Asma

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Sofiyatun

 

Bukankah manusia hanya seorang tamu bagi keluarganya?

Yang berdiam sementara bersama mereka, lalu pergi meneruskan perjalanan.


Siang menggelegak, meskipun matahari tertutup asap gelap, namun bara terasa memancar dari segala ranah, tak terkecuali dari setiap celah hamparan pasir yang kuinjak. Uap panas terasa menguar bersama deru senapan yang mendesing-desing. Aku mengendus. Agh... bau pasir hangus bercampur aduk dengan bau anyir dan bau daging terbakar! Aku bergidik. Aku tak kuasa menahan aroma darah anyir yang berembus seirama embusan angin padang pasir ini. Padang pasir yang tetap sama dengan padang pasir dahulu, ketika Musa dan Firaun menapak kaki di atas negeri ini.

Aku berjalan dengan kaki menjinjit. Melompat dari satu bidang ke bidang yang lain, takut jika kakiku terperosok dalam genangan darah yang merambah merah di mana-mana. Dari jauh, aku melihat seorang wanita Mesir itu berlari dari Masjid Rabaa menuju Rumah Sakit darurat. Di tangannya tertenteng sebuah kotak yang kurasa cukup membuat bahunya ngilu. Gadis Mesir belia nan jelita itu, aku mengenalnya.

Aku  mengikuti jejak kakinya yang hangat. Keringat wanita berumur 24 tahun itu membanjir, mengucur deras di keningnya, merembes membasahi kerudung kremnya yang berkibar sepoi-sepoi. 

Beberapa puluh meter dari Rumah Sakit yang didatanginya, peluru-peluru melaju semakin kerap. Dentuman-dentuman keras memekakkan setiap jaring pendengaran. Lemparan batu yang hanya melukai tipis dahi seorang tentara, dibalas dengan tembakan bertubi yang menembus urat nadi, menciptakan semburan darah segar beriring takbir. Satu, dua, tiga, roboh! Meregang nyawa sebagai syahid. Jeritan menggema menyayat-nyayat,  menguap memenuhi langit bumi Kinanah yang kini berkabut. Langit kelabu yang kelam seakan ingin memuntahkan duka yang melambung dan terkurung di dalamnya. Langit yang menjadi saksi peradaban-peradaban yang silih berganti di bawahnya. 

Orang-orang  hilir mudik mengangkut sesuatu--seseorang, lebih tepatnya-- ke dalam Rumah Sakit yang dituju wanita itu. Aku mengikuti kelebatan siluetnya, hingga langkahku terhenti di sebuah hall. Aku melihat dua shaf rapat jenazah yang berkubang luka. Siapa mayat laki-laki yang mendekap mushaf itu? Lalu, Siapa pula jenazah anak laki-laki yang pecah kepalanya itu? Lalu, otak siapa ini yang bercecer becek di lantai? Aah!!! Banyak sekali mayat-mayat bergelimpangan dan serpihan tubuh manusia di ruangan ini. 

Aku melebarkan pandangan. Mataku menangkap puluhan orang terluka, darah segar muncrat dari setiap jalan peluru yang menembus kulit mereka. Seorang laki-laki tua mengerang. Matanya berkilat tanpa air mata. Bahunya terkoyak menyembulkan putih tulang. Darah segar menganak sungai, merupa kubangan merah kental.

Jarak sedepa dari laki-laki itu, seorang wanita bersimpuh merana. Membujur kaku seorang laki-laki remaja di samping kanannya. Bibir beku yang terkatup dalam kilas senyum. Sangat menawan. Ia serupa malaikat yang terlelap di atas dipan surga. Begitu nyaman. Begitu tenang. Dada yang tercabik-cabik merah tak membuat hilang pesonanya. Jubah putih yang bersimbah merah menjelma indah serupa pakaian para pangeran istana. 

Wanita tua itu bergeming dalam air mata. Kelu menatap sang putra yang beku.

"Berbahagialah kau di surga, anakku. Para bidadari telah menyiapkan kuda terbang bermahkota permata untukmu." Ia merajut kata dengan suara terpenggal-penggal. Tercekat guguk tangis.

Aku terkesiap. Mana wanita berkerudung krem tadi? Aku harus mencarinya. Aku sudah rindu pada sorot cahaya matanya. Pada harum persik angin yang pernah mengibas lembut tubuhnya. Itu dia! Aku melihatnya.

"dr. Asma, bantulah anak ini terlebih dahulu. Peluru masih bersarang dalam pundaknya." 

Seorang wanita tua menarik tangan wanita berkerudung krem itu, membawanya pada seorang bocah laki-laki yang terkapar memegangi pundaknya yang berlubang. Darah membeku bergumpal-gumpal di atas lantai. Sekali-dua ia mengerang, menampakkan sederet putih gigi belianya.

"Sebut nama Allah, insya Allah aku akan membantumu." ucap Asma sebelum menelungkupkan kepala bocah itu di pangkuannya. 

Jemarinya bergerak cepat mencari alat-alat di kotak medis yang selalu dibawanya. Bocah itu menurut, sambil menahan sakit ia terus menyebut-nyebut nama Tuhan. Asma menusukkan jarum, memasukkan cairan anestesi, lalu segera melakukan operasi ringan. Peluru hanya bersarang 2 cm dalam daging. Dengan cekatan diambilnya benda laknat itu dengan hati-hati agar tak menimbulkan rasa yang terlalu menyakitkan. Tak sampai dua puluh menit, ia telah menjahit kembali kulit dan daging yang semula terkoyak.

"Aku harus keluar." sambil terhuyung anak laki-laki itu berusaha berdiri.

Aku rasa, ia tak mau berdiam diri menunggu lukanya mengering, sementara di luar sana, sang Ayah entah apa kabarnya. Wajah bocah kecil itu masih sangat menggemaskan, tapi aku yakin, mentalnya sudah menjulang jauh lebih dewasa.

"Duduklah, kau jangan keluar! Di sana sangat berbahaya untukmu" Asma menyusul berdiri, berkata sambil menatap lurus ke mata elang anak itu. 

Bocah itu menggeleng. Matanya menajam. Ia akan berlari jika Asma tidak segera menyimpannya dalam dekapan.

"Percayalah padaku...anak sepertimu adalah harta negeri ini, kau akan tumbuh besar dan melawan kekejian dengan kekuasaanmu, bukan dengan batu. Kau akan berjaya, percayalah....Tuhan melihat kebenaran, tapi bersabarlah.." Asma berkata lembut, menenangkan bocah yang semula berontak dalam dekapannya. Sorot mata anak itu masih berkilat-kilat, menggambarkan tekadnya yang membeku, mengeras serupa bongkahan es di dasar kutub pada malam gerhana.

"dr. Asma benar, wahai anak pamanku...berdiamlah di tempat ini, lalu berdoalah untuk keselamatan ayahmu. Sesungguhnya hal itu lebih baik bagimu." Wanita tua yang tadi menarik tangan Asma ikut menasihati. 

Bocah itu perlahan luluh, matanya meredup. Kaku yang mengeras di keningnya melunak. Asma menyerahkannya pada wanita tua itu. 

Matahari kian meninggi, Rumah Sakit Darurat itu bertambah sesak. Erang kesakitan bersatu padu dengan takbir. Para dokter dan perawat hilir mudik dari satu pasien ke pasien lain. Wajah-wajah tampak menegang dalam cemas dan air mata. Para wanita bersimpuh di samping jenazah-jenazah bersama kucuran doa.

Matahari merangkak mendekati petala langit ketika gas air mata dimuntahkan ke dalam Rumah Sakit. Aku melihat, gas air mata itu merayap laju menusuk setiap indera penglihatan. Orang-orang berlarian mencari masker. Asma juga melindungi wajahnya dengan masker yang sudah disiapkannya di kotak medis. Mata perinya menjelma pecahan kaca, pedih serupa tepercik air cuka.

Aku berputar haluan. Di pojok hall ini, di antara mayat-mayat yang terbungkus kafan seadanya, aku pun melihat seorang dokter laki-laki bermasker yang berjuang menolong seorang laki-laki paruh baya. Betis laki-laki paruh baya bertubuh jangkung itu berlubang. Secuil timah berdiam manis di dalamnya. Jemari dokter itu dengan lincah membersihkan bercak darah di sekitar luka. Nama dokter itu, Ahmed. Seorang dokter spesialis bedah tulang di RS Qasr Al-Aini. Berkali-kali kaca mata minusnya turun karena gerakan yang berlebihan. Dan berkali-kali pula dr. Ahmed membenarkan letak kaca mata itu, sambil sesekali menghapus peluh yang hampir menetes di ujung pelipisnya. Kulihat, terkadang laki-laki yang terluka itu mengerang sambil berteriak "Allah..." panjang. dr. Ahmed yang kutaksir berumur 27 tahun itu berusaha menenangkan. Diucapkannya kata-kata yang meneguhkan hati dengan irama yang santun.

"Teruslah sebut nama Allah..."

Tepat 15 menit, Ahmed berhasil menyelesaikan tugasnya. Ia membasuh tangannya dengan cairan dari botol besar. Aku bisa memastikan, dokter berwajah teduh itu sejenak memandang ke arah Asma yang khusyuk memberikan pertolongan pada korban-korban yang masih bisa ia selamatkan. Bibir dokter laki-laki itu melukis senyum tipis sebelum ia menuju korban yang lain.

"dr. Asma...! Tolonglah wanita yang akan melahirkan di dalam tenda di luar sana! Ini benar-benar darurat. Kami tidak bisa membawanya kemari. Para snipper itu sudah merambah tempat ini." Seorang laki-laki berjubah putih dan berjambang lebat menghampiri Asma. Napasnya tersengal tak beraturan. Jubah putih yang dikenakannya dipenuhi bercak-bercak merah. 

Asma menjawab 'insya Allah' lirih sambil mengemasi peralatan medisnya. Mereka bergegas keluar dari Rumah Sakit. 

Jarak antara Rumah Sakit dan tenda sekitar 60 meter. Jarak itu membuat mata Asma yang berkabut mampu menangkap banyak pemandangan di sekitarnya. Asap hitam mengepul dari berbagai penjuru, para tentara itu membakar apapun yang mereka temui, mayat-mayat, hingga mereka yang masih berjuang dalam sekarat. Aku bisa merasakan pergulatan batin dokter muda pemberani itu! Aku tahu, hatinya serupa tertusuk belati menyaksikan tanah hidupnya memerah, menyaksikan saudara-saudaranya membunuh saudara-saudaranya yang lain. Lalu korban tersungkur satu persatu dan wafat dalam kubangan darah yang mengalir ke segala ranah. Aku tahu Asma, kau menutup walau selubang jarum celah air matamu, agar tak tumpah untuk menangisi kekejaman tirani. Tapi sorot matamu tetaplah memancarkan kelembutan, jejaring pandangmu adalah kasih sayang. Engkaulah pewaris jiwa Asma binti Abu Bakar itu. 

Asma dan laki-laki berjenggot itu berjalan mengendap-endap di sisi bangunan. Aku terus mengikuti jejak mereka. Kulihat, Asma menghentikan langkahnya sejenak, ia memejamkan mata dan menarik napasnya dalam-dalam, seolah saat ini ia tengah berjalan di antara rumpun bunga-bunga yang bermekaran, di atas hamparan biji-bijian yang semerbak wangi. Memang, darah syuhada harum baunya. Aku saja yang terlalu lama bersarang dalam raga penuh dosa, sehingga penciumanku hanya menangkap bau amis dan sangit.

Setelah beberapa depa berjalan, Asma kembali menghentikan langkah, ia melihat seorang bocah laki-laki bersimpuh di samping seorang mayat, barangkali mayat ayahnya. Tangis luka anak itu terdengar menyayat, ia menempelkan kepalanya di atas dada sang Ayah yang penuh darah mengental, sambil tangannya mendekap tubuh sang Ayah.

"Anak itu akan mudah tertembak jika terus berada pada lokasi seperti itu. Tolonglah dia!" Asma berkata pada laki-laki berjambang yang ada di depannya.

"Tapi istri saya akan melahirkan"

"Baiklah, temui istrimu dahulu. Aku yang akan menolong anak itu. Nanti aku menyusul, insya Allah." 

Asma berjalan mengendap dari satu sisi bangunan ke sisi bangunan yang lain, tanpa peduli laki-laki berjambang itu memanggil-manggilnya. Setelah berada di dekat anak itu, kulihat Asma berlari, karena tak ada lagi tembok untuk berlindung. Dengan cepat ia menyambar anak itu dalam gendongannya. Anak itu  berteriak-teriak minta diturunkan sambil meronta-ronta. Asma sedikit kualahan, namun tubuh anak kecil itu masih begitu mungil untuk melepaskan dekapan tangan Asma. Kutebak, anak itu masih berumur 6 tahun.

"Aku ingin mati bersama Ayaaaaahhh...!!!" pekik anak itu akhirnya. 

Tak dihiraukan permintaan konyol itu, Asma terus berlari menuju tembok bangunan terdekat. Namun... sebuah moncong M 16 memuntahkan timah panas yang seketika melaju secepat kilat, lalu melabuhkan diri di balik paha kanan Asma. Wanita itu hampir tersungkur, untungnya kaki kirinya masih kuat menopang tubuhnya dan anak kecil itu. Dengan susah payah ia mencoba berdiri kembali, lalu membawa anak itu dengan jalannya yang pincang, menuju sisi dinding bangunan yang tinggal 10 langkah lagi. 

Tapi, Tuhan berkehendak lain, langkah itu tak akan pernah sampai di balik tempat perlindungan itu. Karena suara tembakan kembali terdengar, sebuah peluru mendesing laju, meluncur secepat cahaya menembus leher dokter muda itu, menciptakan lubang  menuju urat nadi. 

Asma roboh! Dengan sisa-sisa tenaganya, ia berhasil mendorong tubuh sang anak kecil ke sisi dinding. Anak kecil itu tersungkur. Menyadari Asma telah terkapar, ia segera bangkit dan berteriak-teriak. Ditariknya dengan susah payah tubuh Asma ke sisi tembok. Darah mengucur deras  membentuk genangan yang membasahi seluruh tubuh Asma. Anak itu menjerit pilu, begitu pula aku, ingin rasanya kupancung leher tentara biadab itu, lalu kepalanya kupertontonkan di puncak Piramida. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa melihat tentara itu mengeloyor pergi tanpa dosa.

Asma belum mati, aku masih mendengar suara lirihnya yang mengucap nama Tuhan. Aku masih melihat senyuman khas berlesung pipi yang dimilikinya. Tapi, kenapa tak ada yang menolong Asma?!! Mana para dokter?! Mana para pembawa tandu?! Woi, mengapa semua seolah tak mengerti balas budi?!! Aku menajerit-jerit meminta orang-orang agar lekas menolong Asma. Tapi sia-sia. Tak ada yang mampu mendengar jeritanku. 

Oh, itu! Aku melihat Ahmed berlari dari pintu Rumah Sakit menuju Asma yang terbaring tanpa daya. Ia pasti mendengar teriakanku dan teriakan bocah itu. Aku lihat itu, mata dr. Ahmed berembun. Dengan secepat kilat ia menyambar tubuh Asma yang sekarat, membopongnya  menuju Masjid Rabaa yang berjarak sekitar 40 kaki. Anak kecil tadi mengikuti langkah dr. Ahmed.

"Bertahanlah, aku akan menolongmu, wahai Asma." Ahmed berucap dengan wajah yang menghimpun cemas. 

Aku tahu, Ahmed pasti sudah menyadari bahwa menyelamatkan nyawa Asma sama saja dengan membawa bulan dalam pangkuan. Lihat, peluru panas itu sudah menembus urat leher Asma. 

Ahmed tak menyerah, Tangannya bergerak tergesa-gesa membongkar kotak medisnya, tak sabar,  ia menumpahkan seluruh isi kotak itu. Asma berusaha menggelengkan kepala, walaupun tak berhasil. Hanya matanya yang bisa bergerak pelan.

"Kau harus dibawa ke Rumah Sakit, Asma."

"Ti-d-dak per-lu, Ah-med." ucap Asma hampir tak terdengar.

"A-ku su-dah menghi-rup wangi Jannah se-dari ta-di. Allah sudah mem-perlihat-kan janji-Nya pa-daku." ucap Asma dengan suara yang tertahan dalam, sehingga dr. Ahmed harus mendekatkan cuping telinganya di depan bibir Asma. 

Aku masih bisa melihat seulas senyum di bibir Asma. Tak lama, setelah mengucap persaksian kepada Tuhan yang Esa dan Muhammad saw, Asma pergi bersama puluhan orang yang juga pergi saat itu. 

"Selamat berbahagia, istriku. Insya Allah kita akan bertemu lagi,  sebagaimana Adam pun dipertemukan kembali dengan Hawa. "

Ahmed menunduk, mengheningkan cipta sambil membacakan do'a, lalu mengecup lembut kening wanita yang dinikahinya tiga hari yang lalu itu. Tak ada air mata yang menetes. Karena ia tahu, para malaikat pun akan menghormati Asma. 

Ahmed memindahkan tubuh Asma ke tempat yang agak jauh dari pintu kemah. Direbahkan tubuh Asma di antara shaf jenazah-jenazah lain yang berjejer dalam kafan seadanya. Ahmed mengecup kening putih itu sekali lagi, lalu berusaha tegar. Ia segera berlari menuju korban-korban lain yang membutuhkan jasanya. Biarlah Asma pergi bersama bakti tertingginya. Biarlah Asma menghiasi tempat bulan madu mereka dengan bantuan para malaikat dan bidadari surga. 

Aku duduk bersimpuh di atas pasir hangat, di depan pintu Masjid. Aku tahu semua tentang Asma.

Sambil terisak aku melihat sekeliling. Ternyata ada banyak jiwa yang juga sepertiku, berkabung untuk Asma. Jiwa-jiwa yang sejak tadi juga menyaksikan bakti para relawan itu. Aku dan mereka adalah jiwa para dokter yang berkelana. Berkelana ke tempat ini ketika tuan-tuan kami tengah lelap di balik selimut tebal. Aku yang hanya mampu membisiki kebenaran pada tuanku.

"Ayo kita membantu saudara kita di sana! Di Mesir, di Suriah, atau di tempat darurat lain. Mereka sangat membutuhkan dokter sepertimu."

Namun, bisikan itu tak didengar sama sekali. Tuanku bilang, menjadi relawan di tempat seperti ini sama artinya mencari mati, lagipula tak ada uangnya.

"Apakah ada jaminan untuk hidupku di sana?!" tanya tuanku suatu ketika.

"Lalu, apakah ada jaminan untuk matimu di sini?!" aku balik melontarkan pertanyaan yang membuatnya diam. Diam karena mungkin malas meladeniku terlalu jauh. 

Tuanku lebih memilih duduk manis di dalam ruang yang nyaman, memeriksa pasien sebentar dan ala kadarnya, lalu membawa pulang segepok uang. Andai bisa aku memilih, akan kupilih Asma sebagai tuanku. Biarlah waktuku di dunia tak lama, karena singgah dalam perjalanan memang tak mesti lama, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa diberikan.

Selesai. 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...