allah, itu harus ternodai dengan sifat dengki Qabil. Ia merasa qurbannya lah yang seharusnya diterima oleh Allah dan lebih berhak bersanding dengan Iqlima yang cantik jelita dibandingkan Habil. Kemudian, skenario pembunuhan pertama dalam sejarah manusia dimulai. Qabil membunuh Habil dengan tangannya sendiri. Tragis!
Ibrahim dan Ismail
Ayah dan anak satu ini, ketaqwaannya pada Allah beneran nggak ada tandingannya deh… Gimana enggak, ketika lebih dari seratus tahun baru dikaruniai satu anak, melalui mimpi Allah meminta kepada sang Ayah untuk menyebelih anaknya yang baru aja beranjak remaja. Nah lho, sedih bin nggak rela, ya…
Dan yang lebih hebatnya lagi, saat Ibrahim mengutarakan mimpinya kepada sang anak dan meminta pendapatnya, Ismail malah meyakini 100 % mimpi tersebut dan mendukung penuh perintah Allah melalui mimpi Ayahnya! Hhmmm, lagi-lagi siapa coba yang bisa menandingi mereka berdua?
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. [Q.S. Ash-Shaaffaat:102]
Hari yang dinantikan tiba. Dengan keikhlasan penuh, keduanya berjalan menuju bukit penyembelihan. Namun ketika pisau untuk menyemblih telah didekatkan di pelipis Ismail, Allah menyaksikan betapa tiada tanding kesabaran mereka dan langsung mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Peristiwa inilah yang menjadi awal perintah berqurban tiap bulan Dzulhijjah menjelang.
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [Q.S. ash-Shaffat:104-105]
Masya Allah… Beneran nggak heran deh kalau Nabi Ibrahim mendapat gelar Kekasih Allah (Khalilullah) dan satu diantara lima Nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi. Kesungguhannya dalam memenuhi perintah Allah emang T-O-P b-g-t, ya? Tiada duanya!
Berkorban Tanda Kesungguhan
Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita bersyukur karena telah diberikan panduan hidup (Al-Qur’an) yang di dalamnya terkandung banyak banget kisah dari orang-orang terdahulu, agar kita mengambil pelajaran darinya. Salah duanya mencontoh kisah pengorbanan Habil dan Nabi Ibrahim. Allah lebih menerima qurban Habil karena kesungguhannya memberikan hasil ternak terbaik yang ia miliki, ketimbang Qabil yang hanya memberikan sisa-sisa hasil pertaniannya, kan?
Allah juga akhirnya menggantikan Ismail dengan hewan ternak karena kesungguhan mereka mempercayai dan menjalankan mimpi tersebut. Bisa bayangin kalau ada sedikit aja keraguan atau mereka nggak bersegera menjalankan mimpi tersebut? Jangan-jangan, perintah qurban yang berlaku hingga kini adalah mengqurbankan seorang anak laki-laki. Wuiiih, bisa-bisa nggak ada satu manusia pun yang mau melaksanakan perintah qurban, yaaa…
Yaaah, tapi mereka kan orang-orang pilihan… Nabi Ibrahim bapaknya para Nabi, sedangkan Habil anaknya Nabi Adam yang mulia. Jelas aja sungguh-sungguh dalam berkorban. Lah kita manusia biasa, gitu lho… anak ustadz juga bukan. Wajar lah, bak langit dan dasar sumur beda antara kita dengan dua manusia agung tersebut.
Hmmm... Jangan salah lho, Sob. Kita juga bisa melakukan seperti yang mereka lakukan, kok. Misalnya, saat jam istirahat siang tiba. Seberapa lama sih waktu yang kita habiskan untuk sholat plus zikir ketimbang makan bareng teman sambil ngobrol ngalor ngidul? Kalau porsinya hanya 5 menit : 47 menit, wahwah… masih jauh banget pengorbanan kita untuk Allah. Coba deh ditingkatkan minimal 15-20 menit untuk sholat, berzikir, plus baca Quran satu lembar aja. Insya Allah, Dia Maha Melihat pengorbanan waktu kita sebagai tanda kesungguhan untuk mencari ridho-Nya.
Contoh lainnya, tiap muslim pasti berharap mendapat panggilan pergi ke tanah suci untuk berhaji atau umroh. Pertanyaannya, sudahkah kita mulai menyisihkan uang tiap bulannya? Atau kita lebih mendahulukan kepentingan duniawi lain seperti punya mobil dulu, update hape ter-gress tiap bulan dulu, dan sekolah dulu yang tinggi? Ckckck… kapan mau dipanggil sama Allah kalau gitu caranya? Lha, wong pengorbanan aja masih nol besar. Itu sih namanya harapan palsu bin nggak niat bin nggak sungguh-sungguh!




