Untitled Document

Kategori : CJ

Dibaca : 6972 Kali

Tentang Menyimak

Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa diantara empat keterampilan bahasa lain seperti menulis, membaca dan berbicara. Namun seringkali menyimak terlihat seperti agak dikesampingkan dalam pelajaran- pelajaran berbahasa. Padahal kegiatan menyimak ini berperan penting dalam pengembangan kemampuan berbahasa seseorang terutama para siswa, golongan muda, yang notabene akan menjadi penerus- penerus golongan tua.

Pembelajaran menyimak bukanlah semata- mata penyajian materi dengan mendengarkan segala sesuatu informasi , melainkan ada proses pemahaman yang harus dikembangkan.

Jika ingin membandingkan dengan berbicara, menulis, serta membaca , pembelajaran menyimak memiliki tingkat kesulitan yang tidaklah kalah jika dibandingkan dengan ketiga komponen tersebut.

Keterampilan menyimak dapat kita klasifikasikan ke dalam keterampilan berbahasa yang paling awal kita peroleh. Dalam kajian proses perolehan bahasa anak, maka keterampilan ini memegang peranan yang tidak  kecil, bahkan dapat dikatakan sangat penting. Pengenalan satu wujud benda tertentu tidak akan berarti apa- apa tanpa adanya penyebutan atau penamaan benda itu oleh orang lain atau anak. Perolehan suatu kata lewat pendengaran itulah yang memberikan makna pada benda yang diperlihatkan kepada anak tersebut.Menyimak dalam kehidupan sehari- hariDalam kehidupan sehari- hari, kegiatan menyimak ini menyita hampir 45% waktu berkomunikasi kita. Hal ini pernah dikemukakan oleh Rankin ( 1929) dalam survey yang dilakukan mengenai penggunaan waktu untuk ke empat keterampilan berbahasa terhadap 68 orang dari berbagai pekerjaan dan jabatan. Selama kira- kira 2 bulan,  ke 68 orang tersebut diamati setiap 15 menit dari hari jaganya. Hasil menunjukkan 1.    Menulis    9 %2.    Membaca    16 %3.    Berbicara    30%4.    Menyimak    45%Sementara data Rankin, juga pernah menunjukkan bahwa perhatian menyimak pada sekolah- sekolah di Detroit hanya diberikan 8%, sedangkan untuk membaca memperoleh hamper 52%. Hasil survey Rankin tersebut memang sudah sangat kadaluarsa, namun jika kita perhatikan realita yang ada di masyarakat tekhnologi informasi dewasa ini, tentu presentasi untuk menyimak akan lebih besar. Karena tuntutan untuk menggunakan alat pendengaran saat ini makin banyak. Hal ini sangat dimungkinkan sehubungan dengan makin banyknya alat- alat elektronika yang menuntut kita menggunakan keterampilan menyimak kita. Selain itu makin bertambahnya stasiun pemancar televisi , antena parabola, dan beragamnya siaran yang dapat disimak. Dalam era informasi dan globalisasi ini, setiap individu dipacu waktu dan fikiran untuk dapat menyerap setiap informasi yang tepat dan akurat. Untuk itu peranan keterampilan menyimak siapa saja sebagai suatu hal mendesak yang harus dilaksanakan.

Jika data Siti Chamdiah dkk ( 1982/1983) hendak kita gunakan untuk memproyeksikan kondisi kemampuan menyimak siswi SMU tentu saja tidak logis, kita perlu mendiskusikan lebih lanjut tentang instrument yang digunakan, sifat dan latar belakang sample, serta variable- variable lainnya yang turut mempengaruhi kesimpulan akhir penelitian tersebut. Namun demikian, terlepas dari semua itu , data tersebut dapat berarti bagi kita untuk memprediksi kemungkinan- kemungkinan yang terjadi pada tingkatan yang lebih rendah, misalnya di SMU. Kondisi siswa tersebut tentu sangat mendorong kita untuk mengetahui keadaan atau  kondisi kemampuan menyimak siswa SMU. Apakah kondisi tersebut berhubungan dengan kemampuan menyimak ketika di SMU? Jika diasumsikan keterampilan menyimak siswa SMU sangat atau sekedar kurang saja maka hal ini sangat menyedihkan.

Lantas apa manfaat yang dapat kita serap ketika mempelajari pembelajaran menyimak? Sebagai suatu keterampilan berbahasa, keterampilan menyimak memberikan kontribusi yang tidak kecil untuk meningkatkan keterampilan berbahasa lainnya. Khususnya keterampilan berbicara dan menulis . Melalui keterampilan yang bersifat reseptif akan terserap sebanyak- banyak informasi yang dibutuhkan oleh keterampilan berbicara  dan menulis. Produktivitas kedua keterampilan tersebut berhubungan erat dengan kemampuan menyerap atau menyimak sebanyak- banyaknya informasi yang diperlukan. Mampu menyimak dengan efektif, berarti akan banyak pengetahuan yang didapat . demikian sebaliknya, kurang mampu menyimak, berarti sedikit kemungkinan mempunyai pengetahuan atau ilmu yang diperlukan oleh keterampilan lainnya.

Proses pembelajaran dalam menyimak sendiri memerlukan perhatian yang serius, banyak orang mendefinisikan jika menyimak hamper sama artinya dengan mendengar. Namun pada kenyataannya kegiatan tersebut, sangatlah jauh berbeda. Menurut pendapat Tarigan ( 1994 : 27 ) , “ Pada kegiatan mendengar mungkin si pendengar tidak memahami apa yang didengar. Pada kegiatan mendengarkan sudah ada unsur kesengajaan, tetapi belum diikuti unsure pemahaman karena itu belummenjadi tujuan.

Kegiatan menyimak mencakup mendengar, mendengarkan dan disertai usaha untuk memahami bahan simakan. Oleh karena itu dalam kegiatan menyimak ada unsure kesengajaan, perhatian dan pemahaman, yang merupakan unsure utama dalam setiap peristiwa menyimak. Penilaiannya pun selalu terdapat dalam peristiwa menyimak, bahkan melebihi unsur perhatian.

Dari definisi Tarigan di atas saja, sudah terlihat bahwa tingkat konsentrasi tinggi seseorang sangatlah dibutuhkan dalam proses menyimak.

Sasaran kegiatan harus di tentukan terlebih dahulu sesuai dengan tujuan pembelajaran menyimak, misalnya menyimak informasi yang bertujuan untuk mendapatkan fakta atau opini . Sasaran berikutnya yaitu berhubungan dengan kompetensi siswa, hal ini berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki siswa di akhir pembelajaran. Misalnya, kemampuan siswa menyeleksi informasi yang mengandung fakta, mengidentifikasikan ketidaksesuaian pernyataan seseorang dengan fenomena yang ada. Selain itu, menyimak dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk selektif atas informasi.Dalam proses penyimakan, kita tidak dapat secara tegas memilah- milah berbagai macam sumber bunyi diatas. Sebagai suatu integral, berbagai macam bunyi- bunyi itu biasanya membentuk suatu kesatuan makna- makna yang utuh dan total. Memang kadang-kadang kita dapat menyimak bunyi- bunyi bahasa atau nonbahasa itu secara parsial atau terpisah masing- masing berdiri sendiri. Khusus untuk komunikasi langsung   (Face to face ) maka peran nonbunyi sangat penting . Sering kali air muka, gerak isyarat, dan atau gerakan posisi badan akan mengungkapkan jauh lebih banyak dari sekedar kata- kata (Montgomery,1993:118) unsur-unsur non bunyi seperti diatas yang berkaitan dengan mimik dan gerak- gerak tersebut sering diberi istilah tekhnisnya yaitu kinesiks. Unsure kinesiks seperti ini , dalam komunikasi sering kali dimanfaatkan oleh para orator untuk memperjelas informasi yang ingin disampaikan.

Keberhasilan menyimak dipengaruhi juga oleh factor lingkungan . Lingkungan yang mempengaruhi tersebut memberikan kenyataan bahwa siswa dapat menyimak bahan dengan baik. Harus dihindari faktor lingkungan yang akan berpengaruh buruk bagi keberhasilan pengembangan kompetensi menyimak. Factor tersebut misalnya minimnya fasilitas (tidak ada laboratorium ), suasana menyimak tidak nyaman (ruangan terlalu lebar, kelas di sebelah kita terlalu berisik). Oleh karena itu, peran guru dalam menentukan keberhasilan menyimak sangat penting. Keempat hal diatas perlu diperhatikan oleh guru. Materi yang disusun pun sebaiknya memperhatikan tingkat perkembangan siswa. Tema materi yang dipergunakan sebaiknya bervariatif. Dengan demikian, siswa kita tidak akan jenuh belajar dan pembelajaran menyimak menjadi menyenangkan.

Selanjutnya, menurut Michael (1991:108) faktor- faktor yang penting dalam keterampilan menyimak dalam kelas adalah siswa menuliskan butir- butir penting bahan simakan terutama yang berhubungan dengan bahan simakan . Untuk dapat mengajarkan menyimak sampai pada pemahaman, guru perlu menyusun bahan simakan. Penyusunan materi menyimak pun tidak asal mendapatkan materi saja, tetapi ada beberapa yang harus diperhatikan guru dalam penyusunan materi ini di antaranya :( 1 ) Sasaran kegiatan, (2 ) sasaran kompetensi siswa (3) Metode pembelajaran, dan( 4 ) Faktor pembelajaran menyimak ( budiman, 2008:2).Penyimak yang baik apabila individu mampu menggunakan waktu ekstra untuk mengaktifkan fikiran pada saat menyimak. Ketika para siswa menyimak, perhatiannya tertuju pada objek bahan simakan. Pada saat itulah akan didapatkan proses menyimak yang efektif, menyimak yang lemah, dan menyimak yang kuat, sebagaimana dikemukakan oleh Campbell,dkk ( 2006:16) pada table berikut :Tabel    Menyimak yang Efektif  No.    Menyimak yang Efektif    Menyimak yang lemah    Menyimak yang kuat       1.    Temukan beberapa area minat    Menghilangkan pelajaran yang kering    Menggunakan peluang dengan bertanya”Apa isinya untuk saya?”       2.    Nilailah isinya bukan penyampaiannya    Menghilanhkannya jika penyampaiannya jelek    Menilai isi, melewati kesalahan- kesalahan penyampaian       3.    Tahanlah semangat anda    Cenderung berargumen    Menyembunyikan penilaian sampai faham       4.    Dengarkan ide- ide    Menyimak kenyataan    Menyimak tema inti       5.    Bersikap fleksibel    Membuat catatan intensif dengan memakai hanya dengan satu sistem    Membuat catatan lebih banyak. Memakai 4 -5 sistem berbeda tergantung pembicara        6.    Bekerjalah saat menyimak    Pura- pura menyimak    Bekerja keras, menunjukkan keadaan tubuh yang aktif       7.    Menahan gangguan     Mudah tergoda    Berjuang/ menghindari gangguan, toleransi pada kegiatan- kegiatan jelek, tahu cara konsentrasi.       8.    Latihlah fikiran anda    Menahan bahan yang sulit, mencari bahan yang sederhana    Menggunakan bahan yang padat untuk melatih fikiran       9.    Bukalah fikiran anda    Setuju dengan informasi jika mendukung ide- ide yang terbentuk sebelumnya     Mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda sebelum membentuk pendapat       10.    Tulislah dengan huruf besar tentang fakta karena berfikir lebih cepat daripada berbicara    Cenderung melamun bersama dengan pembicara yang lemah    Menantang, mengantisipasi, merangkum, menimbang bukti, mendengar apa yang tersirat.     Sebegitu penting keterampilan ini , tapi pembelajarannya sedikit terkesan dikesampingkan , bahkan keterampilan menyimak dianggap tidak perlu dibina atau dikembangkan . perhatian yang kurang ini jelas tergambar dalam kurikulum SMA 1975, 1984, dan juga kurikulum 1994. Keterampilan ini jelas- jelas tidak terdapat dalam jajaran pokok bahasan yang wajib diberikan dalam bidang studi Bahasa Indonesia.

Fakta ini justru sangat terbalik dengan kegiatan- kegiatan kebahasa asingan yang termasuk memasyarakat khususnya di ibukota Jakarta. Masyarakat kini jelas lebih tertarik untuk mempelajari dan mendalami bahasa asing ketimbang tata bahasanya sendiri, test- test bahasa Inggris lebih laku di masyarakat, dibandingkan uji kemampuan berbahasa Indonesia (UKBI). Sungguh hal yang miris, yang itu semua kini sudah menjadi realita kehidupan kita belakangan ini . isi sumpah pemuda pada poin ketiga seakan terlupa , terlindas oleh arus bahasa- bahasa asing yang penguasaannya lebih dibanggakan masyarakat ketimbang menguasai tata bahasa sendiri.

Adakah kesalahan dari pola pendidikan kita?

Pertanyaan itu mungkin sudah sepantasnya dialamatkan pada Menteri Pendidikan Nasional dalam cabinet baru, Indonesia bersatu jilid II. Terbatasnya pendalaman akan tata bahasa Indonesia di sekolah menengah atas ataupun sekolah menengah pertama, semakin membuat bahasa Indonesia nantinya bias menjadi tamu di Negeri sendiri. Saat anak-anak sekolah dasar lebih pandai dan lincah mengolah tenses dan grammar, dibandingkan keterampilan membaca dan keterampilan menyimak bahasa Indonesia.[Fikri, Anjar/berbagai sumber]      .


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document