Untitled Document

Kategori : Kisah Sejati

Dibaca : 3271 Kali

Seketip Mimpi di Taman Baca "Senyum"

Penulis: Widi AstutiIni mimpiku. Mimpi spesialku. Mimpi yang dulu pernah kurangkai bersama seorang sahabat baik bernama Dwi Suci. Mimpi yang terlalu berlebihan menurutku. Ah biar saja, kami memang suka memimpikan sesuatu yang mustahil. Bagi kami hal ini justru mengasyikkan. Juga membuat semangat kami jadi menggebu. Membumbung seperti balon besar yang terlepas ke udara. Aku masih ingat percakapanku dengan Uci –panggilan Dwi Suci- di mushola sekolah kami –SMAN 6 Bogor. Saat itu kami masih duduk di kelas 1 SMA. Kami membicarakan banyak hal tentang mimpi ini. Begitu antusias. Dan bersemangat.“Kamu ingat kisah manusia pertama yang menjelajah bulan?” ujarku pada Uci. Ia menengok kearahku. Mengangguk pelan. Lalu tersenyum.“Ya, tentu saja. Neil Amstrong kan namanya?”“Rasanya sulit dipercaya kalau hal itu bisa dilakukan manusia. Mengingat kondisi atmosfer bumi yang jauh berbeda dengan bulan. Di bulan juga tidak ada air dan udara kan?”“Ya. Tapi buktinya dia berhasil.”“Karena apa ya?”“Aku rasa itu buah dari keyakinan.” Ucapnya filosofis. Aku menengok cepat kearahnya.“Maksudmu?”“Keinginan Neil Amstrong yang begitu kuat untuk menjejakkan kaki ke bulan, membuahkan sebuah keyakinan di dadanya. Jika tidak memiliki sikap ini, mana bisa seh ia punya keberanian untuk mengambil segala resiko yang ada,” jelasnya kemudian. Ah, temanku yang satu ini memang sangat cerdas. Aku kagum. Sekali lagi, senyumnya tergulum.“Apakah sebegitu dahsyatnya kekuatan keyakinan. Hingga bisa menelurkan sebuah petualangan yang hebat seperti itu?”“Ya, tentu saja,” jawabnya enteng. “Kamu punya mimpi yang mustahil seperti itu?” tanyanya lagi. Aku tak menjawab cepat. Sesaat bibirku terdiam. Hingga akhirnya menjawab mantap,“Ya, aku ingin mendirikan taman bacaan gratis untuk anak-anak jalanan,” gurauku sambil terkekeh.“Ah, rasanya mustahil! Membeli buku satu aja, kita harus nabung berhari-hari. Itu nggak mungkin!” ujarnya ragu sembari menggeleng-geleng.“Lho, kok kamu sekarang yang nggak yakin gini. Apa salahnya bermimpi. Semua orang berhak punya mimpi!” kataku menyakinkannya. Ia menatapku kelu. Sedikit terdiam, sampai akhirnya menjawab..“Kamu benar. Mari jadikan ini mimpi spesial kita! Mimpi kita bersama.”Aku mengangguk semangat.“Sepakat ya!”Betapa semua yang kami katakan tadinya hanya sekedar gurauan. Namun, seiring berjalannya waktu, kejadian ini sangat membekas di hatiku. Begitu membekas, hingga akhirnya aku berusaha mewujudkan mimpi ini sekuat tenaga. Ah... indahnya.***Awal April 2010Mimpi mendirikan sebuah taman bacaan gratis untuk anak-anak jalanan masih terngiang-ngiang di kepalaku. Kubuka lemari kecil kepunyaanku. Buku-buku koleksiku sedikit sekali. Kurang lebih hanya 30 buku. Sebagian besarnya adalah jenis-jenis novel detektif dan fantasi yang notabene kurang aman dikonsumsi anak-anak.Dari mana aku punya uang untuk membeli banyak buku taman bacaanku nanti? Rasanya sulit sekali, berhubung aku hanyalah karyawan kecil di sebuah perusahaan catering di Cikarang. Gajiku tak seberapa untuk membeli stok buku yang dibutuhkan. Lagi, aku merenung. Mustahil!Akhir April 2010Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.Kutipan pesan yang kudengar dari bibir Pak Harfan di film ‘Laskar Pelangi’ itu sangat menyentil dadaku. Walau begitu, aku merasa kutipan itu tersenyum jua ke arahku. Kontradiksi yang aneh sebetulnya. Ada rasa seperti tersengat. Namun petikan ini menyimpan makna yang dalam. Ah, kata siapa mustahil! Jika mimpi ini kuraih dengan sungguh-sungguh, pastilah kata ‘mustahil’ itu perlahan menjadi kata ‘BISA’. Neil Amstrong aja bisa, aku juga harus bisa dong!Untuk mengukuhkan tekad mendirikan taman bacaan. Aku pun memutuskan untuk resign dari pekerjaanku di Cikarang. Seterusnya aku akan mencari pekerjaan baru di daerah Bogor saja. Ya, tekadku begitu kuat saat itu, hingga nekad melepaskan pekerjaan utama yang selama ini menjadi penopang hidupku.Sebelum resign, seorang rekan kerjaku menawarkan komik-komik bekas koleksinya. Tentu saja aku sangat gembira. Apalagi rekan kerjaku itu tak mematok harga mahal. Hanya seribu rupiah per komik. Aku pun membeli 100 komik darinya. Ahh, sungguh beruntungnya aku! Ini langkah awal yang baik.Juni 2010Pertengahaan Juni 2010, aku iseng membuka akun facebook-ku. Dan, sungguh tak menyangka seorang teman lama mengirimiku pesan. Chen. Ia adalah teman semasa kuliahku. Sedikit cerita, Chen adalah seorang gamer dan penggila komik. Koleksi komiknya ada selemari penuh. Maka dari itu, ketika ia mengirimiku messege, aku langsung mengutarakan maksud tentang taman bacaan yang hendak kudirikan. Dan, alhamdulilah, ia merespon positif permintaanku, dan bersedia menyumbangkan sebagian koleksi komiknya ke taman bacaanku. Kurang lebih ada 80 komik. Ah, sungguh ini anugerah yang luar biasa.Setelahnya, aku mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk merealisasikan rencanaku. Dari mulai proposal, pembangunan sistem, penyebaran brosur dan tempat. Atas ijin Mamah, aku diperbolehkan memakai ruang tamu untuk dijadikan taman bacaan sementara. Alhamdulilah.Awal Juli 2010Jreng jreng... Sebuah tulisan ‘Perpustakaan Senyum’ yang kubuat dari kertas origami kini terpampang jelas di jendela rumahku. Senyumku mengembang memandang tulisan itu. Kala itu, aku masih diliputi perasaan gelisah, karena takut tak ada anak-anak yang mengunjungi taman bacaan ini. Namun ternyata, ketakutanku terlalu berlebihan. Esok siangnya, segerombolan anak SD mulai merangsek memasuki taman bacaan senyum. Banyak di antaranya yang datang untuk membaca. Beberapa buku dipinjam juga oleh mereka. Ah, senangnya!Akhir Juli 2010Esoknya aku terbangun pagi sekali. Langsung aku menuju kamar mandi untuk wudhu, lalu menjalankan sholat subuh. Kemudian membantu Mamah berjualan sarapan. Aku bertugas mengolah gorengan yang akan dijual. Belum sempat bersiap-siap, sekitar jam 09.00 pagi, aku kedatangan seorang tamu tak terduga. Seorang guru SDku. Dia menawariku pekerjaan menjadi guru di bimbingan belajarnya. Wajahku sumringah. Entahlah, saat itu aku merasa, Allah seperti memudahkan semua urusanku. Allah seperti mendengar kegundahanku. Dengan mantap, aku pun menerima tawarannya. Aku benar-benar bersyukur pada Allah.Agustus 2010 s/d Oktober 2011Aku tak habis pikir, keinginan mempertahankan taman bacaan Senyum makin mendarah daging di tubuhku. Bulan-bulan yang melelahkan untuk kulewati. Di mana aku harus terus mencari donatur untuk memperbanyak koleksi buku. Promosi juga kian gencar kulakukan. Entah, sekalipun koleksi buku sudah semakin banyak, namun semangat membaca anak-anak ternyata tak selamanya menggebu. Lamban laun, jumlah member yang awalnya seratus lebih, lama-kelamaan makin menyusut. Ah, aku kecewa dengan kondisi ini. Tapi aku tak mau terus-terusan diam menghadapi situasi ini. Harus ada inovasi yang kulakukan untuk menumbuhkan minat baca mereka! Harus..Salah satu inovasi yang kulakukan adalah mengikutsertakan anggota taman bacaanku ke event OTBA (Olimpiade Taman Bacaan Anak) 2011 yang diadakan oleh komunitas 1001 buku. Ada berbagai lomba yang digelar. Diantaranya lomba permainan tradisional, membuat kreasi dari barang bekas dan lomba dongeng online. Di sana mereka bisa bertemu dengan anak-anak lain pencinta buku di seluruh Jabotabek. Di event ini anak-anak juga diberi arahan akan pentingnya membaca dalam kehidupan. Karena dengan membaca akan memperluas jendela ilmu pengetahuan kita. Walau pada akhirnya, taman bacaanku tak memenangkan lomba apapun. Tapi semua puas. Ya, setelahnya, minat baca anak di komplek rumahku kembali tinggi. Anak-anak malah makin antusias.Bulan-bulan -->, taman bacaanku makin kebanjiran donator buku. Jumlah buku yang awalnya hanya sekitar 300-an, kini telah mencapai angka 1600 buku. Sejak itu aku tak merasa resah! Sepertinya masih ada yang mengganjal di hatiku. Apa gerangan? Aku juga bingung…Awal November 2011Dadaku kembali tersentil ketika membaca sebuah cerpen di majalah Story berjudul ‘Anomali di Taman Baca'. Ah, baru kuingat, hal inilah yang mengganjal hatiku selama ini. Aku memang sudah berhasil mendirikan taman bacaan, namun aku lupa untuk siapa tujuan awal mendirikan taman bacaan anak? Anak-anak jalanan! Ya, untuk merekalah seharusnya taman bacaan Senyum, berdiri. Merekalah skala prioritasku dulu. Aku mulai membenahi visi. Dan membuat perombakan baru.Aku mendatangi teman-teman SABAR* agar bisa membantu mewujudkan keinginan ini. Mereka menyambut antusias ideku, namun mereka hanya mau membantu sebatas pengadaan buku dan sosialisasinya saja. Soal tempat mereka serahkan padaku. Ah, betapa hal inilah yang menjadi masalah terbesarku sekarang. Ya, memang bukan perkara mudah. Tapi, aku harus terus berjuang.***Di dekat lampu merah Tugu Kujang, aku tertawa kecil memandang anak-anak jalanan berlarian di tengah riuhnya lalu lintas. Aku menuliskan seketip notes tentang mereka di buku diari. Ya, aku akan memulai perjuanganku lagi di sini.Lembaran kisah mimpiku akan dimulai lagi dari awal. Kali ini sepertinya perjuanganku akan penuh liku. Jika Neil Amstrong bisa, aku juga pasti bisa! Semangat!-Tamat-*SABAR (Sanggar Baroedak) adalah sebuah organisasi sosial yang menuangkan ide dan kreativitas anak dan remaja Bogor dalam bermain, belajar dan mengajar. Moto mereka adalah "Habis gelap terbitlah terang". Anggotanya terdiri dari remaja Bogor yang kreatif, inovatif, berjiwa seni, dan peduli akan sejarah-sejarah Bogor.Untuk mereka yang rela menghabiskan hidupnya demi kebahagian orang lain.

 


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document