Dongeng Terlarang

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Udin menggigil. Andai saja ia tidak mendengar cerita bapak, pasti malam ini ia bisa tidur nyenyak dan bermimpi mengenakan seragam abu-abu baru yang wangi. Konon, soal IPA UN tadi sama semua dengan jawaban yang diterima Udin entah dari rimba mana.

Udin membungkus tubuh, berharap tidur lebih cepat. Dalam pikiran Udin, yang dibungkusnya adalah ingatan-ingatan pada cerita bapak. Namun, cerita bapak mematikan syaraf mengantuknya. Benar-benar mencekam. Cerita bapak menari-nari. Mengejek Udin.

“Ini konon-konon lama yang tak pernah ada dalam dongeng-dongeng manapun.” Bapak memulai ceritanya di beranda selepas isya. Udin melipat siku. Duduk dalam pose semanis mungkin yang dia bisa. Semakin serius Bapak bercerita, semakin manis Udin berpose.

“Bapak dari kakek Bapak yang menceritakannya, Din. Tentang dongeng yang terlarang!” suara Bapak menegang. Mata Udin membulat menuntut sambungan. Lupa pada rumus fisika yang menusuk-nusuk kepalanya sedari pagi tadi.

“Konon, ini dongeng paling rahasia, Din. Tak ada yang berani menceritakannya lagi.” Bapak menjeda kalimatnya. “Jika semua orang tahu dongeng ini, gegerlah bangku-bangku sekolah. Setiap siswa akan dicekam ketakutan!”

Udin menelan ludah. Pahit. Dongeng terlarang macam apa yang akan bapak ceritakan padanya. Udin bertanya tidak sabaran dalam hati sekaligus takut. Jari-jarinya mendadak dingin. Bapak menatap Udin dua detik demi melihat ekspresi wajah Udin yang aneh, percampuran antusias dan takut.

“Ceritakan pada Udin, Pak!” desak Udin tidak sabaran sambil menggeser posisi duduknya. Tentu saja, Udin tahu. Sesuatu yang terlarang, selalu mengundang rasa ingin tahu yang lebih ganas.

Mata Bapak menerawang, kemudian, “Berjanjilah, Nak. Dongeng terlarang ini, ceritakanlah hanya pada yang kau percayai. Karena ini bukan dongeng biasa. Dunia bisa jadi geger karenanya!” kali ini Bapak menatap Udin tajam. Seolah apa yang akan diceritakannya adalah rahasia paling top milik presiden Amerika.

Udin mengangguk. Tidak peduli apa yang Bapak bilang, kepalanya sudah di-set dalam mode otomatis mengangguk.

Bapak merapikan kopiahnya yang miring, menatap Udin lamat-lamat. “Jauh sebelum kau ada, dongeng ini dimulai!”

Tiba-tiba, Udin merasa berada dalam kulkas raksasa.

* * * * *

“Ada pemuda seumuranmu dulu. Wajahnya serupa artis korea zaman ini. Bila kau sebut nama orangtuanya, mustahil kau mendapatkan gelengan. Ia dari keluarga terpandang. Tak berlebihan jika kau sandingkan dengan tokoh terkenal zaman itu. Nilai sekolahnya sempurna. Ia pemuda terbaik yang pernah dikenal orang kala itu. Hidupnya mulus serupa garis linear. Pasaran para pemuda jatuh drastis jika disandingkan dengan pemuda itu. Telak.

 “Tapi sayang, Nak. Sayang sungguh sayang. Dua puluh tahun kemudian, semuanya berubah. Siapa yang tahu masa depan. Pemuda itu telah membunuh manusia!” Bapak memberikan spasi pada ceritanya. Seolah merasakan keterkejutan pada ceritanya sendiri. Mata Udin membelalak tak menyangka cerita akan berpilin sedemikian rupa.

 “Kenapa?” pertanyaan Udin tercekat ditenggorokan. Tersangkut begitu saja.

“Deskripsi yang kau dengar tentang pemuda itu ada yang salah, Nak. Benar, ia mungkin dari keluarga terpandang dengan wajah bak purnama tanggal 15. Tapi, Nak. Kabar buruknya, nilai-nilai sempurna itu hanyalah dari hasil mencontek. Contekan yang disembunyikannya dalam lipatan kerah. Rapi dan bersih.”

Ulu hati Udin serasa disodok tongkat bilyard. Bapak tak mlihat ekspresi Udin dan malah sibuk melanjutkan ceritanya.

“Dua puluh tahun kemudian, pemuda itu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa. Tegap dengan garis wajah yang sempurna dan istri yang jelita serta anak-anak lucu dan menggemaskan. Seorang pejabat dengan posisi tinggi. Seolah-olah seluruh takdir baik hanya dituliskan atas namanya.

“Dan disinilah semuanya bermula, Nak. Suatu hari, entah bagaimana, saat asyik bercengkerama dengan kamera para wartawan di acara donor darah dengan teman-temannya, tepat sebelum laki-laki itu sempat mendonorkan darahnya, seseorang datang menghampiri tergopoh-gopoh dan tersengal. Semua kepala tertoleh. Termasuk laki-laki itu dan teman-temannya.

‘Maaf bapak-bapak, apakah disini ada yang bergolongan darah A? Seseorang benar-benar membutuhkannya!’

Si laki-laki itu berpikir cepat. Golongan darahnya B, tapi ini benar-benar kesempatan emas, pikir laki-laki itu. Kamera wartawan akan membidiknya. Dan tentu pamornya akan terangkat di pemilihan tahun depan.

‘Darah saya A!’ jawab laki-laki itu sedikit jumawa, melirik kamera. Orang yang tadi tersengal, mendesah lega.

“Sedikit kebohongan tidak akan apa-apa bukan? Lagipula hanya satu huruf. A dan B tidak jauh beda. Selama darah sama-sama merah, bukankah tidak ada bedanya? Bathin laki-laki itu sambil berjalan mengikuti langkah orang yang tadi tersengal. Ia akan memberikan darahnya. Namanya akan semakin harum. Melebihi bunga kasturi.

“Alhasil, mengalirlah darah B laki-laki itu dalam tubuh si pasien yang berdarah A. Benar saja, laki-laki kita masuk dalam koran-koran ternama daerah, sedang tersenyum menghadap kamera. Melambai. Namun, selang beberapa saat foto itu wara-wiri dan jadi perbincangan, meninggallah pasien A itu. Penggumpalan darah, ungkap dokter.”

Udin menatap bapak tanpa berkedip sambil menganga. Membayangkan kejadian selanjutnya. “Kemudian apa yang terjadi, Pak!” Udin membasahi bibirnya yang mendadak kering.

Bapak menggeleng. “Tak perlu lama, laki-laki B itu ditangkap atas tuduhan pembunuhan. Hidupnya cerai-berai. Kariernya pecah. Istri dan anak-anaknya pergi. Bayangkan hanya karena mencontek saat ulangan IPA, ia telah membunuh, Nak!”

“Apakah seseram itu akibat mencontek, Pak?” keringat dingin mengalir dari dahi Udin yang jenong.

“Mencontek itu curang, Nak! Celaka! Dan hadiah bagi sebuah kecurangan adalah kecurangan yang lain. Siapa yang akan tahu, hidup akan balik mencurangimu!”

Udin terdiam. Demikianlah percakapan dengan bapak ditutup saat malam merambat tua. Dan sampai kokok ayam pertama terdengar, Udin masih menatap langit-langit kamar yang dihiasi sarang laba-laba. Dongeng terlarang bapak menghantui Udin. Menimbulkan satu pertanyaan tanpa jawaban yang lelah dipikirkannya sepanjang malam. Bahkan ini lebih sulit dari sekadar soal Fisika UN IPA tadi pagi tentang perbesaran bayangan yang dihasilkan lensa cekung.

Aku harus mencari jawabannya,” Udin membathin dalam kegusaran.

Ia keluar kamar dalam wujud zombie, mendekati bapak yang baru saja selesai shalat subuh. Bapak baru saja mengusap wajah dengan telapak tangan ketika, dengan takut-takut Udin beringsut, menarik sarung kotak-kotak bapak.

“Pak!” panggil Udin lirih, nyaris dalam mode infrasonik.

Bapak menoleh demi melihat wajah Udin yang pucat serupa kertas buram di atas meja. “Kenapa, Din?”

“Eeee....” Udin ragu. Ia takut jawaban bapak sama dengan apa yang dipikirkannya.

“Sudah bilang saja!” Bapak melepas kopiah dan meletakkannya di atas sajadah. Lalu menumbukkan pandangan pada Udin yang sedang meremas jari-jemarinya dengan gemas.

Udin mengambil napas, berusaha memberanikan diri. “Apa nanti di masa depan, Udin akan membunuh orang, Pak?” Udin menunduk. Dan semakin menempelkan kepalanya pada dada.

Bapak terdiam. Sedikit keget dengan pertanyaan anak bungsunya. Bapak tersenyum dan menggosok kepala Udin. “Setiap orang berhak berubah ke arah yang lebih baik, Nak! Tidak ada kata terlambat selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Berjanjilah untuk tidak menyontek lagi!” senyum bapak takzim.

Udin melihat ke mata tua milik bapak. Tentu. Tentu, ia akan berjanji untuk itu. Ia tidak akan membunuh orang. Apalagi hanya karena mencontek. Demi bapak. Udin menganggukkan kepala sekuat yang ia mampu. Ia lebih baik disunat dua kali daripada harus mencontek lagi.

Foto ilustrasi: google           

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...