Aku, Bara, dan Misteri Bunuh-Membunuh

Aku sudah kehabisan ide. Misteri kematian Piter memang tidak terpecahkan. Tak ada pesan kematian. Tak ada jejak mencurigakan. Tak ada saksi mata. Tak ada apa dan siapa. Hanya Piter yang tergeletak tak berdaya di samping kolam taman kota hari itu. Taman yang selalu ramai bahkan hingga tengah malam karena letaknya yang strategis dan berada di tepian jalan raya yang selalu ramai lalu lintas. Namun, tak ada yang melihat saat peristiwa kematian Piter berlangsung. Pagi hari Piter ditemukan tak bernyawa, dan jelas itu bukan kasus bunuh diri.
“Bagaimana menurutmu, apa ini pernah terjadi di kasus-kasus sebelumnya?” tanyaku pada Bara, sang pemeran tokoh utama dalam cerita detektifku.
“Tidak pernah. Kasus pembunuhan dalam ruang tertutup bisa kita pecahkan, begitupun kasus-kasus lain yang tampak mustahil. Hanya saja kali ini kau memilih tempat yang salah. Taman kota itu… ah kau tahu lah, membunuh di tempat seramai itu akan sulit menemukan trik si pelaku,” ucap Bara pesimis. Aku menghela nafas panjang. Kali ini aku benar-benar melakukan kesalahan besar.
“Benar-benar aneh. Bagaimana mungkin seorang penulis cerita detektif mengungkapkan kasus pembunuhan, tanpa mengetahui trik dari si pelaku pembunuhan karangannya sendiri?” Bara bertanya sinis. Tatapannya penuh sindiran. Sesaat aku menyesal membuat karakter tokoh Bara sebagai seorang pria ambisius yang sedikit angkuh dan suka menyalahkan.
“Aku didesak deadline. Saat itu aku hanya berpikir untuk membuat kasus yang trik-nya benar-benar tidak bisa ditebak pembaca,” sahutku sedikit membela diri.
“Dan sekarang kau harus melanjutkan cerita detektif bersambungmu itu yang deadline-nya semakin dekat. Kau tentu tidak ingin redaktur majalah yang membesarkan nama kita kecewa, pun image kita hancur di depan pembaca.” Perkataan Bara tidak pernah menenangkan, selalu membuatku tertekan. Setiap kasus yang aku pecahkan selalu berada pada penekanan bahwa aku harus memecahkan misteri demi misteri yang menaikkan nama Bara. Bara sudah sangat terkenal. Detektif ternama yang sepertinya telah banyak diperbincangkan. Semenjak Bara dimunculkan sosoknya dalam wujud kartun, Bara telah menghiasi banyak produk, mulai dari sebagai tokoh dalam game, gambar pada merk sepatu, tas maupun pakaian, terakhir ceritanya mendapat tawaran untuk difilmkan. Dan Bara sekali-kali tidak pernah mau kalau reputasinya hancur.
“Kalau begitu kali ini engkaulah yang harus memecahkan misteri itu. Aku yang menciptakan karaktermu, tetapi aku tidak lebih terkenal darimu. Sekarang berusahalah, sebelum orang-orang tidak menghargaimu lagi sebagai seorang detektif.” Aku tersenyum sinis. Kali ini aku yang akan membuat Bara tertekan. Ambisinya untuk selalu terkenal kini di ujung jurang kehancuran.
“Ingat, karirmu sebagai penulis juga bisa jatuh!” Bara berkata dengan nada ancaman.
“Aku tak peduli lagi dengan karirku. Memangnya siapa selama ini yang lebih disorot? Bukan aku! Siapa yang wajahnya menghiasi tokoh dalam game, yang menghiasi berbagai produk? Aku bukan apa-apa! Jadi aku tidak takut jika harus merusak karirku!” sahutku dengan sengit. Bara tak mampu lagi berkata-kata. Gurat wajahnya mulai menunjukkan ketidakberdayaan. Namun, Bara yang ambisius segera menunjukkan kepercayaan diri, sesaat setelah ia memaksa otaknya berpikir.
“Aku tahu sesuatu. Kita bisa memecahkan misteri ini. Tentunya dengan bertanya kepada orang yang lebih hebat darimu, yang kemampuan analisisnya tak sebanding denganmu yang amatiran.” Kata-kata Bara sedikir menyinggung perasaanku, tapi aku juga tertarik melihat apa yang akan diperbuatnya. Biasanya Bara tak pernah sekali pun terlibat secara langsung memberikan ide untuk memecahkan kasus.
Bara keluar dari naskahku. Sosoknya yang tergambar sebagai lelaki berusia 20 tahun yang cerdas, muncul dalam wujud kartun jepang. Ketampanannya sempat membuatku terpana. Kartunis yang menggambarkan sosok Bara memang berasal dari Jepang, sehingga Bara dilukiskan dalam bentuk kartun Jepang yang mempesona. Walaupun sebenarnya aku berpikir nama Bara tidak cocok dilukiskan seperti itu, kecuali ia menyandang nama ala Jepang juga. Namun, redaktur majalah tempat terbit cerita detektif Bara sendiri yang memintanya agar Bara dilukiskan seperti itu.
“Aku harus pergi. Kau tahu, kurasa berkunjung ke Baker Street 22IB adalah solusi yang tepat untuk permasalahan kita,” ucap Bara yakin. Aku teringat, lokasi itu adalah tempat rumah sewaan Sherlock Holmes berada. Apakah Bara akan menceritakan kasus ini pada salah satu detektif idolaku itu?
“Bagaimana cara kau menemuinya?” tanyaku singkat.
“Tentu saja aku akan menembus dimensi dunia fiksi. Aku akan masuk ke dalam novel Detektif Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle itu. Di mana kau menaruh novel-novel yang kau punya itu?” Aku sedikit tercekat. Bisakah seperti itu? Menembus dunia fiksi?
Bara benar-benar melakukannya. Ia memasuki novel Sherlock Holmes koleksiku. Ia pergi menembus helaian kertas novel itu. Aku menunggunya dengan penasaran. Aku yakin kemampuan analisis Holmes yang hebat dapat memecahkan misteri kematian di taman kota itu.
Seperempat jam berlalu. Tak kusangka Bara kembali dengan wajah putus asa. Aku menerka-nerka, mungkin seseorang yang ahli pikir seperti Holmes juga tidak mampu menebak trik dari si pelaku pembunuhan.
“Aku sudah ke Baker Street 22IB dan Sherlock Holmes tidak ada di sana. Kurasa ia sedang meninjau lokasi tempat terjadinya kasus. Lagipula kalaupun dia ada di sana, ia akan terkejut, sama terkejutnya dengan wanita pemilik rumah sewaan itu. Aku tidak cocok masuk ke dunia itu karena aku tampil sebagai sosok kartun Jepang. Sulit kalau aku harus berpura-pura menjadi klien Sherlock Holmes,” tutur Bara menjelaskan. Aku paham dan langsung mendapatkan ide.
“Kalau begitu dunia yang cocok denganmu adalah komik Jepang. Ayo, masuklah ke dalam komik Detektif Conan koleksiku. Berpura-puralah menjadi klien dan meminta pendapat Shinichi Kudo. Masuklah ke seri komik yang pertama saat Shinichi belum mengecil menjadi Conan.” Aku memberikan solusi yang kurasa sangat jitu.
“Apa? Shinichi Kudo, detektif SMU yang sombong itu? Aku tidak mau menemuinya. Aku ini seorang mahasiswa cerdas, detektif hebat. Aku tidak mungkin bertanya kepada anak ingusan itu.”
“Lalu, kau punya solusi lain? Saat ini tidak ada jalan lain, kalian sama-sama tokoh yang digambarkan dalam bentuk kartun Jepang. Tidak ada masalah bagimu untuk muncul di dunia serial anime Detektif Conan itu. Ayo, pergilah!” Aku meminta Bara dengan sedikit memaksa. Tak ada pilihan lain, Bara pun menembus helaian kertas dan menyusup ke komik itu. Aku menunggunya dengan tidak sabaran.



