Earth Virtual

Fashion-Styles-for-Girls-Online


Penulis: Sara Fiza

  Kapal Antariksa, Angkasa. Unit Indonesia, Tahun 3250

Kedua bola mataku menancap tajam tertuju pada layar besar di hadapanku. Berdecak kagum terus menerus. Sesekali kupandangi wajah Ron, matanya berbinar-binar. Bibirnya tersenyum lebar. Benar-benar terbius dengan keindahan yang tersaji di depan mata. Kalian ingin tahu apa yang kami lihat? Sebuah tayangan yang benar-benar sudah membius kami. Bukan! Bukan kisah romantis atau adegan action yang fantastis. Kami sedang menonton tayangan tentang BUMI. Ya, planet kami, setidaknya dulu. Planet nenek moyang kami, kata para guru disini.

            Lekat-lekat kupandangi layar itu, daratan yang menjulang tinggi—Guru-guru kami bilang itu Gunung— berisi bermacam-macam pepohonan dan didalamnya juga banyak makhluk-makhluk yang disebut binatang yang berlari-lari di dalamnya, ada yang bertengger di dahannya, ada yang bersembunyi di balik semaknya, dan ada juga yang terbang mengitarinya.

            Dan yang paling aku kagum lagi. Di dalam gunung itu kadang kulihat air yang jatuh indah dan menghempas batu-batu di bawahnya. kemudian air itu mengalir, patuh mengikuti alurnya. selain itu juga ada danau, menggenang tenang, meriak riang.

            “Planet itu sangat indah ya, Mawar?”

            “Planet itu punya nama, Ron. Namanya Bumi. Planet itu planet kita”

            “Huh! Sejak kapan kita memiliki planet indah itu. Bumi bukan milik kita”

Aku terdiam. Berpaling dari Ron dan menatap kembali layar di hadapanku. Tahukah kalian? Bukannya aku ingin mengaku-ngaku planet indah itu sebagai planet kami. Tapi, jika memang itu dulu milik nenek moyang kami, bukankah seharusnya kini kami menjadi pewarisnya? Apakah aku salah?

*****

            Mawar. Namaku indah bukan? kata mama, namaku diambil dari nama bunga yang dulu tumbuh di Bumi. Warnanya bermacam-macam, ada merah, putih, kuning, merah muda, dan lain lagi. Nenek moyang dahulu juga berhasil menemukan warna baru pada mawar yang diperoleh dari hasil persilangan. Entahlah apa istilah itu, aku masih belum paham. Yang jelas aku sangat menyukai mawar meski tangkainya berduri. Tapi, kata mama, itu adalah cara mereka melindungi diri.

Mama pasti sangat menyukai pelajaran Hayati, pelajaran yang akan di pelajari jika sudah masuk Area 2. Aku kini masih Area 1. Kalau boleh aku memberitahu, kini kami tinggal dalam Angkasa. Sebuah kapal antariksa. Jumlahnya tidak hanya satu, tapi banyak. Dan setiap Angkasa memiliki nama. Nama kapal yang kutempati adalah Indonesia. Sebuah nama negeri yang dulu ada di bumi. Guru-guru bilang Indonesia adalah negeri terindah. Ya, aku setuju, negeri itu negeri terindah. Berbeda dengan kapal ini. Indah darimana?! Kami hanya terkungkung dalam kapal besi dan dihiasi oleh layar imajinasi.

Sistem pendidikan dalam Angkasa terbagi menjadi 7 area, area 0 sampai 7. aku masih dalam Area 1, tingkat mendasar untuk anak-anak berumur 8 sampai 12 tahun, aku sendiri berumur 8 tahun, jadi disnilah aku penghuni baru Area 1, area pengenalan Bumi dan informasi dasar pengetahuan.

            “Hey! Sudah cukup! Segera kembali ke ruanganmu!” suara bass berat membuyarkanku. Aku menoleh sebentar, mengacuhkan suara berat itu dan kembali menatap gambar tanaman yang berada di layar yang sedari tadi aku pandang, apalagi kalau bukan gambar taman mawar.

            “Hey! Sudah cepat pergi! Atau..” katanya lagi

            “Atau apa?!“ mataku kini melotot tajam pada penjaga bertubuh gempal itu.

            “Kau tak akan pernah diperbolehkan masuk ke Earth Virtual” katanya lagi dengan sinis, “Itu yang kau mau, gadis kecil?!”

            Aku tersentak, “Ja.. jangan! Baiklah a.. aku pergi sekarang, maafkan aku”

*****

            “Hai war, Earth virtual itu baru akan kita rasakan kalau sudah area 3 tahu?! Saat kita sudah dibekali dengan keterampilan kebumian” kata Ron sambil terus memerhatikan deretan bidak-bidak catur virtual di hadapannya, permainan kesukaan kami “Kau tak perlu takut, jika penjaga itu menakut-nakutimu dengan tidak memperbolehkanmu masuk ke Earth Virtual!”

            Ron menggeser bidak kuda pada papan catur di hadapannya, kini giliran mataku yang melirik ke berbagai kemungkinan di atas papan itu. “Jadi, area 3 ya?

Ron mengangguk “Iya, jadi masih terlalu lama untuk kita”

“Kenapa harus menunggu sampai Area 3?”

“Ya iyalah! Kita harus belajar banyak tentang kebumian. Bagaimana kita bisa menjelajahi Bumi nantinya jika kita tidak tahu apa-apa?!”

“Tapi itu terlalu lama, aku sudah tak sabar untuk bisa melihat bumi secara nyata meski itu hanya virtual” kataku sambil memajukan pion

Earth Virtual, sebuah sistem Game virtual yang dirancang agar sang pengguna yang menggunakan teknologi ini bisa merasakan keadaan Bumi yang sebenarnya. Sebuah proyeksi virtual yang paling dikagumi oleh banyak penghuni kapal Antariksa, yang menjadi permainan yang paling diinginkan oleh setiap anak-anak. Sistem virtual yang bisa mengobati kerinduan akan keindahan bumi abad 21 kebawah, yang tak pernah bisa kami rasakan bahkan sejak kami dilahirkan.

“aku juga sudah tak sabar. kata kakakku yang sudah area 4, di dalam area 3, saat kita mulai Earth Virtual maka kita benar-benar bisa merasakan seperti apa tinggal di bumi, kita bisa merasakan bagaimana berenang di laut. Mengendarai hewan-hewan dari mulai kuda sampai gajah, kita bisa memanjat tebing, menikmati air terjun, atau berlari di padang rumput”

Mataku membelalak “Benarkah itu Ron?”

“Tentu saja!”Ron kini menatap kembali bidak-bidak caturnya.

“Tapi, akan sedikit kecewa. Ketika, Earth Virtual itu berakhir” suara lembut tiba-tiba membuat kami menoleh.

“Kakak!” kata Ron, ia tersenyum dengan memamerkan deretan gigi putihnya.

“Kenapa kecewa, kak?” kataku polos, “kita bisa merasakan tinggal di bumi kan?”

Kak Ren menghela napasnya “Karena, saat kalian masuk dan kemudian kalian menikmati indahnya bumi dan tiba-tiba waktu habis, semua terasa gelap, dan saat itu kau akan sadar bahwa sebenarnya tidak ada bumi sama sekali, EarthVirtual hanyalah simulasi seolah kalian berada disana, tapi sebenarnya, keindahan itu hanyalah ilusi. Kenyataanya, kita hanya tinggal dalam besi ini”

Pandangan mata Kak Ren menatap kosong

“Tapi, walau begitu. Aku tetap mencintai Bumi, aku yakin suatu saat kita akan kembali” kataku yakin

“Kakak pun mencintai bumi, tapi kakak begitu benci kepada sebagian nenek moyang kita, dan kakak tidak begitu yakin, apakah kita bisa kembali ke Bumi? Tapi kini para ilmuwan tengah berusaha untuk mengembalikan bumi”

“Kenapa?” Ron menatap bingung

“Kau akan mengerti, nanti. Yang jelas. Jika, suatu saat nanti kita kembali ke Bumi, kita benar-benar harus bekerja keras untuk terus membuat bumi seimbang. Ikuti leluhur kita yang mencintai bumi, bukan yang merusak bumi” Kak Ren tersenyum, menggerakan lengannya menggeser bidak Ratu hitam milik Ron, menyudutkan raja ku yang sudah terkepung “Checkmate!

Kak Ren kemudian berlalu, meninggalkan kami yang terbengong-bengong, aku melotot. senyum Ron mengembang, “Aku menang! haha”

            Mataku menatap bingung, bukan hanya karena aku kalah telak saja, tapi karena semua perkataan Kak Ren benar-benar membingungkanku.

****

Angkasa, tahun 3258

Hari ini tiba! Hari yang telah aku tunggu-tunggu sekian lama, yang dulu selalu membuatku bertanya-tanya. Apalagi kalau bukan Earth Virtual!.

Jantungku bergerak sangat cepat. “Ini akan sangat hebat bukan?” aku melirik Ron

“Pasti!” Ron mengacungkan jempolnya. “Tapi, kupikir ini akan sama saja dengan game virtual yang sering kita mainkan. Seperti pertempuran antariksa, atau mengejar alien. Hanya saja latar nya Bumi. Aku bertanya-tanya, apakah kita akan menemukan musuh-musuh seperti hal nya game itu?”

“Hewan buas, aku yakin pasti banyak. Tapi tidak mungkin melukai, ini semua hanya virtual kan?”kataku sambil terus berjalan menelusuri lorong menuju Earth Virtual. “Bumi pasti menyenangkan”

Selain tak sabar untuk merasakan bumi, aku juga penasaran. Kenapa sekarang, para manusia tak lagi tinggal di bumi, apa yang terjadi di Bumi sehingga tak lagi bisa kami tinggali?

Ron dan aku akhirnya sampai di Area 3, pintu gerbang besar ada di hadapan kami, tulisan hologram “Earth Virtual melayang-layang di atas kepala kami, meliuk-liuk. Bola biru planet bumi mengitari ruangan itu. Semua orang seusia kami berdecak kagum.

Semua berbaris mengantri dan perlahan-lahan memasuki gerbang besar yang terbuka secara perlahan. Kami semua masuk dengan hati tak karuan, inilah yang sudah lama kami tunggu. Semua gelap.

“Selamat Datang, penghuni Angkasa”

Suara itu memasuki telinga kami, menyambut kami, dan tiba-tiba semua terang. Dinding-dinding besi di sekitar kami memunculkan layar-layar yang menampilkan indahnya alam di bumi. Dari kutub, gurun, lautan, hingga pegunungan. Aku memandang ke atas, tampilan proyeksi awan mengarak indah, lengkap dengan burung-burung melayang.

Dari atas awan itu kemudian muncul tempat duduk yang melayang-layang turun dan kini berada di hadapan kami. Kami masih terpaku, bingung. Suara Robotic itu kembali membahana bergema “Selamat Menikmati, Silahkan pilih tempat duduk yang kalian suka dan duduklah dengan nyaman”

Aku melangkah cepat, tak sabar. Aku segera menduduki tempat duduk elektronik di depanku itu, dan secara otomatis, kaca penutup menutupi tempat dudukku, aku memakai kacamata virtual yang ada di hadapanku.

“Kalian akan diberi Gelang pengatur, kalian bisa mengatur pemandangan apa yang akan kalian nikmati. Silahkan pilih menu sesuka kalian. mari kita mulai” kata suara itu lagi

Semua kembali Gelap, dan kemudian terang. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Dan yang kulihat kini, aku berada di samping danau biru. Ini seperti kenyataan, aku benar-benar ada di bumi.

            Di depanku, bisa kulihat danau biru indah yang tenang. Di ujungnya kulihat gunung menjulang. Ah! Bahkan ada angsa yang berenang disana! Kakiku masih terlalu kaku untuk bisa berlari, aku masih kaget dan terpesona. Kuputar badanku, di belakangku deretan pohon berjajar rapi, hijau dan terlihat indah. Hembusan angin bisa kurasakan, bahkan saat kusentuh air danau pun, aku bisa merasakan dinginnya. Ini benar-benar hebat!

            Butuh waktu lama bagiku, hanya untuk sekadar menikmati semua ini. Setelah puas, aku berlari-lari kegirangan, seperti anak kecil yang dibelikan mainan oleh orangtuanya. Aku berguling-guling di padang rumput yang masih basah oleh embun. Kukejar kawanan burung yang sedang mematuk-matuk tanah, dan bahagia saat burung-burung itu menghambur terbang. Aku merasa begitu hidup!

            Kulihat gelang di tangan kananku, kuganti dengan “Laut” dan semua berubah menjadi pesisir pantai yang indah dan biru. Ombak-ombak berkejaran dan menciumi pasir di Pantai. Dan itu Ron! Ia sedang menuju ke tengah laut!

            Benar juga, di virtual ini kita bahkan bisa bertemu dengan semua orang yang terlibat masuk ke dalamnya. Mungkin yang saat ini memilih laut sebagai target adalah aku dan Ron.

            “Ron! Mau apa kau?” kataku berteriak, berusaha mengalahkan gemuruh ombak yang terus menderu

            “Berenang! Kau pikir untuk apa kita ke laut?! Ayo kita menyelam dan menikmati keindahan dasar laut!”

            “Ah, kau benar! Tunggu!” aku berlari mengejar Ron, bisa kurasakan air laut yang menciumi kulitku. Dan aku segera menenggelamkan diri kedalamnya. Tak sabar melihat pesona dalam keindahan laut.

            Aku kembali terkagum-kagum, ini, ini begitu indah. Ikan-ikan beraneka ragam berenang kesana kemari, tumbuhan laut berwarna-warni tertangkap oleh retinaku, bisa kulihat ikan badut berwarna oranye dan putih menyembul dari balik anemon. Dan ikan-ikan kecil berkelompok berenang dengan indah.

            Aku lihat Ron memerhatikan gelangnya. “Ayo kita pilih tempat lain, War! Waktu kita tidak lama, sebentar lagi semua ini akan berakhir”

            Aku memerhatikan Ron, kemudian gelangku. Selanjutnya aku memilih banyak tempat. Dari mulai hutan lebat tempat aku bisa bergelantung kesana kemari, kemudian gurun pasir tak berujung, kutub yang dingin, tempat aku bisa melihat Gletser juga rumah Iglo. Sampai bisa kurasakan musim semi, tempat bermekarannya bunga-bunga cantik, tempat aku menemukan mawar, tanaman indah yang menjadi namaku.

            Kemudian, selanjutnya aku memilih kota abad 21. Dan aku kemudian dihempaskan di tengah-tengah gedung-gedung menjulang tinggi, kendaraan yang berlalu lalang, tak henti-henti.

            “Ini tidak terlalu buruk untuk ukuran sebuah kota” kataku dalam hati. Di kota ini tak kulihat peserta Earth Virtual. Mungkin belum ada yang memilih tempat ini. Padahal kota ini tak terlalu buruk, bumi dengan pemandangan, maupun tumpukan gedung ini masihlah indah.

            Aku berkeliling melihat-lihat, semua orang tampak senang, kulihat binar-binar bahagia. Tapi yang membuat aku kaget tak terkira, banyak anak-anak kumal belajar di bawah jembatan, dan lihatlah sungai yang mengaliri kota ini, hitam! Penuh sampah! Dan bau!

            Kemana sungai-sungai jernih yang selama ini ku lihat?! Kota ini tak lagi terlihat indah, saat kulihat orang-orang berdasi yang berlalu lalang tak peduli. saat kulihat kota ini benar-benar sesak oleh penganiayaan dan ketidakteraturan. Hingga aku menemui sekelompok pemuda-pemudi yang mengangkat spanduk hijau bertuliskan “Save Our Earth

            Kenapa? Kenapa bumi harus diselamatkan? Dari apa? Aku benar-benar bingung. Tapi, aku tahu kumpulan orang itu peduli. spanduk lain bertuliskan “Cintai bumi kita” yang membuatku merasa sedikit lega, penghuni bumi masih mencintai planetnya.

            “Kamu harus melihat semuanya, semua bagian dunia pada abad ini” suara Robotic tiba-tiba terdengar dan kota itu berganti dengan hutan, aku sedikit tenang bisa kembali melihat pepohonan, tapi.

            “Brukkk” pohon-pohon itu tumbang, kumpulan orang dengan alat mereka menebang hutan dan menjatuhkannya. Kini, asap hitam terlihat, dan api membara, membumbung hingga ke atas.

            “Hutan ini dibakar!”

            Napasku sesak, aku terbatuk-batuk. Apa yang manusia itu lakukan? Dan dalam sekejap, semua rata dengan tanah, hutanku tak lagi ada.

            Kemudian pemandangan mengerikan itu berubah menjadi laut. Aku kini berada dalam laut, berenang, dan aku cukup tenang. Tapi, kemudian

            “Duar!!” ledakan yang kudengar, ikan-ikan mati, begitu pula dengan terumbu karang yang hancur, luluh lantak!  Aku berenang menghindar, tapi yang kulihat kini laut tak lagi biru, ia hitam, berisi polusi dan sampah.

            “Ini lebih mengerikan!” dan kemudian semua berganti lagi menjadi berbagai pemandangan mengerikan, binatang-binatang yang ditembaki dan dikuliti, kutub-kutub yang mencair dan membanjiri, cuaca ekstrem terus berganti-ganti, hingga peperangan yang begitu banyak merampas jiwa-jiwa tak berdosa. Pemandangan kini, bukan lagi tampang orang-orang tersenyum bahagia, hanya tangisan dimana-mana, tubuh kering kerontang, suhu matahari semakin panas. Semua benar-benar mengerikan.

            “Apa yang dilakukan leluhurku hingga semua berakhir begini!!” aku berteriak “Kembalikan Bumi ku, kembalikan!!!!”

            Dan semua gelap.

 Ilusi ngeri itu, kini berganti menjadi dinding-dinding besi.

            “Apakah Bumi benar-benar telah mati?”

 

Sara Fiza, 3 Februari 2012

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...