di Kamar Itu


Penulis: Zaki Fathurohman



“Masih ingin jadi penulis?” terdengar suara seorang perempuan.

Aku menoleh ke belakang. Tiada siapa pun juga di kamar berdinding, berlantai, berlangit-langit putih ini.

“Dulu waktu Tuan tahu tips menulis dengan cara coret-coret di buku notes kecil, Tuan langsung beli notes itu satu buah, dua buah, tiga buah. Tapi kenyataannya, tak pernah tuh Tuan isi sebaik-baiknya. Malu menulis di angkutan umum? Takut dibilang aneh? Kenapa tidak Tuan coba menulis di taman kota atau di taman kampus itu? Takut dibilang lebih aneh lagi?” lanjut suara perempuan itu, kali ini terasa seperti sedang mengitari kepalaku. Aku menengadah dan melihat ke segala penjuru. Tiada siapa pun juga.

“Tahu apa kau! Aku pakai notes itu! Aku menulis di perpustakaan!” teriakku lalu meneruskan menghadap laptop dan bersiap mengetuk huruf-huruf yang tentram berbaris di sana. Huruf-huruf yang berjarak tak lebih dari lima senti dari ujung jari-jari, tapi terpaut jauh dengan ide di kepala yang lebih mahir bersembunyi.

“Juga dipakai ketika rapat-rapat kegiatan kan, ketika kuliah kan, dan untuk coret-coret karena bosan menyimak dosen, atau dipakai mencatat tanggal-tanggal dan angka-angka kan! Campur aduk semuanya! Sampai-sampai notes itu tak pernah Tuan buka dan baca lagi, kecuali hanya sekali, ketika menuliskannya untuk pertama kali! Betul kan?” cecar suara itu.

Aku sedikit terkejut. Menghela nafas cukup panjang. Lalu bangkit berdiri.

“Kalau jantan, ayo tunjukkan dirimu!” gertakku sambil menudingkan telunjuk ke langit-langit kamar.

“Hahahaha. Mengapa Tuan terlalu cepat panik? Sudah jelas saya ini perempuan. Apa Tuan tidak pernah mendengar suara perempuan? Lagipula panik itu tidak baik buat penulis. Berlatihlah untuk tidak lekas bereaksi. Endapkan dulu segala yang Tuan amati. Seduh pelan-pelan, lalu kencang-kencang, sampai larut, sampai hilang. Tunggulah sekejap agar tidak terlalu panas. Barulah Tuan suguhkan dan Tuan persilakan orang lain untuk menyeruput dengan hati-hati,” lanjutnya lagi panjang lebar.

Aku berjalan menuju ranjang dan duduk bersila di atasnya.

“Lalu bagaimana dengan ponsel Tuan? Bukankah dulu Tuan sengaja membelinya dengan segudang rencana. Agar Tuan bisa menuliskan ide yang melintas cepat di kepala. Agar bisa menuliskan sesuatu yang berharga, langsung membaginya ke dalam jejaring sosial yang Tuan punya. Agar langsung bisa membagi pesan singkat, berisi karya kepada teman-teman Tuan, bukan? Agar segala kegagalan bersama notes Tuan sebelumnya bisa Tuan atasi? Tapi mana kenyataannya?” bertubi-tubi suara itu terdengar, kali ini seperti berbisik ke telinga kanan dan kiri, berganti-ganti.

“Mengapa kau memanggilku Tuan?” aku berkata pelan.

“Ah, rupanya Tuan masih belum mengenali saya,” kata suara itu, seperti sedang duduk di kursi yang tadi kutempati.

“Dan ini, laptop Tuan? Apa gunanya? Bukankah dulu Tuan punya rencana dengan laptop ini, Tuan bisa lebih sering berkarya? Bisa pergi bebas ke perpustakaan di seluruh pelosok kota, untuk pergi membaca dan menuliskan hasil pembacaan Tuan? Biar bisa leluasa menulis di tempat tidur dengan santai? Untuk bisa menulis di sudut kampus dan di kafe, sambil merambah internet menemukan bahan penulisan, bukan? Supaya Tuan bisa mengatasi kegagalan dengan notes dan ponsel yang Tuan alami sebelumnya? Tapi mana buktinya?” suara itu kian cerewet.

“Ah, mungkin Tuan tidak punya cukup niat untuk bisa menulis!” tegas suara itu singkat.

“Aku bisa menulis!” kataku sekali.

“Coba Tuan katakan lagi,” bujuk suara itu.

“Ya, aku bisa menulis!” kataku sekali lagi, lalu dua kali, lalu tiga kali, lalu empat kali. Lalu aku sadar dan heran sendiri mengapa mau saja menuruti perintahnya.

“Mengapa berhenti? Coba Tuan katakan lagi!” kali ini bujuk rayu itu membisik merdu di telingaku.

“Tidak! Apa gunanya! Lihatlah layar itu masih kosong. Aku belum menuliskan apa-apa! Menulis itu susah!” untuk pertama kalinya aku mengeluh begitu saja di hadapan suara itu.

“Ah begitulah. Tuan terlalu cepat bereaksi. Keputusasaan Tuan terlalu cepat diungkapkan lewat ucapan. Terlalu naif. Seharusnya Tuan bisa merumuskan sesuatu yang lebih panjang, selain daripada cuma celetukan 'menulis itu susah'. Menulis itu susah karena mengapa, ketika kapan, tersebab apa, sewaktu bagaimana, dan lain sebagainya,” suara itu terdengar dari sampingku, tapi kali ini terdengar kian sabar.

“Ya, menulis itu susah karena…" aku mencoba merumuskan sesuatu.

“Tunggu! Tuan lagi-lagi cepat bereaksi! Padahal Tuan belum tahu betul apa yang akan Tuan katakan. Lagipula saya tidak ingin jawabannya sekarang. Sekarang ini waktunya Tuan keluar dari sini,” ujar suara itu membuatku punya alasan untuk tak lagi bersikap ramah.

“Apostrof! Cukup sudahlah main-main ini. Kamu itu cuma halusinasi. Keluar dari kepalaku sekarang juga!” aku menghardik.

“Jangan marah, Tuan. Jangan marah. Apa Tuan tidak pernah baca, bahwa marah membuat aliran oksigen menuju otak jadi terhambat. Sehingga perkataan pemarah tidak terkendali dan jauh dari manfaat!” kata suara itu dari pojok kamar, dekat pintu.

Aku memandang tajam ke arahnya, ke arah sumber suara itu. Lalu terlihat pintu terbuka.

“Lagipula aku sudah berada di luar kepala Tuan sedari tadi. Sekarang, silakan, Tuan keluar dari sini,” katanya datar.

“Baiklah. Baiklah. Begini...” aku berpikir sejenak, kalau ini bukan halusinasi, tentu ini kesempatan bagiku untuk mengetahui apa yang perempuan itu ketahui.

Lagipula mengapa aku melewatkan begitu saja perbincangan dengan orang yang mengetahuiku apa adanya. Tapi aku harus melontarkan pertanyaan apa, agar dia menjawab dengan sukacita, tentu aku tidak boleh bertanya lagi 'mengapa kamu memanggilku Tuan?' karena tadi pun dia tak menjawabnynya dan itu membuatku terlihat kalah.

Mungkin dengan bertanya apakah kamu seorang penulis? Tapi itu akan menghasilkan jawaban pendek 'ya' atau 'tidak', dan tentu bukan perbincangan itu yang aku harapkan. Oh, bukankah sejauh ini dia telah berbincang denganku dan justru aku yang menjawab pendek-pendek, sedangkan dia mengurai panjang lebar. Mungkin seharusnya aku mengingat lagi jenis-jenis pertanyaan yang tersedia: apa, bagaimana, mengapa, kapan, di mana, siapa. Nah iya itu, “Siapa namamu?” tanyaku.

“Lama sekali Tuan berpikir,” kata suara itu, lalu terlihat pintu kembali tertutup.

“Bukankah kau sendiri yang bilang untuk tidak lekas bereaksi?” aku sedikit berdalih.

“Oh, berarti Tuan ingat perkataan saya. Senang saya mendengarnya,” katanya terdengar lewat di hadapanku.

“Maaf kalau Tuan tersinggung. Sepertinya Tuan memang tidak berbakat jadi penulis. Bukan berarti saya menyepelekan usaha Tuan selama ini. Tapi kenyataannya, memang Tuan tidak beranjak ke mana-mana. Tuan banyak membaca buku. Tapi itu terlalu sedikit dan tidak mendalam! Tuan suka membaca berita. Tapi tidak pernah sampai memikirkan betul-betul keterkaitan di antara berita-berita itu. Tuan senang mengamati keadaan. Tapi Tuan tidak pernah mendekati dan menyimak betul keadaan sosial yang Tuan amati. Lantas bagaimana mungkin Tuan bisa menulis dengan memuaskan,” suara itu kembali cerewet.

Bukan hanya merasa kalah, kali ini aku juga merasa tertekan, kombinasi yang lebih menyakitkan daripada sekadar "sudah jatuh tertimpa tangga".

“Kamu itu sebenarnya bersayap atau bertanduk sih?” tanyaku sambil tersenyum meringis, berusaha menyembunyikan suasana jiwa.

“Bukan waktunya untuk membuat saya tertawa, Tuan. Ini serius. Tuan berharap bisa memberi pencerahan. Tapi apakah betul Tuan sendiri sudah tercerahkan. Tuan bertekad menyuguhkan keindahan. Tapi apa Tuan menyadari betul apa itu estetika dan betapa beratnya perjuangan untuk menjadi estetis itu? Jangan-jangan Tuan cuma terbius oleh obsesi popularitas, obsesi kemelimpahan materi, obsesi status sosial, obsesi berbagi inspirasi, padahal keadaan Tuan sendiri, Tuan abaikan. Tuan hanya menikmati kamuflase dan topeng usang.” sudah bukan yang pertama kali suara itu menghakimiku.

Aku menghela nafas yang lebih panjang dari sebelum-sebelumnya.

“Kaulah yang kali ini terlalu buru-buru bereaksi. Kau keliru dan aku tidak akan menanggapi,” kataku percaya diri. Sambil duduk kembali di kursi setelah memastikan suara itu beranjak dari sana.

“Itulah penyakit Tuan. Tidak berani berbagi pikiran. Takut dibantah. Enggan ditekan. Kesungkanan semacam itu cuma akan memojokkan Tuan dalam penjara apologi,” katanya dengan kata-kata yang makin kurang kumengerti.

“Mengapa Tuan tertegun? Mulai merasakan ada jarak di antara kita?” suara itu terdengar menjauh.

“Kita? Lucu sekali karena kau yang pertama kali bilang kita. Apa yang menghubungkan antara aku dengan kau, sehingga tiba-tiba muncul 'kita'?” ujarku dengan nada sinis.

“Nah untuk itu saya juga tidak akan menanggapi. Cobalah Tuan buka kamus di pojok lemari yang penuh debu itu. Sekadar berjaga, siapa tahu Tuan tidak mengerti kata-kata saya. Ketidakmengertianlah yang pertama sekali menyebabkan jarak sesungguhnya. Sedangkan saya, sudah mengetahui kamus Tuan. Saya tidak ingin ada jarak di antara kita,” kali ini nada suaranya terdengar menurun.

“Aku juga,” kata benakku entah menyetujui perkataannya yang bagian mana.

“Nanti saja, aku bisa buka kamus itu sewaktu-waktu. Lagipula aku sudah memasang kamus di sini,” kataku sambil menunjuk ke laptop di depanku.

“...kamus yang jarang sekali Tuan buka, bukan? Padahal harusnya Tuan bisa memakai kamus itu untuk menemukan sesuatu. Bukankah Tuan tahu bahwa 'pada mulanya kata'? Lalu mengapa Tuan tidak mulai saja dengan sebuah kata dari kamus itu,” katanya memberi saran.

“Tidak seperti itu cara kerjanya. Seharusnya kau sudah mengetahui kutipan lain, bahwa ada perbedaan antara orang bijak dengan orang bodoh. Orang bijak memiliki sesuatu untuk diutarakan, sedangkan orang bodoh memaksa diri untuk mengutarakan sesuatu. Kuharap kau tak butuh kamus peribahasa untuk mengerti kutipan tadi,” kali ini lebih sinis daripada sinisku yang tadi.

“Ah Tuan ini seperti 'menepuk air di dulang memercik muka sendiri'. Sekarang saya bertanya kepada Tuan, dari sekian banyak kutipan, kata mutiara, atau apapun namanya, yang Tuan ketahui, seberapa banyak Tuan mengetahuinya secara utuh dari tempat asli di mana kutipan itu berasal? Saya jamin pasti tidak ada satupun, bukan?” katanya dengan nada cepat dan menghunjam, dan mirisnya lagi aku iyakan dalam hati.

“Itulah yang menyebabkan Tuan tak bisa menulis dengan memuaskan. Celakanya rasa puas itulah yang justru Tuan agung-agungkan. Sehingga sampai sekarang layar putih di hadapan Tuan itu masih saja kosong. Janganlah Tuan terlampau terobsesi menjadi orang bijak. Jadilah orang bodoh yang mengetahui kebodohannya. Kesempurnaan itu hanya milik Tuhan,” katanya lagi dan lagi-lagi aku iyakan dalam hati.

“Cobalah Tuan beralih kebiasaan, dari baca berita pendek-pendek menjadi baca yang lebih panjang, entah itu dalam tetulisan online atau koran dan majalah cetak, dari baca artikel yang serba terpenggal menjadi baca buku, dari baca buku-buku kontemporer menjadi baca buku-buku tebal dan klasik. Supaya kedangkalan Tuan bisa terkikis perlahan-lahan. Supaya saya akan merasa bersalah menyebut diri Tuan tidak berbakat. Supaya Tuan punya sesuatu. Kalau Tuan tidak punya apa-apa, bagaimana Tuan bisa memberi,” katanya dengan nada membujuk.

Ini membingungkan. Sudah sejauh ini dia masih saja menceramahiku dan aku…

Halaman: 1 | 2 |