Dul



Penulis: Herisma Yanti


Aku bersama dengan seorang ibu berumur sekitar 32 tahun sekarang. Dengan daster batik lusuh, dia setengah berlari tak tentu arah. Aku juga ikut berlari. Matanya basah oleh air mata yang sejak tadi tak henti membanjiri muka kusutnya. Tangannya pun sibuk menghapus mereka agar tidak menghalangi pandangan. Lagi-lagi aku ikut menangis walau tak sibuk menghapusnya. Tiga jam lalu, sebuah kabar mengejutkan datang padanya.

“Minah… gawat! Gawat ini, Minah!” Laki-laki hitam itu ngos-ngosan.

Perempuan bernama Minah yang sedang membereskan dagangan segera menghentikan aktivitasnya. “Ada apa, Mang?” Mukanya sedikit panik.

“Tadi gua nganterin sarapan yang elu suruh buat si Dul, tapi dia kagak ada di rumah. Gua kira dia maen di rumah Gugun. Gua samperin rumahnya, si Gugun lagi sekolah.” Laki-laki berlogat Betawi menjelaskan dengan tergesa.

“Ooo… dikirain ada apa, Mang,” muka panik Minah berubah tenang. “Paling ada di rumah Nek Darsih. Sarapannya letakin di depan pintu aja, Mang Kadir.” Minah terkejut melihat tangan kanan Mang Kadir masih menenteng rantang 4 tingkat.

“Elu lupa, ya. Nek Darsih lagi ngunjungin anaknya yang di Boyolali. Gua udah nyariin si Dul…,” kalimat Mang Kadir terputus. Minah segera berlari meninggalkan Mang Kadir dan dagangannya.

Sedikit panik, Minah membuka rumahnya. Kosong. Dia kemudian berlari ke rumah Gugun. “Si Dul ndak ke sini, Minah,” ibu Gugun heran. Minah melanjutkan mencari ke rumah Nek Darsih. Terkunci, pertanda tak ada orang di rumah. Kepanikan Minah bertambah saat si Dul tetap tidak ditemukan di rumah teman-teman sepermainannya. Satu jam lebih perempuan muda itu berlari dari gang sempit ke gang sempit lain di sekitar rumahnya. Tetap saja si Dul tak ditemukan. Pikiran-pikiran buruk mulai berdatangan di kepala Minah.

Aku juga dilanda kepanikan. Satu jam lebih pula aku menemaninya berlari keliling kampung.

Pencariannya berlanjut ke pasar tempat ia meninggalkan dagangan. Dalam pikirannya, mungkin saja Dul mencari dia di sana. Aku sangsi dengan pikiran itu. Tapi aku memutuskan pergi.

“Minah, daganganmu kok ditinggal? Ngopo?”1 Perempuan setengah baya bertanya heran.

Bukannya menjawab, Minah malah balik bertanya. “Mbak Yem, nilok Dul merene?”2 Suaranya tersendat, sedu sedan akibat tangisannya sejak tadi.

“Orak, Min.”3 Mbak Yem menggeleng. “Ning omah rak ana?”4

Minah menggeleng. “Wes tak cari keliling kampung.”5 Minah kembali menangis.

“Ojo nyerah. Jajal goleki neng kono!”6 Mbak Yem menatap prihatin.

Minah menuruti perkataan Mbak Yem. Kakinya yang hanya bersendal jepit tipis menyusuri jalan-jalan becek pasar. Bertanya pada beberapa pedagang yang kenal Dul. Hasilnya nihil. Semua pedagang yang ditanya hanya menggeleng. Satu jam lebih Minah mengitari pasar. Lagi-lagi selama itu pula aku bersamanya walau tak perlu repot berbecek-becek.

Saat ini Minah bimbang. Begitu takut ia mendatangi tempat di depannya. Dalam pikirannya, mungkin saja Dul tersesat hingga berada di tempat itu. Aku juga takut, lebih takut dari Minah. Sempat berpikir untuk meninggalkannya, tapi tak bisa.

“Permisi, Bang. Maaf ganggu. Saya mau nanya. Apa abang…” kalimat Minah terputus disela oleh pria-pria di depannya.

“Wah… tumben-tumbenan nih ada perempuan yang berani ke sini.” Pria berbadan paling besar nyengir. “Walaupun sedikit tua, tapi bolehlah...,” lanjutnya menggoda. Dua temannya yang lain bersiul riang.

“Ada apa ribut-ribut?” Pria bertampang sangar dengan tindikan di telinga kanan dan kiri, dua tindikan di hidung, dan tiga di bibir, muncul tiba-tiba.

“Maaf, Bang. Saya hanya mau nanya, apa Abang lihat anak laki-laki usia 13 tahun, kulitnya putih, tingginya kira-kira sebahu abang, dan berbaju spiderman di sekitar tempat ini?” Minah bertanya panik.

“Elu gak tau ini tempat apa? Gak kenal kita siapa? Mana ada yang berani datang ke sekitar sini.” Pria di depannya menatap galak, tak suka dengan kedatangan orang tak dikenal. “Ini SARANG PREMAN bukan TEMPAT NYARI ORANG ILANG!” Lanjutnya berteriak lantang. “Jadi mending lu per…,” kalimatnya terputus. Perempuan yang ia ajak bicara lari ketakutan. Aku sangat takut melihat kenekatan Minah. Bernafas lega saat dia berlari ketakutan meninggalkan tempat itu.

Minah kembali berlari, menyusuri jalanan. Bertanya pada setiap orang yang ia temui di jalan, di warteg, pada pemilik warung-warung pinggir jalan, hingga pengemis dan pengamen jalanan tak luput dari pertanyaannya. Hasilnya tetap nihil. Tak ada yang melihat anak usia 13 tahun, berkulit putih dan memakai baju spiderman. Pikiran buruk lagi-lagi berkeliaran di pikiran Minah. “Jangan-jangan Dul kecelakaan. Kalau Kecelakaannya parah bagimana?”

Aku masih menemaninya walau tak ikut sibuk bertanya sekitar.

Panas matahari kini tepat berada di atas kepala, begitu terik. Keringat Minah mulai mengucur, perutnya keroncongan, kakinya lelah setelah setengah hari berlari, mukanya sembap dan matanya bengkak akibat air mata yang tak terbendung. Hampir setengah hari Minah mencari Dul. Mulai dari keliling kampung, pasar, bertanya sepanjang jalanan yang dilewati, hingga mendatangi tempat berbahaya.

Halaman: 1 | 2 |