Rosyidah yang Ingin Bahagia

Penulis: Siti Nur Banin
Yang namanya punya anak, melahirkan anak, menghidupi anak atau dihidupi anak, adalah selalu didahului dari perkara membikin anak, yang tentunya dikerjakan oleh seorang laki-laki dan seorang lagi perempuan. Semua orang kiranya tahu soal ini. Hanya saja, ya, hanya saja, agaknya keluarga Rafidi tak begitu paham mengenai hal ini. Buktinya, isteri Rafidi yang bernama Rosyidah itu berulang kali dihujat sebagai “Tukang Bikin Anak” oleh keluarga besar Rafidi, sedang Rafidi sendiri tak pernah mendapat julukan serupa. Julukan itu sama sekali tak mengenakkan didengar mengingat perkara gemar punya anak dipercaya sebagai pemicu utama segala rupa masalah keluarga.
Sebenarnya Rosyidah hendak membela diri, mengatakan bahwa sesungguhnya jika bukan Rafidi yang meminta, tak bakal ia bisa beranak banyak. Sebenarnya Rosyidah juga ingin mengklarifikasi, mengapa dia seorang yang disalahkan. Bukankah bikin anak adalah pekerjaan dua orang. Mengapa salah seorang disalahkan sedang seorang lain dipahlawankan. Kemudian, buru-buru Rosyidah mengurungkan niatnya. Ia segera ingat bahwasanya ia adalah menantu yang tak pandai mencari duit. Hidup belasan tahun bersama keluarga Rafidi membuatnya paham, membela diri hanya bisa dilakukan bagi yang bisa bikin duit.
Satu hal yang memperparah keadaan, julukan “Tukang Bikin Anak” nyatanya adalah jelmaan dari jeruji besi pengekang kebebasan. Rosyidah seolah-olah berjalan, bernapas, dan tidur di dalam sangkar. Sangkar itu membuatnya tidak boleh tampil cantik. Jika dalam suatu peristiwa ia berdandan cantik, maka ada saja omongan yang tak mengenakkan seputar hal tersebut.
“Sudah bisanya cuma bikin anak, gemar menghamburkan uang suami pula! Lihat dandanannya itu, pantas saja Rafiidi melarat terus!”
Padahal, Rosyidah ingat betul bahwa baju yang ia kenakan itu adalah baju pemberian ibunya sendiri. Lagipula mana mungkin ia bisa membeli baju dari uang suaminya jika untuk belanja makan saja Rosyidah sering ngutang. Tapi sekali lagi, status sebagai menantu menganggur membuatnya tak boleh membela diri. Membela diri hanya akan membuatnya memalukan diri sendiri. Pernah dalam suatu kasus di mana Rosyidah merasa bukan sebagai pihak yang salah, lantas ia mencoba melindungi diri. Namun, yang ia dapatkan adalah sebuah tamparan yang berasal bukan dari tangan, melainkan dari bibir yang nyatanya tajamnya melebihi silet manapun.
“Ngomong-ngomong, kamu ke sini bawa apa sih, Dah? Tidur numpang, makan numpang, apa yang kau banggakan?”
Jantung Rosyidah seperti dihantam bongkahan batu sebesar TV 14 inchi.
“Tak bisa jawab rupanya. Ketahuilah, kau itu ke sini cuma bawa kelamin. Tak lebih tak kurang. Paham kau?!”
Bongkahan batu sebesar TV 14 inchi serta merta menjadi 21 inchi. Membuat jantungnya dilanda sakit yang teramat. Sakit yang terkenang hingga membuatnya selalu tidak lupa, sampai kapanpun, ia tak hendak membela diri.
Kembali pada sangkar yang mengekang kebebasannya itu, Rosyidah benar-benar dibuat bingung. Dipikirnya sangkar itu tak membolehkannya tampil cantik, pada kenyataannya, tampil tak cantik pun adalah petaka baginya. Suatu kali dalam acara kondangan di rumah sanak jauh, Rosyidah tanpa sengaja mengenakan pakaian yang sobek sedikit bagian ketiaknya. Dengan sigap Srining menggeretnya ke tempat sepi, sambil berbisik Srining pelan-pelan mengaitkan cemiti ke pakaian Rosyidah yang sobek.
“Dah, bajumu ada yang sobek. Ah, benar-banar kau ini. Semoga saja tak ada yang lihat. Kasihan suamimu.”
“Bukankah aku yang lebih patut dikasihani, Mbak?”
“Kamu itu masih punya suami, kalo kamu cantik itu selain kamu, suamimu juga ikut-ikut disanjung orang. Tapi kalo kamu tidak karuan begini, orang bakal mengira kau tak pernah dihidupi suamimu, Dah. Mau kau suamimu dihujat begitu?”
Rosyidah diam. Bukan, bukan lantaran tak bisa menjawab. Lebih karena ia sendiri sedang bertanya pada dirinya sendiri, jika ini dan itu yang ia lakukan selalu salah, maka bukan ini atau itu yang salah melainkan dia sendiri yang sudah bernilai salah. Barangkali, barangkali kejadian ia dilahirkan di dunia juga sudah merupakan kesalahan, pikirnya.
Maka, jadilah Rosyidah itu isteri, menantu, dan ibu yang pemurung.
***
Sepertinya Tuhan belum puas mempermainkan perasaan Rosyidah. Rosyidah yang kesehariannya selain miskin harta juga miskin senyum itu, pada tanggal 16 Mei 2012 dihantam bencana yang tak alang kepalang besarnya. Rosyidah mendengar kabar dari kang Salman kalau di pertigaan dekat balai desa tengah terjadi kecelakaan maut. Kang Salman yang mendengar kabar dari Darmi, dan Darmi yang katanya mendapat informasi terpercaya dari saksi mata, mengatakan bahwasanya dua bocah cilik yang tergeletak berdarah-darah ditutupi daun pisang adalah tak lain tak bukan Ali dan Lia, si kembar buah hati Rosyidah.
Hatinya remuk. Hilang akal pikirannya. Sedih hatinya tak lagi dapat dikalimatkan, tak bisa digambar dengan frasa apapun pun belum ada kosa kata yang tepat untuk luka hatinya kala itu. Apa kata orang jika ia lagi-lagi disalahkan sebab terlalu punya banyak anak hingga anaknya ada yang tak terurus hingga tertabrak truk pengangkut pasir? Ah, sama sekali bukan itu yang ia sedihkan. Ia tak sedikitpun memikirkan apa orang hendak berkata. Hanya, ya, hanya saja, mengapa Tuhan begitu tega menanggungkan sakit yang begitu hebatnya kepada bocah kecil-kecil yang belum juga sempat mengecup enaknya hidup di dunia itu? Bagaimana, bagaimana juga kiranya rasa sakit yang mereka tanggung mana kala ban truk itu melindas perut mereka. Rosyidah terbayang bagaimana raut muka Ali dan Lia, bagaimana mereka berteriak, bagaimana mereka merintih mengaduh terus dan terus sampai akhirnya mereka tak lagi sanggup mengaduh. Atau, apakah mereka menggeliat, apakah mereka menggelepar, ataukah mereka tak sempat menngeliat dan menggelepar sebab tubuh mereka remuk seketika? Rosyidah meraung-raung mengharap Tuhan memutar waktu dan bersedia menukar nasib, ia yang digilas truk sedang anaknya menonton tv di rumah.




