JURIG PARK ( Part 3 )

Tanyakan kepada anak-anak kelas 2A, siapa cewek centil yang sering berhasil meredam kemarahan Agha dengan kritikan-kritikan telaknya? Pasti Nitnot yang ditunjuk. Ya, Nitnot memang tipikal cewek cablak yang berhasil memadukan dua hal di dalam dirinya: kecablakannya dan keberaniannya mengkritik. Salah satu keberhasilan Nitnot yang dicatat anak-anak kelas 2A waktu menundukkan Agha adalah kata-katanya:

"Elo emang anak Ketua Yayasan Talenta, Gha. Tapi elo nggak bisa membuat semua anak-anak di kelas ini jadi seolah-olah anak ketua yayasan juga seperti diri elo. Maksud gue, cukup elo aja yang jadi ukuran kebadungan kelas kita, karena elo emang punya beking yang kuat. Lha, kalo gue dan teman-teman yang lain, punya beking apa?"

Nah, makanya, begitu sampai di rumah Pak Romli langsung memutar nomor telepon rumah Nitnot. Di dalam otaknya sudah tersusun rencana aksi yang bakal dia jalankan dengan menjadikan Nitnot sebagai play maker. Kelihatannya, Pak Romli meniru gaya permainan sepakbola. 

"Assalamualaikum...bisa bicara dengan Nitnot?"

Di seberang sana seorang laki-laki dengan suara ngebas menjawab dengan nada menyelidik.

"Nitnot? Ini dengan siapa?"

"Saya Romli, gurunya."

"Gurunya? Mau apa Anda menelepon Nitnot?"

"Ada hal yang berhubungan dengan urusan sekolah, Pak."

"Urusan sekolahan? Memangnya harus dibicarakan lewat telepon? Setahu saya, urusan sekolah ya dibicarakan di sekolah."

"Ini penting, Pak...." Pak Romli mulai jengkel.

"Saya tidak mau tahu! Yang saya tahu sekarang bukan waktunya guru ngomong soal sekolah kepada muridnya!"

"Sebentar saja, Pak. Ini menyangkut masa depan kelas Nitnot..."

"Hmm...begitu ya? Masa depan kelas dibicarakan lewat telepon?" suara itu susah betul diajak kompromi.

"Tolonglah, Pak....sebentar saja..."

"Memang cuma sebentar, kalau lama-lama artinya Anda mau memacari anak saya, dan itu berbahaya buat Anda!" Suara itu akhirnya berteriak memanggil Nitnot.

Pak Romli meremas-remas tangannya yang dari tadi sudah siap meninju. Hatinya merutuk-rutuk. Pantas saja Pak Bejo menangis seharian penuh akibat perlakuan anak-anak kelas 2A. Lha, ini baru bapaknya saja sudah bikin spaneng.

"Halo..." suara renyah gadis di seberang mengagetkan Pak Romli.

"Halo, ini Nitnot ya?"

"Iya, betul. Siapa nih?"

"Saya Pak Romli, Not."

"O, Pak Romli. Ada apa, Pak?"

"Mmm...begini..."

Pak Romli mengungkapkan rencananya untuk membuat acara dengan anak-anak kelas 2A, tapi khusus kaum hawanya.

"Kok tumben, Pak? Nggak ada hujan nggak ada angin?"

"Yah, kan tumben is the best, Not. Soal hujan dan angin, kan kita bisa bikin sendiri melalui mekanisme tubuh kita, misalnya bersin dan buang angin."

"Mmmm...terus, kenapa anak cowoknya nggak dilibatkan, Pak?"

"Oh, tidak...Bapak melihat anak perempuan lebih enak diajak kerja sama. Pokoknya kita ketemu di Kafe Merdeka malam Minggu besok. Gimana?"

Nitnot setuju. Dia berjanji mengumpulkan teman-temannya.

"Yeah!" Pak Romli berteriak sambil mengepalkan tangannya. Dia merasa selangkah lebih maju daripada Pak Bejo.

Janjian untuk bertemu dengan anak-anak cewek kelas 2A betul-betul jadi prioritas Pak Romli. Dia sebisa-bisanya membuat pengingat, karena dia tahu betul dirinya seorang pelupa yang parah. Berbeda dengan Pak Bejo yang sibuk dengan buku-buku pedoman, Pak Romli sama sekali tidak membutuhkannya. Dia pikir, kunci kesuksesan bukan tersembunyi di dalam buku, melainkan di dalam otak. Jadi, dengan berhasil menggaet Nitnot yang bersedia mengumpulkan teman-temannya untuk bertemu dengan dirinya, Pak Romli merasa otaknya sudah memenuhi syarat yang dibutuhkan untuk mencapai sukses. Itulah kenapa, pada hari Sabtu Pak Romli memperbaiki penampilannya. Potong rambut dan kerok kumis, cuci muka dan pencet jerawat, biar wajahnya kenyel-kenyel dan kelihatan seperti pantat bayi. Pak Romli memutuskan untuk memakai teknik tebson alias tebar pesona sebagai jurus pembuka aksinya nanti.

Halaman: 1 | 2 | 3 |