Ataxia (Part 2)



Penulis: Ghazy Fatihan

 
9 April 2012, 12.45 WIB

Felicia, wanita berumur 25 tahun dan berwajah oriental. Matanya lebar untuk ukuran oriental, hidung mancung dan berwajah panjang. Ia orang asli Indonesia, namun sejak umur 15 tahun sudah merantau ke Singapura. Kini ia jadi model di Singapura.

Hari ini Felicia tiba di bandara Soekarno Hatta. Ia mengenakan kacamata hitam, syal merah marun dan celana pendek hitam, menunjukkan kakinya yang jenjang. Sementara bajunya berwarna merah senada dengan syalnya. Wanita penyuka warna gelap itu membiarkan rambutnya yang hitam dan panjang tergerai.

Ponselnya berdering. Wajahnya yang putih berubah jadi keruh, meski enggan panggilan itu tetap dijawab. Ia tidak bicara sepatah kata pun, menunggu si penelepon bicara.

“Aku tahu kau sudah di Indonesia. Kenapa tidak pamit?” tanya suara di seberang.

“Aku kan sudah bilang minta cuti. Kenapa kau jadi begitu rewel?” Felicia balik bertanya tajam.

“Ingat, jangan bertindak sendiri di sana! Kau harus segera menemui Tante Mey!” Perintah orang di seberang.

“Ini akan jadi yang terakhir. Jangan pernah memerintahku lagi!” Felicia tampak kesal. Ia segera menutup ponsel sebelum orang di seberang berbicara lebih banyak. Ia tak suka dengan managernya yang selalu di bawah kendali Tante Mey. Lewat managernya itulah Tante Mey mengendalikannya dari jauh.

Felicia menyeret kopernya dengan enggan dan mencari taksi. Pikirannya berkelana dan tanpa sengaja menabrak orang. “Sorry,” katanya cepat. Ia malu karena orang itu berdiri tepat di depannya. Jelas ia yang salah, menabrak orang yang berhenti.

Tubuh pria yang terdorong ke depan karena ditabrak dari belakang segera berbalik. Pria itu hanya tersenyum. “Nope,” katanya.

Mau tak mau Felicia memandang wajah pria itu. Garis wajah yang tegas dengan tulang pipi yang kuat dan menonjol serta dagu yang runcing. Rambutnya model harajuku. Kulitnya kecoklatan dan tingginya sekitar 180-an cm, tubuhnya juga terlihat atletis.

”Can I help you?” tanya pria itu demi melihat Felicia yang terbengong di depannya.

Felicia terkesiap. Ia menggeleng. Dunianya sudah kembali. Ia tak boleh terlalu banyak berinteraksi dengan orang di sini. Ia hanya mengambil tempat di samping pria itu, sambil mengedarkan pandang mencari taksi.

“Waiting for someone?” pria itu bertanya lagi. Dilihatnya Felicia mematung di sampingnya. Ia agak merasa kurang nyaman.

Felicia menoleh sekilas. Ia harus tetap berpijak di bumi dan berusaha menekan perasaannya. Pria itu mengira ia turis. Bagus juga pria itu tidak tahu kalau ia model terkenal di Singapura. Tentu saja, panggung model kan tidak seterang panggung artis, jadi wajar saja jika orang-orang di sini tidak mengenalnya. Keuntungan baginya, ia bisa bergerak lebih leluasa.

“Oh sorry. Annoying you.” Pria itu tersenyum dan beranjak dari samping Felicia. Menjauh beberapa meter darinya.

“Saya mencari taksi,” kata Felicia terbata sambil berharap pria itu mendekat kembali. Ia sudah jarang menggunakan bahasa Indonesia.

Pria itu beranjak dari tempatnya, tapi tidak mendekati Felicia, melainkan menyetopkan taksi untuknya.

“Selamat datang di Indonesia. Semoga perjalanan Anda menyenangkan,” kata pria itu berdiri di samping taksi yang berhasil dihentikannya.

Felicia tersenyum senang. Kali ini senyum tulus dan bukan senyum palsu yang biasa ia lakukan di dunia model. Ia mengulurkan tangan hendak berkenalan dan mengucapkan terimakasih. Oh God… I’m falling in love at the first sight. I can’t believe it, batinnya.

Pria itu hanya memperhatikan tangan Felicia dan berkata dengan cepat, “Saya harus segera pergi.” Pria itu berbalik dan meninggalkan tangan Felicia yang masih terulur.

Meski agak kecewa, Felicia masuk ke taksi, memberikan alamat pada sopir taksi dan bergumam pelan, “What a nice guy!” Kemudian disandarkannya kepalanya dan berharap semua yang ia rencanakan berjalan lancar. Ini bukanlah perjalanan kerja, jadi ia berharap akan bebas dari sorotan kamera. Yang ia inginkan saat ini hanyalah fokus.

Di seberang lain, pria tadi sedikit menggerutu ketika sebuah mobil menghampirinya. “Selalu telat.”

“Maaf, Kawan. Tapi kan kau berhasil menggaet gadis cantik. Jangan kira aku tak melihatnya,” si sopir menggodanya.

Pria itu masuk ke mobil dan memalingkan wajah. “Hanya membantu wanita mendapatkan taksi. Kurasa ia orang Indonesia yang sudah lama hidup di luar.”

“Jadi kau sempat ngobrol dengannya atau sekadar menganalisis?”

“Dia berbahasa Indonesia dengan terbata. Jika dia orang asing, seharusnya ada yang menjemputnya, atau mungkin membawa kawan. Untuk apa ia datang ke Jakarta? Jika turis seharusnya ia lebih memilih Bali. Lagian orang Asia sepertinya lebih suka berlibur ke Eropa atau Amerika. Kukira orang Asia tidak mau repot-repot belajar bahasa Indonesia jika mereka hanya berlibur sebentar.” Pria itu memberikan analisinya.

“Kemampuanmu tidak menurun meski kita sedang membatasi kasus.” Si sopir terkekeh.

“Apa kau berniat menjadi detektif? Kenapa tidak mengiklankan kantor kita saja?”

“Lebih baik begini, hanya menerima order dan tak perlu mengiklankan diri. Aku tidak mau bersaing dengan polisi. Selain itu aku ingin fokus. Kita harus fokus pada pekerjaan, Kawan. Katakanlah kita hanya mengembangkan hobi.” Si sopir menjawab. “Eh ya, ngomong-ngomong kau habis menghadiri apa?”

“Konferensi tentang animasi. Untung saja aku kerja freelance, jadi bisa membantu hobi anehmu.” Si pria menjawab sekenanya.

Si sopir tersenyum, “Aku tahu Arfan adalah sahabat terbaikku.”

“Fokus. Kau tadi bilang begitu kan? Jadi sekarang fokuslah menyetir, Tuan Lin.”

***

11 April 2012, 19.30 WIB

Aya kembali termenung di hadapan foto keluarganya. Seperti ada yang kurang dalam foto itu. Ia mengabsen satu persatu anggota keluarganya. Genap empat orang. Lalu apa? Oh, mungkin neneknya. Atau calon adiknya? Ibunya dulu pernah keguguran. Kata dokter kehamilan di luar kandungan. Jadi janinnya tidak bisa berkembang. Apa sebutannya saat itu? Ah ya, kehamilan ektopik terganggu (KET). Ibunya mengalami pendarahan. Kata dokter penyebab KET pada ibunya karena ada tumor di rahim. Sayang sekali rahim ibunya juga harus diangkat. Ia tahu ibunya begitu terpukul waktu itu. “Mama… seandainya kau masih ada,” gumamnya lirih.

“Cantik cantik kok suka melamun... tidak baik seperti itu. Kalau kau memang ingin menikah, kakak tak keberatan.”

Sebuah suara mengagetkan Aya.

“Kenapa kakak tidak mengucap salam?” Aya berkacak pinggang.

“Wow... wow... tunggu! Jangan berubah menjadi nenek sihir, adik manis!”

“Siapa yang ingin menikah???” Aya semakin menjadi.

“Apakah begitu cara menyambut seorang keluarga?”

Keluarga. Aya terdiam. Ia kembali menoleh ke arah foto tersebut.

“Ada apa?” Azhi ikut memperhatikan foto itu.

Aya menggeleng. “Ayo kita makan malam. Aku sudah menyiapkan nasi goreng.”

Azhi memperhatikan sikap Aya. Ia tahu adiknya sedang memikirkan sesuatu berkaitan dengan keluarga mereka. Aya selalu terlihat aneh ketika memandang foto keluarga. Apa yang mengganggu pikirannya?

“Biar aku yang mengambilkan piring dan kau yang menatanya.” Azhi menawarkan bantuan. Bergegas ke rak dan mengambil beberapa piring. Tiba-tiba tangannya seperti tak terkontrol, menjadi kaku dan ia menjatuhkan piring yang dipegangnya. Dengan cepat ia membereskan pecahan piring. Aya datang membantunya.

“Kakak kenapa? Jika lelah biar aku yang melakukannya.”

“Tidak apa-apa, sudah selesai.” Azhi bangkit dan membuang pecahan piring. Ia mengambil ganti piring baru dan membawanya ke meja.

“Tidak usah khawatir, adik kecil. Aku tidak apa-apa.” Azhi mengerling.

Aya mengangguk. Mereka makan dalam diam. Aya mengingat pertemuannya dengan seseorang di hypermart yang mirip dengannya. Hanya saja hidung orang itu lebih mancung dan matanya lebih lebar. Orang itu sedang mencari mie instant.

“Ada masalah yang perlu didiskusikan? Kau tampak berpikir keras.”

Halaman: 1 | 2 |