BURONAN

Penulis: Muhammad Saleh

 

            BUMI SENYAP. Angkasa berselubung malam tak berbintang. Bulan tengah enggan berbagi sinar, hanya sesekali mengintip malu dari balik awan. Kesiur angin menerpa dedaunan pohon ulin di tepian hutan Lembang. Longlongan anjing hutan di kejauhan menambah suasana terasa mencekam.

            Namun, pemilik sepasang mata yang bersembunyi di balik semak tak peduli dengan suasana itu. Seolah ia sudah terbiasa, sehingga tak terbersitkan rasa takut di hatinya. Kedua bola matanya tajam mengawasi sebuah gubuk yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Ia menunggu sesuatu.

            Sudah satu jam lebih ia mengendap di balik semak. Dibiarkan saja nyamuk-nyamuk hutan menggigit dan menghisap darah dari tubuhnya. Hanya sesekali saja ia mengusap bagian yang di gigit bila terasa gatal. Itu pun tanpa suara, sangat pelan. Sepertinya apa yang ia tunggu lebih berharga dari dirinya.

            Lelaki bermata elang itu sangat yakin, bahwa malam ini ia akan mendapatkan sesuatu yang selama ini ia cari. Sudah tiga hari belakangan ini ia mengumpulkan informasi, selentingan kabar dari warga desa yang sebenarnya merupakan sebuah rahasia. Bahwa, orang itu sedang bersembunyi di sebuah gubuk di tepian hutan Lembang. Dan malam ini ia ingin membuktikan kabar itu.

            Malam semakin larut. Longlongan anjing terasa begitu dekat di telinganya. Bersahut-sahutan. Nyamuk-nyamuk hutan semakin ganas menggigit tubuhnya. Dingin angin malam pun semakin menusuk pori-pori.

Hampir saja lelaki bermata elang itu putus asa dalam penantian, dan memutuskan untuk pulang, kalau saja matanya tak menangkap dua sosok bayangan mengendap-endap keluar dari pintu gubuk.

            Lelaki itu tersenyum, apa yang ia tunggu telah muncul. Walaupun ia belum begitu jelas melihat siapa dua sosok barusan. Lelaki itu semakin menajamkan manik matanya. Beruntung bulan sudah menampak tubuhnya di petala langit. Di bawah cahaya bulan yang temaram, bola matanya kini dapat mengenali salah satu sosok itu. Panglima Ringgit. Ia tersenyum puas.

            Panglima Ringgit dan satu sosok yang tak dikenalinya mulai berjalan meninggalkan gubuk tua itu. Mereka terlihat sangat waspada. Menajamkan penglihatan dan pendengaran. Takut ada yang mengikuti mereka.

            Lelaki bermata elang bergeming dari balik semak sampai kedua orang yang diawasinya menghilang di balik gelap. Ia tak ingin ketahuan. Ia juga tak bermaksud ingin mengikuti mereka. Baginya, membuktikan bahwa Panglima Ringgit benar-benar tinggal di gubuk itu sudah merupakan sesuatu yang berharga.

            Lelaki di balik semak itu itu kini mulai membayangkan, ia akan mendapatkan pujian dari petinggi-petinggi tentara Belanda, jika informasi ini ia sampaikan pada mereka. Karena ia tahu Panglima Ringgit merupakan borunan tentara belanda yang telah lama di cari. Hidup atau mati mereka harus mendapatkannya.

            Pun, ia juga membayangkan akan mendapatkan hadiah yang sangat banyak dari tentara Belanda. Sebab ia pernah mendengar pengumuman yang di serukan oleh salah seorang prajurit Belanda

            “Barang siapa yang dapat memberikan informasi tentang keberadaan Panglima Ringgit kepada pihak Belanda, Maka kami akan memberikan hadiah berupa seratus keping  emas dan 20.000 gulden uang.”

            Itulah yang membuatnya bersemangat mengumpulkan informasi tentang keberadaan Panglima Ringgit. Dan kini ia telah mendapatkan informasi itu.

***

            Malam merangkak pelan, suasana hening menyelimuti sebuah rumah di tengah perkampungan. Sesekali suara jangkrik dan cericit kelalawar mengusir senyap, menemani angin malam yang bertiup sendiri. Api kecil yang berasal dari lampu teplok yang menempel di tiang rumah, meliuk-liuk. Menari seirama angin. Tiga orang lelaki duduk terpekur, sepertinya sedang berpikir mencari jalan keluar atas masalah mereka.

            “Bagaimana keadaan di luar Damar?” tanya Panglima Ringgit memecah keheningan. Damar menegakkan kepalanya, lalu matanya melirik Ki Balu yang berada di samping Panglima Ringgit. Ki Balu hanya diam, hanya ekor matanya saja yang membalas tatapan Damar–pemilik rumah.

            “Keadaan di luar sepertinya masih sangat berbahaya Panglima. Pasukan Belanda semakin banyak saja yang berpatroli di sekeliling desa. Sehingga sangat sulit bagi kita untuk melakukan perjalanan di siang hari tanpa ketahuan.”

            Panglima Ringgit mengangguk-angguk mendengar penjelasan panjang Damar. Suasana kembali hening. Kepala mereka di penuhi pikiran masing-masing. Bagaimana caranya bisa keluar dari desa ini tanpa ketahuan pasukan Belanda? Agar bisa bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro di Gua Selarong.

            “Bagaimana kalau melakukan perjalan di malam hari?” Ki Balu tiba-tiba memberikan sarannya. Panglima Ringgit dan Damar saling pandang, kemudian kembali menatap ke arah Ki Balu.

            “Apa tidak terlalu sulit dan berbahaya melakukan perjalan di malam hari, sedangkan kita pasti akan melewati hutan, pasti banyak binatang buas berkeliaran?” Panglima Ringgit ragu akan usulan Ki Balu. Ia bukannya takut mati. Namun, sampai dengan selamat ke tempat tujuan merupakan hal utama yang harus di pikirkan.

            “Maaf Panglima,” potong Damar, “Sepertinya usulan Ki Balu ada benarnya. Kemungkinan ketahuan oleh pasukan Belanda sangat kecil. Hanya itu cara satu-satunya untuk keluar dari desa ini. Kalau Panglima terlalu lama berada di desa ini, saya takut cepat atau lambat pasukan Belanda akan mengetahui keberadaan Panglima.” Kekwatiran tampak jelas terlukis di wajah Damar. Pangeran Ringgit kembali mengangguk-angguk.

            Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya diambil kesepakatan mereka akan melakukan perjalanan pada malam ahad, artinya tiga hari lagi. Sebab, pada malam ahad biasanya selalu di adakan pesta di benteng Belanda. Sehingga tak banyak prajurit yang berpatroli di malam hari. Memanfaatkan sebuah kelengahan merupakan sebuah keuntungan.

            Juga diputuskan, Panglima Ringgit akan bermalam di rumah Damar. Sebab, Panglima Ringgit sudah tinggal di rumah Ki Balu selama lima hari. Mereka takut keberadaannya telah di ketahui pihak Belanda. Sebagai seorang borunan, Panglima Ringggit harus berpindah-pindah tempat, untuk mengecohkan pencarian.

***

            “Apa berita yang kamu orang sampaikan bisa dipercaya?” Jenderal de Kock ragu dengan kabar yang di bawa lelaki tinggi kurus bermata tajam yang ada di hadapannya.

            “Tuan jangan meragukan saya,” Lelaki bermata elang sepertinya tak senang dengan keraguan yang di tampakkan Jenderal de Kock, “ Nyawa saya taruhannya, jika berita yang saya bawa adalah bohong.” Lanjutnya mantap.

            Jenderal de Kock tersenyum. Kali ini ia dapat menangkap keseriusan dari lelaki itu. Sebuah ambisi yang begitu berkobar dari bola matanya. Ambisi sebuah keserakahan.

            “Baiklah, sekarang saya percaya sama kamu orang. Besok pagi kita akan melakukan penyergapan di gubuk itu. Kamu orang tunjukkan di mana tempatnya.”

            “Baik, Tuan.”

            Jenderal de Kock memanggil bawahannya dan memerintahkan untuk menyiapkan pasukan.  Semua akan berangkat pukul lima pagi. Sebelum matahari muncul seluruh pasukan harus sudah sampai di tepian hutan Lembang.

***

            Matahari belum menampakkan wujudnya di ufuk timur. Dedaunan masih tampak basah oleh embun. Airnya menyatu, kemudian menetes jatuh ke bumi. Di tepian hutan Lembang, pasukan belanda dengan persenjataan lengkap mengepung sebuah gubuk tua. Gubuk yang di yakini, di dalamnya ada Panglima Ringgit.

            “Panglima Ringgit, keluarlah...! gubuk ini telah kami kepung. Jadi menyerahlah...!” teriak salah seorang prajurit. Jenderal de Kock masih duduk di atas pelana kudanya. Matanya awas menatap ke arah pintu. Sebuah ketegangan mulai ia rasakan.

            Tak ada sahutan. Gubuk itu seperti tak berpenghuni. Lelaki bermata elang yang ada di dekat Jenderal de Kock mulai merasakan dadanya berdebar tak karuan. Harap-harap cemas.

            Sekali lagi sebuah teriakan peringatan di serukan. Tetap tak ada sahutan. Jenderal de Kock menjadi semakin kesal.

            “Dobrak saja pintunya!” perintahnya geram.

            Beberapa prajurit saling pandang. Kemudian dengan sigap dan cekatan melaksanakan perintah sang Jenderal. Setelah pintu terbuka dengan paksa, prajurit itu menemukan tiga orang sedang berpelukan dalam gemetar di sudut ruangan. Mereka ketakutan.

            “Jenderal, kami hanya menemukan mereka. Kami sudah menggeledah seluruh tempat, tak ada tanda-tanda Panglima Ringgit ada di sini.” salah orang prajurit menghadapkan ketiganya ke hadapan. Dengan kesal Jenderal de Kock turun dari kudanya dan langsung mencengkram kerah baju Ki Balu. Anak dan istrinya semakin bergetar dalam tangisan.

            “Katakan ! Di mana Panglima Ringgit bersembunyi?” ucap Jenderal de Kock garang. Rambut pirangnya bergerak-gerak seirama kemarahan sang Jenderal.

            “Sa-saya ti-tidak tahu, Tuan.” Ki Balu tak mampu menyembunyikan getaran lidahnya. Ia gugup dan takut. Seluruh persendiannya terasa lemas. Belum pernah ia berhadapan dengan pemimpin Belanda yang satu ini. Kasar dan kejam.

            “Jangan bohong! Saya melihat kamu dan Panglima Ringgit berjalan bersama tadi malam...” bentak lelaki bermata elang. Ia tak ingin Jenderal de Kock menyangkanya memberikan berita bohong. Nyawanya taruhannya.

            “Sa-saya benar-benar tidak tahu, Tuan. Saya cuma bertiga di gubuk ini. Tak ada lagi orang lain.”

            Jenderal de Kock melepaskan cengkramannya, dan mendorong tubuh Ki Balu hingga terjerembab menimpa anak dan isterinya. Ketiganya kembali berpelukan sambil menangis dalam ketakutan yang sangat.

            Tubuh lelaki bermata elang mulai bergetar melihat tatapan Jenderal de Kock yang merah. Menandakan ia benar-benar marah dan kesal karena merasa dikibuli untuk kesekian kalinya.

            “Sa-saya tidak bohong, Tuan. Saya benar-benar melihat Panglima Ringgit keluar dari gubuk itu.” Kata lelaki bermata elang gemetar, seolah mengerti akan tatapan Jenderal de Kock yang merah.

            “Kamu orang telah berani membohongi saya,” geram Jenderal de Kock, tangannya dengan cepat mencabut pistol yang terselip di pinggangnya. “Kamu orang pantas mati...”

            Sadar nyawanya terancam, lelaki bermata elang langsung berbalik arah dan mencoba untuk berlari. Baru beberapa langkah ia mengayun langkah...

            Doorrr! Doorrr! Doorrr!

            Tiga buah timah panas menempus punggungnya. Asap putih tipis mengepul membelah udara di pagi itu. Ia tersungkur dan terjatuh ke tanah. Darah segar seketika menggenang. Warna merah menghiasi sekujur tubuhnya. Semenit kemudian tubuhnya telah diam tak bergerak. Kaku.

            Tanpa senyum Jenderal de Kock berpaling menatap Ki Balu, isteri dan anaknya. “Bawa mereka ke benteng. Mereka pasti mengetahui sesuatu.” Perintah Jenderal de Kock tegas.

***

            Jenderal de Kock menghirup kopi pahitnya. Menikmati pagi ditemani secangkir kopi merupakan kebiasaannya sejak berada di negeri asalnya. Sensasi kopi terasa begitu cepat menjalari seluruh aliran darahnya. Nikmat.

Sebuah ketukan di depan pintu kamarnya sedikit mengusik keasyikkan. Namun, tetap juga ia persilakan orang itu masuk. Sebab, bila ada yang mengganggunya sepagi ini, pasti ada berita penting yang akan disampaikan.

“Maaf, Jenderal,” suara prajurit itu terdengar gugup, “Orang tua itu belum mau membuka mulutnya tentang keberadaan Panglima Ringgit. Ia tetap bungkam, walau segala cara telah kami lakukan.”

Menerima laporan tak menyenangkan itu Jenderal de Kock langsung berdiri dari kursi malasnya. Ia sepertinya marah. Wajah prajurit itu seketika memucat. Takut terkena murka.

“Bawa orang itu beserta anak dan isterinya ke halaman belakang!” perintahnya geram. Dalam benaknya sudah terpikir satu cara bagaimana membuat Ki Balu membuka mulutnya.

***

            Bibir Ki Balu pecah, berdarah-darah. Mukanya penuh legam, membiru hampir di seluruh wajahnya. Darah terlihat mengering di beberapa bagian bajunya. Di kedua pergelangan tangan terlihat luka-luka bakar kecil bekas sulutan cerutu. Beberapa jari kakinya terlihat tanpa kuku lagi.

            Jenderal de Kock memandang tanpa iba. Kemudian mendekat, dan mengangkat dagu Ki Balu yang sudah tak bertenaga lagi.

            “Kamu orang mungkin bisa menahan siksaan dari kami. Tapi bagaimana dengan anak dan isterimu,” Jenderal de Kock tersenyum licik,. Bola mata Ki Balu seketika membulat, kaget.

            Jenderal de Kock lalu melangkah mendekati isteri dan anak Ki Balu. Ia tersenyum. “Hari ini saya tak punya banyak waktu, jadi langsung saja kita pada permainannya,” Jenderal de Kock mencabut pistolnya.

            “Jangan ganggu mereka,” teriak Ki Balu marah, “Mereka tak tahu apa-apa.”

            Jenderal de Kock kembali tersenyum licik. “Bagaimana kalau nyawa isteri dan anakmu kita tukar dengan sebuah informasi?” lanjutnya memberikan penawaran.

            “Jangan, Pak!” cegah sang isteri, “Saya rela mati demi bangsa kita. Asal Bapak jangan jadi pengkhianat...”

            Doorrr!

            “Tidaaaakkkkkkk...”

            “Ibuuuu...”

            Ki Balu tak mampu menahan amarahnya. Tubuhnya bergetar. Airmatanya mengalir deras. Andai saja tangannya tak dirantai, pasti ia akan langsung menyerang secara membabi buta pada Jenderal de Kock. Anaknya menangis histeris memeluk tubuh ibunya yang telah kaku bermandi darah.

            “Kamu orang masih punya satu kesempatan,” Jenderal de Kock kembali mengarahkan  pistolnya tepat ke kepala bocah yang masih meratapi kepergian ibunya. Tak tergambar lagi rasa takut di wajah bocah itu, seolah ia telah siap menghadapi kematian. Ia ingin menyusul ibunya.

            “Satu...” Ia mulai menghitung, “Dua...” Jenderal de Kock menarik pelatuk pistolnya perlahan, “Ti...”

            “Jangan...!” teriak Ki Balu cepat, “Saya akan mengatakannya.” Ucap Ki Balu lemah. Ia telah kalah. Sebenarnya ia tak ingin mengkhianati bangsanya dan Panglima Ringgit. Namun, rasa cinta pada anaknya telah mengalahkan semuanya.

***

            Di bawah cahaya bulan yang temaram, karena baru berumur tujuh hari. Panglima Ringgit dan Damar berjalan pelan menyusuri jalan setapak. Mereka sengaja tak menyalakan suluh untuk penerangan, agar tak memancing perhatian.

            Kini mereka telah berada di tepian sungai. Lalu turun menceburkan diri. Mereka punya rencana, berjalan melalui jalur sungai tak akan meninggalkan jejak kaki. Sehingga menyulitkan pasukan Belanda melacaknya. Mereka berjalan seiring air mengalir, searah dengan tujuan mereka, Goa Selarong.

            Saat menemukan dua jalur aliran sungai, keduanya berhenti sesaat. Mereka bingung harus memilih jalur yang mana, kiri atau kanan. Saat keduanya masih berpikir, tiba-tiba cahaya api bermunculan di tebing. Cahaya itu mengeliling mereka. Keduanya kaget bukan main. Setelah diperhatikan lebih cermat. Cahaya itu berasal dari suluh-suluh pasukan Belanda yang telah mengepung mereka.

            “Kita terkepung.” Ucap Damar cemas. Panglima Ringgit langsung bersiaga. Tangan kanannya langsung memegang gagang pedang di pinggangnya.

            “Akhirnya..., berhasil juga kami menemukan kalian,” Jenderal de Kock yang langsung memimpin operasi, maju beberapa langkah, “Lebih baik kalian menyerah! Melawan artinya mati. Apalagi kalau kalian mau bekerja sama memberitahukan tempat persembunyian Pangeran Diponegoro, kami akan memberikan hadiah dan jabatan yang tinggi.”

            Fiuh...! Panglima Ringgit meludah ke samping. “Tak sudi kami berteman dengan kalian, penjajah. Mati lebih baik bagi kami, dasar kafir.” tolak Panglima Ringgit berapi-api. Wajahnya menegang menahan gemuruh di dada. Begitu juga dengan Damar.

            “Itu pilihan kalian,” Jenderal de Kock mengangkat bahunya, “Namun, sebelum kalian mati, mungkin kalian penasaran siapa yang telah membocorkan rencana kalian pada kami.” Jenderal de Kock berpaling, dan memerintahkan pada prajuritnya untuk melempar sesuatu.

            Byuurrrr! Byuurrrr! Byuurrrr!

            Tiga tubuh yang telah menjadi mayat di lempar ke dalam sungai tepat di hadapan Panglima Ringgit dan Damar. Panglima Ringgit dan Damar kaget ketika mengenali ketiga mayat itu: Ki Balu, isteri dan anaknya.

            Darah Panglima Ringgit dan Damar semakin berdesir hebat. Tubuh mereka bergetar menahan amarah. “Dasar biadab kalian!”

Keduanya langsung menarik pedang dari sarungnya, dan bermaksud ingin menyerang  Jenderal de Kock yang berada di tebing. Namun, karena tubuh mereka masih berada di dalam air sehingga tak bisa menyerang langsung, jadi mereka lemparkan pedang itu ke arah sang komandan.

            Jenderal de Kock yang tak menyangka akan mendapat serangan yang tiba-tiba, menjadi panik. Ia mundur beberapa langkah, tapi sayang kakinya tersandung batu kali hingga jatuh. Dan, secara kebetulan jatuhnya itu menyelamatkannya, pedang Panglima Ringgit dan Damar yang melayang di udara melewatinya dan jatuh di belakang.

            Wajah Jenderal de Kock pucat. Tubuhnya gemetar. Ia baru menyadari, bahwa menghadapi kematian itu sangat menakutkan. Anak buahnya yang sedari tadi terus bersiaga, tanpa menunggu perintah darinya langsung memuntahkan timah panas ke arah Panglima Ringgit dan Damar

            Doorrr! Doorrr! Doorrr! Doorrr! Doorrr! Doorrr!

            Tembakan beruntun dari pasukan belanda itu melubangi tubuh Panglima Ringgit dan Damar. Keduanya rubuh. Seketika bening air berubah menjadi cairan merah yang kental. Mereka gugur sebagai pahlwan, tanpa sempat membunuh seorangpun dari pasukan Belanda.

            Jenderal de Kock bangun dengan tubuh masih gemetar. Ia pandangi dua tubuh yang mengapung di air itu. Ia mencoba tersenyum, walau senyum hambar. Karena nyawanya hampir saja melayang.

            “Bawa tubuh mereka. Arak keliling kampung. Agar tak ada lagi rakyat pribumi yang berani melawan Residen Belanda.” Perintahnya tegas. Kemudian Jenderal de Kock melangkah penuh kemenangan. Misinya tinggalnya satu, menangkap Pangeran Diponegoro.

 

* Perjuangan sering kali pupus bukan oleh musuh, tetapi oleh pengkhianatan yang sama sekali tak berarti...

 

Barabai, 30 Mei 2011

           

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...