JANGAN TERBURU MENYIMPULKAN
Assalamu'alaikum wrwb.
Sobat Nida mungkin sudah pernah membaca atau mendengar kisah berikut ini:
Alkisah, dua malaikat berkunjung ke rumah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu sangat kasar dan tidak mengizinkan kedua malaikat itu bermalam di ruang tamu yang ada di rumahnya. Kedua malaikat tersebut ditempatkan pada sebuah kamar berukuran kecil yang ada di basement.
Ketika kedua malaikat itu hendak tidur, malaikat yang lebih tua melihat bahwa dinding basement itu retak. Kemudian malaikat itu memperbaikinya sehingga retak pada dinding basement itu lenyap. Malaikat yang lebih muda bertanya mengapa ia melakukan hal itu, malaikat yang lebih tua menjawab, "Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya."
Malam , kedua malaikat itu beristirahat di rumah seorang petani dan istrinya yang miskin tetapi sangat ramah.
Setelah membagi sedikit makanan yang ia punyai, petani itu mempersilahkan kedua malaikat untuk tidur di atas tempat tidurnya.
Ketika matahari terbit keesokan harinya, dua malaikat menemukan bahwa petani itu dan istrinya sedang menangis sedih karena sapi mereka yang merupakan sumber pendapatan satu-satunya bagi mereka terbaring mati.
Malaikat yang lebih muda merasa geram. Ia bertanya kepada malaikat yang lebih tua.
"Mengapa engkau membiarkan hal ini terjadi? Keluarga yang pertama yang memiliki segalanya, tapi engkau tolong menambalkan dindingnya yang retak. Keluarga ini hanya memiliki sedikit tetapi walaupun demikian mereka bersedia membaginya dengan kita. Mengapa engkau membiarkan sapinya mati?"
Malaikat yang lebih tua menjawab, "Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya."
"Ketika kita bermalam di basement, aku melihat ada emas tersimpan di lubang dalam dinding itu. Karena pemilik rumah sangat tamak dan tidak bersedia membagi hartanya, aku menutup dinding itu agar ia tidak menemukan emas itu."
"Tadi malam ketika kita tidur di ranjang petani ini, malaikat maut datang untuk mengambil nyawa istrinya. Aku memberikan sapinya agar malaikat maut tidak jadi mengambil istrinya."
"Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya."
Sobat Nida, terkadang kita terburu-buru dalam menyimpulkan karena terbiasa menilai sesuatu dari sudut pandang diri sendiri. Bisa jadi kita menilai Allah tidak adil karena telah membuat kita terlahir dari keluarga kere, belum menikah juga di usia kepala 4, belum juga mendapat panggilan kerja meskipun sudah mengirim ratusan lamaran, dan berbagai hal yang terlihat “buruk”, sementara itu... ada banyak koruptor yang asyik-masyuk jalan-jalan ke luar negeri, diberi kenikmatan mewah luar biasa, setetes keringatnya bernilai milyaran. Kalau demikian di mana keadilan?
Stop! Jangan tergesa-gesa menyimpulkan Sob! Karena sangat mungkin kita salah mengambil sudut pandang. Bukankah Allah telah mengingatkan bahwa apa yang buruk bagi kita belum tentu buruk di mata Allah, demikian sebaliknya.
Maka, mari kita memohon pada-Nya agar selalu diberi kejernihan dalam berprasangka terhadap-Nya...
Wassalam




