Buya Hamka Pun Hanya Manusia Biasa --Mengalahkan Setan di Titik Nadir

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Aku mungkin satu dari sebagian besar umat Islam di tanah Melayu yang kagum pada Buya Hamka. Ketegasan ulama yang juga sastrawan ini akan selalu dikenang di hati banyak orang. Daripada menganulir fatwa tentang haramnya Natal bersama, beliau lebih memilih mundur dari jabatan sebagai Ketua MUI. Pandangan politiknya yang kuat dengan keIslaman dan keras menolak komunis, membuat penulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wickj ini dipenjara di rezim Soekarno. Dan justru di penjara itulah beliau menuntaskan menulis Tafsir Al Qur'an 30 Juz, Tafsir Al Azhar yang monumental itu.

Banyak hal yang bisa dikagumi pada Buya Hamka. Kalau bahasa sekarang, beliau masuk kategori flux generation. Berkarya di berbagai bidang dan memberi impact atau manfaat bagi banyak orang. Beliau seorang ulama dengan karya Tafsir Al Azhar, Ketua MUI, politikus partai Masyumi, sastrawan Di Bawah Lindungan Kakbah, pengurus Muhammadiyah juga. Dan entah peran apalagi yang beliau lakukan di masyarakat, yang aku pribadi tidak tahu.

Walaupun aku tidak lahir di lingkungan Muhammadiyah, aku sangat kagum pada kebesaran karya dan peran beliau bagi bangsa ini sampai-sampai aku "lupa" bahwa Buya Hamka juga manusia biasa.

Apa maksudnya Buya Hamka juga manusia biasa?

Kawan, di balik ketegasan dan keyakinan harga mati beliau pada Islam yang tak bisa ditawar oleh siapapun, ternyata Buya Hamka pun pernah mengalami rasa marah, takut, putus asa, lemah dan keraguan. Seperti manusia biasa pada umumnya.

Saat berkunjung ke sekretariat Forum Lingkar Pena di Kampung Rambutan, Jakarta, aku menemukan sebuah buku dari 45 tahun yang lalu. Buku berjudul "Tasauf Modern" yang dikarang Buya Hamka mengantarkanku pada sebuah renungan baru tentang beliau, ketika membaca kata pengantar beliau untuk cetakan buku ke 12 itu, aku menemukan sisi lain dari Buya Hamka yang ternyata seorang manusia biasa.

***

"Pada hari Senin, tanggal 12 Ramadhan 1385, bertepatan dengan 27 Januari 1964, kira-kira pukul 11 siang, saya dijemput ke rumah saya, ditangkap dan ditahan. Mulanya dibawa ke Sukabumi.

Diadakan pemeriksaan yang tidak berhenti-henti, siang malam, petang pagi. Istirahat hanya ketika makan dan sembahyang saja. 1001 pertanyaan, yah 1001 yang ditanyakan. Yang tidak berhenti-henti ialah selama 15 hari 15 malam. Di sana sudah ditetapkan lebih dahulu bahwa saya mesti bersalah. Meskipun kesalahan itu tidak ada, mesti diadakan sendiri. Kalau belum mengaku berbuat salah, jangan diharap akan boleh tidur.

Tidur pun diganggu!

Kita pasti tidak bersalah. Di sana mengatakan kita mesti bersalah.

Kita mengatakan tidak. Di sana mengatakan ya. Sedang di tangan mereka ada pistol.

Satu kali pernah dikatakan satu ucapan yang belum pernah saya dengar selama hidup.

"Saudara pengkhianat, menjual Negara kepada Malaysia!"

Kelam pandangan mendengar ucapan itu. Berat!

Ayah saya adalah seorang Alim Besar. Dari kecil saya dimanjakan oleh masyarakat, sebab saya anak orang alim! Sebab itu maka ucapan terhadap diri saya di waktu kecil adalah ucapan kasih.

Pada usia 16 tahun saya diangkat menjadi Datuk menurut adat gelar pusaka saya ialah Datuk Indomo.

Sebab itu sejak usia 12 tahun saya pun dihormati secara adat. Lantaran itu sangatlah jarang orang mengucapkan kata-kata kasar di hadapan saya.

Kemudian saya pun berangsur dewasa. Saya campuri banyak sedikitnya perjuangan mengakkan masyarakat bangsa, dari segi agama, dari segi karang-mengarang, dari segi pergerakan Islam, Muhammadiyah dan lain-lain. Pada tahun 1959 Al Azhar University memberi saya gelar Doctor Honoris Causa, karena saya dianggap salah seorang Ulama Terbesar di Indonesia.

Sekarang terdengar saja ucapan:

"Saudara pengkhianat, menjual Negara kepada Malaysia."

Gemetar tubuh saya menahan marah, kecil polisi yang memeriksa dan mengucapkan kata-kata itu saya pandangi, dan pistol ada di pinggangnya."

***

Seorang manusia yang sedari kecil tumbuh di lingkungan yang baik, jarang sekali ada kata-kata kasar keluar dari orang lain padanya, tiba-tiba di usia Buya Hamka yang senja, beliau ditangkap dan dipenjara lalu seorang polisi menuduhnya sebagai pengkhianat bangsa, menjual negara pada Malaysia. Sungguh hancur perasaan Buya Hamka saat itu. Beliau sangat marah.

Kawan, jika ada di posisi Buya Hamka entah luapan kemarahan seperti apa yang akan kita lakukan pada polisi kurus itu.

Hamka merasakan kemarahan dan sakit hati dituduh pengkhianat oleh bangsa sendiri. Tapi beliau bisa meredam kemarahannya yang sudah sampai ubun-ubun itu.

***

"Gemetar tubuh saya menahan marah, kecil polisi yang memeriksa dan mengucapkan kata-kata itu saya pandangi, dan pistol ada di pinggangnya.

Memang kemarahan saya itulah rupanya yang sengaja dibangkitkannya. Kalau saya melompati dia dan menerkamnya, tentu sebutir peluru saja sudah dalam merobek dada saya. Dan besoknya tentu sudah dapat disiarkan berita di surat-surat kabar: "Hamka lari dari tahanan, lalu dikejar, ditembak mati!"

Syukur Alhamdulillah kemarahan itu dapat saya tekan, dan saya insaf dengan siapa saya berhadapan. Saya yang tadinya hendak berdiri terduduk kembali dan meloncatlah tangis saya sambil menatap:

"Janganlah saya disiksa seperti itu. Bikinkan sajalah satu pengakuan bagaimana baiknya, akan saya tandatangani. Tetapi kata-kata demikian janganlah saudara ulangi lagi!"

"Memang saudara pengkhianat!" katanya lagi dan dia pun pergi sambil menghempaskan pintu. Remuk rasanya hati saya."

***

Bahkan di titik nadir saat beliau dipenjara, rasa putus asa dan tipudaya setan menghampiri Buya Hamka.

Bagaimana sikap kita saat menghadapi posisi seperti itu?

***

"Janganlah saya disiksa seperti itu. Bikinkan sajalah satu pengakuan bagaimana baiknya, akan saya tandatangani. Tetapi kata-kata demikian janganlah saudara ulangi lagi!"

"Memang saudara pengkhianat!" katanya lagi dan dia pun pergi sambil menghempaskan pintu. Remuk rasanya hati saya.

Mengertilah saya sejak itu mengapa maka segala barang tajam wajib dijauhkan dari tahanan yang sedang diperiksa. Di saat seperti itu, setelah saya tinggal seorang diri, datanglah tetamu yang tidak diundang, dan yang memang selalu datang kepada manusia di saat seperti demikian. Yang datang itu ialah SETAN! Dia membisikkan ke dalam hati saya, supaya saya ingat di dalam simpanan saya masih ada pisau-silet. Kalau pisau kecil itu dipotongkan saja kepada urat nadi, sebentar kita sudah mati. Biar orang tahu bahwa kita mati karena tidak tahan menderita.

Hampir satu jam lamanya terjadi perang hebat dalam bathin saya, di antara perdayaan Iblis dan Iman yang telah dipupuk berpuluh tahun ini. Sampai-sampai saya telah membuat surat wasiat yang akan disampaikan kepada anak-anak di rumah.

Tetapi Alhamdulillah: Iman saya menang.

Saya berkata kepada diriku:

"Kalau engkau mati membunuh diri karena tidak tahan dengan penderitaan bathin ini, mereka yang menganiaya itu niscaya akan menyusun pula berita indah mengenai kematianmu. Engkau kedapatan membunuh diri dalam kamar oleh karena merasa malu setelah polisi mengeluarkan beberapa bukti atas pengkhianatan. Maka hancurlah nama yang telah engkau modali dengan segala penderitaan, keringat dan air mata sejak berpuluh tahun.

Dan ada orang yang berkata: Dengan bukunya "Tasauf Modern" dia menyeru agar orang sabar, tabah dan tegu hati bila menderita satu percobaan Tuhan. Orang yang membaca bukunya itu semuanya selamat karena nasihatnya, sedang dirinya sendiri memilih jalan yang sesat. Pembaca bukunya masuk syurga karena bimbingannya, dan dia di akhir hayatnya memilih neraka.

Jangankan orang lain, bahkan anak-anak kandungmu sendiri akan menderita malu dan menyumpah kepada engkau.

Syukur Alhamdulillah, perdayaan setan itu kalah dan diapun mundur. Saya menang! Saya menang!"

***

Kawan, setiap orang akan menghadapi titik nadir. Ujian paling berat akan kita hadapi dalam hidup ini. Jangan dikira orang-orang hebat dan besar itu tidak mengalaminya.

Buya Hamka menjadi besar bukan karena dia tidak pernah mengalami kemarahan luar biasa, sakit hati yang meremukkan, ketakutan dan putus asa, Kawan. Tapi Buya Hamka menjadi besar karena bisa mengalahkan semua perasaan negatif itu bahkan beliau menjadi pemenang dari pertarungan di titik nadir menghadapi setan.

Kawan, kita juga manusia biasa seperti Buya Hamka. Dan kita bisa menjadi besar seperti beliau lewat karya dan manfaat yang besar untuk masyarakat, ketika kita bisa mengalahkan perasaan negatif, hawa nafsu dan tipudaya setan.

Semoga kita bisa menjadi manusia biasa dengan karya besar dan manfaat luas seperti Buya Hamka.

----- END ----

#Sumber kutipan: (Pendahuluan Pengarang untuk Cetakan ke XII  Buku Tasauf Modern, Januari 1970)

----

Penulis:

Agung Dodo Iswanto

Lelaki asal Bandung ini sudah menulis di Annida-online.com sejak 11 November 2011 dan sempat mengabdi sebagai redaksi selama 2 tahun. Beberapa prestasinya menjadi juara pertama Netizen Journalism Pekan Produk Kreatif Indonesia Kemenparekraf 2013 dan menerbitkan novel "Seven Secret" Republika yang ditulis bersama Shinta Dewi Indriani dan Vina Yunita.

Kini lelaki yang akrab dipanggil Agung ini tengah menjalani episode baru hidupnya sebagai entrepreneur dengan merintis toko buku online @bukanbukubiasa_  dengan mimpi besar ingin menjadi pengusaha muslim yang memiliki toko buku terbesar dan bermanfaat bagi ummat di Indonesia. Karena sedihnya jaringan toko buku terbesar di negeri ini dimiliki oleh nonmuslim.

Oya jika teman-teman tertarik dengan buku "Tasawuf Modern" Buya Hamka yang kini diterbitkan Republika, juga bisa pesan melalui Agung.

Mari berteman di facebook (https://www.facebook.com/agungdodo) Twitter (https://twitter.com/AgungDodoIswant) atau bisa juga lewat whatsapp di 0838.9198.2414 dan bbm 7697d716.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...