FILOSOFI SUP

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Ade Mariyati

 

Sepintas tak ada yang istimewa dengan kedai kecil di tepi jalan itu. Kecuali mungkin yang agak unik adalah tulisan di papan namanya: ”Sup Nyonya Mar”. Kedai itu memang hanya menyediakan sup, kau bisa lihat dari daftar menu yang dipajang dekat pintu. Ada sup ayam jamur, sup krim jagung, sup asparagus,sup ayam jahe dan sederet aneka jenis sup lainnya.

Mungkin pula kau takkan terlalu tertarik untuk mampir, karena sup memang tidak sepopuler mie atau bakso, pun bila cuaca mendung kelabu mewarnai langit saat ini. Tapi percayalah padaku, kau takkan menyesal bila menyempatkan diri untuk masuk dan memesan satu. Bukan bermaksud promosi, cobalah dan kau akan mendapatkan lebih dari sekadar kelezatan rasa di lidahmu.

Aku sudah bekerja di sini sejak sepuluh tahun yang lalu. Selama itu, aku bukan hanya tahu melayani pesanan para tamu atau duduk di meja kasir, menunggu dengan bosan. Boleh percaya atau tidak, tapi dengan pengalaman yang tidak sebentar dan ketajaman pandangan mataku ini, mereka yang kerap mendatangi restoran ini bukan hanya ingin mengisi kekosongan perut. Bisa juga dikatakan aku telah menemukan sebuah teori tentang sup. Yaitu bahwa mereka yang sangat menggemarinya adalah orang-orang yang amat merindukan kehangatan.

Kebetulan sekali, lelaki tua itu datang lagi. Dia adalah salah satunya. Pak Amir baru saja menduduki kursi di sudut dekat jendela, tempat kesukaannya. Dia selalu datang sendirian. Memesan lagi semangkuk sup krim ayam. Memandang keluar jendela tapi sebenarnya dia tidak sedang melihat apapun. Dari matanya, sorot kerinduan tampak nyata. Dengan bibir yang kehitaman, ia menghisap sup krimnya perlahan, berharap kuah sup yang hangat turut pula merambati hatinya. lelaki tua itu kesepian.

Bisa saja kau bilang aku hanya mengada ngada, tapi penglihatanku memang telah teruji, nyaris tak pernah salah. Telah kubuktikan pula dari sapaan singkat basa basi yang kulontarkan saat melayani mereka. Seperti yang dikatakannya sambil tersenyum getir, anak-anak pak Amir memang berada di perantauan dan sudah lama tak pulang.

Dan tengoklah juga di sebelah sana itu, seorang gadis berparas oriental yang duduk di tengah restoran. Dalam seminggu ini, sudah tiga kali dia ke sini. Gadis itu tak pernah menunduk ke arah mangkuknya ketika menyuapkan sup ke dalam mulut, kepalanya selalu tegak lurus, pikirannya entah melayang ke alam mana. Perempuan itu memandang hampa. Padahal,telah lama waktu berselang sejak kekasihnya mati tepat di hari pernikahannya

Bukan hanya mereka, di lain hari, aku juga sering melihat sosok-sosok yang mendambakan kehangatan yang tak kunjung didapatkan.Tempo hari ada seorang istri yang diabaikan suaminya, lalu seorang lelaki yang terlalu lama membujang atau ada saja yang tengah jatuh cinta namun tak mampu mengungkapkannya. Tapi satu hal: Bila suatu saat, tapi jangan sampai, kau pun merasakan semacam apa yang mereka rasakan namun kemarahan turut pula menguasai hatimu, kupastikan kau sama sekali takkan berselera untuk mampir ke kedai kami! Sup Nyonya Mar sangat tidak cocok untuk itu. Aku rasa, sup memang tidak sesuai dengan hati yang dibakar amarah. Bukankah mereka yang menderita sakit dan lemah amat baik disuapi semangkuk sup yang hangat?

Tapi kali ini, aku benar-benar tidak bisa memahaminya. Sering kupandangi lekat-lekat, tetap saja tak kutemukan jawabannya. Aneh.

Sudah tiga kali berturut-turut setiap harinya mereka memesan sup di kedai ini. Pasangan itu masih sangat muda, mungkin usianya sekitar dua puluhan. Yang lelaki tak terlalu tampan, berkulit coklat gelap, garis wajahnya tegas namun memiliki tatapan mata yang lembut, terlebih saat ia menatap istrinya. Yang perempuan berwajah jelita, putih mulus kulitnya dan sepasang matanya yang besar berbinar indah. Terlihat benar betapa mereka saling mencintai.

Saat ini pasangan itu tengah duduk berhadap-hadapan, mereka memilih meja dekat pintu masuk, tepat di depan meja kasir yang kutunggui. Sesekali percakapan hangat terlempar, diiringi senyum malu-malu si istri ketika suaminya menggenggam jemari tangannya di atas meja, atau dengan lembut mengusap bibirnya yang tersisa seulas kuah krim di sana. Mereka tampak mesra, saling menghangatkan, tak ada yang kurang.

“Ha ha ha, salah besar teorimu itu. Orang kelihatan jelas banget pasangan bahagia!” Si Meri, teman kerjaku itu mengejek habis habisan, pasalnya aku pernah memberitahunya tentang teori supku itu. Mungkin aku memang tidak sepenuhnya benar tentang teori itu, tapi aku merasa yakin, memang ada sesuatu, tapi entah apa.

Meski samar, tapi aku bisa menangkapnya. Ekspresi itu, saat keduanya merunduk untuk menikmati sup di dalam mangkuk, sekilas ada raut kehampaan di wajah mereka, seperti keputus asaan atau mungkin juga kerinduan. Ah aku tidak tahu pasti, ini membuatku amat penasaran. Tapi yang jelas, mereka menyembunyikannya satu sama lain. Karena begitu keduanya mengangkat wajah dan saling memandang, senyuman langsung mengembang di sana, suasana hangat pun seketika tercipta, seakan segalanya terlihat sempurna.

Pasangan itu datang lagi dan lagi, selalu saat senja memayungi hari. Dan setiap kali, mataku selalu lekat mengamati, mencari-cari.

“Apa ada yang salah?” Tanya si lelaki tiba-tiba, sontak mengagetkanku, ”Saya lihat dari tadi mba memandangi kami terus.” Aku hanya diam terpaku, tak tahu harus menjawab apa. Bisa kupastikan wajahku sudah berubah warna sekarang.

“Ti, tidak ada apa-apa,kok. Saya cuma sedang mengagumi betapa serasinya anda berdua,” kataku gelagapan. Lalu aku malah tertawa konyol, sungguh memalukan. Lelaki itu hanya tersenyum.

Meri menegurku habis-habisan, padahal Nyonya Mar saja tidak. Beliau memang tak pernah marah, tapi justru karenanya, aku merasa harus tahu diri. Jangan sampai merugikan kedai, membuat pelanggan tak nyaman. Maka akhirnya kuputuskan untuk pindah saja ke bagian dapur. Ah, jangan-jangan yang kulihat itu memang cuma imajinasiku saja. Sebuah reaksi yang timbul karena menolak untuk menerima bahwa aku telah salah. Lagipula, bila toh itu benar, apa pula urusannya denganku? Seharusnya kuurusi saja hidupku sendiri yang tak juga maju-maju, bertahun-tahun tetap saja jadi pelayan.

“Rina! Cepat lihat ini,” Meri tiba-tiba menghambur masuk, tanpa jeda langsung menyeret tanganku ke luar dapur, menunjuk sebuah pemandangan yang tak biasa.

Istri si pasangan sempurna datang lagi. Tapi dia hanya membawa dirinya sendiri. Yang lebih mengherankan, bahkan tampak jelas bagi siapapun yang melihatnya. Bukan cuma aku saja, wajah perempuan itu begitu merana, mendung kelabu senada warna langit di luar sana. Dan lalu tanpa dinyana, sekonyong-konyong dia mulai menangis sesenggukan, terbuka jelas di hadapan semua pengunjung kedai. Meri berkeyakinan perempuan itu pasti sedang bertengkar dengan suaminya, tapi dia malah mendorong tubuhku ke depan, menyuruh agar aku saja yang melayaninya.

Dengan kehati-hatian aku mendekatinya. Tanpa berkata-kata aku berdiri bak patung di samping kursi yang didudukinya, mungkin menunggu tangisannya agak mereda. Tak lama dia mengangkat wajahnya memandangku. Aku menegakkan tubuh, bingung mencari kata untuk diucapkan.

“Apa menu istimewa hari ini?” Tanyanya lirih, aku melongo sesaat.

“Oh, eh ya, kami ada sup spesial, sangat cocok untuk mba. Saya kira, sup sapi hangat dengan campuran jahe,” kataku semanis mungkin.

Pesanan kuantar sebentar kemudian kuhidangkan lengkap dengan secangkir teh hijau yang masih mengepul. Tanpa berkata-kata lagi, perempuan itu langsung mencicipi supnya, suapan demi suapan, beriringan dengan air matanya yang terus saja megalir, sebagian turut pula menetes pada mangkuk supnya. Aku masih belum meninggalkannya.

Akhirnya perempuan itu terlihat lebih tenang, tangisnya surut, mangkuk sup menyisakan sedikit kuah di dalamnya. Dan aku, sejak tadi sudah memberanikan diri duduk di hadapannya.

“Mba sudah merasa baikan?” Tanyaku pelan. Dia tak menjawab, pandangannya keluar di balik kaca jendela.

“Teman saya bilang saya sudah salah besar,” kataku lagi, tak peduli dia memperhatikan atau tidak, ”Tapi saya selalu yakin, saat memandang mba dan suami, ada sesuatu yang kalian saling sembunyikan.“

Si perempuan seketika berbalik memandangku, tatapannya meneliti, sebelum tiba-tiba dia berkata, ”Benarkah? Lalu apa yang kami sembunyikan?” Tanyanya menantang.

Aku menghela napas sebelum memulai kata, ”Sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Sungguh kalian menyembunyikannya dengan baik. Pancaran mata yang sama. Kalian berdua memiliki kesedihan yang sama!” Tegasku.

“Mungkin kau benar,” ujarnya lirih sembari menarik helaan napas pasrah. Pandangannya lalu seperti menerawang jauh, berkelana ke suatu masa di mana kisahnya bermula.

***

Di dunia ini mungkin tak ada orang yang menyayangi dirinya melebihi ayahnya. Di mata lelaki tua yang tambun itu, Vanilla tak pernah tumbuh besar. Bagi Tuan Romi, waktu tak pernah bisa menyulap gadis kecil kesayangannya menjadi perempuan dewasa sebagaimana yang kini begitu nyata tampak di mata. Tuan Romi memutuskan dan mengurus hampir semua hal untuk putrinya. Dan bagi Vanilla, ia tak pernah merasa perlakuan ayahnya memenjarakan kebebasan masa mudanya, justru ia tak mampu memikirkan bagaimana ia harus menjalani hidup tanpa ayahnya.

Kini, bayangan itu tak mau lepas dari benaknya. Akan setiap pagi yang hangat, saat ayahnya sembari berdendang lagu lama, membawakan sepanci sup ayam kesukaan Vanilla yang dimasaknya sendiri untuk sarapan putrinya. Mereka makan bersama, tertawa-tawa sampai Vanilla kadang tersedak.

“Apa kekurangan ayah sampai kau tega menyakiti ayah seperti ini?” Matanya nanar menatap putrinya, ”Karena kau lebih memilih hidup susah bersama lelaki miskin itu, maka jangan pernah kau tampakkan mukamu lagi di hadapanku!” Tegas tuan romi. Tatapannya kini berubah penuh amarah, meski vanilla berlutut mengiba menangis memohon maaf dan restu ayahnya.

***

 

“Pergilah, jangan kembali lagi, lupakan kalau aku ibumu!” Datar saja ucapannya, sebelum ia menutup dan mengunci pintu rumah dan hatinya untuk putra kebanggaannya. Tak hirau meski pemuda itu meratap-ratap memukul pintu meminta maaf dan kerelaan hati ibu yang selama ini tak pernah sekalipun memalingkan wajah darinya. Sementara itu, berdiri di sampingnya, Vanilla, istri yang baru saja dinikahi tanpa restu ibunya, sekuat mungkin menahan agar tangisnya tak terurai.

Mereka tersiksa dalam diam. Memendam kegelisahan dikejar perasaan bersalah dan kerinduan yang berat untuk kehangatan yang telah hilang.

 

***

 

“Lalu kenapa kau tidak memberitahu suamimu? Aku tidak mengerti kenapa kalian malah saling menyembunyikan perasaan masing-masing, bukankah itu hanya akan memperburuk keadaan?” Tanyaku heran.

Vanilla sontak terdiam, dia menghela napas panjang sebelum berucap, “Aku terlalu mencintainya. Tak sampai hati aku menimpakan kepedihanku padanya, biarlah kutelan sendiri. Aku ingin dia selalu bahagia bersamaku. Aku rasa dia pun berpikir begitu.”

Alangkah konyolnya! Betapa gemas aku dibuatnya. Tanpa mempedulikan suasana hati Vanilla, kusemburkan kata-kata padanya bahwa meskipun cinta mereka seluas langit sedalam lautan atau lebih besar lagi, kalau mereka tetap hanya diam saja seperti ini, bisa kupastikan pernikahan mereka takkan pernah bahagia. Dipikirnya jalan keluar bisa turun begitu saja dari langit tanpa mau berusaha menemukannya?

“Dan kenapa kau begitu mudah menyerah jika benar kau sangat menyayangi ayahmu? Semestinya kau tahu, sebesar apapun amarah, hati orang tua tak begitu saja mudah berubah,” tambahku sebelum beranjak meninggalkan meja.


Setahun berlalu.

 

Begitulah. Aku masih saja betah jadi pelayan di kedai ini. Dan anehnya lagi, aku lebih suka kalau pelangganku tidak terlampau sering datang. Seperti pasangan yang dulu itu, sekarang sesekali saja mereka mampir, untuk alasan yang berbeda, berbagi kehangatan. Aku senang,

Tapi selalu ada saja yang berkali-kali datang. Harus diakui, bahwa sup Nyonya Mar memang memiliki “sesuatu” yang mereka butuhkan. Cita rasa berbeda dalam kehangatan kuah supnya bisa meresap jauh ke hatimu. Tapi tetap saja, semangkuk sup yang ajaib sekalipun takkan mampu menyelesaikan segalanya. Kau mesti mengatasi apapun itu.

Kenyataannya, tak semua orang mau melakukannya. Dan kadang pula, sebuah perjuangan terasa begitu lama dan melelahkan. Bahkan setetes kehangatan yang sejenak saja pun bisa cukup membantu, bukan? Karena itulah pintu kedai sup Nyonya Mar masih tetap dibuka lebar. Sebab itu aku masih di sini. Oh,aku harus cepat-cepat, rupanya ada pelanggan baru yang mampir lagi.

 

Selesai

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...