DAUN PUN MENANGIS

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Tally Syifa

 

           
“Ini gara-gara Kakak. Aku udah terkenal jadi anak cengeng di sekolah. Kakak jahat!”

“Iyan...”

“Brak!!!”

Gebrakan pintu memberatkan langkah kakiku. Kubalikkan tubuh lusuh menuju sofa. Melepaskan ikatan tali sepatu namun seolah tali itu berpindah mengikat dada. Aku sudah biasa menjadi pelampiasannya saat ia diejek di sekolah. Namun belum pernah dengan cara seperti ini. Tak biasanya kepulanganku disambut dentum pintu bahkan dengan cerca adikku sendiri.

Aroma tanah panas diguyur hujan menyedak hidung. Membuatku sedikit lega. Bukan karena aku beruntung bisa mengayuh sepeda dengan kencang dan sampai di rumah tanpa basah kuyup. Perjalanan yang sangat aku harapkan segera sampai tujuan. Sebab Iyan memberiku sms bahwa ingin menceritakan sesuatu.

Andai saja anak itu mengalaminya. Tentang aroma ini. Wanginya yang khas. Setelah terik yang menyengat kemudian rintik-rintik air memberi kedamaian. Mungkin hanya aku saja yang berpikir demikian. Ada pula yang berpikir bahwa itu seperti penggorengan yang baru diangkat dari kompor lalu langsung disiram air hingga bunyinya begitu nyaring didengar.

Aku lebih beruntung daripada Iyan. Aku pernah merasakan hujan. Rintik airnya, cipratan-cipratan genangannya yang kusapu dengan  kaki, tanganku yang membuka-menutup mencoba meraih rintik itu. Aku merasakannya! Seperti kupu-kupu yang sangat kecil. Satu per satu hinggap di wajahku kemudian menghilang. Hujan yang tiba-tiba. Aku menikmatinya!

Tapi aku membencinya...

***

“Tara... Bekalmu udah siap. Sup udang dan perkedel.”

“Loh kok sayuran lagi sih, Kak?”

“Ini sayurnya beda, Iyan...”

“Ngga mau. Titik. Kalau aja Mamah ngga ke luar kota Iyan pasti disiapin bekal yang enak sama Mamah.”

Ia pergi meninggalkan kotak makannya. Meraih sepeda kemudian mengayuhnya ke arah yang berlawanan dari sekolahku. Kutatap tubuhnya yang semakin jauh. Rambutnya yang hitam ikal, tubuhnya yang tinggi seperti si pemilik kumis tipis yang sering kumainkan rambut di atas bibirnya. Sosok yang amat kurindu. Abah.

Abah bekerja di sawah, menjadi seorang petani. Namun tidak seperti petani lainnya. Abahku terkeren, bagiku. Aku pernah bertanya mengapa abah memilih jadi petani, jawabnya karena menjadi petani tidak perlu membayar orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Abah memiliki caping berwarna merah tua. Sedangkan capingku dikelilingi warna biru langit. Hari Minggu ialah jadwal si biru menjadi temanku. Mengantarkan serantang makan siang untuk Abah. Melewati hijaunya alam yang menghampar luas. Kaki mungilku tanpa alas menapaki liat-liat setengah basah. Di tiap petak, akan ada senyum petani yang menyapaku dengan ramah. Mereka akan menunjukkan jalan terbaik menuju sosok lelaki berkumis tipis.

Kutemukan sosok itu. Aku segera berlari melewati galengan dengan lincah. Kedatanganku akan membuatnya berpaling dari gembor, tangki atau perangkat apa pun yang tengah dipakainya. Abah akan bergegas membersihkan diri kemudian menyantap masakan ibu bersama denganku.

"Kamu salah, Iyan... Masakan ibu paling enak.” Bibirku mengigau tak jelas. Kali ini tentangnya. Masakan wanita itu luar biasa. Nasi putih, sambal tomat dengan rebusan bunga turi. Abah menyebutnya sosis desa. Sesbania grandiflora[1]. Rupanya dari kata itu.   Sup dan bergedel buatan ibu hanya sesekali bisa kami nikmati. Sebab harga kentang tak seperti harga sayuran lainnya, seperti bunga turi, daun singkong pun daun-daun lainnya yang bisa diambil langsung dari sawah atau pekarangan rumah.

Namun masakan ibu selalu spesial. Nasi liwetnya yang dimasak dengan kayu bakar. Aromanya harum sedap. Setiap hendak memasukkan sesuap nasi ke mulut, aku membayangkan wajah ibu yang berkeringat menjaga api tetap menyala, sesekali tangannya mengusap peluh di dahi dan meninggalkan bekas arang yang menjadi polesan di wajah cantiknya.

Ibu selalu berpesan agar aku tidak jajan di luar. Aku tahu alasannya. Mungkin karena Abah gagal panen. Air hujan mengaliri sawah kami. Rintiknya tidak hanya menyuburkan namun karena berlebihan, ia menenggelamkan benih-benih yang sudah ditanam oleh abah. Sehingga aku selalu membawa kimpul ke sekolah. Ibu mengisinya dengan makanan untuk makan siangku. Jika makanan itu tertinggal ibu berlari mengejar, padahal aku ke sekolah naik sepeda sehingga terkadang aku sudah di sekolah sedangkan ibu baru datang memberikan bekalku.

***

“Permisi. Maaf Bu, saya ingin bertemu dengan Iyan.” Nafasku masih tak teratur. Tanpa sadar aku sudah membawa tubuhku di depan ruang kelas Iyan.

“Iyan, silakan temui kakakmu.” Bu Reni masih mengenalku. Tatapannya sama ketika menatap seseorang yang sama tergopohnya membawakan bekal makanku. Senyum kecil dengan mata bercahaya.

“Huh! Cengeng huh!” Bisik seorang anak kecil berpipi tembam sambil mendelikkan matanya ke arah Iyan. Kutatap matanya dengan layu. Teman sebangkunya melihatku terlebih dulu. Bahasa tubuhnya mengarah padaku. Akhirnya aku dan si tembam bertatapan. Senyumku mekar hingga ia menunduk tersipu.

***

Kubuka jendela perlahan. Hangat mentari menyetuh hijauku. Rambut-rambutnya seperti bercahaya, mengelilingi tubuh peri dari Fairy Topia. Ia begitu mulia. Hingga aku sendiri, yang merawatnya sejak kecil tak bisa menjamahnya semauku.

Kaktus kecilku, kini sudah mulai tumbuh. Cabangnya bertambah satu. Akhirnya ia tidak sendiri lagi. Dan itu bukan daun.

“Kak Bunga. Aku ada PR. Kakak yang ngerjain ya! Aku mau main.” Tanpa mengetuk pintu, Iyan masuk kamar dan meletakkan sebuah buku di meja belajar lalu langsung melesat pergi.

“Kamu mau kemana Iyan? Iyan!”

***

“Kalau Bunga punya apel 10, lalu apel itu dibagi ke lima orang. Ada Neneng, Lia, Igih, Susi dan Bunga sendiri. Setiap orang dapat berapa?”

“Mmm... Bunga dapat tiga. Neneng, Lia sama Igih dapat dua. Kalau Susi satu aja Bu. Dia kan nakal.”

“Nanti Bunga kekenyangan, perutnya buncit seperti Paman Gembul bagaimana? Hihihi.” Ibu mengelus perutku. “Bunga tidak boleh membeda-bedakan teman seperti itu ya, Sayang. Coba Bunga ingat. Sewaktu Ibu di rumah sakit, bekal Bunga kan ketinggalan. Bunga makan siang tidak?”

“Iya Bu. Bunga makan barengan pakai bekalnya Susi.”

Senyum Ibu teduh sekali.

“Maafin Bunga ya, Bu.”

“Sekarang kita kerjakan PR lagi ya Sayang...”

***

“Kak, PR-ku udah selesai belum?”

Iyan tiba-tiba datang memotong slide masa laluku. Aku menggeleng pelan.

“Sini ngerjain bareng Kakak.”

“Nggak, ah. Aku capek. Mau tidur.”

“Iyan udah sholat Zuhur? Yan!”

***

“Bunga nggak mau sholat!!!”

“Pukkk!!! Pukkk!!!” Sapu lidi itu beberapa kali mengenai kakiku. Aku tetap mengelak di sudut ruangan.

"Abah ... sudah, Bah. Nanti Bunganya sakit, Bah ....” Ibu memelukku. “Bunga sayang, kenapa tidak mau sholat.”

“Mukenanya jelek! Warnanya luntur! Ngga seperti mukenanya Neneng yang ada gambar bunga-bunganya.”

***

“Iyan, Kakak boleh masuk ya...” Kuberanikan diri melangkah masuk kamar adikku. Kulihat tubuhnya membujur tengkurap. Bahunya naik turun mengikuti irama nafas. Tarikan dalam penuh tekanan.

“Kak, Iyan nggak bisa ketemu abah sama ibu ya?” Iyan membuka percakapan. Tubuhnya tak berpindah posisi seolah mengumpatkan sesuatu. “Iyan sedih, Kak. Iyan mau jadi kaktusnya Kakak aja biar ngga bisa nangis.”

Aku tak bisa berkata-kata. Kerongkonganku seolah tersekat. Dadaku teremas, sesak. Bibirku bergetar mencari sebuah jawaban.

***

Di saat hujan aku terbaring sakit. Tak bisa kumenari bersama rintik-rintik dan iramanya. Saat itu pula, langit bermuram durjana. Kilat menyambar. Guntur keras membahana. Setelah hujan reda, bias warna senyum langit memancar indah. Mejikuhibiniu. Namun saat itu aku justru menitikkan rintik-rintik hujan.

“Geluduk jahat!” aku mengerang keras mendengar dari Wak Cipto kalau abah tersambar petir. Semuanya berjalan cepat. Sebelum aku mengerti betul, apa itu perpisahan.

Setelah kepergian bapak, ibu selalu tampak mencoba untuk tegar. Ibu tak pernah menangis di depanku. Tapi aku tahu di sepertiga malam shalatnya. Ia menghadap kiblat, bersujud dengan linangan air mata. Betapa besar amanah yang harus ia emban. Aku dan calon adikku. Hingga ia lahir ke dunia ini. meneriakkan tangisannya yang menjadi kebahagiaan kami semua. Ibu tersenyum, namun tak lama kemudian matanya menutup. Nafasnya terhenti.

Beruntung aku masih punya keluarga. Paman Jaka dan Bibi Mutmainah menemani saat persalinan ibu. Meskipun saat itu paman ada kontrak besar dengan rekan bisnisnya, meskipun bibi akan dilantik menjadi bupati. Mereka menyempatkan diri mendampingi ibu yang berjuang seorang diri. Hanya mereka keluarga yang ada. Menjadi orang tua baru bagi kami.

***

“In syaa Allah. Iyan akan bertemu dengan abah dan ibu. Kita harus memohon sama Allah ya....” Aku tersenyum lega. “Dan jangan pernah berharap menjadi kaktus. Oke!”

***

“Abah, Bunga ingin jadi tanaman itu.”

“Kenapa?”

“Bunga sebel karena Bunga jadi anak cengeng.”

“Sayang .. menangis itu wajar. Tapi tidak boleh berlebihan. Memangnya menurut Bunga tanaman itu pernah kesakitan atau tidak?”

“Kayaknya ...” aku melanjutkan dengan gelengan.

“Bener? Abah mau cerita nih. Sebenarnya tanaman itu pernah merasakan sakit. Tanaman pun bermain. Ia bermain bersama cahaya. Tumbuh dan berkembang. Ketika daunnya dicabut, daun itu akan mengeluarkan gas yang dinamakan etilen dari sini,” abah menunjukkan permukaan daun di telapak tangannya, “ini cara daun untuk menangis.”

“Yaudah. Bunga mau jadi kaktus aja. Kan kaktus ngga punya daun.”

Abah tertawa geli, “Sayang, meskipun kaktus tidak punya daun, tetapi dia punya anggota tubuh yang bisa merasakan sakit. Seperti duri atau batangnya.”

***

“Begitulah, abahmu selalu menghibur saat Kakak murung atau meminta hal-hal yang aneh.” Aku tersenyum menyelesaikan cerita tentang daun yang pernah disampaikan abah.

“Iyan bener-bener kangen sama abah dan juga ibu, Kak.” Iyan memelukku.

***

Kutangkap pemandangan tak biasa dari jendela kamar Iyan. Seorang anak tembem  sedang menyendiri di depan teras rumahnya.  Bersebrangan dengan rumahku. Iyan yang sedari tadi sibuk dengan PRnya tiba-tiba beranjak dari tempat duduk, sepertinya ia mencoba mengurai gulungan cerita untuk sahabatnya.

“Rendi, kamu kenapa?” Iyan duduk di samping teman sekelasnya.

Aku tak mengikuti langkah adikku. Hanya terdiam melihat keduanya  yang akan memulai kisah.

“Kakakku bilang, aku adik yang nakal. Nggak peka. Saat nenek meninggal aku malah beli es krim banyak banget. Bahkan sekarang saat Mamah di rumah sakit aku justru tidak mau jenguk Mamah, malah menghabiskan makanan di kulkas.” Rendi tetap menunduk. Bibirnya melengkung kecut.

“Hehehe....”

“Kamu kok malah ketawa?”

“Rendi, kamu kan suka panggil aku cengeng. Kamu tahu itu cara aku melepaskan sakit. Nah, kalau kamu suka makan. Mungkin itu cara kamu saat sedih.”

“Hah? Mungkin juga, sih.” Rendi garuk-garuk mengiyakan. “Jadi cengengku bukan dengan air mata. Ah kamu, dasar cengeng!”

Dua anak itu pun tak terhalang kebencian lagi. Senyum dan canda mereka menghangatkan sisa-sisa hujan hari ini. Pelangi yang menyimpul, mejikuhibiniu. Silakan menyimpul, bersama mereka dan dunia. Rintikku kali ini karena aku bahagia.

***

Mengingat kalian adalah caraku melepas kesedihan. Abah dan ibu, pengemban amanah yang luar biasa. Bunga sayang Abah dan Ibu karena Allah.

Selesai. 

 



[1] Nama latin dari Turi

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...