Forgotten



Penulis: Rosmen Rosmansyah

 


"Anda terhubung dengan layanan kotak suara 6803455. Silakan rekam pesan anda setelah bunyi berikut..."
 

Tiit...

"Bu, ini aku Aksan! Kumohon jawab teleponku, Bu! Aku Aksan, anakmu!"

Tut… tuuut....

Ini adalah panggilan keempat-puluh yang kutujukan hari ini untuk Ibu. Ibu hanya sedang tidak sempat menjawab teleponku. Aku tahu itu. Memori dan kenangan tak akan bisa mengalahkan ikatan batin yang telah tersimpul. DNA kami adalah bukti mutlak. Semua ini hanya soal waktu dan aku percaya itu.

 * * *

Sinar mentari sudah mengintip dari balik jendela. Bumi telah berotasi sebagaimana mestinya. Ah, aku benci ini. Ingin kutarik kembali selimutku, tapi weker sudah menunjukkan pukul 8 lebih 5 menit. Aku kesiangan! Maka bergegaslah aku mandi, gosok gigi lalu membungkus tubuh ini dengan kaos oblong dan jeans belel favoritku. Hari apa ini? Senin. Oh tidak, kesiangan di hari Senin seperti sebuah sindrom yang sudah mendarah daging di tubuhku. Aku lekas pergi ke kampus sampai lupa tidak mengunci pintu kosan dulu. Tak apalah, ibu kos sudah tahu diriku. Bagiku, waktu lebih penting daripada harus mengunci pintu. Lagipula, tak ada barang berharga di kamar kos yang sudah setahun ini kutinggali itu. Aku sudah biasa dan tidak khawatir dengan hal itu.

Aku berlari sekuat tenaga menuju kampus. Jarak kampus dan kosanku tidaklah terlalu jauh. Sekitar satu kilometeran kurang. Kalau dengan berlari, bisa kucapai dengan jarak tempuh sekitar dua puluh menitan. Itu sudah jarak tempuh maksimum.

Kelas Sistem Komunikasi Analog sudah dimulai. Pak Dimas, sang dosen, sudah berdiri memberi materi mata kuliah di depan para anak didiknya.

"Assalamualaikum, Pak," ucapku sambil mengetuk pintu kelas yang terbuka. Aku lalu nyelonong masuk menuju kursi yang masih belum terisi. Kusadari semua orang yang ada di ruangan ini tengah menyorotiku. Mereka seperti baru pertama kali melihatku kesiangan saja. Bukankah aku ini juaranya dalam soal kesiangan. Hampir sebagian semester pertama kuliahku dihabiskan oleh ketidaktepatanku akan waktu.

"Kamu mahasiswa baru, ya?" tanya Pak Dimas sambil melorotkan kacamatanya.

Aku agak bingung dengan pertanyaannya, "Saya Aksan, Pak."

"Aksan?" Pak Dimas mengerutkan dahi.

Aku menoleh ke arah Rudi, salah seorang teman yang duduk di samping kiriku.

"Apa ada yang aneh?" aku berbisik.

"Lu siapa?" tanya Rudi spontan. Ini sungguh tidak lucu. Apa ada yang salah denganku? Aku tak mau mengawali hariku dengan omong kosong semacam ini.

"Kamu mahasiswa baru?"

Aku bingung harus menjawab apa. Kukeluarkan seluruh isi ranselku yang berisi beberapa makalah dan buku materi, tapi sayangnya aku lupa membawa dompet yang di dalamnya ada KTP dan kartu mahasiswa. "Saya Aksan Radiansyah. Mahasiswa semester 1 Teknik Elektro!"

"Aksan Radiansyah?"

"Ya!"

"Benarkah itu?"

"Bapak bercanda, ya!"

"Saya tidak bercanda. Kamu jangan main-main dengan saya! Sekarang lebih baik kamu keluar dari kelas saya!"

"A… apa?"

Ada apa ini? Aku diusir dari kelas. Ini semacam hukuman atas ketidakdisiplinanku atau apa? Kucoba menelpon Rudi meski ia masih di dalam kelas.

"Halo?"

"Ini gue Aksan. Rud..."

"Lu siapa? Maaf, gue sedang kuliah.."

Telepon pun terputus. Ada apa ini? Aku benar-benar bingung. Lalu aku coba menghubungi Ninda, teman wanita yang sudah tiga bulan ini dekat denganku.

"Halo Nin, ini aku Aksan."

"Aksan siapa, ya?"

"Nin, kamu jangan bercanda! Aku serius!"

"Maaf, saya enggak kenal orang yang bernama Aksan. Sepertinya kamu salah sambung…"

Tuuttt... telepon kembali terputus. Konspirasi macam apa ini? Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Mimpi apa aku semalam? Atau jangan-jangan aku masih bermimpi? Kepalaku mendadak pusing. Kurasa aku harus segera pulang untuk menenangkan pikiran.

Aku kembali ke kosan. Tapi seketika aku dikejutkan oleh selembar kertas yang ditempel di pintu kamar kosku. "DISEWAKAN!" begitu bunyi tulisan dalam kertas itu. Ada apa lagi ini? Aku selalu membayar sewa tepat waktu, tapi kenapa ibu kos melakukan ini padaku?

"Ada apa ini, Bu? Kenapa Ibu menempelkan tanda 'disewakan' di pintu kamar kosku?" tanyaku pada Ibu Kos yang saat itu sedang sibuk menjemur baju.

"Kamar kosmu? Kamu jangan ngaku-ngaku, ya! Kamar ini sudah lama tak diisi. Kalau kamu mau menyewa kamar ini, silakan saja!"

"Ini kamarku. Aku baru keluar dari sini sejam lalu. Barang-barangku juga masih tertinggal di dalam!"

"Kamu jangan mengada-ngada, ya! Kalau kamu enggak mau menyewa kamar ini, ya terserah saja."

"Tapi ini kamarku!"

"Kamu ini ngotot, ya! Cepat pergi sekarang juga atau saya panggil polisi!"

"Tapi, Bu..."

Dan semakin parah saja semua kekisruhan ini. Ada apa dengan orang-orang ini? Apa aku baru saja melewatkan suatu peristiwa bersejarah? Apa semalam alien baru menginvasi bumi? Jangan-jangan semua orang ini adalah makhluk luar angkasa yang sedang menyamar menjadi manusia dan aku adalah satu-satunya manusia yang tersisa. Entahlah, siapapun tolong jelaskan semua ini? Aku benar-benar tak mengerti.

Beberapa gigitan roti rasa cokelat sudah mulai lumer di mulutku. Aku seperti anak kucing yang baru saja dibuang di tempat asing. Ibu, tiba-tiba aku rindu akan sosoknya.  Semua raut wajah anggota keluargaku terbayang di kepala. Kuraih ponselku. Rumah menjadi tempat yang paling kuinginkan saat ini. Aku rindu semua ketenangan kampung halaman. Ibu, aku ingin pulang.

Tiitttt!

"Ya, assalamualaikum..."

Mendengar suara khas Ibu sungguh menentramkan batinku. Sungguhlah aku sangat membutuhkannya untuk saat ini.

"Ini Aksan, Bu!"

"Aksan? Aksan siapa, ya?"

Seketika, jantungku bagai ditonjok kepalan tangan bersarung tinju. Jangan bilang kalau Ibu juga melupakanku. Itu tidak akan terjadi!

"Ini aku, Bu! Aksan, anak Ibu!"

Percakapan terjeda sejenak.

"Maaf Dek, saya tidak punya anak yang bernama Aksan. Sepertinya Adek salah sambung."

"Ini Aksan, Bu! Aksan Radiansyah! Ibu dan Ayah yang menamaiku begitu. Aku anak laki-laki Ibu yang lahir 19 tahun lalu, yang punya tanda lahir di tangan kanan dan di betis kirinya, yang sangat suka dengan opor ayam buatan Ibu, yang selalu tidak bisa tidur kalau belum meminum segelas susu. Aku anak sulung Ibu. Kakak kandung Fajar dan Anisa. Aku anak Ibu, Bu! Aku anakmu!"

Ibu terdiam selama beberapa detik. Ada secercah harapan di pundakku. Semua omong kosong ini akan berakhir.

"Maaf Dek, sepertinya saya tidak bisa membantu. Sepertinya kamu telah menghubungi nomor yang salah. Assalamualaikum..."

"Ibu! Ibu, ini ak...."

Tuttt… tuttt... Aku tak akan menyerah. Kuhubungi Ibu sekali lagi.

"Anda terhubung dengan layanan kotak suara 6803455. Silakan rekam pesan anda setelah bunyi berikut..."

Tiittt!

"Bu, ini aku Aks..."

Tittt… tittt... tittt…. Sial, ponselku mati! Baterainya sudah habis. Arghhh… aku gila! Benar-benar gila! Kucari telepon umum untuk menghubungi Ibu kembali, tapi lagi-lagi hanya sebuah pesan suara yang kuterima. Kacau. Semuanya kacau balau.

Kususuri jalanan dan deretan pertokoan. Pikiranku limbung menggantung di udara. Apa yang sebenarnya aku lakukan? Aku seperti tengah terjebak dalam salah satu film Hollywood yang penuh aksi. Teringat aku saat pertama kali menonton Inception dan Bourne Identity. Aku berspekulasi dalam sebuah adegan thriller psikologi. Hari ini aku telah dilupakan. Tersingkir dari pergaulan dan tersesat dalam sejuta keganjilan.

Aku berjalan tak tahu tujuan. Pandanganku kosong dan yang kulihat hanya sebuah papan nama warung internet di pinggir jalan. Sesuatu tiba-tiba menggodaku. Aku ingin kembali memastikan eksitensi diriku sekarang.

Kumasuki warung internet itu. Dengan sisa uang di saku, aku mencoba terkoneksi. Kubuka Google, email, Facebook, Twitter dan beberapa akun jejaring sosialku. Ternyata masih ada! Aku tidak dilupakan sepenuhnya! Namaku masih terpatri di dunia maya. Lalu mengapa mereka melupakanku? Logikaku mengurai sejuta  anya. Argumentasiku akan mimpi semakin menguat saja. Ya, ini memang mimpi. Dan aku akan terbangun sebentar lagi. Tapi, bagaimana aku bangun?

Aku berlari menembus orang-orang yang berlalu lalang. Kubulatkan tekadku. Aku berjalan ke tengah jalan membiarkan kendaraan berseliweran. Aku tidak akan mati. Ini hanya sebuah mimpi. Dan ketika sebuah mobil minibus hampir saja menabrakku, seorang polisi lalu lintas segera memberhentikan mobil itu. Semua orang meneriakiku.

“Kamu gila, ya?” sentak polisi itu.

***

Aku duduk sendiri di ruangan seukuran 5 kali 7 meter. Sekilas ruangan ini mirip ruang interogasi. Sekilas pula mirip ruang konseling mahasiswa di kampusku yang pernah kusinggahi beberapa kali. Telah kuceritakan semuanya pada Bapak Polisi dan ia langsung membawaku ke sini, ke salah satu ruangan teraneh dalam kantor polisi. Sebuah papan di dinding memamerkan banyak sekali foto orang-orang yang menurutku hilang atau menjadi buronan. Entahlah, imajinasiku bagaikan bola liar yang menggelinding kemana saja. Seseorang akan menemuiku di sini. Katanya ia akan membantu menyelesaikan masalahku, sebuah masalah absurd yang menurutku bukanlah sesuatu yang nyata.

Seorang wanita tiba-tiba muncul dari balik pintu. Usianya sekitar seumuran ibuku Dia adalah salah seorang satuan polisi yang faham tentang masalahku. Entahlah, aku tidak begitu percaya dengan itu

"Selamat pagi, Aksan. Itu namamu, kan?" katanya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Aku sungguh terkejut mendengar seseorang menyebut namaku. Dan itu keluar dari mulut seseorang yang sama sekali tak mengenal diriku. "Saya Ira Hapsari. Cukup panggil saja Bu Ira. Saya kepala divisi kasus 'orang yang terlupakan'."

Halaman: 1 | 2 |