Jendela



Penulis: Rifan Nazhif

 


Andaikata ada suatu cara membalikkan masa ke zaman purba, aku akan mengatakan kepada pencipta rumah supaya tidak membuat jendela. Karena jendela adalah suatu tempat yang mengantarkan pandang ini ke dunia luar. Bagaimana akhirnya aku segera menyesali nasib. Mencaci-maki kehidupan. Dan menuduh Tuhan serba tidak adil.
 

Mengapa tidak, setelah berumur enam bulan lebih sehari, tiba-tiba aku teridap penyakit folio. Ayah-Bunda yang notabene dari keluarga miskin, hanya mampu memberiku air mata. Tidak lebih, selain bubur nasi terlalu encer dan air tajin setiap hari.

Aku pun menjalani masa kanak-kanak dengan penuh murka. Setiap kali melongok ke jendela sebelah timur, aku melihat betapa anak-anak kampung bermain dengan riang di tengah sawah. Tubuh-tubuh yang liat itu, kaki-kaki yang lincah itu, gigih mengejar bola jerami. Atau tiba-tiba mereka berteriak histeris sambil berebut memburu layang-layang putus. Meskipun akhirnya benda malang itu hancur di tangan-tangan mungil mereka, semua tetap tertawa bahagia. Tapi sungguh, hal tersebut membuatku merutuk. Apalagi ketika kaki-kaki ini begitu tidak berdaya menggantung di atas kursi bambu. Dan aku mirip seorang tolol. Idiot!

Bunda seperti biasa selalu mengawasiku dari rusuk ruang tengah, hanya sesekali mendecak, tanpa berpaling dari rajutannya. Mulut Bunda berulangkali komat-kamit mengunyah daun tembakau kering berbau sedikit pesing. Meskipun sekali-dua dia menegur, paling tidak hanya memberikan semangat. Agar aku tabah menerima keadaan yang cacat. Agar aku rela menjalani hidup dengan tanpa kaki. Walaupun sebenarnya kakiku utuh, tapi tidak berdaya!

Begitu pula ketika aku berpindah ke jendela barat, pepohonan dengan rumpun-rumpun perdulah yang terlihat tersiram matahari. Perempuan-perempuan kecil sering bermain di situ. Mereka menyebut tempat tersebut istana perempuan. Terkadang mereka bermain tali. Tapi ketika hari cerah dan matahari berhasil menjilati embun yang menetesi daun, perempuan-perempuan kecil akan berteriak kegirangan mengejar rama-rama. Mengejar capung. Kaki-kaki mungil yang halus tersabet ujung-ujung ilalang. Tergores di sana-sini mencipta perih. Dan mereka tetap bahagia. Bersenjatakan plastik, masing-masing mengepung rama-rama atau capung. Mereka menungkupkannya, sehingga hewan-hewan malang itu menggelepar.

Begitulah kehidupanku setiap kali matahari bergulir dari sebelah timur menuju barat. Manakala malam menjelang, bunda selalu telaten mengurut-urut kakiku dengan minyak jelantah amis. Kerapkali aku menolak perlakuan bunda. Dia toh tetap bersikeras. Dia berharap ada mukjizat yang akhirnya mampu meluruskan kakiku. Mampu membuat kaki-kaki ini kukuh. Mengajakku berjalan menuju lembah. Mengajakku berjalan menuju kota bersama ayah untuk berniaga.

“Inginkah kau ayah ajak ke kota, Lamhot?” Suatu hari Ayah bertanya kepadaku. Dia menatapku dari balik kacamatanya yang tebal. “Kau tidak ingin melihat betapa ramainya kota. Anak-anak berseragam yang setiap pagi berangkat ke sekolah. Terus ada mobil-mobil, sepeda motor, truk dan masih banyak lagi. Pasti kau akan takjub, Lamhot!”

Aku tidak menjawab. Kupandangi bagaimana dengan sabarnya Bunda mengurut-urut kedua belah kaki ini.

“Atau kau ingin ayah belikan sepeda?” Ayah tersenyum samar. Tapi dia kemudian terdiam. Merasa bersalah. Karena bagaimana mungkin aku akan dihadiahi sepada, sementara untuk menopang tubuh dengan dua kaki lemah ini saja aku tidak mampu. “Maafkan ayah, Lamhot. Ayah tidak sengaja membuatmu bersedih. Bila nanti ayah mempunyai duit banyak, ayah akan memberikanmu kaki baru. Entah bagaimana caranya, itu harus dilakukan. Ayah berharap ilmu kedokteran akan semakin maju. Bukan begitu, Bunda?” Ayah melirik Bunda. Sang Bunda hanya menjawab dengan desahan, sama seperti yang selalu dia lontarkan ketika menyadari pertanyaan itu tidak memiliki jawaban.

Aku bergeser mendekati Ayah yang sedang menyeruput kopi panas. “Lamhot tidak paham mengapa kaki-kaki ini begitu lemahnya, Yah. Apakah ini takdir Tuhan, atau Dia memang tidak menyukai Lamhot?” tanyaku menutup pembicaraan.

Sejak saat itu tidak pernah lagi Ayah mengajakkku berjalan-jalan ke kota. Bahkan ke luar rumah pun tidak. Dan itu sudah berjalan sekian tahun lamanya sampai aku berumur limabelas tahun. Sampai bunda meninggal dan tidak ada lagi yang mengolesi kaki-kakiku dengan minyak jelantah amis. Ah, terkadang kerinduan merasuk melihat bunda mengolesi kaki-kakiku dengan minyak yang tidak mengenakkan hidung itu. Atau melihatnya merajut sambil mengunyah-ngunyah tembakau. Sementara Ayah, sejauh ini belum mampu mewujudkan impiannya membuatku berdiri tegak. Membuatku bisa berjalan mengikuti langkahnya yang panjang dan tegas.

* * *

Sepuluh tahun sudah meninggalkan Kotanopan. Sepuluh tahun pula telah kulupakan masa-masa penuh gerutuan. Sekarang aku kembali dengan penampilan hampir sempurna. Dengan tinggi seratus tujuh puluh centimeter, aku kelihatan sedemikian jangkung. Apalagi dipadukan stelan kontras, sekaligus cukup ketat membalut badan, maka lengkaplah perubahan seratus delapan puluh derajat dari seorang Lamhot kecil yang cacat. Saat ini meskipun tertatih, dan kaki-kaki ini hanya palsu, tapi aku sudah bisa berjalan leluasa.

Lebih sepuluh kota telah kujelajahi. Lebih puluhan bisnis kugeluti. Tapi tidak satu kenangan pun yang membuatku tenang. Bayang-bayang rumah masa kanak-kanak selalu datang sedemikian menggoda. Rumah dengan jendela dua. Satu menghadap ke barat, satu menghadap ke timur. Godaan itu sedemikian hebat, sehingga ketika Pak Margono memperkenalkan anaknya yang lumayan seksi, aku hanya mendecak sambil ketawa. Kukatakan saja belum siap berumahtangga. Meskipun dia menawarkanku sekedar pacaran dengan anaknya, tetap saja aku menggeleng.

“Gila kau, Lamhot! Perempuan seseksi itu sanggup kau tolak mentah-mentah? Lagipula Pak Margono bukan orang melarat, kan?” ucap Sulaiman, rekan bisnisku, kecewa. “Persunting saja anaknya itu, Hot. Ingat, kau dapat membangun kerajaan kecil sendiri! Otak dan relasi sudah kau miliki. Pak Margono mempunyai puluhan pabrik yang sampai duapuluh tahun ke depan akan tetap maju pesat. Ayolah! Apalagi yang kurang?” Sulaiman semakin mendesak. Aku hanya melengos.

“Sekali tidak tetap tidak!” tekanku.

“Sudah sampai, Juragan!” Mang Ujang, sopir pribadiku, tiba-tiba mengerem mobil. Aku tersentak. Samar kulihat sebuah rumah kecil yang renta dan lapuk di bahu bukit. Sekali saja diterjang badai hujan, barangkali dia akan mengalir ke lembah serupa erosi.

Apakah itu rumahku? Itukah rumah yang sekian tahun telah melindungi si cacat ini dari sengatan matahari? Mengapa dia sebegitu asing sekarang?

Mang Ujang mencoba memapahku, tapi lekas kutolak. Aku tidak ingin tampak seperti si lemah setelah memperoleh dua kaki palsu ini. Kusuruh dia menunggu di mobil saja.

Ah, tidak terasa telah sepuluh tahun terlewat. Telah beratus kenangan buruk dan baik mengiringi langkahku di rumah itu. Rumah yang tidak terawat. Rumah warisan Ayah dan Bunda untuk anak semata wayang mereka.

Seorang perempuan tua bergegas menyongsongku. Samar kuingat, dia adalah Mak Upik, tetangga sebelah rumahku. Sebenarnya bukan tetangga yang bersebelahan rumah benar. Jarak rumah kami hampir tiga puluh meter. Namun dulu rumah-rumah masih jarang. Jadi, meskipun dengan jarak sedemikian jauh, kami tetap dianggap sebagai tetangga bersebelahan rumah.

Mak Upik mengajakku ke rumahnya. Aku menolak. Keinginan yang serupa magnet telah menarik kakiku ke rumah yang seperti nenek peot itu. Ah, kasihan rumahku ini!

Halaman: 1 | 2 |