Ayah Hutan

Fashion-Styles-for-Girls-Online

ayah-hutan2.gif

Penulis : Alimuddin

Ketika pulang sekolah, aku menjerit besar. Ingin menangis,,"di mana aku bermain karet setelah ini Mak?"Halaman rumahku sudah penuh dengan pohon-pohon. Yang menanam itu, Ayah. Setelah berganti baju, aku berkeliling kampung. Di bangku meunasah (mushala) aku temukan Ayah bersama dengan Ayah-Ayah lainnya. Sekilas kudengar, lagi-lagi, hutan, hutan, hutan... pam pum tam tum, hutan terus. Ayah seperti menganggapku seorang asing, padahal mata kami sempat beradu.


Tak terasa air mataku menitik, Aku menemukan pemandangan menyedihkan hari ini. Rupanya Ayah-Ayah kami telah menanam pohon-pohon di halaman bermain kami.

Lalu berminggu-minggu, di rumahku, di mana-mana sudah ditanam pohon oleh Ayah. Rumahku sudah dipenuhi pohon-pohon. Hutan. Ya, sudah menyerupai hutan. Lalu berbulan-bulan, Ayah sudah mulai menanam pohon di sumur kami. Mak tidak berani melarang. Aku apalagi. Takut Ayah naik marah. Dan aku temukan pemandangan menyedihkan itu di seluruh rumah-rumah di kampung. Perkampungan ini perkampungan hutan.


Suatu senja aku topang dagu berpikir, sama saja Ayah kami pulang ke kampung atau tidak. Ayah seperti tidak bisa memeluk kami. Ayah tidak antar sekolah. Ayah tidak ajarkan mengaji. Tidak ajak main. Malah yang ada, Ayah-Ayah telah merebut halaman bermain. Sepertinya aku yang penuh pengharapan perlahan-lahan merembes keluar dari tulang-tulangku, meninggalkan hitam kasar rasa merana, sekasar batang pohon-pohon Ayah itu.


***

"Tapi sebelum Ayahmu menghuni hutan rimba. Sekarang Mak kurang tahu..." Seperti tidak ingin didahulukan, Mak berkata cepat dalam kepalaku.Tiang listrik dipukul-pukul kuat. Waktu pulang.

"Besok kita lanjutkan menulis surat." Bu Cut Haslinda memasukkan buku-buku ke dalam tas hitamnya. Setelah ucapkan salam, ia seperti terburu ingin keluar dari kelas.

Sekian hari kami disibukkan dengan menulis surat untuk Ayahanda. Hingga telah selesai surat itu. "Tanya dengan Mak dan adik-adik di rumah, apa yang ingin disampaikan dengan Ayahanda." Namun Bu Cut Haslinda suruh kami tulis baru surat itu.

Pagi-pagi telah selesai surat itu. Surat kami menjadi lebih panjang. Pada sebuah pagi menentramkan, berwajah rindu kami sodorkan surat-surat kami kepada Bu Cut Haslinda.
"Anak-anak, kalian tidak lupa menuliskan nama kan di surat?" Mata Bu Cut Haslinda mengerling ke arah kami. Sebagian kami lupa menulis nama, sepertinya sehingga terburu-buru berlari ke dalam kelas sambil bersorak-sorak pada teman-teman kami lainnya yang berada di dalam kelas.

"Ibu guru akan kirimkan surat ini untuk Ayah-Ayah kami? Ibu guru akan jumpai Ayah kami?" Tanyaku penuh harap.

Jawab Bu Cut Haslinda, berseri-seri,"Ibu kepala sekolah yang akan kirimkan surat-surat untuk Ayahanda."

"Ibu kepala sekolah tahu di mana Ayah kami?"

"Iya, mungkin,"

"Ya, mungkin," kataku pelan, tidak terlalu yakin dengan kata-katanya itu.

Melalui bahu aku melihat Sakdiah yang terengah-engah berlari ke arah kami. "Bu guru, ini surat Sakdiah..."


***

ayah-hutan2.gif

Entah Ayah-Ayah telah membaca surat rindu kami, tapi pada sekali petang menjelang sembahyang magrib, kampung kami penuh dengan Ayah. Tiba-tiba saja kampung menjadi kampung rindu. Ayah-ayah kami datang mengurung, seperti malam menawan bulan. Malam kemarin Mak bilang, Ayah telah selesai berjuang di hutan. Mungkin akan pulang.


Mungkin adalah jawaban ya dan tidak. Dan Mak cepat mengelus-elus kepalaku,"Jangan terlalu berharap banyak. Takutnya kecewa hati kalau Ayahmu tidak pulang."

Aku membayangkan rupa Ayah dengan mengingat-ingat cerita Mak,"tinggi besar,hidung mancung, kulit kecoklatan." Sementara mata Mak sibuk menoleh. Mencari di mana beradanya Ayah.

"Itu Ayah." Tunjuk Mak kepada sosok laki-laki tinggi besar dengan hidung mancung. Tapi berkulit hitam.

Apa yang harus kulakukan? Aku bertanya pada kepalaku sendiri. Aku harus berlari kah? Memeluk sosok tinggi besar itu? Aku panik ketika Ayah mendekati aku dan Mak. Aku berharap Ayah yang akan memelukku, dan kepanikan yang menyerang ini akan lari dengan sendirinya.

Aku menoleh ke samping, tidak seperti yang kubayangkan, pertemuan rindu ini tidak mengharu biru. Ayah berjalan pulang ke rumah dengan gagah. Sementara Mak dan anak mengekor di belakang, seperti kambing peliharaan.

Aku berdoa dalam hati, aku ingin Ayah memelukku. Mungkin akan mengangkatku tinggi dan aku akan bersorak-sorak girang. Lalu kami akan pulang bertiga. Aku di tengah. Tangan kiri-kananku menggenggam tangan Mak dan Ayah.

Ingin aku menangis, Ayah hanya mengucek-ngucek kepalaku. Kemudian seperti Ayah-Ayah lain, dengan gagah berjalan di depan menuju rumah. Mak memelukku. Mungkin tahu aku didera perasaan kecewa.

"Ayah sedang lelah barangkali. Ingin segera beristirahat di rumah,"Suara pelan Mak seperti bunyi burung hantu yang bosan ber-ngu-ngu.

Sampai di rumah, Ayah bercerita tentang hutan terus-menerus dengan Mak. Ayah tidak menanyakan bagaimana sekolahku. Ayah tidak ingin mendudukkan aku di pangkuanku.

Hutan, hutan, dan hutan. Air mataku bercampur dengan air ketika mengambil air sembahyang di sumur. Ayah tidak sembahyang magrib.

Meski demikian, rupaku berseri-seri paginya ketika berangkat sekolah. Berjumpa teman-teman, cerita kami hanya mengenai Ayah. Pagi itu pun, Bu Cut Haslinda masuk ke dalam kelas dengan wajah sangat berseri-seri.

Ketika pulang sekolah, aku menjerit besar. Ingin menangis,,"di mana aku bermain karet setelah ini Mak?"Halaman rumahku sudah penuh dengan pohon-pohon. Yang menanam itu, Ayah. Setelah berganti baju, aku berkeliling kampung. Di bangku meunasah (mushala) aku temukan Ayah bersama dengan Ayah-Ayah lainnya. Sekilas kudengar, lagi-lagi, hutan, hutan, hutan... pam pum tam tum, hutan terus. Ayah seperti menganggapku seorang asing, padahal mata kami sempat beradu.


Tak terasa air mataku menitik, Aku menemukan pemandangan menyedihkan hari ini. Rupanya Ayah-Ayah kami telah menanam pohon-pohon di halaman bermain kami.

Lalu berminggu-minggu, di rumahku, di mana-mana sudah ditanam pohon oleh Ayah. Rumahku sudah dipenuhi pohon-pohon. Hutan. Ya, sudah menyerupai hutan. Lalu berbulan-bulan, Ayah sudah mulai menanam pohon di sumur kami. Mak tidak berani melarang. Aku apalagi. Takut Ayah naik marah. Dan aku temukan pemandangan menyedihkan itu di seluruh rumah-rumah di kampung. Perkampungan ini perkampungan hutan.


Suatu senja aku topang dagu berpikir, sama saja Ayah kami pulang ke kampung atau tidak. Ayah seperti tidak bisa memeluk kami. Ayah tidak antar sekolah. Ayah tidak ajarkan mengaji. Tidak ajak main. Malah yang ada, Ayah-Ayah telah merebut halaman bermain. Sepertinya aku yang penuh pengharapan perlahan-lahan merembes keluar dari tulang-tulangku, meninggalkan hitam kasar rasa merana, sekasar batang pohon-pohon Ayah itu.


***

Sekali waktu pulang sekolah, aku menangis keras, di kamar tidurku, yang ternyata sudah penuh dengan pohon-pohon. Daun-daun pohon itu telah menyentuh atap-atap kamarku. Tidak ada lagi kini ruang tanpa pohon-pohon. Sumur, dapur, ruang tamu, kamar tidur Mak ditumbuhi pohon-pohon Ayah.

Dan kini kamar tidurku menjadi korban pohon-pohon Ayah. Seharian aku menangis saja. Ayah yang kutahu-aku tahu dia tahu tentang tangisanku, seperti tidak melakukan kesalahan saja. Kudengar siulan tenangnya dari kamar pohonnya.

Lalu dengan suara besar Ayah berbicara tentang hutan kepada Mak. Sepertinya Mak hanya bisa mengangguk-angguk saja pada Ayah. Mak tidak bisa selain itu.Ketika Ayah menjenguk kamarku, di antara bintang-bintang air mata, di sela-sela ruang-ruang pohon-pohon itu, aku bisa melihat kepala Ayah yang aneh. Banyak pohon-pohon kecil yang tumbuh di kepala Ayah.

 


Darusallam, April 2009
Lelahnya kehidupan
Merangkai bunga.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...