Ayat-ayat Talmud

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis : Guntur Alam

Lelaki tinggi besar itu terlihat mondar-mandir. Berputar-putar di dalam ruang kantornya yang penuh sesak dengan belbagai barang. Kertas-kertas terlihat berserakan, serampang disusun dengan asal-asalan di atas meja. Sebuah jubah dan topi tersangkut di belakang pintu.

Matanya menatap pintu, mendengus dan berjalan menuju belakang kursi empuknya, di tariknya sedikit tirai jendelanya. Tirai itu terbuat dari plastik berbilah-bilah. Mata kelabunya menyipit, melihat ujung jalan di luar kantor. Beberapa prajurit terlihat mondar-mandir di halaman. Jalan kota Ashdod terlihat sepi.

Dia mendengus kembali, membuang kesal yang bercokol dalam hatinya. Mata lelaki itu berlari kearah jam dinding yang menempel manis di tembok kantornya. Kedongkolannya kian bertambah-tambah. Dengan kesal, tangan lelaki itu menarik tali ujung tirai. Bilah-bilah tirai itu menutup dengan kencang. Menghilangkan pemandangan jalanan kota Ashdod di depannya. Kali ini dia menghempaskan pantatnya di atas kursi empuknya.

"Berapa jauh Yahudi Yeshiva Bnei Akiva dari kantor ini?" gerutu lelaki itu, sendirian. Melampiaskan kemarahan yang meletup-letup di dadanya. Jemari kanannya merenggut paksa  sebatang cerutu dari tempatnya. Lalu, jemari itu menyempalkan ujung cerutu itu di bibirnya. Rasa manis tembakau seketika bergumul dengan liur dan ujung lidahnya. Mengelindap, membawa rasa ke dalam saraf-saraf otaknya.

Dijangkaunya pematik api yang berada di atas meja. Pematik yang terbuat dari logam itu terlihat berkilau. Ada lambang bintang david di atas permukaannya.

Begitu jempol itu menekan ujung pematik, api berwarna biru terlihat menyembur kecil dari kepala pematik. Lelaki itu menyorongkan ujung cerutunya ke kepala pematik, menghisap dalam. Membuat gumpalan-gumpalan bara api kecil memerah di ujung cerutunya, setelah itu asap tembakau mengepul dari mulut dan ujung cerutunya.

Beberapa detik, lelaki itu hanyut dalam balutan sensasi cerutunya. Melupakan sejenak kekesalan yang masih menyelubungi dadanya. Dihirupnya napas dalam-dalam, membiarkan nikotil yang ada di cerutunya bergentayangan bebas dalam paru-parunya.

Tetapi, keasyikan lelaki itu terkoyak. Sebuah gendoran di daun pintu ruangannya membuat dia tersentak.

"Masuk!" teriaknya, menjawab ketukan di daun pintu yang masih terdengar.

"Selamat siang, Tuan Ary," sapa seraut wajah yang menyembul dari balik pintu. Lelaki berusia dua puluh lima tahunan masuk ke dalam ruangan itu. Melepas topinya dan meletakkan topi itu di antara pinggang dan perutnya. Dia berjalan menuju meja, seorang lelaki bermata kelabu terlihat menunggu dengan wajah masam.

"Kamu terlambat! Saya tidak pernah suka dengan orang pemalas!" lelaki muda berseragam coklat muda itu menunduk kecil. Seperti meminta maaf atas perbuatannya.

"Maaf, Tuan. Kepala sekolah Yahudi Yeshiva Bnei Akiva, tuan Ehud Rovera, belum selesai mengumpulkan semua surat dari siswa di sekolahnya. Perlu waktu tambahan agar anak-anak itu bisa mengumpulkan semua surat yang ditugaskan kepada mereka," jelasnya.

Lelaki bernama Ary itu kembali mendengus. Di seragam coklat mudanya, pada dada bagian kiri tersemat namanya yang disulam dengan teknik bordir. Ary Syerabi. Dia kepala perwira Satuan Pelindung Warga Israel.

"Apa anak-anak itu mengumpulkan semua surat yang ditugaskan kepada mereka?" tanyanya, tak ingin membuat kemarahan yang ada dalam dadanya makin menjadi. Dia ingin langsung mengetahui hasil kerja mereka. Sebab, sore ini, dia harus segera memberi laporan perkembangan doktorin ayat-ayat Talmud yang sudah ditanamkan kepada anak-anak Yahudi.

"Sudah, Tuan. Semua anak-anak yang bersekolah di Yahudi Yeshiva Bnei Akiva telah mengumpulkan semua suratnya," lelaki itu menyerahkan sebuah map berisi kertas-kertas. Meletakkannya di atas meja, di hadapan lelaki bernama Ary Syerabi.

Tangan lelaki itu menjangkau map yang diberikan. Lembar-lembar kertas dalam jumlah yang demikian banyak itu langsung menubruk bola matanya. Tulisan tangan khas anak-anak merayapi retinanya. Ada sunggingan senyum puas di bibirnya.

Diambilnya sebuah kertas yang ditulis dengan tulisan cakar ayam. Terlihat sulit dibaca. Tetapi, bukan tulisan tak jelas itu yang menarik perhatiannya. Sebuah gambar di bawah tulisan itu yang membuatnya tertarik. Gambar yang sebenarnya tak bisa dibilang bagus. Namun, cerita yang ada di dalam gambar itu yang membuatnya bagus, di mata lelaki beretina kelabu itu.

Mata lelaki itu beralih dari gambar, menuju tulisan tak jelas di atasnya. Susah payah dia mengeja rangkaian kalimat yang terukir itu.

Sharon akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung... dan membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami, wahai monyet betina! Kenapa kalian tidak kembali ke [tempat] dari mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Aku mempersembahkan untukmu gambar [ini] supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian....ha...ha!

Senyum terkembang sempurna di bibir lelaki bermata kelabu itu. Bola matanya berlari menuju gambar yang dilukiskan anak penulis surat itu.

Bocah Israel itu menggambar sosok Sharon dengan kedua tangannya menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah!

"Donatella, usia 8 tahun. Gadis kecil yang manis," desis lelaki bermata kelabu itu. Senyum puas makin mekar sempurna di bibirnya.

"Youngman, apa yang kau katakan kepada anak-anak ini hingga mereka menulis surat yang demikian menyentuh hati?" tanya lelaki itu. Dia benar-benar puas membaca surat salah satu siswi sekolah Yahudi itu. Tentu para anggota parlemen di Satuan Misi Pemusnahan Bangsa Amalek2 akan tersenyum puas membaca surat-surat ini.

"Saya hanya mengatakan seperti yang Tuan perintahkan; Tulislah surat buat anak-anak Ghayim3 di Palestina. Surat itu akan kami sampaikan pada mereka." Jawab lelaki muda itu.

Lelaki bermata kelabu itu tertawa terbahak-bahak. Benar-benar brilian ide yang diusung para Rabbi di tanah Yahudi. Setelah deklarasi di kuil Suci Sulaiman. Tak menunggu waktu lama. Usaha mereka telah menunjukkan hasilnya.

Semua berawal dari pertemuan rutin para anggota parlemen Satuan Misi Pemusnahan Bangsa Amalek beberapa waktu silam. Sebenarnya, ide ini hanyalah inovasi terbaru dari rangkaian ide yang telah mereka jalankan sejak berdirinya kerajaan Israel Raya di tahun 1948.

Kesibukan orangtua anak-anak Yahudi membuat parlemen rahasia ini cemas. Mereka galau, takut generasi setelah mereka akan melupakan perjuangan panjang untuk bisa kembali ke Tanah Kan an yang telah diwariskan Tuhan kepada Musa.

"Jangan sampai anak cucu kita bermurah hati kepada para Ghayim Palestina itu!" lontar Shmuel Elyahu, dia seorang Rabbi asal Safed.

Semua anggota parlemen senyap. Tak ada yang bersuara barang sepatah pun.

"Ayat-ayat Talmud, harus bisa tertanam dalam otak mereka. Kalau orangtua sibuk berperang melawan Ghayim Palestina hingga tak sempat mengajarkan ayat-ayat Talmud. Maka kita yang akan mengajarkannya," letupnya. Berapi-api.

Terdengar dengungan suara-suara dari para anggota parlemen. Nada setuju dan anggukan kepala. Mereka memang mulai khawatir dengan pola pikir anak-anak Yahudi zaman sekarang. Kecaman dunia internasional makin genjar dan menyudutkan bangsa Israel. Tentu hal ini bisa menjadi boomerang bagi mereka. Membuat anak-anak Yahudi berpikir, kalau yang dibicarakan dunia internasional adalah benar. Hal itu harus dicegah!

"Caranya?" lempar seorang Rabbi. Matanya tajam menatap Rabbi Shmuel Elyahu. Kembali ruangan parlemen itu senyap. Semua mata anggota tertuju kearah Rabbi Shmuel Elyahu. Menunggu mulut lelaki paruh baya itu terbuka. Mereka yakin, lelaki yang melontarkan ide itu tahu cara untuk menanggulangi masalah urgent mereka.

"Ayat-ayat Talmud harus dimasukan dalam kurikulum sekolah!" gelegarnya, membelah langit-langit ruang itu.

Lagi-lagi, suara dalam ruang pertemuan itu riuh. Bermacam pendapat langsung terlontar. Pro dan kontra seketika tercipta. Ada yang bilang, jika ini tercium oleh dunia internasional akan membahayakan posisi Israel.

Sedang yang pro, mengatakan; ini jalan terbaik yang memang harus dilakukan. Ini ide brilian yang sangat cemerlang. Memasukan ayat-ayat Talmud dalam kurikulum sekolah adalah ide yang sangat tepat untuk mendoktorin anak-anak.

"Negara Israel berdiri melalui proses panjang. Melalui proses pengajaran paham, indoktorinasi, yang dimulai sejak usia kita kanak-kanak, semua anak Yahudi di muka bumi dididik untuk kembali ke Tanah Kan an. Apa yang membuat kita berhasil mewujudkan cita-cita ini? Selain memang ini telah menjadi janji Tuhan."

Tak ada yang bersuara. Lengang membungkus seketika. Tiap mata yang ada di ruang itu tertuju pada satu titik. Fokus dan tak bergeming, memandang wajah Rabbi Shmuel Elyahu.

"Penanaman cita-cita itu pada kita sejak kita masih kecil," desisnya. Persis seperti king cobra yang tengah memamerkan bisanya.

Beberapa kepala mengangguk-angguk. Kesepakatan dicapai. Ide brilian ini harus dijalankan. Tetapi, sebisa mungkin harus rapat dan sangat rahasia. Jangan sampai dunia internasional mengetahui doktorin terselubung ini.

Tugas pun dibagi dengan cepat. Terorganisir dan begitu rapat. Salah satu yang mendapat kehormatan untuk memantau ide ini di lapangan adalah Ary Syerabi. Kepala Perwira Satuan Pelindung Warga Israel. Seperti diduga oleh para anggota parlemen. Lelaki bermata kelabu itu menerima tugas suci itu dengan bangga dan penuh jiwa raga. Terlihat sekali senyum kehormatan yang tersemat di bibirnya saat menerima penugasannya dengan resmi dari para anggota parlemen.

Mata kelabu lelaki itu menarik laci mejanya. Secarik kertas berada di dalam laci itu. Kertas itu adalah kertas tugas sekolah anak lelakinya. Seminggu yang lalu dia menemukan kertas itu di dalam tas anaknya. Sengaja dia membuka-buka tas sekolah anaknya itu, dia ingin mengetahui. Apakah sekolah anaknya telah menjalankan misi suci yang tengah mereka perjuangkan Hasilnya; dia tersenyum puas.

"Orang Yahudi diperbolehkan berdusta menipu Ghayim4. Semua anak keturunan Ghayim sama dengan binatang5. Seorang Ghayim yang baik sekalipun pada Yahudi harus dibunuh6. Barangsiapa yang memukul dan menyakiti orang Israel, maka ia berarti telah menghinakan Tuhan7. Orang Yahudi adalah orang-orang yang shalih dan baik di manapun mereka berada. Sekali pun mereka melanggar dosa, namun dosa itu tidak akan mengotori ketinggian kedudukan mereka8. Hanya orang Yahudi satu-satunya manusia yang harus dihormati oleh siapa pun dan oleh apa pun di muka bumi ini. Segalanya harus tunduk dan menjadi pelayan setia, terutama binatang-binatang berwujud manusia, yakni Ghayim9. Haram hukumnya berbuat baik kepada Ghayim10."

Lelaki bermata kelabu itu sangat puas ketika membaca jawaban atas tugas yang diberikan sekolah kepada anak lelakinya. Misi mereka benar-benar membawa hasil yang demikian memukau. Pun dengan surat yang ditulis oleh anak-anak Isarel. Rasanya, dia tak sabar untuk memberi laporan ini kepada para anggota parlemen. Lelaki itu menyeringai. Membayangkan; alangkah mulia dirinya di mata Tuhan sekarang.******

Cempaka 59, 04-07-09. Ba da dzuhur. Jangan lupakan rakyat Palestina!

ket: 1). salah satu kitab doktrin Yahudi. 2) Palestina. 3) Binatang; sebutan untuk non-Yahudi. 4) Kitab Talmud surat Baba Kamma 113a. 5) surat Yebamoth 98a. 6) surat soferim 15; kaidah 10. 7) surat Chullin 19b. 8) surat Sanhendrin 58b. 9) surat Chagigah 15b. 10) surat Zhohar 25b.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...