Relung Air Langit

Penulis: Afif Aysel


Jikalah bukan tetesan hujan yang membawaku pada riakan memoire ini, aku akan memilih untuk menghimpit tubuhku pada teriknya matahari pagi. Atau, aku akan lebih memilih untuk merapatkan kerdilku menatap sabotase nan semu, senja di ufuk barat. Bahkan, jikalah bukan karena rembesan air langit yang menghantarkanku pada cekungan memoire  ini, aku akan lebih memilih untuk memejamkan mata di tengah hiruk pikuknya penumpang kereta kota pada sore hari yang berjejalan dan berebut masuk mencari celah-celah kosong, hanya untuk memastikan diri bahwa mereka akan segera pulang, bertemu dengan mata-mata terkasih yang menunggu dengan tatapan hangat nan mesra.

Bukan seperti saat ini, saat wajahku tak lagi mengenal mana puluhan tetesan semu dari jutaan tetesan nyata air langit lainnya yang turun deras membasahi bumi. Bukan seperti sekarang, saat raga dan jiwaku sengaja menyerahkan diri pada lebatnya air langit. Dingin, basah, gigil, biru, hanya untuk memastikan bahwa rembesan hujan ini pernah membawaku pada satu realita cinta, pada memoire cinta yang menyanjungku dengan ribuan elok frasa. Hanya untuk memastikan. Bukan untuk mengenang, bukan pula untuk mendendang, hanya untuk memastikan. Sekali lagi, hanya untuk memastikan bahwa tetesan-tetesan air langit yang mengalir bersamaan dengan tetesan air mata ini, adalah nyata.

Dan biarlah basah, aku rela adanya. Asalkan aku sadar, ini nyata.

***

“Nak, Fatih, cepatlah sedikit! Kita hampir terlambat.”

“Iya, Bunda… sebentar lagi.”

Suara berat Fatih terdengar dari dalam kamarnya. Aku menengok jam dinding di ruang tamu untuk yang kesekian kalinya. 06.15. Dengan desahan nafas panjang, aku bergegas mendahuluinya memasuki Swift kami, menyalakannya, menaruh tasku sembarang di jok depan mobil, dan keluar lagi untuk membuka gerbang rumah. Biasanya, Fatih tak akan membiarkanku melakukan ini semua. Ia yang akan lebih dulu menyalakan mobil, memanaskannya bermenit-menit bahkan sebelum aku rapi dengan bajuku, dan membuka gerbang rumah saat aku sudah siap di depan stir mobil. Ini di luar kebiasaanya. Jarum jam sudah hampir mendekati 06.20 dan Fatih masih di dalam kamarnya.

Jam masuk kantorku memang tidak sepagi ini, tapi Fatih harus masuk tepat pukul 07.15 di sekolahnya. Lebih dari itu, satu menit pun, sudah dapat dipastikan ia tidak akan bisa masuk. Meski berbagai usaha seperti menelepon langsung kepala sekolah, mengatakan dengan tergesa bahwa orangtua dari murid itu adalah pejabat tertinggi di kabupaten, atau anggota tertinggi komite sekolah, tidak akan pernah berhasil. Tidak ada toleransi dalam bentuk apapun dan untuk siapapun. Anak pejabat, anak guru, anak kepala sekolah, anak gubernur, sampai anak orang biasa. Karena sakit atau alasan lainnya, apalagi karena macet atau telat bangun tidur. Ini memang sekolah menengah negeri unggulan se-provinsi. Standar internasional yang tidak hanya mecanangkan keunggulan akademik, namun juga menerapkan kedisiplinan ketat. Aku bersyukur sekali, tanpa disangka Fatih dapat lolos masuk ke sekolah tersebut dan selalu menjadi juara paralel di setiap semesternya.

Hampir saja aku membunyikan klakson, semata karena tak ingin Fatih terlambat, saat aku mendengar langkah tergesanya menutup pintu rumah, menguncinya, dan menyuruhku untuk segera mengeluarkan mobil dari garasi.

“Lho, Bunda, kok mobilnya belum dikeluarkan?”

Dasar Fatih. Sekian detik setelahnya dan Fatih menutup pintu gerbang, ia kemudian duduk manis di sampingku dengan berbagai aksesoris hariannya. Tas ransel hitam yang belum tertutup, sepatu dan kaos kaki yang belum terpakai, dan sekotak roti tawar berselai keju. Hanya seragam putih abu-abunya yang sudah melekat rapi di tubuhnya. Aku menggelengkan kepala.

“Kenapa, Bunda? Ayo jalan! Kok, malah geleng-geleng kepala. Kan, kata bunda tadi Fatih akan terlambat.”

Gayanya dengan wajah polos tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun.

“Baik, Bos. Dengan senang hati.” Perasaan khawatir yang sempat melanda sirna dengan kehadirannya. Aku tersenyum tak tertahankan.

“Ada apa denganmu hari ini, Fatih? Tidak seperti biasanya. Bunda sampai merasa aneh sendiri karena sudah lama tidak menjalani rutinitas memanaskan mobil.”

“Oh, maaf ya, Bunda. Pagi ini Bunda jadi repot. Insya Allah nanti kalau sudah bisa membuat KTP, Fatih akan segera mengurus SIM A. Biar Bunda tak perlu lelah lagi menyetir mobil. Kan, malu, sudah sebesar ini masih disetirkan oleh Bundanya. Ke sekolah lagi. Duh!”

“Lha, kamu mengalihkan pertanyaan Bunda. Bunda kan tanya, kenapa hari ini tumben sekali kamu bangun telat. Bukan mengeluh karena Bunda jadi repot.”

Saat ini Fatih memang sudah 16 tahun, duduk di kelas XII–IPA 1 semester pertama. Akhir Mei nanti umurnya genap 17 tahun. Berkali-kali ia ngotot untuk menggantikanku mengendarai mobil. Ia memang sudah lancar karena mengikuti kursus stir. Alasannya selalu sama, agar Bunda tak perlu capek. Bukan karena aku tidak percaya dengan alasan yang diutarakannya, ia memang tidak berkata bohong atau agar ia bisa berpamer ria di hadapan kawan-kawannya, Fatih bukan tipe anak seperti itu. Tapi tetap saja, ia masih di bawah umur dan belum bisa punya SIM. Aku tidak mau mengambil risiko saat ada road block. Ia bisa saja tertangkap basah.

“Maaf deh, Bunda… Tapi kan Fatih tidak perlu khawatir sekarang. Karena selain Bunda bisa menyetir sekilat Schumacher, jalanan di sini tidak seperti dulu saat di ibu kota yang padat dan sesak dengan mobil-mobil mewah.”

“Kamu ini, pintar sekali ngeles-nya ya.” Persis seperti ayahnya.

“Iya dong, siapa dulu Bundanya. Bunda paling hebat sejagat raya!” Fatih tersenyum nakal sambil memakai kaos kaki dan sepatunya. Selesai dengan aksesoris utamanya, ia membuka tas ransel hitamnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah kotak seukuran kotak pizza berhiaskan kertas mengkilap berwarna merah marun. Swift  kami sudah keluar lama dari komplek perumahan dan sedang merajai jalan raya pagi ini. Aku sedang berusaha fokus menyalip beberapa mobil di depan yang tak mau bersahabat. Maafkan, untuk kali ini saja. Demi Fatih, demi darah dagingmu.

Ilmu salip menyalip ini aku dapatkan langsung dari ahlinya. Dulu sekali, sudah bertahun-tahun lamanya. Sang ahli tidak pernah sengaja mewariskannya padaku, aku hanya belajar darinya. Seperti berusaha menyemangatinya menyusuri bahu jalan kiri saat kami berdua stuck di kemacetan panjang ibukota, atau saat crossing di detik-detik terakhir lampu kuning sebelum berganti menjadi lampu merah. Tak pernah aku gunakan jika tidak dalam kondisi terpepet, karena aku ingat sekali bagaimana ekspresi wajahnya saat aku pernah tak sengaja cerita berhasil menyalip sebuah tronton kontainer dalam keadaan hujan lebat. Ekspresi cemas, marah, khawatir, dan kaget bercampur jelas tergurat dari wajahnya.

Halaman: 1 | 2 |