Dia Bukan Teroris!

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Muhammad Wahyu Amiruddin

Tangan Ibu gemetaran ketika memberikan bungkusan ini padaku. Ibu mengirimi Kang Juned sebuah bungkusan yang berisi pepes ikan, makanan kesukaan Kang Juned. Sebelumnya Ibu pernah beberapa kali datang langsung menemui Kang Juned untuk memberikan makanan ini. Namun, di hari lebaran ini ibu seperti tak kuasa bertemu dengan Kang Juned. Muka Ibu pucat pasi. Seperti warna lusuh dinding ini yang dulunya putih bersih. Suaranya berat parau. Tak kutangkap dalam pandangan mataku wajah ibu yang dipenuhi asa. Di benak beliau ada firasat aneh.

Kang Juned, kakak  pertamaku ini paling suka pepes ikan. Unik rasanya, katanya. Dulu ketika kami masih sekolah: Aku kelas lima SD sedangkan Kang Juned kelas satu SMP. Sengaja kami bersepeda jauh ke waduk desa sebelah yang jaraknya kira-kira tiga puluh kilometer. Jangan dikira sepeda kami mirip sepeda zaman sekarang, yang harganya mahal itu. Sepeda kami hanya sepeda jengki tua berkarat sana-sini. Warisan Ayah. Remnya memakai sandal bekas,  yang terdapat di sela besi pengapit ban. Rantainya pun terdengar  krek-krek-krek seperti mau putus.

Di bagian depan terdapat lampu jalan yang sudah tak berfungsi lagi dan itu pun mau copot. Jalanan yang kami tempuh kebanyakan menikung dan menanjak. Juga melewati jalan setapak yang bergelombang. Anginnya berhembus panas. Kerongkongan kami garing hanya terkadang sedikit demi sedikit menelan lelehan air peluh. Asin bercampur sepah rasanya. Dan tahukah kalian, kami ke sana hanya sekadar memancing ikan untuk  dibuat pepes.

Menurutku Kang Juned termasuk kakak yang luar biasa. Bagaimana tidak, di usianya yang masih sangat muda ia membiayai sendiri sekolahnya. Bahkan ketiga adiknya–termasuk aku–dibiayainya hingga tamat Pendidikan. Ia membagi waktunya untuk bekerja dan sekolah. Pagi ia belajar di sekolah, siangnya ia lanjutkan untuk bekerja menjadi pelayan di warung Bu Sumi. Kemudian malam harinya ia ngaji Quran dan setoran hafalan alfiyah. Hal itu berlangsung hingga ia lulus sekolah. Setelah lulus Kang Juned berkehendak melanjutkan mondok ke Jawa Timur. Di sana Kang Juned juga bekerja sebagai pemetik kelapa di kebun milik warga sekitar pesantren. Upah kerjanya tiap bulan ia kirimkan sebagian untuk biaya sekolah kami. Itu pun lumayan.

Kang Juned mengirimkan surat pada kami (itu surat yang kelima sejak ia mondok). Ia terpilih sebagai Ro’isul Ma’had atau lurah pondok. Ia kini jadi tangan kanan kiainya. Mata Ibu berkaca-kaca, kilatan bola matanya seperti menggambarkan kebanggaan. Kadang aku merasa iri kepada Kang Juned atas kemandirian dan ketegarannya menghadapi hidup yang selalu tidak memberi kesempatan sejenak menggeliat. Sejak kepergian Ayah, hanya Kang Junedlah ayah bagiku, Tini dan Tantri. Semangat Kang Juned melindungi keluarga mengikis ingatannya pada Ayah yang tak akan pernah mau melihat kami lagi.

Pekat malam berselimut hitam. Warna wajah malam berkabung pada manusia yang lalai pada hakikat dirinya diciptakan. Malam adalah saat manusia diuji kesetiaannya. Itulah mengapa Tuhan menghendaki tahajud dilakukan malam hari. Mungkin karena Tuhan ingin melihat bagaimana manusia dengan mudahnya menyepelekan hal yang tidak diwajibkan kepada mereka. Lalu mereka akan berpikir buat apa melakukan ibadah yang sunah di waktu yang berat.

Koleksi kitab fiqih Kang Juned terlihat menyembul dalam gelap. Seperti kotak  kubus yang berjejer. Lalu cahaya dari ruas ventilasi menerobos, menerangi sebuah piagam usang yang bertulis ”Ahmad Junaidi”. Sekelebat bayangan menyibak keterkejutanku di saat aku terjaga. Kuikuti. Aku lega. Dalam diam aku tahu bayangan tersebut ternyata Ibu. Tapi yang membuatku terenyuh, Ibu merintih dalam sujudnya. Aku hanya bisa terpaku melihat beliau. Aku paham arti tangis Ibu dalam shalatnya itu. Kupastikan beliau sangat rindu dengan putra sulungnya.

Dengungan sepi sesaat dibuyarkan suara jangkrik yang memadu dengan tetesan embun sehingga ada semacam irama alami. Langit tak kunjung memulai warnanya, padahal kokok ayam sudah terdengar mendahului. Entah aku mengawang-awang ataukah berpikir, sudah tiga bulan ini Kang Juned tak mengirimkan kabar. Padahal bulan-bulan sebelumnya ia rutin berkirim surat. Kami menunggu-nunggu cerita apalagi yang akan dikisahkan Kang Juned dalam suratnya. Namun tak kunjung tiba barang sebaris kalimat saja darinya.

Tiap pagi Ibu akan menyiapkan diri berdiam di depan pintu. Mengharapkan seseorang datang, selain Kang Juned, tukang pos tentunya. Aku kasihan sebab sering dugaan Ibu meleset. Mimik muka Ibu menggambarkan sebuah pikiran. Tatapannya meneropong jauh. Menanti dan memikirkan. Tapi yang jelas bukan memikirkan utang kepada Haji Muhsin yang belum lunas. Bukan pula memikirkan apa yang harus dimakan esok sebab beras jatah dari RT masih ada beberapa takaran lagi.

Ibu gelisah menanti kabar dari Kang Juned. Ibu tak semangat lagi menjalani hari-harinya. Beliau pun tak nafsu makan. Suhu tubuh Ibu mulai tinggi. Beliau sedikit sekali bertutur kata kepada kami. Malas bercakap-cakap. Tetapi bagai oase di tengah panas keringnya gurun, kegelisahan ibu terobati setelah Bang Kadir, tukang pos kecamatan, mengantarkan amplop putih kepada kami. Ibu, Tini, Tantri, dan aku tak sabar mengetahui isi surat tersebut. Aku pun menduga-duga. Dan tahukah kalian perubahan air muka Ibu yang begitu cepat. Cerah seketika. Meski di amplopnya tak tertulis nama pengirimnya. Tak terbayangkan betapa senangnya Ibu saat aku baca dan menyebutkan nama Ahmad Junaidilah pengirimnya. Suasananya kini menjadi haru biru. Akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga.

Kepada

Ibu, Amin, Tini, dan Tantri

di rumah

Assalamualaikum wr.wb,

Saat surat ini telah sampai, semoga semuanya tetap diberi kesehatan oleh Allah SWT. Sebelumnya ananda mohon maaf baru menyempatkan diri mengirim surat. Bagaimana keadaan Ibu dan adik-adik semua di rumah? Alhamdulillah ananda sampai saat ini masih diberi kesempatan dan nikmat dari Allah untuk menghirup udara yang luar biasa nikmatnya ini. Ananda sehat walafiat Insya Allah tanpa kekurangan suatu apapun.

Tak panjang lebar ananda menulis surat ini. Ananda hanya memohon doa, khusunya pada ibu sebab minggu ini ananda akan berangkat ke Malaysia. Alhamdulillah pula ananda terpilih sebagai sekretaris jamiyyah pusat di negeri tersebut, mewakili pesantren. Kepada Amin, tolong jaga Ibu, Tini dan Tantri. Dan untuk kedua adik perempuanku yang manis, tolong jangan nakal ya? Patuhi perintah ibu dan Kang Amin, jadilah anak yang berguna. Belajarlah dengan tekun supaya tidak menjadi manusia yang sia-sia hidupnya.

Ibu, doakanlah ananda selalu diberi kekuatan untuk berjuang di jalan Allah, agar dapat memerangi kebathilan di muka bumi ini.

Wassalamualaikum wr.wb.

                                Dari Ananda

                                Ahmad Junaidi

       
Setelah kubacakan surat itu sepi malah menghinggapi kami. Tanpa sadar air mata Ibu mengalir di guratan kulit wajahnya yang telah mengeriput. Tantri menyekanya. Kedatangan surat itu mungkin menjadi yang terakhir sampai pada kami. Setelah itu Kang Juned tak lagi mengirim surat. Bahkan adik-adikku merasa Kang Juned telah lalai pada kami.

”Mungkin Kang Juned lagi sibuk-sibuknya, jadi belum sempat mengirim kabar,” kubilang pada mereka.

Untuk kesekian kalinya kabar yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Tapi kabar ini lain. Kang Juned ditangkap polisi! Aku mematung tak percaya. Aku seperti tertimpa ketidakmungkinan. Gugusan-gugusan langit seolah jatuh ke bumi menimpaku.

Ibu sempat pingsan mengetahui Kang Juned masuk ke dalam bui. Kang Juned yang selama ini kami kenal sebagai seorang santri, pandai ilmu agama, kakak yang menjadi ayah bagi kami, sepertinya tak mungkin ia melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Mungkin polisi-polisi itu salah menangkap orang dalam pikirku. Bagaimana mungkin seorang yang alim seperti kakakku bisa mereka tangkap. Sudah semakin bobrokkah akhlak penegak hukum di negeri ini sehingga mereka tak mampu membedakan penjahat dan orang baik. Aku terus bergumam.

Katanya Kang Juned ditangkap atas tuduhan sebagai anggota organisasi terlarang. Peristiwa pengeboman warga asing di tempat wisata beberapa waktu yang lalu, Kang Juned dianggap sebagai otak perencananya. Aku menggerutu tak karuan. Tak jelas mengutuki siapa.

Memastikan kebenaran berita tersebut, aku sendiri yang datang ke tempat Kang Juned ditahan. Di sana, semula aku tak diperkenankan menengoknya. Namun dengan berbagai upaya akhirnya aku bisa menjumpainya. Kang Juned pun tampak agak kurus dengan jambang yang melintang. Mukanya kusut. Bicaranya tak banyak. Hanya menyuruhku menjaga ibu dan adik-adikku–seperti dalam suratnya–itu saja, tak ada yang lain.

Esoknya kami mendapati surat pemberitahuan bahwa kakakku akan dieksekusi mati. Kami tak berdaya mendengar berita tersebut. Ibu menangis sejadi-jadinya. Air mata Ibu tak henti-hentinya mengalir meski mencoba setabah mungkin untuk menerima semuanya. Tini dan Tantri mencoba menenangkan Ibu tetapi mereka juga tak kuasa menahan tangis. Kakiku seperti tak kuat menopang tubuh. Aku tertunduk tanpa daya. Pandanganku kosong tak percaya. Sudah tak terbayangkan lagi wajah Kang Juned dibenakku. Hari ini adalah hari ke-27 puasa Ramadhan. Hari ini pula kami merasa seperti kehilangan ayah untuk yang kedua kalinya. Remuk berkeping-keping rasanya hati kami. Sakit sekali!

Setelah kedatangan berita itu kami rutin menjenguk Kang Juned. Walaupun ada kenyataan pahit, dalam hitungan hari saja kami akan melepas kepergian Kang Juned untuk selamanya. Malam takbiran kami tak ke mana-mana. Tak ada satu pun saudara yang berkunjung. Kami pun tak berpikiran bersilaturahim. Ibu masih terbaring di ranjangnya.  Tak ada keceriaan tersisa, tak ada baju baru, tak ada pula ketupat atau opor ayam layaknya lebaran tahun-tahun biasanya.

Di tengah gemuruh takbir berkumandang di langit aku duduk di beranda. Menatapi pohon cemara lapuk, yang entah mulai sejak kapan berdiri di depan rumah kami; barangkali ia menggeleng-geleng bertahlil; ah, siapa yang peduli? Tak ada yang peduli apakah sebatang pohon mengangguk, menggeleng, atau bertahlil.

Esoknya, jamaah Idul Fitri telah merapat di hamparan luasnya lapangan. Saat akan shalat Idul Fitri Kang Juned menyiapkan dirinya dengan mengenakan pakaian serba putih. Jubah, sarung, dan kopiah berwarna putih bersih. Lalu sorban yang berbau wangi melati ia lilitkan di leher. Jambangnya telah subur melintas di sisi kulitnya yang kecokelatan agak kegelap-gelapan. Wajahnya tampak berseri nan tampan. Parasnya tak menunjukkan seorang narapidana yang cemas-cemas menanti ajal yang selekat manusia dengan nama. Sedekat nafas dengan nadi. Ia seolah ingin mengatakan dalam diam bahwa inilah jalannya.

Pagi di hari fitri begitu cerah. Matahari bersinar hangat di kulit, mengikuti polah angin sekehendak maunya. Shaf makmum membentuk banjar-banjar seperti anyaman di pagi buta. Di sekeliling mereka ada yang menenteng senapan, berjaga. Kang Juned berada di tengah-tengah mereka. Di barisan kedua.

Imam shalat telah siap menuju pengimamannya. Kang Juned dan napi lainnya telah siap mengikuti imam. Suasananya telah beralih pada keadaan khusyuk.

“Allahu Akbar…”

Takbir pertama yang dikumandangkan imam diikuti makmumnya.

Bruk!!

Sesosok tubuh telah terbaring tak berdaya. Beberapa napi mencoba menolong, yang lainnya lagi panik menyaksikan yang terjadi. Suasana yang semula khusyuk berubah menjadi riuh bingung di antara para napi. Beberapa orang mencoba merasakan denyut nadi di tangan kiri sosok itu. Petugas lapas ada yang menelpon ambulan, tetapi entah berapa lama lagi bantuan tersebut datang.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Sosok tubuh yang terjatuh itu adalah Kang Juned. Denyut nadinya telah berhenti. Ia telah menghembuskan nafas yang terakhir dalam kisah hidupnya. Parasnya tersenyum, senyuman terakhir di akhir hayatnya di dunia. Memejamkan mata untuk selama-lamanya. Meninggalkan sebuah tanya di benak yang paling dalam.
                           
Semarang, September 2009






Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...