Fragmen Kematian

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Gatot Zakaria Manta

 

Melihat pemandangan ini dengan mataku sendiri, tiba-tiba aku teringat kata-kata seorang ulama saat pemakaman salah satu komandan Imarah Islam, Mullah Abdul Manaan Ahmad. Ulama tersebut berteriak lantang, berkata pada dunia bahwa perbedaan yang salah dan benar—orang-orang yang berjuang benar-benar demi Dia—bisa dibuktikan dari jenazah mereka.

Awalnya aku ragu tentu saja, menganggap semua itu hanya sebuah klaim omong kosong dan tak berdasar. Bagaimana mungkin mayat bisa mengeluarkan aroma yang lebih wangi dari parfum termahal manapun, dan dengan tubuh yang utuh tanpa cela? Kalaupun itu terjadi, tentu saja semua bisa dijelaskan secara ilmiah. Ramuan-ramuan tradisional—masyarakat Afghanistan pasti masih mempelajari ilmu-ilmu macam itu—mungkin berperan penting dalam hal ini. Racikan madu, tanah liat, garam, atau mungkin saja formalin, pasti mengambil peranan penting dalam pengawetan mayat, serupa mumi-mumi Mesir.

Namun hanya memegang tubuh-tubuh hangat itu saja telah merepihkan dugaan-dugaanku. Kulit yang masih lembab dengan bulu-bulu panjang khas Timur Tengah itu seperti hanya menunjukkan bahwa tubuh-tubuh itu sedang tertidur pulas. Kecuali darah-darah yang—astaga—masih basah di sekitar dada; perut; atau kepala, semua orang pasti tak akan menyangka kalau mereka telah tewas lebih dari dua bulan yang lalu.

“Jane!” Aku memanggil seorang perempuan tak jauh dari mobil jip. Dia baru saja memindahkan satu mayat ke atasnya. “Ambil darah mereka juga!”

Jane mengangguk. Aku sendiri mengambil sebuah suntikan dari tas pinggang dan mengambil sampel darah mayat yang sedang aku periksa ini. Wajahnya tak asing bagiku. Jenggotnya yang lebat masih basah oleh darah, sementara beberapa luka akibat berondongan peluru masih menganga di dada dan perutnya. Astaga, apa yang sedang terjadi sebenarnya?

“Kau tahu apa yang sedang terjadi, Rob?” Jane mendekatiku. Di tangannya tergenggam dua botol kecil cairan merah—darah.

Aku menggeleng, mencoba berpikir kritis. Tapi sama sekali tak ada ilmu yang bisa menjelaskan semua ini. Pemumian juga masih tak akan bisa sebagus ini. Aku teringat mayat seorang anak kecil di Capuchin Catacombs di Palermo—si Putri Tidur Rosalia Lombardo—yang lebih terlihat seperti patung batu.

“Ini pasti karena dingin, Jane,” kataku padanya sambil menggenggam sejumput salju. Sesuatu dalam perutku bergolak, menolak pernyataan itu. “Ya, pasti karena dingin.”

Aku tak heran melihat kening Jane bergelombang, tapi aku tak peduli. Segera aku perintahkan pada rombonganku untuk bergegas. Sebentar lagi hari akan gelap.

***

Sekian tahun bergabung di Palang Merah Internasional, akhirnya aku mendapatkan tugas ke Afghanistan. Sebelum ini, aku sama sekali tak pernah bertugas di Timur Tengah. Dua tahun di Somalia dan lima tahun di Ethiopia hanya mengajarkan padaku bahwa perang saudara yang berkecamuk hanya menyengsarakan penduduk lokal. Perut-perut buncit tanpa isi, air bersih menjadi barang langka sementara untuk mendapatkannya mesti berebut hingga bertaruh nyawa. Setiap hari aku melihat orang tewas karena kelaparan atau dibunuh.

Di sini, meski perang besar itu telah usai, tapi tak jauh beda. Bahan makanan dan air masih dijatah, sementara listrik hampir tidak ada. Hampir setiap hari, serangan gerilyawan selalu datang di tempat dan waktu yang tidak terduga, menimbulkan banyak korban sekaligus keputusasaan. Pemerintah Afghanistan yang beberapa waktu lalu dibentuk Amerika kelihatannya mulai kehilangan cara. Beberapa kali serdadu mereka mengambil langkah brutal, membombardir tempat-tempat penuh penduduk dan relawan.

Pun juga dengan para Sekutu. Bukankah perang telah usai, tapi kenapa mereka masih berkeliaran, berpatroli dalam jumlah besar? Senjata-senjata yang mereka usung masih sama: berat dan terkesan mematikan. Beberapa jam sekali, pesawat-pesawat pemburu masih menderu di atas kepalaku. Ah, mungkin benar kata Alef, mereka terburu-buru mengakui kemenangan ini. Perang di Afghanistan masih belum usai, dan kelihatannya tak akan pernah usai.

Aku tercenung jika mengingat Alef, seorang penduduk lokal asal Kandahar yang tidak aku duga ternyata adalah seorang sarjana. Alih-alih menerima tawaran sebuah perusahaan minyak di Iran, dia memilih bergabung dengan gerilyawan dan hidup dalam persembunyian. Keluarganya? Allah pasti mencukupi dan melindungi mereka, katanya. Gila!

Ketika aku bertanya alasannya membela Taliban, jawabannya lebih mencengangkan lagi. “Aku tak pernah membela Taliban,” katanya, “Dan tak pernah mendustai mereka. Aku melawan hanya karena aku diserang. Begitulah seorang muslim,” tambahnya lagi, “melawan karena dizalimi.”

Kami berpisah tiga bulan yang lalu, tepatnya di Surkh Rud. Saat itu dia memberanikan diri datang ke hotel tempatku menginap dan berkata untuk pergi ke pos polisi terdekat. Ada beberapa serdadu sekutu di sana, katanya, dan beberapa orang mungkin akan membutuhkan pertolongan. Aku masih kebingungan ketika dia berlari ke luar kamar. Namun beberapa menit setelah itu, aku mendengar ledakan sangat keras.

Dan kini, ketika komite memerintahkan rombonganku untuk pergi ke distrik Ghani Khel, provinsi Nangarhar, aku tak menyangka akan bertemu dengan dia lagi. Tugas untuk membersihkan tumpukan mayat di luar kota dan menguburkan mereka dengan layak, mempertemukan kami kembali. Jenggotnya masih lembab dan wajahnya masih secerah yang aku ingat.

Aku menggenggam botol kecil berisi darah yang aku ambil dari Alef dan menaruhnya di tempat pendingin, bergabung bersama botol-botol sampel darah dari mayat yang lain. Aku tertegun sebentar. Sebelum akhirnya suara Jane memanggilku dari balik tenda.

Aku keluar. Dua orang serdadu bersenjata lengkap berjaga-jaga di depan tenda, puluhan yang lain mungkin telah tersebar di sekitar perkemahan. Aku tersenyum pada mereka. Di tengah lapangan, sebuah bendera besar berlambang palang merah, terpancang tinggi-tinggi. Alef pernah meyakinkanku dulu, bahwa kelompok mereka tak akan pernah menyerang bantuan internasional.

Sebuah liang lahat besar telah digali. Beberapa mayat telah berada di dasarnya: tumpang tindih. Aku berteriak ketika tahu bagaimana cara para serdadu itu membawa mereka ke bawah. Mereka melemparkan mayat-mayat itu begitu saja dari atas. Di kesempatan terakhir, aku bisa mendengar suara berdebum yang sangat keras ketika tubuh itu jatuh.

Aku geram, berbicara kepada komandan mereka dan menyuruh agar mayat-mayat itu dibawa dengan cara yang lebih manusiawi. Dia menggangguk, tapi ternyata sama sekali tak memberi perintah berhenti kepada anak buahnya. Mereka tetap melemparkan mayat-mayat itu dan bunyi-bunyi berdebum masih terdengar. Sial!

Hatiku menjerit ketika melihat tubuh Alef melayang sebentar di udara, kemudian jatuh ke bawah, bergabung bersama teman-temannya yang lain. Beberapa orang serdadu tertawa, termasuk sang komandan. Jane mendekatiku, dia meremas pundakku.

“Tenangkan hatimu, Rob!” Katanya. Aku hanya bisa mengangguk. Jane tahu aku sempat bersahabat dengan Alef.

Tanah-tanah kemudian bertebaran. Semua orang mengambil sekop dan mulai menimbun tubuh-tubuh itu. Aku terpaku menyaksikan detik demi detik tubuh Alef tertimbun dan akhirnya tak terlihat lagi. Entah kenapa aku berpikir, meski mereka ditimbun seperti itu, tubuh-tubuh mereka akan tetap utuh.

Sebelum lubang itu benar-benar rapi tertimbun, sebuah sorotan lampu datang dari arah depan. Para serdadu serentak melemparkan sekop dan menjangkau senjata mereka. Sang komandan berbicara melalui radio, kemudian dia berteriak lantang, mengatakan bahwa mereka adalah konvoi dari sekutu.

Begitu iring-iringan mobil itu mendekat, tiba-tiba bau menyengat menyergap hidungku. Aku mengenalinya sebagai bau mayat yang telah membusuk. Namun tak seperti para serdadu yang mulai menutupi hidung atau mengambil masker, aku telah terbiasa dengan bau busuk ini. Aku menyuruh Jane mendekat ke konvoi itu.

“Mereka berseragam ISAF, Rob,” kata Jane ketika dia kembali. “Mereka ditemukan beberapa mil dari tempat penemuan yang pertama.”

ISAF (International Security Assistance Force) sebenarnya adalah nama resmi untuk tentara sekutu yang bertugas di sini. Besar kemungkinan bahwa jasad-jasad membusuk itu adalah korban yang jatuh dari pihak sekutu ketika kontak senjata terjadi antara mereka dengan kelompok Alef.

Aku tertegun, menatap tanah bekas galian tempat Alef terbaring.

“Benarkah ini karena dingin, Rob?” tanya Jane lagi.

Aku diam. Aku kira semua orang telah tahu jawabannya. Hanya saja tak semua orang mau mengakuinya.

Lamongan, 19 Januari 2012

Penulis lahir di Lamongan, 30 Maret 1990. Tinggal dan bekerja di Lamongan. Anggota situs kepenulisan Kemudian.com


 

 



Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...