Hati-hati Memilih Tema

 

Sobat Nida, memang sebuah cerita haruslah mengambil tema yang unik dan menarik. Tentunya seorang cerpenis tidak ingin tema cerita yang digarapnya memiliki tema yang dipakai “sejuta umat”. Tapi hati-hati, Sob, ada beberapa tema yang sebenarnya merupakan sesuatu yang sensitif untuk diangkat, lho...

Sebagai seorang cerpenis, tentu kita bertanggung jawab atas yang ditulis. Karena cerita yang dibuat akan dibaca khalayak banyak. Jadi hindari tema yang sensitif seperti penggunaan kata-kata kasar, menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) dan masalah lain seperti masalah desersi (pengingkaran) jenis kelamin pada diri seseorang. Dalam dunia penulisan atau jurnalistik, menulis sebuah karya baik itu berupa fiksi atau non fiksi, seorang penulis terikat pada etika tertentu. Salah satunya seperti yang disebutkan di atas tadi.

Cerpen di bawah ini adalah cerpen yang urung Nida muat karena mengangkat tema yang sensitif. Cerpen pertama adalah Klepto karya Dewi Titi. Cerpen menceritakan masalah penyakit kleptomania yang diderita ibu dan anak dalam cerita tersebut. Sebenarnya tidak ada masalah dalam ide cerita. Poin kekurangan justru pada penggunaan kata-kata yang cenderung kasar dalam dialog tokoh utama, yakni sang anak. Hampir setiap dialog yang dibawakan tokoh utama berisi umpatan. Baik kepada ibunya, temannya, dan keadaan sekitar. Tentu pemilihan kata yang tepat akan membuat pembaca tertarik membaca, kan, Sob?

Selanjutnya adalah cerpen Hari yang Aneh karya Muhammad Adun. Cerita menggambarkan hubungan pertemanan sang tokoh aku dengan sahabatnya yang berkerja sebagai (maaf) gigolo. Selain berprofesi sebagai penghibur wanita yang lebih tua usianya, sahabatnya itu ternyata juga seorang penyuka sesama jenis. Ceritanya berkisar bagaimana tokoh aku mengalami hari yang “aneh” dengan sahabatnya itu. Meskipun hikmah cerita berujung pada keinginan sang sahabat untuk bertobat, haruskah diceritakan sedetail mungkin mengenai kejadian itu? Selain sepertinya masalah disersi masih agak risih bagi beberapa pembaca.

Cerpen ketiga bertemakan masalah cinta yang kandas akibat perbedaan suku diantara kedua pasangan kekasih. Keduanya urung menikah karena perbedaan sudut pandang pada masing-masing kedua orangtuanya. Keduanya berlainan suku.

Sebenarnya tidak masalah mengangkat tema percintaan, tetapi bila disebabkan karena aperbedaan suku, khawatir akan ada pihak-pihak tertentu yang tersinggung. Karena tidak semua suku memiliki sudut pandang yang sama. Semua pasti beranggapan suku merekalah yang terbaik.

Sobat Nida, masih banyak tema-tema menarik, tapi tidak sensitif. Poin yang ditekankan dalam cerpen, khususnya yang dimuat di Annida-Online adalah cerpen yang bagus dan tak lupa sarat hikmah. Bila Sobat Nida banyak menemui tema serupa yang diangkat dalam media lain, tentu itu karakteristik masing-masing media.

Ayo Sobat Nida , perbanyak lagi kemampuanmu dalam “menemukan” ide-ide yang menarik. Cobalah lebih peka dengan keadaan sekitar. Banyak keadaan sekeliling kita yang sebenarnya menjadi sumber imajinasi kita dalam berkarya. Tempatkan diri seorang cerpenis sebagai “Life Observator” atau pengamat kehidupan. Lihat saja penulis-penulis terkenal semisal Andrea Hirata dalam menulis cerita. Andrea menulis dengan apik keadaan orang-orang di sekitarnya dan mengemasnya menjadi sebuah bacaan yang menarik. Jadi cobalah menjadi penulis yang bertanggung jawab akan karya yang dihasilkannya. Selamat mencoba...! ^___^b