Melancong Bersama Nh. Dini

Judul        : Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang

Pengarang : Nh. Dini

Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan     : Pertama, Februari 2012

Tebal         : vi + 218 halaman

Harga        : Rp 45.000,00

ISBN         : 978-979-22-7975-7



Karya Nh. Dini memukau tidak hanya dari segi jumlah, tapi juga karena mutunya yang tidak bisa disangsikan lagi. Selain karyanya banyak dijadikan kajian skripsi, tesis, dan disertasi—baik oleh orang Indonesia maupun manca, nama Nh. Dini juga pernah diajukan sebagai penerima hadiah nobel sastra. Sekadar pengetahuan, selain Nh. Dini, pengarang lain asal Indonesia yang berkali-kali diajukan sebagai penerima hadiah nobel sastra adalah Pramoedya Ananta Toer, yang populer—terutama—dengan Tetralogi Pulau Buru-nya.

Buku ini merupakan Seri Cerita Kenangan kedua belas yang memaparkan pengalaman Nh. Dini—terutama—saat bermukim di Rue Saint Simon, Paris, Prancis dan di Jalan Lembang, Jakarta, Indonesia. Buku ini memaparkan periode kehidupan Nh. Dini saat dan setelah bercerai dengan sang suami; Yves Coffin, seorang diplomat berkewarganegaraan Prancis.

Sambil menunggu perceraiannya diumumkan oleh pengadilan, Nh. Dini bekerja sebagai dame de compagnie; wanita pendamping bagi Tuan Jouffroi. Sehari-hari Nh. Dini bertugas merawat, menjadi teman berbincang, melayani makan-minum, dan membereskan rumah lelaki berumur 76 tahun tersebut. Dari pekerjaan tersebut, Nh. Dini mendapatkan gaji yang lumayan, yang kemudian ditabung sebagai bekal untuk hidup di Indonesia kelak. Namun kondisi kesehatan yang memburuk, termasuk perdarahan organ vital yang terus-menerus, membuat Nh. Dini memutuskan keluar dari pekerjaannya. Di saat itulah, Nh. Dini merasa, “Ini adalah isyarat dari Yang Maha Esa bahwa saat meninggalkan negeri adopsiku (Prancis—pen) telah tiba.” (halaman 8).

Pada 23 Februari 1980, Nh. Dini pulang ke Indonesia dengan naik pesawat GIA. Di Indonesia, usai mengurusi kesehatannya, ialah operasi pengangkatan rahim, Nh. Dini langsung menerjunkan diri dalam dunia pendidikan-sosial-budaya berkat namanya yang sudah dikenal, juga karena kedermawanan sejumlah relasi baru.

Bagian yang menjadi fragmen kehidupan Nh. Dini yang paling menarik dalam buku ini, ialah saat Nh. Dini berkesempatan melancong dan melawat ke pelbagai daerah di Indonesia atas biaya sejumlah instansi atau relasi. Memadailah disebut beberapa di sini, seperti Pulau Perca di Sumatra guna keperluan penyusunan buku biografi Amir Hamzah pesanan majalah Femina, Air Sugihan di Palembang; guna menyertai rombongan Kementerian Lingkungan Hidup yang akan menggiring kawanan gajah ke Lebong Hitam, dan ke belantara hutan Kalimantan guna menemani sejumlah pematung yang membuat kaligrafi raksasa pesanan Kerajaan Arab Saudi. Selain itu, Nh. Dini juga berkesempatan melawat ke berbagai kawasan di Sulawesi atas biaya koran Sinar Harapan, kawasan Meru Betiri, dan masih banyak lagi.

Membaca buku ini pembaca seperti diajak melancong ke pelbagai daerah eksotik di Indonesia. Seperti karya-karya yang lain, Nh. Dini menulis buku ini dengan gaya bahasa yang lembut dan pemaparan deskripsi yang detail, seolah-olah pembaca bisa melihat dan turut mengalami hal yang diceritakan sang pengarang. Apalagi karena Nh. Dini menggunakan gaya cerita “akuan”. Tak heran, banyak kritikus sastra zaman kiwari yang menjuluki rangkaian Seri Cerita Kenangan Nh. Dini sebagai otobiografi fotografis, lantaran saking kaya dan detailnya gaya penceritaan sang pengarang.

Selain itu, ada dugaan Nh. Dini “sengaja” memasukkan dan memaparkan banyak tempat di Indonesia secara detail sebagai ajang promosi, ialah untuk memaparkan keeksotikan dan keberagaman kawasan di Indonesia, dan selanjutnya mengajak pembaca mengunjungi tempat-tempat tersebut. Sudah mafhum bahwa karya-karya Nh. Dini beredar dan dibaca tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di sejumlah negara, seperti Australia, Jepang, Belanda, dan Prancis. Tentu saja kalau promosi ini berhasil, maka bisa sangat menguntungkan Indonesia.

Di luar substansi cerita, kemasan buku ini terbilang menarik. Kemolekan buku ini terutama karena sampul yang digarap oleh perupa sekaligus cerpenis Iksaka Banu ini, merupakan lukisan dengan rajutan warna-warna yang lembut lagi pas, sehingga mampu menjerat pandang mata para calon pembaca. [Thomas Utomo]

*Thomas Utomo bekerja sebagai guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. E-mail totokutomo@ymail.com.