Bagaimana Pandangan Islam Soal Hormat Bendera?

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sobat Nida, di momen upacara peringatan hari kemerdekaan RI nanti atau di hari senin ceria saat anak sekolah kudu mengikuti upacara bendera, kegiatan yang tidak terhindarkan adalah hormat bendera. Siapa hayo Sobat Nida yang sering ogah-ogahan pas upacara atau hormat bendera? Bagaimana sih pandangan ulama mengenai hal ini? Berikut ini ulasan Nida.

Pada tahun 2011, Ketua MUI bidang kebudayaan, KH Cholil Ridwan berpendapat bahwa menghormati bendera adalah haram. Alasannya adalah sejumlah ulama Arab Saudi yang bernaung dalam Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Riset Fatwa (Lajnah ad Daimah li al Buhuts al 'Ilmiyyah wa al Ifta) dalam fatwa ‘Hukum Menyanyikan Lagu Kebangsaan dan Hormat Bendera’ tertanggal 26 Desember 2003, menjelaskan,
 
Pertama, Lajnah Daimah menilai bahwa memberi hormat kepada bendera termasuk perbuatan bid’ah yang harus diingkari. Aktivitas tersebut juga tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Saw. ataupun pada masa Khulafa’ ar-Rasyidun.
 
Kedua, menghormati bendera negara juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan di dalam mengagungkan hanya kepada Allah semata.
 
Ketiga, menghormati bendera merupakan sarana menuju kesyirikan.

Keempat, penghormatan terhadap bendera juga merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang-orang kafir, mentaklid (mengikuti) tradisi mereka yang jelek serta menyamai mereka dalam sikap berlebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi. Padahal, Rasulullah Saw. melarang kita berlaku sama seperti mereka atau menyerupai mereka.

Lajnah Daimah memberikan fatwa haram karena hormat bendera yang dimaksud adalah dalam rangka memuliakan dan mengagungkan bendera. Berdiri dalam rangka pengagungan adalah perbuatan yang haram.

 

Baca juga: Fakta Tentang Bendera Merah Putih yang Menarik untuk Diketahui

 

Berbeda lagi pendapat ulama ahli sunnah asal Kairo, Mesir, Syaikh Usamah al Qushi. Beliau menjelaskan, "Tidak masalah. Hormat bendera itu tidak berkaitan dengan agama dan sedikit pun tidak bertentangan dengan Islam. Hormat bendera bukanlah perkara ibadah. Anda tidaklah berdiri dalam hormat bendera karena beribadah kepada bendera. Bendera hanyalah simbol yang wajib dihormati oleh warga negara. Hormat bendera adalah bagian dari perkara dunia. Hormat bendera itu bukanlah hormat kepada selembar kain. Kain di sini hanyalah mewakili sesuatu. Artinya selembar kain bendera itu tidaklah dihormati karena kainnya.

Bendera itu sudah ada di masa Rasulullah dan juga dihormati.

Memang, bendera tidaklah dihormati dengan cara penghormatan yang kita lakukan saat ini karena perkara dunia itu berbeda antara satu zaman dengan zaman berikutnya, antara satu tempat dengan tempat yang lain. Jadi cara menghormati sesuatu itu wajar saja jika berbeda.

Di masa silam bendera hanya dikibarkan saat perang saja. Ketika itu bendera dikibarkan sebagai simbol kemuliaan, kemuliaan dan ketidaktundukan terhadap musuh. Artinya selama bendera berkibar tinggi berarti pasukan masih eksis dan gagah. Jatuhnya bendera berarti hancurnya spirit pasukan. Sehingga jika kita mampu menjatuhkan bendera musuh, menjatuhkan atau membunuh orang yang memegang bendera musuh maka spirit kekalahan akan menyebar di tengah-tengah pasukan musuh. Hal yang sama juga akan dialami oleh pasukan kaum muslimin. Oleh karena itu pihak musuh berupaya agar bendera tetap berkibar tinggi selama peperangan berlangsung. Musuh sangat antusias untuk membunuh orang yang membawa bendera sebagaimana berantusias untuk membunuh panglima perang. Dengan kata lain, bendera adalah salah satu target dan sasaran musuh.

Jadi hormat bendera, mengerek, dan mengibarkannya adalah perkara yang memiliki landasan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kesimpulannya, hormat bendera bukanlah hal yang haram."

Syaikh Usamah al Qushi melanjutkan, “Semua kita pernah mengharamkan hormat bendera pada salah satu fase kehidupan beragama kita mengingat kedangkalan pemahaman dan terbatasnya ilmu kita.

Kami katakan bahwa berdiri dengan penuh penghinaan diri hanya boleh untuk Allah semata, tanpa selainnya. Ini adalah keyakinan yang benar. Berdiri dengan penuh penghinaan diri, dalam rangka beribadah dan menghambakan diri hanya boleh untuk Allah, rabb semesta alam.

Kita tidak diperbolehkan untuk berdiri dengan penuh penghinaan diri dan dalam rangka menghambakan diri bahkan untuk Rasulullah, apalagi sekedar guru ataupun orang tua. Ingat yang tidak boleh adalah berdiri dalam rangka menghambakan diri.

Sedangkan berdiri menghormat itu lain. Berdiri menghormat itu termasuk urusan dunia dan sama sekali tidak terkait dengan agama, tidak dinilai sebagai ibadah dan agama. Sehingga perkara semacam ini termasuk perkara non ibadah (yang pada dasarnya diperbolehkan, pent), bukan termasuk perkara ibadah mahdhah. Berdasarkan hal itu maka berdiri hormat bendera insya Allah tidaklah mengapa."

Masing-masing ulama memiliki pendapat dengan dasar yang kuat, Sob. Jangan sampai masalah hormat bendera menyebabkan perpecahan di dalam umat Islam.

Allahu a'lam.

Referensi: dari berbagai sumber

Foto ilustrasi: google

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...