Oppung Turgut



Penulis: Yanti Sipayung



Oppung(1) Turgut menyapu wajah. Berusaha ia menggerak-gerakkan tubuhnya. Dia memberi isyarat kepada Sani yang berjarak sekitar lima meter dari tempatnya duduk. Anak lelakinya itu masih mengerjai kendaraan roda dua milik orang kampung seberang. Entah apa kereta(2) itu yang rusak. Yang jelas, tadi pemiliknya mendorong  sampai ngos-ngosan menuju rumah Sani. Dan sudah lebih setengah jam Sani berkutat memegangi macam peralatan bengkel yang ia taut-tautkan ke kereta yang rusak itu.

Oppung Turgut mengeluh pendek. Gerakan-gerakan yang ia buat sampai kursi rodanya ikut bergoyang ternyata tak mengalihkan perhatian anaknya. Mau rasanya ia menjerit atau menangis. Biar si Sani terlonjak lantas berlari menghampirinya dan mengantarkannya ke kamar. Lalu dinaikkannya ke tempat tidur, tempat yang ia inginkan sekarang. Tapi Oppung Turgut menggugurkan niatnya, nanti marah-marah pula pasien bengkelnya itu karena tak siap-siap keretanya diperbaiki.

Oppung Turgut sebenarnya tak lelah ataupun mengantuk. Dia hanya jengah mendengar mamak-mamak yang beradu cerita dan pendapat di dekatnya. Berawal dari pertanyaan-pertanyaan sebagian mamak-mamak itu kepada Imel, Sarah dan Tati yang sedang berbadan dua. Si Imel memasang harap agar anak yang dikandungnya berjenis kelamin perempuan, karena dua anaknya berjenis kelamin pria.

Si Tati, yang baru akan menjadi ibu, pun demikian impiannya. Dia menyimpan keinginan, anak pertamanya adalah perempuan. Menurutnya, kalau anak pertama itu perempuan, ada yang akan membantuinya kelak. Beban rumah tangganya akan terasa ringan. Lain pula alasan si Sarah yang juga menginginkan anak perempuan, nanti kalau dia sakit, tua dan tak berdaya, ada yang mengurusnya. Tak perlu risau dengan kegarangan menantu perempuan yang biasanya mengerikan.

Oppung Turgut melirih ke arah mereka yang asyik dengan cerita. Dulu, dia sangat senang bergabung bersama mamak-mamak yang menceritakan keluarganya. Apalagi cerita tentang anak-anak. Wah, Oppung Turgut pasti paling semangat bercerita. Apalagi kalau mereka memilih lahan mengobrol di rumahnya, bisa dipastikan Oppung Turgut dan suaminyalah yang memegang kendali pembicaraan. Mereka yang mendengar biasanya berdecak kagum memuji kesuksesan kedua orang tua itu membesarkan anak-anak mereka yang berjumlah delapan orang.

“Si Ros tamatan IAIN, e… dapat suami lulusan dari USU. Sama-samala orang itu jadi guru. Kalo si Ida, suaminya pengusaha jamu. Dia di rumah aja, bantuin usaha suaminya. Nah si Iyus, dia apoteker. Kerjanya kalo nggak salah ngawasin apotek-apotek. Trus suaminya punya grosir. Si Sari lain pula, dia PNS, suaminya pengusaha busana muslim. Si Arif, dia merantau ke Pekan Baru. Dia memang nggak kaya, tapi lumayan baiklah disana kehidupannya. Tinggal si Didin sama si Abas ini yang belum tau kayak mana nanti. Si Didin masih kuliah S-2, si Abas lagi kuliah jurusan komputer.” Oppung Turgut yang laki-laki begitu bangganya menceritakan anak-anaknya yang menurutnya sangat layak untuk dibanggakan.

“Enakla, Tulang(3). Kalo anak-anakku, e…. jangankan kuliah, disuruh sekolah aja payah. Bodoh-bodohnya minta ampun. Dipaksa sekolahpun tak adanya gunanya. Cuma ngabisin uang aja untuk bayarin uang sekolah sama ngasi jajannya.” Salah seorang pendengar menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk jidat dua kali.

Oppung Turgut menyunggingkan senyum. “Kalo anak-anakku, nggak pernah ada itu yang dipaksa belajar. Malah nangis pun orang itu kalo kusuruh pere(4) sekolah. Tengoklah, kalian tau sendiri kan, mana ada orang itu yang nggak rangking di sekolah. Semuanya dapat rangking.”

“Mudah-mudahan orang itu berhasil semua. Ya, biarlah kami susah-susah sekarang, nggak kaya, tapi anak-anak kami bisa sukses, hidup orang itu lebih baik dari kami.”

Oppung Turgut yang saat ini duduk di kursi roda menutup lamunannya. Kiranya Sani telah ada di sisinya.

“Mamak udah capek?” Sani yang terlihat letih tetap berusaha lembut.

“I a ua ia ia a u a….” Berusaha keras ia berbicara, namun tak sepatah katapun yang bisa ia utarakan. Oppung menggelengkan kepalanya berulang-ulang.

Pasti Sani tidak mengerti apa maunya. Tidak ada yang paham apa arti bahasanya yang semerawut.

“Jadi Mamak di sini dulu, belum capek, kan? Ntar lagi aja kita masuk, ya.”

Ya. Sani tidak mengerti. Dan memang tidak ada yang mengerti ucapannya semenjak ia terkena stroke setahun lalu. Segala sesuatunya terbatas. Untuk bergerak leluasa, berucap, semuanya harus tertahan sebatas kemauan dalam hati.

Mamak-mamak yang sibuk menggoyangkan bibir beradu cerita merehat sejenak ceritanya karena melihat Sani mendekati Mamaknya. Ragam penilaian mereka lontarkan dalam hati. Sani begitu sayang sama Mamaknya. Lantas begitu Sani kembali ke bengkelnya, kembali mereka melanjutkan aksi goyang bibir yang tertunda sejenak.

“Cuma si Sani lah mungkin yang sayang sama Turang(5) ini, ya.” Marinta memulai melanjutkan pembicaraan.

“Tapi sebelum ini kan, Oppung tinggal sama anak-anaknya di Medan kan, Kak?” Kiah yang baru saja memasuki arena bicara mengajukan tanya kepada Ida, istri Sani.

“Ya, sebelum di sini, dia di tempat si Abas. Tapi si Abas sama istrinya terus-terusan berantam6 semenjak mamak tinggal sama orang itu.”

Halaman: 1 | 2 |