BEYOND THE WALL

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sidiq Maulana

"Hei, kembalikan tas itu! Kami di sini hanya ingin menggambar," ujar Naura. Seorang tentara Israel menyita tas kuning dekilnya yang penuh berisi peralatan graffiti.

       Tentara itu menatap Naura curiga, "Kamu ingin menggambar apa? Provokasi?"

       "Menggambar suara hati."

       "Aku harus memastikan bahwa kamu tidak berbuat macam-macam di sini."

       "Tidak mungkin. Kamu pikir apa yang akan kulakukan bersama anak-anak ini?" Naura menunjuk pasukan ciliknya, sekelompok murid SD yang sejak tadi begitu ribut bercanda di belakangnya. Hari ini Naura mengajak mereka ke Beit Hanina, sebelah utara Yerusalem, untuk menggambar di salah satu ruas Tembok Pemisah yang melintasi wilayah tersebut. Tembok beton abu-abu setinggi 6 - 8 meter itu membentang sepanjang ratusan kilometer mengelilingi wilayah Tepi Barat, dibangun Israel untuk menghentikan serangan militan Palestina pasca pecahnya Intifadhah kedua. Namun tembok itu telah menjadi penjara bagi warga Palestina di Tepi Barat, menghambat mereka untuk mendapatkan berbagai akses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan.

       Sejak pembangunannya pada tahun 2002 lalu, Tembok Pemisah telah menarik minat para bomber untuk menuangkan karyanya di sana. Bukan hanya bomber dari Israel dan Palestina, tapi juga dari berbagai belahan dunia. Para aktivis kemanusiaan dan penolak pembangunan tembok juga turut menuliskan protes mereka di tembok itu, persis seperti Tembok Berlin di masa lalu. Hari ini pun Naura dan murid-muridnya hendak menggambar graffiti di tembok tersebut sebagai bagian dari aksi protes mereka.

       "Bu Guru, kapan kita mulai menggambar?!" si kecil Fadhil merengek sambil menarik-narik jilbab putih Naura. Anak-anak lain pun mulai tak sabar.

       "Kumohon kembalikan, kami tidak melanggar peraturan," Naura berusaha merebut tasnya kembali. Tapi tentara itu malah mengoper tasnya ke tangannya yang lain, seolah mempermainkan Naura.

       "Kembalikan!!" Kali ini Naura benar-benar kesal.

       "Anak-anak, ayo rebut tas itu!"

       Tanpa menunggu lagi, anak-anak segera berebut menarik tas kuning itu dari tangan tentara.  Perlawanan dari si tentara pun tak kalah hebohnya, dia menghindar sambil mengangkat tas itu tinggi-tinggi di luar jangkauan tangan anak-anak.

 

       Dari menara pengawas, Levi melihat kegaduhan di bawah. Apa itu? Seorang wanita Arab dan anak-anak kecil mengeroyok temannya? Levi segera bergegas turun dan mendekati mereka.

       "Atzor! Apa yang kalian lakukan di sini?"

       Gawat, pikir Naura. Dia tak mau sampai bermasalah dengan tentara, apalagi dia membawa murid-muridnya.

       "Sir, kami di sini hanya ingin menggambar. Tapi teman anda merebut tas kami tanpa alasan," Naura buru-buru menerangkan persoalannya. "Semua orang juga biasa menggambar di sini. Kami juga tidak akan lama. Hari ini juga cukup panas. Makanya bla bla....."

       Levi tidak begitu memperhatikan kata-kata Naura. Perhatiannya justru teruju pada wajah Naura. Entah mengapa dia seperti teringat akan suatu hal.

       Merasa bicara sendiri, Naura segera berhenti dari penjelasannya, "Mmm, ada yang salah?"

       Levi masih diam menatap Naura untuk beberapa lama. Hal itu membuat Naura gelisah, jangan-jangan...

       "Nana?" Levi akhirnya bersuara.

       "Iya?" sahut Naura. Sesaat kemudian dia baru sadar bahwa tentara itu tahu namanya. Oh bukan, itu bukan namanya. Tapi nama kecilnya.

       "Hah, dari mana kamu tahu namaku?"

       "Tentu saja aku tahu, Naura Zahalka," Levi tersenyum membuka kacamata hitamnya, memperlihatkan sepasang mata biru terang.

       "Levi?" Naura merasa mulai mengenali wajah di depannya, "Levi Hirsch?"

       Levi tersenyum makin lebar, nyaris tertawa.

       "Masya Allah, ini benar-benar kamu, Levi!" Naura bersorak girang. Dia benar-benar tak menyangka akan bertemu dalam situasi seperti ini.

***

Jaffa, 1994

       "Dasar orang Arab!"

       "Kamu senang melempar batu ya?"

       "Pergi, tempatmu bukan di sini!"

       Naura kecil menangis kencang. Beberapa anak di taman mengelilinginya sambil terus mengejek. Bahkan mereka mulai mendorong-dorong Naura.

       Tapi Naura tidak akan menangis lama, karena Levi akan segera datang menolongnya, "Pergi kalian! Beraninya sama anak perempuan!"

       Levi memang tidak selalu menang jika berkelahi, sering juga dia kalah. Tapi bagi Levi, yang penting anak-anak lain berhenti menganggu Naura. Kemudian Levi akan menggandeng Naura dan mengantarkannya sampai ke rumah, "Sudah ya, jangan menangis lagi."

       Levi adalah tetangga Naura semasa kecil. Umurnya lebih tua setahun, dan Naura sudah menganggapnya seperti kakak sendiri. Sejak ayahnya mendapat pekerjaan baru di Tel Aviv, Naura sekeluarga terpaksa pindah dari kampungnya di Galilea menuju kawasan metropolitan ini.  Mereka beruntung mendapatkan sebuah rumah murah di pinggir Jaffa meski semua tetangganya adalah orang Yahudi. Beruntung, karena biasanya warga Arab akan ditolak izinnya untuk tinggal di tengah permukiman Yahudi.

       Tidak mudah bagi Naura untuk mendapatkan teman di lingkungan barunya. Wajah dan logat Arabnya benar-benar menyulitkannya untuk bergaul dengan anak-anak Yahudi di perumahan ini. Levi adalah anak pertama yang mau menyapanya.

       "Syalom, namaku Levi."

"Wa alaikas Salaam," Naura menutup teleponnya.

       "Barusan temanku," ujar Naura pada Levi sambil menunjukkan ponselnya. Keduanya duduk di rerumputan, memandang anak-anak yang sudah mulai menggambar garis-garis pertamanya di sisi tembok. Naura menyediakan mereka beberapa boks kapur warna untuk menggambar. Selain lebih murah, Naura juga ragu dengan kemampuan anak-anak menggunakan pilox.

       "Jadi, sekarang kamu mengajar anak-anak SD?" Levi memulai obrolan.

       "Hanya membantu, ini semester kedua aku mengajar."

       "Ooo.."

       Sesaat sepi. Angin semilir, membawa sedikit pasir dan wangi rumput liar.

       "Mm, kamu lucu juga sekarang dengan jilbabmu itu," Levi tersenyum

       "Kamu juga lucu dengan helm hijaumu itu, hahaha," Naura tertawa menimpali.

       "Apa kabar kedua orangtuamu, Vi? Aku kangen sama mereka."

       "Aba dan Emi masih tinggal di Jaffa, kapan-kapan main lah ke sana lagi."

       Naura mengangguk, memainkan batang rumput yang dipetiknya.

       "Lalu, mereka ingin menggambar apa?" Levi menunjuk anak-anak itu.

       "Apa saja yang mereka mau, aku tidak membatasi. Yang penting tembok jelek itu jadi sedikit kelihatan lebih baik."

       "Tembok jelek?"

       "Kamu pikir tembok itu bagus?"

       "Entahlah, tapi setidaknya itu tembok yang kuat."

       "Aku benci tembok itu," Naura membuang batang rumput yang tadi dimainkannya, menggantinya dengan beberapa kerikil.

       "Seminggu yang lalu aku menjemput beberapa anak dari Ramallah untuk ikut lomba menggambar di Yerusalem. Kamu tahu, berapa lama perjalananku?" Naura berujar pelan, "Tiga jam, Levi. Dengan interogasi panjang di pos pemeriksaan, hanya untuk membawa anak-anak kecil."

       Levi menghela napas panjang. "Aku paham, Na. Tapi Israel membutuhkan tembok itu untuk melindungi rakyatnya."

       "Rakyatnya? Aku juga rakyat Israel, Levi!" ujar Naura setengah membentak, "Aku membayar pajak dan memilih di pemilu kemarin. Apa pendapat Knesset tentang rakyat sepertiku?!"

        "Tidak ada pilihan lain," Levi mencoba menjelaskan, "Kamu tahu kan berapa banyak serangan bom bunuh diri dari Tepi Barat? Tembok ini sekadar mencegah agar teroris tidak bisa memasuki Israel."

       "Lalu siapa yang bisa mencegah kalian untuk memasuki tanah kami?" suara Naura berubah parau.

       "Warga Yahudi masih terus membangun permukiman di Tepi Barat, tak seorang pun bisa mencegahnya. Tentara-tentara sepertimu bebas keluar masuk perkampungan, pamer senjata di depan wanita dan anak-anak... tak ada yang mampu mencegahnya."

       "Itu..." Levi tidak melanjutkan kata-katanya.

       "Keluarga Zahalka telah mendiami tanah ini dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun yang lalu. Kapan keluarga Hirsch, Stern, atau Rabin sampai di sini?" tanya Naura sinis. "Terdengar seperti nama Eropa ya, sepertinya kalian tersasar kemari."

       Sesaat sepi lagi. Hanya terdengar canda anak-anak dan suara lalu lintas di kejauhan.

       "Levi, kamu ingat pernah cerita tentang Tembok Ratapanmu? Aku juga punya, ini Tembok Ratapanku!" Naura menyambit tembok itu dengan kerikil di tangannya. "Dulu kamu bilang tembokmu lebar. Tapi lihat lah, tembokku lebih lebar. Bahkan terlalu lebar hingga aku tak bisa melihat ujungnya. Kamu kalah Levi, hahahaha," Naura tertawa pedih.

       Levi diam. Dia benar-benar tak tahu harus berkata apa lagi. Ah, kenapa jadi begini? Padahal mereka sudah lama tak bertemu. Mungkin ini waktu dan tempat yang tidak tepat.

***

Jaffa, 1999

       Levi panik, topi baseball-nya tidak berhasil menyembunyikan wajahnya. Naura baru saja memergokinya sedang merokok bersama beberapa temannya di pinggir jalan.

       "Levi!!" Naura melotot, "Aku akan laporkan pada orangtuamu!"

       "Jangan begitu, Nana..."

       "Kemarin kamu baru melakukan Bar Mitzvah kan? Mana buktinya, malah makin nakal!"

       "Merokok kan tidak dilarang oleh Taurat," kilah Levi.

       "Tapi dilarang oleh orangtuamu!" Naura mencubit Levi, yang segera meringis kesakitan.

       Naura berbalik, dia benar-benar bermaksud melaporkan Levi pada orangtuanya. Levi terpaksa mengejarnya.

       "Nana, ma ata omer.. Ini baru pertama kalinya aku merokok."

       "Maka akan kupastikan supaya tidak ada yang kedua kalinya."

       "Aku janji tidak akan merokok lagi."

       Naura menghentikan langkahnya, "Bagaimana aku tahu kamu tidak bohong?"

       "Apa aku pernah bohong padamu?"

       "Itu bukan jawaban," Naura melanjutkan lagi langkahnya.

       "Intadzhir, Na! Baiklah," Levi mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong celananya, "Lihat, baru terpakai tiga. Satu untukku, dua untuk mereka tadi. Sisanya kubuang nih."

       Naura tersenyum menang. Bungkus rokok itu pun melayang ke pinggir trotoar.

       "Hei, jangan buang sembarangan dong!" Naura kesal lagi melihat perilaku Levi.

       "Iya, maaf," Levi segera memungutnya dan memindahkan ke tong sampah, "Sayang kan, barangkali ada gembel yang mau pakai," jawabnya asal.

       Keduanya pun berjalan pulang menyusuri jalan pertokoan yang cukup ramai sore itu. Levi asyik memainkan pemantik apinya, sementara Naura hanya menggumam sebuah lagu pop Arab. Sesekali Levi usil menarik-narik rambut Naura yang hitam sebahu, kemudian Naura akan marah dan mengejarnya. Mereka berdua kini beranjak remaja, mulai mencari dunianya masing-masing. Tak banyak yang berubah di lingkungan tempat tinggal mereka. Selain beberapa toko dan sinagog baru, semua masih tampak sama. Kecuali lalu lintas yang menjadi agak padat dengan dibukanya permukiman Yahudi baru beberapa kilometer dari sini. Ini sudah yang ketiga kalinya dalam dua tahun terakhir. Kadang Naura berpikir, kapan akan dibangun permukiman Arab di sekitar sini? Ah mimpi. Asalkan yang lama tidak digusur, itu sudah bagus.

       Naura dan Levi sedang menyeberang di perempatan jalan ketika mereka berpapasan dengan tiga orang laki-laki berseragam tentara. Ransel mereka besar-besar dan tampak berat, sementara di bahunya ada baret yang dilipat.

       "Vi, Bar Mitzvah itu maksudnya apa?" tanya Naura.

       "Maksudnya, aku sudah dewasa."

       "Aku dengar, kalau sudah dewasa harus ikut wajib militer. Apa kamu juga akan seperti mereka, masuk Tzahal?" Naura menunjuk tiga tentara tadi.

       "Masih lama, nanti kalau aku sudah 18 tahun."

       "Tapi kamu akan masuk?"

       "Tentu saja, itu kan wajib."

       Naura memandang Levi dengan gamang. Benar juga kata Abi. Cepat atau lambat, semua anak Yahudi pasti nantinya masuk militer. Levi pun suatu saat pasti akan memakai seragam seperti itu juga.

       "Kenapa, Na? Kok wajahmu jadi sedih?" tanya Levi bingung.

***

       "Sudah lah, lupakan saja yang tadi," Naura membuang sisa kerikil di tangannya dan berdiri.

       Ia kemudian berjalan menghampiri murid-muridnya. Gambar-gambar yang dibuat anak-anak itu kini sudah semakin berbentuk. Ada yang menggambar orang, rumah, mobil, pemandangan bukit, dan sebagainya. Agak berantakan, tapi lumayan juga. Sayang gambar ini tidak permanen. Tapi tak apa lah, di musim sekering ini gambar-gambar kapur bisa bertahan hingga sebulan lebih.

       "Bu Guru, lihat gambarku!" Fatimah berteriak memanggil Naura.

       "Wah cantik sekali, gambar apa itu?" tanya Naura.

       "Ini pohon zaitun. Besok kalau tembok ini sudah runtuh, aku akan menanam zaitun sungguhan di sini."

       Mendengar jawaban Fatimah, Naura hanya tersenyum dan berbisik, "Amiin.."

       Diliriknya Levi yang masih termenung. Naura jadi merasa bersalah, tak seharusnya dia meluapkan kekecewaannya pada Levi. Kamu berpakaian tentara sih, gumam Naura. Akhir-akhir ini dia sedang sentimen dengan makhluk yang bernama tentara.

       "Ayo Levi, kita juga ikut menggambar," Naura melemparkan sepotong masker kain pada Levi.

       "Ah, aku tidak pandai menggambar," sahut Levi enggan, "lagipula aku masih harus bertugas."

       "Walla.. Kamu tak bilang gambarmu lebih buruk dari gambar anak-anak itu kan?" Naura menggoda Levi, yang seketika tertawa dan bangkit dari duduknya.

       "Okay, kita lihat gambar siapa yang paling bagus. Anak-anak itu jadi jurinya, sepakat?"

       "Siapa takut?" Naura segera berlari menghampiri tasnya, "Orang dewasa pakai pilox yaa... Oh iya aku lupa bilang, pilox-nya terbatas. Jadi kalau kehabisan, tidak boleh protes! Hahahaha."

       "Apa?! Dasar curang!" Levi buru-buru memakai maskernya.

       Mereka pun mengambil posisi di samping anak-anak. Naura mengambil sekaleng pilox biru dan mengocoknya. Sesaat kemudian tangannya sudah lincah menyemprotkannya ke tembok. Naura memang cukup mahir menggambar graffiti, hasil belajarnya dari komunitas bomber di Yerusalem. Naura sendiri banyak mengambil inspirasi dari Banksy, seorang bomber misterius asal Inggris yang karyanya menghiasi tembok-tembok kota di seluruh dunia, termasuk Tembok Pemisah di Tepi Barat ini.

       "Na..," ujar Levi.

       "Na am?" Naura masih terus menyemprotkan pilox-nya ke tembok.

       "Kamu benci aku, ya?"

       Naura melirik bingung, "Apa aku terlihat begitu?"

       "Maksudku... kamu benci orang Yahudi sepertiku ya?"

       Naura menghentikan sejenak aktivitas menggambarnya.

       "Aku tidak pernah membencimu. Kita sudah berjanji untuk tidak mempermasalahkan Yahudi atau Arab. Kamu masih ingat kan?"

       Levi mengangguk polos.

       "Kamu baik, bagiku itu sudah cukup. Jadi jangan bertanya seperti itu lagi," Naura kembali melanjutkan gambarnya.

       Merasa dimarahi, Levi hanya bisa menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal. Kan kamu yang tadi mulai menyebut-nyebut Yahudi duluan, gerutu Levi dalam hati.

       "Jadi kamu tidak benci aku?" Levi bertanya lagi.

        Naura tampak kesal, "Tentu saja aku benci, apalagi kalau kamu terus mengulang pertanyaan itu."

       Levi tertawa. Galak sekali kamu, Na.

       "Lalu apa buktinya kamu tidak benci orang Yahudi sepertiku?" Levi nekat bertanya lagi.

       Kali ini Naura tidak menjawab, hanya tangannya yang menunjuk ke arah anak-anak yang mulai ramai bermain lempar-lemparan kapur.

       "Maksudmu? Ada apa dengan anak-anak itu?" tanya Levi tak mengerti.

       "Pikir saja sendiri, kamu kan sudah besar," Naura kembali tenggelam dalam kesibukan menggambarnya. Tinggal levi yang bingung memperhatikan anak-anak. Memangnya kenapa dengan mereka?

***

Jaffa, 2001

       Sore ini tampak lebih sepi dari biasanya. Levi memandang taman di seberang rumahnya, mencoba menggali ingatan masa kecilnya. Dulu di taman itu lah mereka biasa bermain hingga berjam-jam. Levi, Naura, Yitzhak, Rachel, Sam, juga anak-anak lainnya. Bermain apa saja, entah bola, lompat tali, atau petak umpet.

       Saat hari raya Purim, anak-anak akan keluar rumah dengan berbagai kostum lucu dan unik. Kemudian di musim-musim tertentu, mereka akan membeli layang-layang dan menerbangkannya di lapangan. Ramai sekali saat mereka meneriakkan layang-layangnya untuk terbang lebih tinggi lagi di langit. Sering juga mereka bersepeda bersama hingga ke jalanan di luar perumahan. Begitu seru hingga mereka sering tak mau pulang meski matahari sudah terbenam. Kadang ada yang berkelahi dan menangis, tapi besoknya sudah baikan lagi. Ah, jadi anak kecil memang ringan tanpa beban. Kalau boleh memilih, Levi ingin selalu seperti dulu. Tapi tentu saja tak mungkin.

       Levi tak pernah menyangka semuanya akan berubah sampai setahun yang lalu, ketika koran-koran dan televisi ramai memberitakan pecahnya Intifadhah kedua di Yerusalem. Awalnya semua masih biasa-biasa saja, tidak ada yang heboh atau panik berlebihan. Toh di sini hanya lah permukiman kecil yang jauh dari Yerusalem, pasti tidak akan terpengaruh apa-apa. Tapi beberapa bulan kemudian, warga perumahan gempar. Sebuah bus tur siswa SMA diledakkan teroris di Tel Aviv. Empat orang dilaporkan tewas, salah satunya adalah Sam, tetangga dan juga teman sepermainan Levi. Sam anak yang baik, semua terpukul dengan kepergiannya. Warga begitu marah hingga Levi bisa mendengar caci maki mereka hampir setiap hari dalam berbagai obrolan di kedai, di jalanan, juga di sinagog.

       Kejadian ini rupanya berbuntut panjang. Keluarga Sam yang merasa trauma kemudian memutuskan untuk pindah ke Inggris. Lalu entah siapa yang memulai, tiba-tiba warga mulai mengarahkan kemarahannya pada keluarga Zahalka, satu-satunya keluarga Arab di perumahan ini.

       "Harusnya mereka lah yang pindah."

       Dengan cepat, isu-isu miring pun bermunculan mengenai keluarga Zahalka.

       "Kudengar kerabat mereka ada yang dipenjara."

       "Mereka rutin mengirim uang ke Gaza untuk membiayai terorisme."

       "Sekali Arab tetap saja Arab. Mereka pasti senang melihat kita menderita."

       Satu per satu teman-teman Naura pun mulai menjauh. Sebagian takut, sebagian lain akan dimarahi orangtuanya jika tetap berteman dengan Naura. Hingga hanya tersisa Levi, persis seperti saat pertama kali dia pindah ke sini.

       "Na, aku percaya keluargamu orang baik," hibur Levi.

       Naura tersenyum menguatkan diri.

       Namun situasi tak pernah mereda. Kini berita apa pun yang berkaitan dengan serangan militan Palestina akan memicu kembali kemarahan warga. Meski pun hal itu terjadi di kota-kota yang jauh seperti Ashqelon dan Bethlehem. Puncaknya, keluarga Zahalka diminta untuk pindah secara baik-baik. Mereka dianggap sudah tidak kompatibel lagi dengan lingkungan sosial di perumahan ini. Maka malam itu juga, keluarga Hirsch terpaksa diam-diam membantu keluarga Zahalka mengemasi barang-barangnya. Mereka sudah memutuskan untuk memenuhi tuntutan warga, dan akan pindah besok pagi-pagi sekali ke Yerusalem.

       "Kamu akan pindah ke mana? Apa bisa dapat tempat secepat itu?" tanya Levi.

       "Kami akan menumpang dahulu di rumah teman Abi di Silwan. Setelah itu baru akan dipikirkan lagi."

       Pagi hari seusai sholat Subuh, saat hari masih gelap, keluarga Zahalka telah siap untuk berangkat. Barang-barang sudah dinaikkan ke atas truk, dan mereka masih menyempatkan diri untuk membersihkan pekarangan rumahnya. Keluarga Hirsch masih menemani sampai saat-saat terakhir.

       "Maaf, kami tak bisa berbuat lebih dari ini," Emi Levi tersengguk-sengguk memeluk Ummu Naura.

       Beberapa tetangga terdekat yang melihat truk penuh barang-barang itu pun akhirnya keluar  untuk turut melepas keluarga Zahalka. Sementara Naura dan Levi hanya duduk di tangga teras, mengobrol untuk terakhir kalinya.

       "Na... seandainya Sam masih hidup ya," Levi menerawang, memandang langit pagi berwarna biru kemerahan.

       Naura tersenyum tipis sambil memeluk bonekanya. Mengingat Sam yang gemuk dan selalu mempunyai cerita paling lucu. Sam yang sudah pergi...

       "Dulu kupikir, semua akan baik-baik saja sampai kita semua lulus SMA. Lalu kita akan mendaftar kuliah, lalu..." Levi menunduk.

       "Mungkin memang harus seperti ini, Vi," ujar Naura pelan, "Ummi bilang, di Yerusalem nanti akan ada lebih banyak tetangga Arab. Aku juga bisa pergi ke Madrasah untuk belajar Al-Quran lebih dalam. Makanya kamu juga rajin-rajin lah ke Yeshiva."

       Levi mengiyakan.

       Dari garasi, mesin mobil terdengar sudah dinyalakan. Matahari juga hampir terbit. Sepertinya ini sudah waktunya mereka berpisah.

       "Nanti kamu jangan lupakan aku, Na. Telepon aku atau kirim lah email, pasti kujawab."

       Naura sudah tidak mampu bersuara, dadanya sesak menahan tangis sementara matanya sudah berkaca-kaca. Mereka berpandangan cukup lama sebelum akhirnya saling berpelukan. Perlahan tangisnya pun pecah. Biasanya Naura akan dimarahi meski hanya bergandengan tangan dengan teman lelakinya, tapi kali ini orangtuanya seperti memaklumi.

       Dari jendela mobil, Naura melambaikan tangannya, "Selamat tinggal, Levi.."

***

"Tunggu Na, aku belum selesai," Levi masih menolak berhenti menggambar.

       "Sudah lah," ujar Naura sambil merapikan kaleng-kaleng pilox-nya, "Gambarmu itu sudah tidak ada harapan."

       "Kamu kan curang, ternyata sudah menyiapkan cetakan gambarnya duluan," gerutu Levi.

       Naura tergelak, "Memang begitu lah stencil graffiti. Bukan curang, Levi. Hanya saja para bomber kadang tak punya cukup waktu karena sering diganggu polisi atau tentara usil seperti temanmu tadi."

       Di samping Naura, anak-anak tampak seru sekali menertawakan gambar Levi.

       "Kak, itu gambar tempat sampah ya?" tanya Yoshua.

       "Bukan, itu gambar es krim yang jatuh ke tempat sampah," sahut Najla, yang segera disambut tawa anak-anak lainnya.

       Entah bagian mana yang dianggap lucu oleh anak-anak, tapi itu membuat Levi makin merasa terhina. Sial, harusnya dia tolak saja tadi tawaran menggambar ini.

       Sesaat Levi tertegun memperhatikan anak-anak yang masih asyik tertawa di hadapannya itu. Benar juga, memang ada yang janggal dari mereka. Tapi apa ya? Levi makin penasaran mencari-cari di mana anehnya. Tunggu, mereka bukan sekadar anak-anak Arab yang sedang bercanda dalam bahasa campuran Arab-Ibrani. Beberapa dari mereka memang anak Yahudi.

       "Hei, apa mereka..."

       "Ya," Naura mengangguk, seolah memahami keheranan Levi yang tercermin di wajahnya.

       "Mereka semua anak-anak Yerusalem."

       "Mereka satu sekolah?"

       "Satu kelas."

       "Bagimana bisa?" tanya Levi masih tak percaya. Pendidikan di Israel umumnya memisahkan anak-anak Yahudi dan Arab. Kelas-kelas multietnis sama sekali tidak lazim di sini.

       "Tentu saja bisa," Naura mengambil kaleng pilox terakhir dari tangan Levi, memasukkannya ke dalam tas.

       "Levi, apa yang membuatmu yakin bahwa tidak ada bom di balik gamisku saat ini?"

       Levi menahan tawa, "Karena kamu tak mungkin berani, Na. Aku tahu kamu."

       "Masa? Bagaimana kalau aku benar-benar membawanya?"

       "Kalaupun iya, kamu tak mungkin tega meledakkannya di depan orang yang kamu sayangi ini kan?" Jawab Levi penuh percaya diri.

       Naura melirik malas, namun tak urung dia pun tertawa geli.

       "Begitu lah, Levi. Seperti kita, aku juga ingin anak-anak ini belajar saling percaya. Biar lah bandel dan ribut. Biar lah sesekali berkelahi. Tapi kuharap mereka tumbuh tanpa kebencian, memandang sesamanya dengan sayang, dan belajar menghargai perbedaan sebagai keindahan. Bukankah anak-anak seperti kertas putih, Vi? Sebelum terkotori, sebisanya aku ingin menuliskan pesan-pesan damai di hati mereka."

       Senyum Levi mengembang. Kupikir panasnya Yerusalem menempamu menjadi keras, Na... ternyata kau makin bijak dan dewasa.

       "Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu," Naura menyentuh tembok tinggi itu, menatap ke atas tembok.

       "Orang-orang yang hidup di balik tembok ini, mereka adalah saudara-saudaraku, Levi. Kalau kamu bisa menganggapku saudarimu, kamu pasti juga bisa menganggap mereka sebagai saudara-saudaramu. Maka kamu yang berpakaian tentara ini, tolong lah perlakukan mereka dengan baik. Kamu mau janji, Vi?"

       Levi menatap Naura dalam-dalam, "Aku janji."

       Kali ini senyum Naura yang mengembang. Kupikir Tzahal telah mematikan hatimu, Vi... ternyata kau tetap lembut seperti dulu.

       Matahari mulai condong ke barat ketika helikopter patroli Israel berputar-putar di langit Beit Hanina. Naura dan Levi masih bertatapan.

       "Bu guru, kapan kita pulang?" si kecil Fadhil merengek lagi, menyadarkan Naura.

       "Baiklah aku pulang dulu Vi, sudah hampir waktu Ashar. Kalau ada waktu kita chatting ya. Syalom," Naura bergegas menggandeng murid-muridnya berjalan.

       "Nana!" Teriak Levi. "Kamu tidak ingin memelukku dulu sebelum pulang?"

       Naura tertawa, menggelengkan kepalanya. Diambilnya salah satu kaleng pilox dari tasnya, lantas dilemparkan pada Levi,"Tangkap ini! Peluk yang erat ya, anggap saja itu aku!"

       Levi hanya terkikik menerima kaleng pilox itu. Ditatapnya sosok berjilbab putih itu menjauh. Beberapa anak masih melambaikan tangan padanya, Levi pun membalasnya. Banyak yang berubah ya Na... aku, kamu, juga negeri ini. Tapi kuharap mimpi kita tetap sama.

        Levi menengok lagi graffiti buatan Naura. Tidak ada gambar, hanya sebait kalimat. Sebait ayat yang tak asing di mata Levi. Berlatar warna biru langit, tersusun rapi di sisi tembok dengan huruf-huruf Ibrani berwarna putih:

       Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa,

       dan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa

       maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak,

       dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas

       bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa,

       dan mereka tidak akan lagi belajar perang. )*

       Perlahan Levi mendekati tembok dan menuliskan sesuatu di bawah graffiti Naura. Satu kata dengan huruf-huruf Hijaiyah: Amiin.

 

Glossary

Graffiti : Lukisan tembok

Bomber : Seniman graffiti

Stencil graffiti : Graffiti yang dibuat dengan teknik cetakan seperti sablon

Atzor (Ibrani) : Berhenti

Aba (Ibrani) : Ayah

Emi (Ibrani) : Ibu

Bar Mitzvah : Upacara aqil baligh dalam tradisi Yahudi, biasanya dilaksanakan saat anak berusia 13 tahun.

Intadzhir (Arab) : Tunggu!

Knesset : Parlemen Israel

Ma ata omer (Ibrani) : Kamu tidak sungguhan kan?

Na am (Arab) : Iya

Syalom (Ibrani) : Salam; kata sapa

Syukron (Arab) : Terima kasih

Tzahal  : Tzva HaHagana LeYisrael/ Tentara Pertahanan Israel

Walla (Ibrani) : Ayo lah

Yeshiva : sekolah keagamaan Yahudi

)* Kitab Yesaya 2:4

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...