Eksistensi

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Yanu Adriyanti


Apa hanya perasaanku saja? Rasanya, satu per satu teman-temanku menjauhiku. Tanpa aku pahami mengapa. Tapi jelas itulah yang selalu kurasakan. Awalnya semua begitu ceria dan menyenangkan. Banyak teman yang kumiliki dari yang cantik rupawan, berbadan kurus atau tambun, pandai, hingga biasa saja. Namun, pada akhirnya aku tetap akan memutuskan hubungan pertemananku dengan mereka, atau merekalah yang meninggalkanku. Sedari kecil baik di SD, SMP, SMA, dan sekarang di bangku kuliah juga? Kenapa? Aku juga tak tahu.

Maka bila mereka yang “tak eksis”, apakah itu berarti dia pecundang? Atau manusia gagal? Apa eksistensi bisa didapat bila kita memiliki banyak teman? Bila banyak orang yang tunduk pada kita, riuh orang mengenal kita? Maka itulah manusia yang eksis? Dan apakah eksistensi mampu menjadi tolok ukur dari seberapa bermanfaatnya seseorang bagi orang lain? Pernah kubaca dari buku, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat.

Apakah yang kurasakan dari mereka sama seperti apa yang akan aku rasakan dari TUHAN? Atau jangan-jangan sama seperti di mata mereka. Eksistensiku di mata TUHAN juga NOL?

Terlalu banyak pertanyaan di kepalaku, yang aku sendiri takut untuk tahu jawabannya.

Aku trauma. Dulu sekali. Orang  yang bukan ibuku, meski masih satu pertalian keuarga tapi aku anggap sebagai ibuku sendiri, mengatakan pernyataan yang sangat jujur dan sangat menyakitkan. Dia bilang aku tak lebih dari seorang anak yang tidak diinginkan, yang bisanya cuma menyusahkan saja. Begitu dia bilang berulang kali, setiap hari. Mungkin itu sepele namun akibatnya besar. Aku selalu minder dan paranoid, merasa semua orang mengatakan hal yang serupa di belakangku. Sekarang aku tinggal sendiri, kos di kota Jakarta.

***

“Sumbangannya, Mbak? Ini untuk panti asuhan yatim piatu,” seloroh seorang gadis seraya menyodorkan kertas begitu aku buka pintu kamar kosku. Entah apa isi tulisannya. Mungkin surat keterangan yang menyatakan bahwa panti asuhan tersebut nyata bukan fiktif.

Ah sudahlah aku tak peduli. Kenapa harus banyak berpikir sih kalau mau menolong. Kukeluarkan lembaran uang pecahan sepuluh ribu sebanyak empat lembar, lalu kuserahkan padanya. Gadis itu membuatkanku sebuah kuitansi, lalu tersenyum seraya mengucapkan terima kasih. Dia juga mendoakanku. Semoga sukses dan dapat jodoh, katanya.

Sebenarnya uang tadi adalah jatahku minggu ini. Kosong sudah dompetku, hanya tersisa uang-uang receh saja. Dihitung-hitung nominalnya enam ribu. Maka malam ini aku tidak makan, besok makan satu kali, hingga tiga hari kedepan. Cukup kok. Bisa makan mie instan atau beli lauk orek-orek dari warung nasi. Nasinya masak sendiri.

Mungkin aku tak eksis di mata teman-temanku. Mereka mencari Eksistensi ‘semu’  dengan hedonisme, contohnya facebook, fashion, dan sebagainya. Aku yang kolot dan konservatif pastinya membosankan bagi mereka. Aku tak tahu gosip-gosip terbaru, atau fashion terbaru. Meski masalah ini tak hanya aku yang merasakan, tapi aku enggan bila harus tak eksis di hadapan Tuhan-ku. Di sini beragam hal aku lakukan dengan harapan aku akan dapat eksis di mata Tuhan.

“Kakak… jangan melamun. Ayo, ajari aku selanjutnya bagaimana, Kak?” rengek Pipit mengaburkan lamunanku, sesaat setelah peminta sumbangan itu berlalu. Pipit adalah salah satu anak tetanggaku. Baru lima tahun. Dia seringkali datang ke rumahku, untuk sekadar minta diajari menggambar, membuat origami, atau minta dijajani. Siang tadi begitu sampai di kosan Pipit ternyata sudah menunggu.

Kepalaku terasa berat, pusing sekali, lebih sakit dari biasanya. Tapi kutahan-tahan saja. Aku terus mengajari gadis kecil ini tahap-tahap membuat origami kodok. Betapa sumringahnya ia  saat berhasil menyelesaikan origami buatannya. Pipit tersenyum lebar, gigi-giginya yang putih berderet rapi.  Betapa polosnya dia, lalu kucubit lembut pipinya.

***

Hari ini badanku tak enak, sementara aku ada janji dengan temanku, anak broadcasting. Sore ini aku harus menyerahkan naskah skenario buatanku padanya. Motor kupacu perlahan melintas jalan raya, matahari memerah. Pening di kepalaku kembali terasa,  lama-lama menjadi nyeri yang tak tertahankan. Seketika pandanganku mulai samar berkunang-kunang, kepalaku sakit sekali, tengkuk belakang kepalaku serasa ditimpuk oleh beban berat. Pandangan seolah berputar-putar. Semua gelap. Hanya lamat terdengar bunyi klakson menjerit.

***

Sebuah Bendera kuning terpancang di sela besi pagar, melambai tertiup angin malam, di sela-selanya lamat terdengar alunan ritih pilu, tangisan yang menyayat kalbu. Sebagian orang menggunakan pakaian hitam, sebagian lagi hanya mengunakan pakaian dengan warna gelap. Sisanya khusuk membaca surah Yasin.

Ibu menangis, baru kali ini aku melihat dia meratap begitu pilu. Biasanya dia  bersikap seolah tidak perduli padaku, tidak pernah menanyakan keadaanku, menanyakan perihal kuliahku, apa yang kulakukan, ada di mana, apakah aku sehat-sehat saja, dan sebagainya. Aku memang jarang sekali bertemu dengannya. Sejak kecil aku ikut ayahku dan tinggal dengan ibu tiriku, Mama Wanda. Ayah wafat saat aku berumur 10 tahun. Aku diurus oleh ibu tiriku. Sementara dia, meski ibu kandungku, tapi tak pernah datang mencariku sama sekali. Aku tak tahu kenapa.

Ada perasaan menang muncul di hatiku, menyaksikan dirinya menangis seperti itu. Aku jadi teringat kakak iparku  sempat menginterupsiku begini.

“Kenapa kau tak pernah mau menemui ibumu sendiri? Bagaimana bila Ibu sudah tidak berumur lagi besok? Umur siapa yang tahu!” Begitu yang dikatakannya. Pernyataan yang seharusnya dilontarkan kepada ibu kandungku. Dan sekali lagi aku merasa puas dan menang.

Aku terus masuk ke dalam ruangan, tak ada yang memperhatikanku, tak seorang pun. Aku lihat di pojok kiri teman-temanku, Mia, Rina, Flo, Geri. Lalu di samping mereka teman-teman laki-lakiku, Anggi, Darmansyah, Ian, Bagus, Achmed, dan banyak lagi. Ternyata banyak teman-teman kampusku. Mata mereka sembab, pipi mereka basah. Aku senang melihatnya, akhirnya aku menyaksikan ada orang yang meneteskan air matanya untukku. Kupikir mereka sudah melupakan aku dan membenciku. Aku senang sekali.

Sebuah mobil Toyota vios hitam, menepi di depan rumahku. Aku melayang perlahan melongok penasaran siapa yang datang. Seorang Laki-laki paroh baya turun, bersama seorang wanita cantik berambut panjang hitam di balik selendang hitam tipis. Mereka mengenakan pakaian hitam-hitam. Ibu tiriku menyambutnya.

Aku kenal laki-laki paroh baya itu. Aku ingat pernah berbicara dengannya sekali, untuk yang pertama dan terakhir, yaitu di UGD rumah sakit. Namun, yang wanita aku tak tahu. Wanita itu tampak memperkenalkan diri pada ibuku dan berbicara sesuatu, entah apa yang mereka bicarakan. Aku mendekat dan melayang tepat di samping mereka.

“Saya tak tahu harus mengatakan apa lagi. Beribu terima kasih tidak cukup, Bu,” ucap wanita itu seraya terus  menciumi tangan ibu tiriku. Kemudian dokter laki-laki itu menengahi.

“Sebelum meninggal, anak ibu mengamanatkan pada saya untuk membantunya mendonorkan organ tubuhnya. Eliana berpesan bila dia ternyata tak bisa bertahan lagi, maka dia akan ikhlaskan tubuhnya untuk didonorkan pada siapapun yang membutuhkannya. Kebetulan kakak dari Ibu Sukma ini sedang membutuhkan donor ginjal untuk adiknya,” begitu dokter itu dengan teratur menjelaskan.

Mendengar penjelasan dokter itu, meledaklah lagi tangisan. Kedua ibuku, baik ibu tiri ataupun ibu kandungku, menangis lebih keras daripada sebelumnya. Semua yang mendengar kembali menagis terharu, beberapa temanku memuji-mujiku. Mereka bilang mereka menyukaiku, karena aku orang yang lurus dan baik, juga tidak pelit dan jarang marah, meski sangat pendiam, sehingga sulit untuk ditebak jalan pikirannya. Begitu kata mereka.

Eliana Elfira W binti Wiratmo Agus. Lahir 19 desember 1987. Wafat 8 November 2009. Begitu yang tertulis di papan kayu nisanku. Ibu dan teman-temanku menabur bunga bermacam warna di atas makamku. Dan aku perhatikan jumlah orang yang melayat lebih banyak daripada kemarin malam. Semua teman kampusku datang, baik yang kukenal dekat dan maupun yang bertemu sesekali saja. Semuanya datang dan berdoa di atas makamku. Aku tersenyum bahagia. Mungkin beginilah eksistensiku di mata mereka?

Matahari semakin meninggi, iring-iringan rombongan pengantar jenazahku melangkah pulang. Aku tersenyum puas melihat banyak yang menangisi kepergianku. Akhirnya aku “eksis” juga, bisikku dalam hati. Sekarang aku tinggal menunggu eksistensiku di mata Tuhan. Apakah setelah ini aku akan tersenyum lebih lebar karena Tuhan yang memujiku? Atau sebaliknya? Aku tak tahu. Sebentar lagi malaikat Mungkar dan Nakir akan datang. Aku hanya bisa berdoa dalam perasaan harap-harap cemas.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...