Untitled Document

Kategori : Travel Story

Dibaca : 1087 Kali

Wisata Oseanografi Pulau Pari

 Oleh: Agung Dodo I

Jumat, 7 Desember 2012. Tepat jam satu siang, saya dan beberapa awak media bersama kru LIPI divisi Oseanografi berangkat dari Raden Saleh menuju Rawa Saban. Kemacetan parah di perjalanan dapat terbiaskan dengan keakraban teman-teman baru ini. Tak terasa karena asyiknya mengobrol, kami tak sadar kami baru tiba di tempat yang dituju setelah bada Asar. Ternyata dari Raden Saleh sampai Rawa Saban butuh waktu sampai dua jam lebih, sudah seperti perjalanan dari Jakarta ke Bandung saja ya, Sob. Di sana kami sudah ditunggu oleh guru pembimbing dan para pelajar dari BINUS. 

Tak berapa lama, dengan menggunakan kapal kayu kami berlayar dari Rawasaban ini menuju Pulau Pari. Suasana laut yang bergelombang membuat saya agak sedikit mual. Namun setelah melihat pemandangan matahari sore dan burung-burung yang berterbangan, rasa mual itu seperti menguap begitu saja.

 Tepat setelah satu jam berlayar di lautan, akhirnya kami sampai di Dermaga Timur Pulau Pari.

 Setelah menyimpan barang ke penginapan, kami segera melakukan persiapan untuk acara charity bagi anak-anak Pulau Pari. Kru LIPI memfasilitasi para pelajar BINUS menggelar berbagai permainan untuk menghibur mereka. Keakraban terjalin sangat erat, tak ada batasan status sosial, ras, agama, atau apa pun. Hanya sesederhana ingin memberikan kebahagiaan, ah tidak, hanya ingin mentransfer pemahaman kalau anak-anak pulau pun bisa menikmati masa kecil dengan permainan-permainan sederhana.  

Hari pertama wisata di Pulau Pari ini diwarnai dengan kebahagiaan anak-anak. Bahkan, yang tak terlupakan, adalah ketika pelangi sore menyambut kedatangan kami semua di sini.  

*Tak lengkap rasanya jika wisata di Pulau Pari tanpa melakukan kegiatan snorkeling dan diving. Ya, inilah kegiatan kami di Sabtu pagi ini. Meski gerimis sebentar membasahi Dermaga Timur, para pelajar BINUS yang tergabung dalam club diving dan go green ini dipandu dengan kru Lipi tampak antusias mengeksplorasi kekayaan bawah laut Pulau Pari. Ada hal-hal menarik tentang kelautan yang banyak disalahpahami oleh masyarakat umum. Ternyata karang itu termasuk makhluk hidup dan termasuk ke dalam jenis hewan. Ya, kita sering salah menyebut terumbu karang, padahal sesungguhnya terumbu karang adalah ekosistem dari karang-karang tersebut. Bahkan contoh kecil lain kesalahpahaman di masyarakat adalah tentang Paus. Ya, karena sejatinya Paus tidak termasuk dalam golongan ikan karena hewan ini bernafas dengan paru-paru.   

Wisata yang penuh edukasi dan charity ini lalu dilanjutkan dengan pelatihan bahasa Inggris dan wirausaha sederhana kepada warga. Karena memang selain sebagai tempat penelitian kelautan LIPI, Pulau Pari memiliki potensi wisata yang tidak kalah dengan Pulau Tidung atau pulau-pulau lain di gugusan kepulauan Seribu ini. Warga tampak antusias sekali mendapatkan pengetahuan baru gratis dari anak-anak muda ini. Tim dari LIPI hanya memfasilitasi dan menghubungkan keinginan tulus dari pelajar Binus dan warga Pulau Pari. Melihat mereka menyatu dalam kebersamaan sungguh kebahagiaan yang besar buat saya. Jauh lebih indah dibandingkan pemandangan menakjubkan di Pulau Pari ini. 

Nah, dan di waktu ini lah awak media seperti saya berkesempatan untuk bersentuhan langsung dengan pesona Pulau Pari. Selain tempat diving dan snorkeling, Pulau Pari terkenal dengan Pantai Pasir Perawannya. Sekalipun tidak terlalu luas, namun hamparan pasir putih dan airnya yang bening sungguh memanjakan mata. Bahkan jika kita ingin sedikit menikmatinya lebih dalam, cukup dengan menyewa sampan, kita bisa mengitari pantai yang terletak di barat Pulau Pari ini.

Ada legenda menarik dibalik pemberian nama Pantai Pasir Perawan ini. Konon puluhan tahun lalu, ada seorang gadis yang pernah hilang di pantai ini. Malahan sebagian masyarakat percaya kalau gadis itu diculik oleh jin. Sebagai muslim kita tentu saja tak boleh percaya ya, Sob. Karena bagaimanapun manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah. Jangan sampai kita malah jadi takut sama makhluk daripada takut sama Allah.

 Selain Pantai Pasir Perawan ada Bukit Matahari di samping Dermaga Timur Pulau Pari yang cukup dikenal oleh para wisatawan. Tempat ini biasa dipakai untuk spot menangkap pemandangan sunset dan sunrise.

Salah satu tempat yang tidak kalah menarik lainnya adalah Pantai Pasir Berbintang, yang berada dekat di kawasan stasiun penelitian Oseanografi LIPI. Karena memang banyak bintang laut di pantai ini. Kita juga bisa langsung berjalan masuk ke dalam air karena tinggi air hanya selutut orang dewasa, tapi jangan terlalu jauh ke tengah juga ya, Sob. Kita bisa melihat bintang laut dengan mata telanjang. Nah hati-hati juga ya, karena bintang laut yang ada tidak berwarna pink seperti Patrick di Spongebob Squarepants itu. Melainkan warnanya menyatu dengan pasir pantai tersebut.  Stasiun penelitian Oseanografi di Pulau Pari ini sudah ada sejak zaman gubernur DKI Ali Sadikin lohh. LIPI sendiri memang punya komitmen kuat untuk mengedukasi masyarakat tentang kelautan. Selain dengan Binus ini, LIPI sudah sering bekerja sama mengadakan kegiatan dengan berbagai lembaga pendidikan dan instansi swasta. Hmmm, pokoknya kita tak hanya bisa snorkeling, diving, atau menikmati pemandangan pantai Pulau Pari saja, Sob. Tetapi juga pengetahuan kelautan akan kita dapatkan di sini.

 Apalagi para pelajar dari Binus ini tidak sekedar berwisata namun juga mempelajari kondisi terumbu karang di Pulau Pari ini. Malam ahad dihabiskan dengan memberikan edukasi dan rekomendasi kepada warga untuk melestarikan kekayaan laut Pulau Pari.  

***Di hari terakhir, ketika kru media dan awak Lipi masih istirahat karena kelelahan, setelah salat subuh saya memutuskan pergi ke Bukit Matahari dengan menggunakan sepeda, tentu saja untuk berburu pemandangan matahari terbit. Karena memang pagi ini hanya ada agenda diving dan snorkeling.  Tiga hari sudah pengalaman di Pulau Pari ini, setelah membereskan perlengkapan dan melaksanakan shalat dzuhur, kapal kayu yang Jumat lalu mengantarkan kami ke Pulau Pari ini, kini meninggalkan Pulau Pari tercinta menuju Jakarta. Oh ya, jika Sobat Nida mencoba lihat lewat foto satelit atau peta, Pulau Pari ini bentuknya memang mirip dengan ikan pari.

Selesai.


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document