Di Balik Pemberontakan Cilegon 1888

Judul         :  Runtuhnya Menara Azan
Pengarang :  Yanti Soeparmo
Penerbit    :  Mizania
Genre        :  Historical novel
Cetakan     :  Pertama, 2009
Harga        :  Rp 65.000,00
ISBN         :  978-602-8236-20-1


 

Selain Afifah Afra, Yanti Soeparmo atau nama aslinya Parianti Indriani adalah salah seorang pengarang dari Forum Lingkar Pena yang kerap menelurkan karya bertema sejarah. Bedanya, gaya kepenulisan Yanti Soeparmo tidak legit bergula-gula seperti halnya Afifah Afra. Namun justru gaya kepenulisan yang sederhana itulah yang menjadi salah satu keunggulan karya-karya Yanti Soeparmo. Karya Yanti Soeparmo selalu enak dibaca, mudah dicerna, tetapi juga sarat informasi sejarah dan teka-teki a la cerita detektif.

Hal itulah yang bakal pembaca temukan dalam novel setebal 364 halaman ini. Novel yang dicetak menggunakan kertas koran ini menceritakan tentang sebab-musabab terjadinya pemberontakan muslim Cilegon pada 9 Juli 1888. Menariknya, Yanti Soeparmo membagi setting waktu menjadi dua bagian, yaitu tahun 1888 dan 2008, yang dituturkan secara tidak linier. Tokoh sentral pada setting tahun 1888 adalah Adrian de Vries, seorang agen rahasia Hindia-Belanda; Josefine, seorang pembantu rumah tangga berdarah Indo-Belanda; dan Corrie van Krieken; putri seorang arkeolog. Sementara tokoh sentral pada setting tahun 2008 adalah Abraham, mahasiswa S2 Jurusan Sejarah Universitas Leiden, Belanda dan Sara, mahasiswi S1 Jurusan Sejarah Universitas Negeri Jakarta. Cerita semakin menarik, karena ternyata Abraham mempunyai hubungan kerabat dengan Adrian de Vries, sedangkan Sara adalah keturunan Corrie van Krieken. Dua pasang tokoh berbeda masa itu saling menaruh hati, tapi sayangnya nasib tidak mengizinkan mereka bersatu. Adrian tidak bisa menikahi Corrie, karena dia tewas ditembak Josefine dua hari sebelum pernikahan, dan Abraham tidak bisa bersatu dengan Sara, karena perbedaan keyakinan.

Seperti yang sudah dikemukakan di atas, saat membaca novel ini pembaca tidak melulu hanya disuguhi kisah cinta, tapi juga informasi sejarah yang mencerahkan. Misalnya, selama ini dikatakan bahwa Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Tapi ternyata hal tersebut keliru, karena para sejarahwan Indonesia selalu menghitung masa penjajahan Belanda dari sejak kedatangan kapal dagang Cornelis de Houtman di pelabuhan Banten sampai dengan hengkangnya pasukan NICA usai Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Pembaca juga akan disuguhi informasi mengenai asal-usul nama tempat-tempat bersejarah di kisaran Jakarta dan Jawa Barat. Dan yang paling penting, pembaca akan tahu alasan utama terjadinya pemberontakan muslim Cilegon 1888, yang rupa-rupanya berbeda sama sekali dengan apa yang selama ini termaktub dalam buku-buku teks sejarah.

Secara umum, novel ini sangat layak dibaca untuk meluaskan wawasan. Hanya saja, sepertinya tidak ada benang merah atau kaitan yang jelas antara judul dengan isi novel. Peresensi sendiri sudah membaca novel ini lebih dari dua kali. Tapi sayangnya, belum berhasil juga menemukan alasan mengapa pengarang memberi judul demikian? [Thomas Utomo]

Wallahu a'lam.


*Thomas Utomo lahir pada 1 Juni 1988. Bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. E-mail totokutomo@ymail.com.