Dari Kami untuk Palestina

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Nizar El-Shofwan

1982
Kepulan asap bercampur debu dan pasir putih yang menyeruak terangkat ke udara, menyelimuti pemandangan sekitarku. Di bawah reruntuhan bangunan jalur Gaza ini aku berlindung bersama sahabat-sahabat seperjuanganku, ikhwahfillah yang senantiasa setia menemaniku memperjuangkan tanah suci ini dari kuasa Zionis yang tak berperikemanusiaan. Akmal dan Ismael, dua bersaudara yang setia itu. Genggaman tangan mereka begitu mantap meraih senjata AK-47 yang mampu melepaskan banyak peluru dalam sekali tembakan. Di mata mereka tak satupun kulihat adanya rasa takut. Gelora semangat jihad yang mereka miliki menghipnotisku dalam medan peperangan ini.

"Zionis biadab! Tega-teganya mereka menyerang wilayah penduduk sipil ini!” pekik Akmal murka.

Benar sekali. Sebelumnya sebuah bom udara menghempas ke tanah wilayah kami, menggelegar meledak dan seketika pula meluluhlantahkan bangunan-bangunan penduduk di sekelilingnya. Beruntung kami bisa terhindar dari kematian yang terlalu cepat dengan masuk ke lubang di bawah reruntuhan ini. Syukron Yaa Rabb, aku tak ingin lebih dini meninggalkan ragaku, aku masih ingin berjuang demi Islam dan demi bangsa Palestina yang kucintai. Aku membatin bersyukur.

Aku pun segera mengikuti Akmal dan adiknya, Ismael, meraih senjata semi-otomatisku yang sempat terjatuh sesaat setelah kami berjibaku dengan tanah dan beton guna menyelamatkan diri dari ledakan. Aku memeriksa kelengkapan militer yang kumiliki di tas pinggang kanan dan kiri. Amunisi, ada. Pistol cadangan, ada. Sementara Ismael mengintip di sela-sela lubang memakai teropong jarak-jauhnya yang ia dapat dari tentara Zionis yang telah mati.

“Aman!” tukas Ismael.

“Sudah kau periksa perlengkapan-perlengkapanmu, Nabel?” tanya Akmal.

“Sudah. Alhamdulillah lengkap semuanya,” jawabku tegas.

Akmal mengangguk. Ia memberi aba-aba kepadaku dan Ismael untuk bersiap siaga keluar dari persembunyian ini. Genggaman kami pada senjata semakin mantap.

“Pasang masker dan google kalian. Jaga-jaga kalau bom tadi mengeluarkan asap beracun.”

Aku dan Ismael menaati perintah Akmal. Ialah pemimpin kami dalam kelompok kecil ini. Segala sesuatunya selalu ia pertimbangkan matang-matang demi kebaikan kelompok.

Akmal memimpin langkah keluar dari reruntuhan. Geraknya menyisiri pemandangan buram penuh debu di sana. Senjatanya diacungkan ke berbagai arah. Sesaat kemudian, tangannya memberi aba-aba bahwa area telah bersih dari musuh. Ismael dan aku mengikuti di belakang. Senjata dan mata kami dalam keadaan siaga satu.

Pemandangan di sekeliling mulai terlihat meski tak begitu jelas. Hanya reruntuhan yang ada di sana. Jenazah-jenazah penduduk tergeletak di tanah, baik yang masih dalam keadaan utuh, maupun yang tak lagi sempurna jasadnya. Ibu-ibu dan anak-anak juga turut menjadi korban kekejaman tentara Zionis. Pemandangan ini, sebenarnya mulai terbiasa kulihat berlama-lama. Semenjak tiadanya seluruh anggota keluargaku oleh misil Israel, itulah yang pertama. Terbiasa aku melihat, namun tak terbiasa aku menahan air mata yang selalu menetes tatkala dihadapkan padanya.

“Ayo kita kumpulkan jenazah-jenazah ini. Lalu kita bersama-sama langsung memakamkan mereka.” Ajak Akmal.

Kami bertiga berkeliling menyisiri daerah sekitar, bergotong-royong mengangkut dan mengumpulkan jenazah-jenazah yang ada ke satu tempat terdekat. Lalu menggali sebuah lubang untuk tempat peristirahatan mereka. Mereka telah mati syahid, kami tak perlu memandikan dan mengkafani jasadnya. Kematian yang sungguh mulia, aku pun sangat mendambakannya. Begitu pula Akmal dan Ismael.

***

Usia kami mungkin dianggap masih muda untuk mengangkat senjata. Akmal yang tertua –usianya 19 tahun, Ismael lebih muda 2 tahun darinya, sementara aku yang termuda –baru menginjak usia 12 tahun. Tapi kami termasuk bangsa Palestina. Kami tak akan pernah rela bila negeri para mujahid ini dilecehkan dan diduduki dengan alasan yang dibuat-buat. Sangat jelas kaum Zionis menjajah negeri kami dengan maksud memerangi Islam, agama yang sebenarnya mereka takuti karena kebenarannya. Allahu Akbar. Demi memperjuangkan dan mempertahankan Islam itu sendiri, kami pun, remaja-remaja ini kini berada di sini. Mengangkat senjata, mengobarkan semangat, memantapkan jiwa raga, dan dengan modal dasar yang tak mungkin bisa dikalahkan, iman kepada Allah Azza Wa Jalla.

Aku, Akmal, dan Ismael mungkin hanya segelintir di antara banyak remaja Palestina yang kehilangan keluarga dan berujung pada keterlibatan kami secara langsung dalam medan jihad ini. Kami membentuk kelompok tatkala dipertemukan oleh takdir Ilahi setahun yang lalu di Desa Ein Hod. Kesendirian kami bertiga mempersatukan tali persaudaraan ini sebagai kekuatan yang bagi kami merupakan kekuatan sebenarnya di balik kegigihan kami menghadapi tentara-tentara dewasa penjajah.

Sebenarnya di awal terbentuknya kelompok ini, kami tidak hanya bertiga. Setidaknya itulah kenyataan yang ada, sebelum Mahmoud dan Sayyed meninggalkan kami lebih dulu untuk menikmati kesejukan di haribaan Allah dengan syahid. Jiwa dan raga adalah harga yang pantas kami peruntukkan bagi Palestina yang kami cintai.

***

Adzan Isya berkumandang. Aku, Akmal, dan Ismael menunaikan sholat berjamah bersama penduduk sipil sekitar di lapangan terbuka yang dikelilngi reruntuhan bangunan. Meski dalam keadaan yang kritis, kewajiban menunaikan sholat lima waktu ditambah melaksanakan ibadah sunnah lainnya tidak kami tinggalkan. Itulah sebab kami tak pernah takut untuk bergelut di medan perang, Allah selalu menjagakan umat-umat-Nya yang taat.

“Assalamualaikum warrahmatullah. Assalamualaikum warrahmatullah.”

Di akhir doa, aku memandang kejauhan di depan kami tempat melaksanakan sholat. Di atas langit malam sekitar 500 meter dari kami, sebuah pesawat terbang melambat. Bagian bawah badan pesawat kemudian terbuka, menjatuhkan sesuatu berbentuk tabung ke darat. Sesuatu itu, membuatku terperanjat dan segera bereaksi. Aku sangat mengenal benda apa itu.

“BOM UDARA!!!” Aku berteriak sekencangnya sambil menunjuk ke arah akan dijatuhkannya bom tersebut.

Para makmum yang baru ingin beranjak dari tempat shalat, terhenyak dan serentak melihat ke arah yang kutunjuk. Segera setelah itu, suasana menjadi gaduh. Semua orang yang ada di lapangan segera berlarian ke berbagai arah. Aku, Akmal, dan Ismael berkumpul lalu ikut bergegas menyelamatkan diri. Aku menengok ke belakang, bom itu! Sudah jatuh ke darat!

BUUUMMMH!!

Ledakan itu menghempaskan daratan dengan radius yang jauh. Pasir dan debu serta angin bercampur menjadi satu mementalkan dan menghempaskan orang-orang di lapangan. Aku, Akmal, dan Ismael pun ikut terpental ke berbagai arah.

Alhamdulillah. Aku masih dalam keadaan sadar setelah terhempas ke tanah. Tubuh ini hanya mengalami lecet-lecet dan luka ringan di dahi dan kaki. Aku segera bangun, membersihkan pasir dan debu yang menempel di wajah. Kulihat sekeliling, Masya Allah, daerah ini porak-poranda. Orang-orang yang sempat bersisian denganku ketika sholat berjamaah tadi sebagian besar sudah terkapar tak bernyawa.

“NABEL!” panggil seseorang yang berada dekat denganku.

Aku mendekati asal suara. Ternyata Akmal. Ia terduduk di tanah. Kaki kanannya berdarah. Ia memberitahuku bahwa kaki kanannya tak mampu lagi untuk berdiri karena ledakan tadi. Aku segera memapah dengan mengalungkan tangannya di bahuku. Kami pergi mencari Ismael yang terpisah.

Sekitar 5 menit kami mencari-cari, akhirnya kami menemukan sosok Ismael. ALLAH! Tubuhnya terkapar tak bergerak. Pecahan dinding semen menindih kedua kakinya.

“ISMAEL!!” seru Akmal di bahuku.

Akmal melepas papahanku. Tangannya langsung diletakkan ke dada Ismael, sementara aku menyingkirkan pecahan dinding semen di atas kakinya. Kulihat wajah Ismael kaku. Dari mulutnya mengeluarkan darah. Akmal kemudian menutup kedua kelopak mata Ismael. Ia telah syahid. Mata Akmal basah. Tangannya bergetar. ALLAH! Satu lagi temanku!

Belum sampai kami menyelesaikan derita ini, suara derap kaki banyak orang dari kejauhan mendekat. Dari balik hembusan debu yang menyamarkan pandangan. Mereka! Tentara Israel bersenjata!

“Akmal, ayo kita bersembunyi!” ajakku.

Aku segera memapah Akmal kembali. Mau tak mau kami harus meninggalkan jasad Ismael dan penduduk untuk sementara. Baku tembak terjadi. Aku sigap melepaskan peluru yang kupunya ke berbagai arah sebagai tembakan perlindungan. Kami segera memasuki rumah tua berbahan kayu yang kami gunakan sebagai tempat persembunyian sementara kami di daerah ini. Tubuh Akmal aku dudukkan di lantai dan aku dengan cepat menyegel pintu rumah.

***

Tentara Israel sudah mulai mendekati rumah persembunyian kami yang gelap. Aku mengintip di balik lubang angin, jumlah mereka ada 8 orang. Dan semuanya  siaga dengan pistol mereka! Aku memberitahu Akmal lewat bahasa isyarat. Kulihat Akmal dari matanya, ia nampak terkejut. Ia memeriksa peluru yang tersisa dari pistolnya, kemudian menghela napas panjang. Terlihat ia berpikir sangat serius.

Pistol milikku sudah tak bisa digunakan lagi, amunisinya telah habis. Sembunyi pun aku yakin percuma. Di rumah kecil ini, hanya ada lemari besi yang biasa digunakan untuk menyembunyikan senjata. Dan bila kami berdua bersembunyi di sana sesenyap apapun, pasti Zionis tak berperasaan itu bisa menemukan kami.

“Nabel!” panggil Akmal dengan isyarat menyuruhku bersiaga di sampingnya.

Aku mendekati Akmal. Wajahnya nampak kelelahan, lusuh penuh debu dan tanah. Mimik mukanya masih menyimpan kepedihan akibat kepergian adik kandungnya, Ismael. Tapi sorot matanya tetap bercahaya.

“Masih berapa peluru yang kau punya?” tanya Akmal berbisik.

Aku ragu untuk menjawab. Tak sanggup membuatnya bertambah cemas bila aku beritahukan bahwa peluruku telah habis. Hanya diam, bagiku jawaban terbaik.

“Hmm, sudah habis ya. Baiklah,” ucap Akmal tiba-tiba. Ia sangat memahami keraguanku.

Derap kaki mulai terdengar semakin dekat dari rumah ini. Mereka, tentara Israel itu, ternyata sudah mencapai halaman. Jantungku berdegup begitu kencang, tak beraturan. Keringat dingin mengucur begitu derasnya di pelipis dan lenganku. Napasku tergesa-gesa keluar-masuk saluran pernapasan. Oh, inilah akhirku Ya Allah, inilah akhir dari perjuanganku Ya Allah.

Gelora jihad ini semakin berkobar, menggetarkan setiap inci urat nadiku. Kuambil belati yang tersarung di samping celana. Inilah usaha terakhirku, inilah perjuangan terakhirku. Aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini, meski kutahu belati takkan mampu menandingi kecepatan peluru yang melesat. Siagaku dengan belati kecil ini, kupegang dengan mantap. Tetes darah penghabisan rela kupersembahkan untukmu, Palestina!

Akmal mundur selangkah demi selangkah menggiring gerakku tepat di depan lemari besi. Kulihat ia pasang strategi untuk lebih menjauh dari pintu rumah. Namun ternyata tangannya malah membuka lemari besi. Apa yang ia lakukan? Gumamku.

“Lemari ini cukup untuk berlindung,” kata Akmal.

“Tapi mereka pasti akan memeriksa semua tempat di rumah ini dan akan menemukan kita di dalam lemari ini. Kita tak usah bersembunyi, hadapi mereka dengan apapun yang kita miliki. Biar Allah yang melindungi kita saat ini. Kalaupun mati, aku sudah siap, Akmal. Kaupun pasti begitu,” ujarku bersemangat.

Akmal memandang wajahku lekat-lekat. Tatapan matanya begitu tenang.

“Nabel, kata siapa kita harus bersembunyi?”

Pertanyaan Akmal membuatku bingung.

“Jadi, untuk apa kau membuka lemari ini?”

Hening sesaat. Lalu hal yang tak terduga menimpaku. Akmal menarik lenganku! Aku yang jauh lebih lemah darinya, tak sanggup melawan.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Aku berseru.

Alih-alih menjawab, Akmal langsung mendorong tubuhku yang kecil dan menghempaskan aku ke dalam lemari besi. Yang lebih tak kuduga lagi, ia menyegel kedua pintu lemari itu dengan sebatang kayu tebal. Aku dikuncinya dari luar!

Aku kemudian tersadar apa maksud dari perkataan Akmal barusan. Kata siapa kita harus bersembunyi? Tepat, bukan "kita" yang harus bersembunyi, tapi ‘aku’. Akulah yang harus Akmal sembunyikan dan lindungi. Merasa tak terima, aku berusaha menghantam-hantamkan kepalan tanganku ke pintu lemari.

“AKMAL!” seruku kembali.

Akmal mengintip di balik kaca jendela kecil yang terpasang di pintu lemari besi. Ia ingin mengucapkan sesuatu kepadaku. Wajahnya tetap tak berubah seperti sebelumnya, seolah kejadian mengunciku di lemari ini bukan apa-apa.

“Nabel, kumohon. Bila Zionis itu telah memasuki rumah ini, kau bisa tenang. Apapun yang terjadi, jangan sampai kau bersuara dan membuat gaduh. Tenanglah. Aku pasti akan menghabisi delapan Zionis itu dengan peluruku yang tersisa. Dan kau akan selamat setelah itu.” Kata Akmal pelan dari luar.

“Apa yang kau lakukan, Akmal?! Aku ingin bertempur untuk terakhir kali. Syahidku sudah menanti dan inilah tempat yang cocok bagiku menghembuskan napas terakhir, bersamamu di sini.”

“Aku kagum dengan semangatmu, Nabel. Tapi ... kau masih sangat muda. Masih banyak medan jihad yang menantimu di masa depan. Syahidmu masih menunggu di sana pula. Tapi tidak untuk sekarang, Nabel. Jadilah pemuda yang kuat dan gigih berjuang untuk kejayaan Islam dan kemerdekaan Palestina. Demi Allah yang kau cintai, demi Rasulullah yang kau teladani.”

Itulah kalimat terakhir dari Akmal untukku. Senyum terakhir Akmal yang diperuntukkan bagiku.

Aku mengintip di balik kaca jendela kecil lemari ini dengan gugup memenuhi dada. Menyaksikan saat-saat terakhir sebelum syahidnya seorang Akmal yang kukagumi sifat rela berkorbannya. Akmal, kini ia bersiap dengan mengarahkan pistolnya ke pintu rumah.

BRAKK!!

Pintu rumah didobrak paksa dengan tendangan dari salah satu tentara Israel. Mereka tak tau sopan santun, amarahku. Satu per satu dari mereka memasuki rumah. Namun peluru Akmal menghadang mereka.

ALLAHU AKBAR!!

Seruan takbir mengiringi pertempuran Akmal dengan delapan orang Zionis di dalam rumah persembunyian kami. Aku yang menyaksikan dari dalam lemari besi tergetar hati tatkala kumandang takbir itu ia gemakan. Suara tembakan berselang-seling terdengar. Satu, dua, tiga, empat, lima orang telah berhasil Akmal lumpuhkan dengan senjatanya. Luar-biasa, batinku.

DOR! DORR!

Beberapa peluru dari pistol tentara keenam mengenai dada kanan dan kaki Akmal! Membuatnya terpaksa berlutut di tempat.  Tapi ia sempat melesakkan peluru miliknya tepat ke jantung lawannya. Sudah enam orang lawan yang jatuh. Kegesitan Akmal tak terlihat lagi karena peluru yang bersarang di organ vitalnya. Hatiku bergetar. Ingin aku menolongnya, tapi kepercayaan Akmal padaku demi masa depan membuatku terpaksa mengurungkan niat.

DORRR!! DORR!!

Dua lagi peluru bersarang di bahu dan kaki Akmal. Kali ini tentara ketujuh yang menembakkan pistolnya sesampainya ia di depan pintu. Membuat Akmal tak mampu lagi untuk berdiri dari berlututnya. Merahnya darah mewarnai area tempat Akmal berada. Tak terasa air mataku meleleh membasahi pipiku. Apakah ia sudah berakhir? Tidak! Akmal segera mengangkat dan mengarahkan pistolnya lagi ke tubuh lawan.

“ALLAHU AKBAR!”

Sebuah peluru menghujam daerah jantung tentara ketujuh. Tinggal satu lagi! Namun, tubuh Akmal seperti sudah tak berdaya. Ia melemas. Kehabisan darah, aku yakin itu. Aku mendengar dengusan napas Akmal yang tersengal-sengal. Akmal benar-benar berjuang mati-matian.

DORRR!!!

Peluru tentara terakhir menghujam ke dada Akmal kembali. Napasnya semakin sulit terdengar. Lemas tubuhnya semakin terlihat. Oh, Akmal! Getaran tubuhku menjadi-jadi. Aku terpaku, tak mampu berkata-kata lagi. Tentara itu berjalan mendekati pintu. Pistolnya mantap mengarah ke tubuh Akmal yang mencapai batasnya.

Kulihat Akmal masih belum menyerah. Perlahan pistolnya ia angkat kembali dengan tangan bergetar. Ia arahkan ke tentara Zionis terakhir.

DORRR!!!

Kembali dada Akmal dihujam peluru, lagi! ALLAH! Aku berseru dalam hati. Tiga kali peluru itu menembus dada Akmal, tepat di bagian paru-paru! Akmal berada diujung kematian!

Mukjizat! Tangan Akmal yang memegang pistol terlihat tak diturunkan, masih terarah mantap ke tubuh si tentara. Perkataan Akmal membayang kembali di ingatanku, “... tenanglah. Aku pasti akan menghabisi delapan Zionis itu dengan peluruku yang tersisa. Dan kau akan selamat setelah itu.” Akmal, inikah kekuatan tekadmu untuk menyelamatkanku?
Jari Akmal menarik pelatuk di pistolnya. Dan ... DORR!! Peluru itu tepat mengenai daerah jantung Zionis. Tentara terakhir dilumpuhkan. Pistol Akmal terjatuh. Tangannya kembali pada posisi awal. Masih dalam keadaan berlutut, Akmal menatap langit malam di Palestina, pemandangan yang sekarang ia lihat di penghujung hidupnya. Tubuh Akmal kemudian roboh ke samping, menghembuskan napas terakhirnya.

Air mataku kini tak terbendung. Sesenggukanku tertahan di pangkal tenggorokan. Deru napasku menghempaskan sesak dada ini ke titik terbawah sadarku. Aku tersandar di dinding lemari.

Sesuai janji Akmal, aku selamat. Kupandangi cahaya bulan yang sempat mengintip di pintu rumah ini.  Lelah batin yang menderaku di sepanjang malam ini, benar-benar menguras tenaga. Terimakasih Akmal, kau akan menemui Allah yang kau cintai saudaraku, ucapku di batas air mataku dan di awal lelapku.

***

2000
Di desa Ein Hod, aku berada kini. Di depan sebuah batu nisan bertuliskan Akmal Mohammad Elyas; sahabat, saudara, sekaligus pemimpinku semasa perjuangan di masa remaja melawan Zionis. Aku panjatkan doa-doa untuknya.

“Assalamualaikum, Komandan Nabel.” Sapa pemuda berbaju militer di belakangku.

“Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh.”

Aku menoleh ke belakang. Pemuda itu ternyata Husein Qardhan Abulshafa, salah satu prajurit brigadir Al-Qassam yang menjadi sahabat, bawahan, sekaligus anggota kelompokku.

“Pasukan Anda sudah bersiap di tempat, Komandan.” Tukasnya tegas.

“Baik. Mari kita ke sana bersama-sama.”

Aku melangkahkan kaki meninggalkan batu nisan Akmal. Husein mengikutiku di samping. Selama di perjalanan menuju tempat berkumpulnya pasukanku, kubuka kembali selembar photo lama yang kusimpan dengan rapi.

Foto itu menampilkan lima orang remaja bersenjata, tersenyum ke arah kamera. Mereka adalah aku, Mahmoud, Sayyed, Ismael, dan pemimpin kami –Akmal. Aku merasakan mataku basah ketika melihat empat almarhum temanku. Aku sekarang berada di sini, di masa ini, dalam keadaan hidup dan sehat, tidak lain dan tidak bukan karena sahabat-sahabatku. Inilah hasil dari perjuangan kami berlima untuk negeri ini, sebuah warisan semangat yang mereka percayakan kepadaku demi masa depan Palestina.

Kini, aku diberi amanah sebagai pemimpin salah satu kelompok pasukan brigadir Al-Qassam. Benar apa yang dikatakan Akmal kepadaku sebelum kematiannya, “masih banyak medan jihad yang menantimu di masa depan, syahidmu masih menunggu di sana pula.” Inilah medan jihaku sekarang, memimpin sebuah pasukan yang mendamba syahid.

Pasukanku berbaris begitu rapi. Wajah-wajah pemberani dan pencinta Allah berada di depanku. Gema takbirku mengawali semangat mereka sebelum bertempur di medan jihad.

“ALLAHU AKBAR!!”

Kejayaan Islam dan kemerdekaan bangsa Palestina pasti akan kami raih. Zionis Israel akan angkat kaki dari negeri Janji Allah takkan pernah Ia ingkari. Islam dan syari’at-Nya akan berdiri tegak di muka bumi.

“ALLAHU AKBAR!!” Seru pasukanku menggema ke seluruh penjuru area.

Tersenyum aku menengadah ke langit biru di atas sana. Cahaya akan selalu ada untuk Palestina, menerangi semangat para mujahid yang berjuang di jalan Allah Azza Wa Jalla.

Terima kasih, Ya Rabbi. Atas kehendak-Mu aku masih bisa bernapas panjang hingga saat ini, mengorbankan jiwa dan ragaku untuk memperjuangkan agama-Mu.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...