Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Tahlilan VS Rokok

16 Nov 2009 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 3756 kali

Penulis: Sam Edy

“Pemirsa, lebih dari 400 ribu orang per-tahun meninggal akibat rokok. Dari sekitar enam puluh juta penduduk Indonesia diprediksi mengalami ketidak berdayaan imbas dari adiksi nikotin rokok Di tahun 2008 kemarin, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa Indonesia adalah negara terbesar ke tiga sebagai pengguna rokok. Sedangkan data terakhir yang masuk ke meja redaksi, di tahun 2009 ini, negara Indonesia dinobatkan sebagai negara terbesar pengguna rokok, dan ironisnya para perokok itu mayoritas dari kalangan remaja,”  suara merdu wanita cantik pembawa berita itu membuatku geleng-geleng kepala sembari beristighfar dalam batin.

Sayup-sayup kudengar suara adzan Magrib menggema dari corong masjid kampungku. Segera kumatikan televisi. Aku mau ke masjid dulu.

***

“Berangkat tahlilan nggak, Ji?” tanya Mas Samsul, salah satu tetanggaku, sehabis shalat Magrib.

“Nggak ah, lagi kurang enak badan.” Ups! aku berbohong lagi, untuk keberapa kalinya, aku tak tahu pasti, karena aku sendiri tak pernah menghitungnya.

“Nggak karena malas, kan?” tatapan Mas Samsul penuh selidik, mencoba mencari titik kebohongan yang mungkin terpancar dari kornea mataku.

“Bener! Aku lagi kurang enak badan, kepalaku pening, Mas,” kata-kata itu terpaksa kukeluarkan juga untuk menangkis keraguan ucapanku sendiri, yang mungkin menurut Mas Samsul terdengar meragukan, atau dengan kata lain; aku hanya mencari-cari alasan saja, walau kenyataannya memang seperti itu.

Halaman: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |

Artikel Sebelumnya :

2 Komentar :
2009-11-18 12:15:54 WIB

chezpiere_cool

Setuju banget nieh ma cerita ini,,sesuai dengan pengalaman pribadi yang aku juga alami. memang kita senasib (Dnasib). jadi ada ide gak untuk mensiasatinya???


 

2010-05-19 10:09:55 WIB

sam edy

Ups! sorry br bs bls... coz ru bisa ngaktifin membernya, he he..


ideku sih simpel; pertama, nyoba curhat pd salah satu tmn tahlilan kita (yg kira2 bs ngormati pendpt kita, walo dia perokok) krna sewaktu-waktu kita nggak brgkt, dia bs ngejelasin alasan kita. kedua, kalo tetep mereka nggak mau ngertiin kita, jln terakhir aku nggak berangkt aja, he he he, ya, kadang2 aja brgktnya trus berusaha nyari t4 yg plg pinggir dekat pintu atawa jendela gitu deh. itu yg udh kupraktekkin selama ini. okey....


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)