Gadis Lampion

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Sukamto Prasetyo

Sudah empat hari ini Randy berada di Singkawang. Ia rela jauh-jauh datang dari Jakarta untuk mencari sosok gadis itu. Menurutnya, gadis tersebut sangat istimewa, bahkan acara festival lampion dan Cap Go Meh itu sendiri tidaklah lebih menarik dibanding gadis itu. Ia yakin dalam kesempatan ini bakal dipertemukan kembali. Dan kenyataannya, sampai detik ini juga belum bertemu, padahal seluruh kota Singkawang sudah ditelusuri, dan ia juga tahu kalau kota Amoy ini tidaklah begitu besar.

Setahun lalu, persis dalam acara Cap Go Meh yang sudah menjadi agenda tahunan oleh etnis Tionghoa, Randy bertemu dengan gadis itu di dekat Vihara Tri Dharma, tempat berkumpulnya para Tatung dari penjuru daerah. Ia membeli sebuah souvenir khas etnis gadis, sebuah lampion kecil berwarna merah.

Sudah mendekati hari Cap Go Meh, namun Randy belum bertemu dengan gadis penjual lampion itu. Padahal ia telah mengecek satu persatu penjual lampion di sepanjang jalan Diponegoro dan Kalimantan , bahkan jalan Yos Sudarso dan lainnya tak luput dari jelajahannya. Kedatangannya kali ini tidak memerlukan jasa guide, karena kenangan masa lalu masih terekam jelas di ingatannya.

Seharusnya tahun ini acara bakal lebih menarik karena seluruh Tatung yang ada di Pontianak akan bergabung ke Singkawang, ada larangan oleh pemerintah Pontianak untuk tidak menggelar Tatung, bahkan naga terpanjang dari Malaysia yang diundang untuk menyemarakkan acara tidak bisa tampil di kota Pontianak, acara dialihkan ke kota Singkawang. Dan, malam ini bakal lebih meriah lagi dengan adanya festival Lampion dalam menyambut Cap Go Meh besok. Namun tidak ada yang lebih menyedot perhatian  Randy, selain ingin bertemu dengan gadis itu.

Begitu istimewakah gadis itu sehingga Randy harus rela datang jauh-jauh ke Singkawang hanya untuk bertemu dengannya? Setidaknya itu menurut Randy. Bagaimana tidak istimewa, gadis itu memberi perubahan dalam hidupnya selama di kota Amoy ini. Anehnya, seharusnya gadis itu membaur dengan kelompok etnisnya untuk melakukan ritual. Tapi gadis itu memilih menjadi penjual lampion dan bersedia menjadi guidenya. Tugas penjualan lampion diserahkan kepada rekan kepercayaannya. Dan lebih mengherankan Randy, gadis itu mempunyai pribadi yang cukup unik.

Saat itu Randy mengunjungi salah satu Vihara yang berada di gunung Roban, dan Vihara itu sangat besar dan bagus, siapapun yang datang pasti mengaguminya, bisa dibilang bahwa Vihara itu paling bagus di kota Amoy ini. Baik dari bentuk arsitektur  bangunannya dengan macam-macam ukiran relief yang warna-warni serta lukisannya didominasi warna merah. Maupun keadaan alam gunung roban itu sendiri yang mengisyaratkan betapa agungnya sang Maha Pencipta. Dengan berada di ketinggian seperti itu bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan yang berkunjung. Terbukti dengan berjubelnya para turis yang datang untuk menikmati keindahannya, termasuk Randy. Dari Viharanya ini orang bisa melihat pemandangan kota Singkawang. Bahkan laut juga nampak jelas dari atas ini. Dekat Vihara.

“Alangkah indahnya kalau yang menjadi bangunan ini adalah sebuah masjid,” Randy membuka sebuah percakapan.

“Benarkah?” tanya A Fui. Gadis pemandu itu.

“Memang kenapa?”

“Bagiku itu malah akan merusak citra masjid itu sendiri,” begitu ia memberi tanggapan. Randy berkernyit dahi.

“Kenapa?” ditatapnya perempuan itu agak keheranan.

“Coba bayangkan, jika bangunan ini diganti dengan sebuah masjid yang sama besar dan bagusnya dengan Vihara ini, apa yang akan terjadi?” perempuan itu mengajukan pertanyaan. Randy jadi berpikir.

“Masyarakat sekitar sini akan bangga dengan bangunan itu dan ia akan menjadi terkenal di seluruh kalimantan ini.”

“Salah.” jawabnya tegas. Randy makin dibuatnya penasaran.

“Dunia luar justru akan mencelanya, karena masjid itu bukan berfungsi untuk tempat ibadah, tetapi hanya dijadikan sebuah tontonan.. Dengan mengesampingkan fungsi masjid itu sendiri. Lalu, masjid itu hanya akan menjadi sebuah barang antik seperti barang dagangan di sebuah etalase toko yang tidak boleh dijamah siapapun. Apakah itu sebuah kebanggan? Dan satu lagi, siapa yang akan beribadah di tempat ketinggian seperti ini, sementara penduduk banyak yang tinggal di lereng-lereng gunung. Andainya kamu tinggal di perkampungan ini, maka waktumu akan habis di jalan dan kamu ketinggalan waktu beribadah. Padahal dalam agamamu katanya ketepatan waktu ibadah itu sangat penting. Eh, btw nih, kamu sudah shalat Zuhur belum?”

Penjelasan gadis itu semakin membuat Randy terperangah. Terlebih dengan kalimat terakhirnya. Ia merasa tertohok. Jangankan sholat Zuhur, Subuh saja tidak sholat. Akhir-akhir ini Randy memang sering melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dan juga pelariannya ke kota Amoy ini hanya untuk meredakan amarahnya karena orang tuanya tidak lagi peduli dengannya. Sibuk dengan bisnisnya.

“Ehm…” Randy garuk-garuk kepala.

“Mending sholat dulu, kutunjukkan tempat airnya. Ayo!” Randy dibuatnya kurang nyaman. Ini gadis aneh benar, jelas-jelas dia bukan muslimah tapi penghargaannya terhadap agama lain tinggi benar, batin Randy.

Seminggu lamanya Randy berada di Singkawang, hari terakhir sebelum keberangkatan ke Jakarta, gadis itu datang menemuinya dan memberikan beberapa buah souvenir lampion kecil. Padahal Randy sudah membeli di saat pertemuan pertamanya. Lampion itu diterimanya dengan senang hati. Bukankah menerima pemberian itu salah satu bentuk penghormatan?

“Oh, ya, saya minta maaf jika pelayananku dalam memandu kamu selama ini kurang memuaskan. Ini ada kenangan buat kamu agar kamu selalu ingat dengan Singkawang. Saya harap kamu senang berkunjung kembali ke kota kecilku ini.” Dia  menyodorkan sebuah kotak mirip kado berwarna merah yang bisa ditebak pasti berisi lampion-lampion kecil.

“Tidak hanya akan terkenang dengan Singkawangnya saja. Tapi juga kamu.” Randy mencoba bercanda. Dan gadis itu tersipu.

“Oh, ya ada satu hal. Kemungkinan kita tidak akan bertemu kembali dalam keadaan seperti ini. Nanti aku mungkin bukan A Fui seperti yang kamu lihat saat jadi pemandumu,” kata-kata gadis itu membuat dahi Randy berkernyit.

“Memangnya kenapa?”

“Nanti kamu akan tahu sendiri.”

“Kok begitu?”

“Biar kamu penasaran dan datang lagi.”

Keduannya tertawa. A Fui meminta diri untuk pulang. Sementara Randy bergegas naik taxi yang telah sedari tadi menunggunya.

Percakapan itu menjadi percakapan dan kenangan terakhir bagi Randy dan membuatnya penasaran sampai sekarang. Sehingga kesempatan kali ini tidak akan disia-siakannya untuk mencari A Fui, gadis yang sangat lain di matanya itu. Namun sampai habis Isya ini, gadis itu juga belum ketemu. Ia sangat kelelahan seharian berkeliling kota Singkawang.

Disandarkan badannya di dinding teras masjid Raya yang menghadap jalan dan sangat megah ini, kakinya diselonjorkan ke lantai yang sejuk. Masjid ini sudah mengalami renovasi. Bentuknya lebih modern mengikuti gaya masjid timur tengah. Menaranya mirip menara masjid Nabawi di Madinah. Namun gaya yang menjadi ciri khas melayu tidak dirubahnya secara keseluruhan. Ukiran-ukiran itu masih dipakai di mimbar masjid. Secara keseluruhan masjid ini sangat bagus dan mengagumkan, warnanya kuning berpadu hijau, sebuah warna khas Melayu. Dan mengalahkan Vihara yang berada di gunung Roban, yang dulu"sempat didebatkan A Fui.

Ah, A Fui lagi. Dimanakah dia sekarang ini? Hati Randy diliputi kecewa yang amat sangat. Kenapa dulu ia tak menanyakan alamat rumahnya sehingga tidak susah payah mencari seperti ini.

Ia teringat terus dengan kata-kata orang tuanya untuk segera menikah dan meneruskan usahanya. Semenjak kepergian Randy setahun lalu ke kota Singkawang, orang tuanya menjadi tersadar bahwa selama ini mereka tidak memberikan kasih sayang melainkan hanya sebuah kemewahan yang akhirnya membuat Randy terjerumus dalam jurang kesesatan. Randy sering keluar malam dan mabuk-mabukan, bahkan tak jarang main perempuan. Dengan perubahan Randy itu, akhirnya orang tuanya lebih memberi perhatian yang lebih dalam mencurahkan kasih sayang. Dan Randy, atas anjuran teman-temanya, agar menikah dengan sesama muslim. Memang maunya Randy begitu tapi ingatannya tidak bisa melupakan A Fui. Ia masih penasaran dengan gadis itu. Sepertinya gadis itu juga lebih paham dengan Islam, tapi mengapa ia seorang Tionghoa? Mungkin saja ia beragama Islam tapi kenapa ia tidak sholat waktu itu? Andaikan saja ia seorang muslimah, ingin rasanya ia cepat-cepat menikahinya.

Sementara dari kejahuan arak-arakan lampion sudah mulai ramai dan mendekat, banyak wisatawan asing yang menonton jalannya festival lampion. Bule-bule itu sangat antusias mengabadikan moment itu dengan peralatan canggihnya. Namun Randy tak ada gairah untuk mengikuti jalannya festival. Karena niatnya ke Singkawang hanyalah untuk bertemu dengan A Fui dan mencari tahu tentang dirinya.

“Assalamualaikum.” Seseorang membuyarkan lamunannya. Randy tampak tergagap.

“Aa.., alaikumussalam.” Terbata Randy menjawabnya.

“Amir.” Anak itu mengulurkan tangannya.

Sementara Randy sesaat dibuatnya agak heran. Ditatapnya anak itu. seperti keturunan Tionghoa. Kulitnya putih dan matanya sipit. Mirip artis Jacky Chan.

“Randy,” dijabatnya tangan anak itu.

“Maaf kalau boleh tanya, apakah kamu keturunan Tionghoa.” Hati-hati Randy mengucapkannya. Anak itu kira-kira umur tujuh belas tahunan.

“Sama seperti Bang Randy, keturunan dari Adam alaihissalam, he he he.”

Aduh, bukan itu yang saya maksud. Seakan anak itu tahu apa yang dipikirkan Randy.

“Kalau Bang Randy maksudkan yang lain, memang saya seperti mereka. Dan saya ini seorang mualaf, Bang,” ujarnya sebelum saya bertanya.

“Maaf, abang dari mana dan sedang menunggu seseorang, ya?”

Waw, anak ini hebat benar bisa baca pikiran orang. Dari tadi bisa tahu benar apa yang saya pikirkan.

“Saya dari Jakarta.. Datang kemari mau mencari seseorang, tapi tidak tahulah, karena sampai sekarang belum juga ketemu.”

“Siapa namanya, mungkin saya bisa bantu?”

“Bener nih, tidak merepotkan?”

“Insya Allah. Tidak merepotkan, kok.”

“Baiklah. Namanya A Fui, ia seorang perempuan keturunan Tionghoa, sama seperti kamu dan bertemu tahun kemarin dalam situasi Cap Go Meh seperti ini. Dulu ia penjual souvenir lampion. Dan sempat menjadi guide saya selama beberapa hari dari sebelum dan sesudah Cap Go Meh. Apakah kamu mengenalnya?”

“Nama A Fui disini memang banyak. Apakah abang tahu alamat rumahnya?”

“Kalau saya tahu alamatnya, pasti sudah ketemu. Masalahnya dulu saya sempat lupa menanyakan alamatnya.” Randy nampak lemah seperti hilang semangat mau mengobrol lagi.

“Sekali lagi maaf, saya punya teman seorang penjual lampion mungkin dia bisa membantu. Dan kalau mau bisa saya antarkan ke rumahnya besok.”

“Kalau sekarang bagaimana?” tawar Randy.

“Menurut saya, sepertinya kurang pantas bertamu malam-malam begini apalagi tempatnya agak jauh. Tidak ada oplet malam-malam. Itupun kalau orangnya ada di rumah. Tapi apakah keperluanya abang ini begitu penting dan mendadak?”
“Tidak juga. Baiklah, kita bertemu nanti subuh di masjid ini lagi ya. Sekarang saya mau permisi dulu.”

Randy bergegas turun dari teras masjid dan menjabat tangan Amir sambil mengucapkan salam sebelum berlalu. Ada sebuah harapan di hatinya. Seakan hatinya terang berwarna-warni seperti terangnya lampion warna-warni yang dibawa oleh para pengikut karnaval. Mungkin salah satu lampion itu ada yang buatan A Fui, batinnya.

***

Selesai sholat Subuh, Randy bergegas menemui Amir yang telah berjanji akan mengantarkan ke rumah kawannya dulu yang sekarang sama-sama menjadi mualaf. Bedanya Amir sekarang tinggal dan menjadi pengurus masjid karena tidak ada tempat tinggal setelah diusir oleh orang tuanya semenjak hijrah ke Islam. Sementara kawannya yang juga berubah nama menjadi Abdullah, kabarnya tinggal di Pondok Pesantren Nur Illahi. Namun untuk memastikan, Amir akan mengajaknya ke rumah Abdullah.

“Sebelumnya, saya mau bertanya, ada keperluan apa sehingga Abang jauh-jauh mau bertemu dengan gadis itu.”

“Saya mau menikah,” jawab Randy to the point. Sementara Amir sepertinya juga agak kaget mendengar jawaban itu.

“Subhanallah, itu niat yang baik. Selamat, ya? Tapi ngomong-ngomong siapa calonnya?” Amir terus menodong dengan pertanyaan. Sementara oplet yang membawanya ke arah Sejangkung, tempat Abdullah tinggal, melaju dengan susah payah karena jalanan banyak yang berlobang dan naik turun.

“Siapa lagi kalau bukan gadis itu.”

“Ehm,… apa sebaiknya Abang tidak mencari yang seiman saja, kan banyak perempuan sholehah di pesantren.” Amir mengajukan tawaran.

Randy menatap Amir sesaat. Betul juga ide anak ini. Kenapa saya jadi kalah sama dia yang mualaf. Tapi salahku juga, mempelajari Islam hanya setengah-setengah. Namun setidaknya mulai sekarang saya sudah menunjukkan perubahan yang lebih baik. Saya harus menjadi muslim lebih baik lagi. Insya Allah.

“Betul juga idemu. Tapi sepertinya A Fui sudah ditakdirkan berjodoh dengan saya kali,” cetus Randy dengan pedenya.

“Istighfar Abang, itu sudah mendahului takdir Allah.” Amir mengingatkan Randy.. Dan tampaknya Randy jadi salah tingkah. Dia nyengir.

Oplet berhenti di depan sebuah gang. Randy membayar ongkosnya. Kemudian turun dan mengikuti Amir menuju Rumah di ujung gang. Rumah di sini jarang-jarang, mungkin karena di tepi perbukitan.

Tampaknya rumah itu sepi. Amir menuju ke rumah sebelah dan menanyakan keadaan penghuni rumah Abdullah. Randy menunggu di depan halaman sambil memperhatikan Amir bercakap dengan menggunakan bahasa Tionghoa. Setelah mendapat informasi, Amir lalu menemui Randy.

“Bagaimana Amir?”

“Abdullah ada di pondok pesantren dan ternyata A Fui yang abang maksud adalah kakak Abdullah.”

“Jadi ?” Tanya Randy tak sabar.

“Sebaiknya kita bicaranya nanti setelah pulang saja.”

Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Tentu saja itu membuat Randy makin penasaran.

***

“Jadi ternyata A Fui juga hijrah ke Islam.” Amir memberi kabar itu.

“Subhanallah. Alhamdulillah,” Randy mengucap syukur. Hatinya makin berbunga-bunga. Jalan untuk menikahi A Fui makin mantap, semantap paku bumi untuk menopang jembatan tol kapuas dua yang baru jadi.

“Tapi, ada sesuatu yang perlu Abang ketahui.”

“Apa itu?”

“A Fui tidak lagi di sini. Setelah hijrahnya A Fui, orang tuanya meninggalkan mereka ke Jakarta. Rumah itu dijual. Sementara A Fui memutuskan untuk berbisnis lampion sendiri dengan mengontrak rumah. Namun tetangga tadi tidak tahu alamatnya, kabar terakhir ia tidak lagi memproduksi lampion-lampion itu lagi, dan katanya pindah ke pondok”

“Jalan satu-satunya pergi ke pondok.”

“Betul Abang. Namun sayang saya tidak bisa mengantar Abang ke sana . Sebaiknya abang pergi sendiri, nanti saya beri alamatnya.”

“Baiklah. Saya ucapkan terima kasih banyak atas bantuannya, dan maaf telah merepotkan saudara Amir. Biar saya sendiri yang pergi.”

***

Randy telah sampai di depan pintu gerbang pondok Nur Illahi yang  berada di pinggir kota namun masih satu wilayah dengan Singkawang. Dan setelah lapor kepada petugas dan mengisi buku tamu, Randy dipersilahkan masuk dan diantar ke ruang penerimaan tamu yang mirip rumah Joglo tanpa dinding.

Para santri terlihat sibuk menyiapkan sesuatu. Sepertinya pondok pesantren ini akan punya hajatan besar. Kalau tidak salah, acara walimahan. Melihat banyak sekali janur kuning dan pot-pot bunga disusun secara rapi dari sepanjang pintu masuk.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.”

Seorang anak muda seumuran Amir datang menyapanya. Ciri fisiknya sama seperti Amir. Ciri etnis Tionghoa.

“Waalaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh. Randy.” Randy mengulurkan tangannya.

“Saya Abdullah. Apakah akhi ada perlu dengan saya?” anak muda itu menjabat tangan Randy.

Lalu, Randy pun menjelaskan panjang lebar tentang tujuannya datang ke tempat itu. Dan Abdullah mendengarkanya dengan seksama, sesekali tampak manggut-manggut. Begitu pula ekspresi Randy yang seakan membuat iba Abdullah. Lalu...

“Sebelumnya saya minta maaf, bukannya ingin mematahkan semangat akhi. Seandainya akhi datang lebih awal dari kemarin-kemarin mungkin tidak terlambat. Ukhti sudah dikhitbah orang lain yang masih termasuk ustadz di pondok ini.”

Randy menunduk menandakan lemah semangat setelah mendengar jawaban Abdullah. Impiannya untuk menikah dengan A Fui yang sudah berganti nama menjadi Aisyah akhirnya kandas. Jarak Jakarta dengan Singkawang bukanlah jarak yang pendek. Dan kini Randy sudah menemukan jawabannya saat A Fui mengatakan bahwa A Fui nanti bukan lagi A Fui yang Randy kenal. Dan inilah jawabannya. Gadis lampion itu telah hijrah menjadi muslimah dan mengganti namanya menjadi Aisyah. Dan yang lebih membuat kecewa hatinya, ia sudah dilamar orang lain.

“Apakah saya bisa bertemu dengannya?”

“Maaf, akhi, peraturan disini ikhwan dilarang ketemuan dengan akhwat. Lagi pula ukhti Aisyah besok pagi mau melangsungkan akad nikah dan dilarang keluar pondok menemui siapapun.”

“Baiklah, tidak apa-apa.Tolong sampaikan salamku padanya. Doa saya, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.”

“Insya Allah. Terima kasih atas doanya.”

“Kalau begitu, saya mau permisi. Assalamualaikum.” Randy pamit kepada Abdullah. Harapannya pupus sudah.

“Waalaikumsalam.”

Namun, saat Randy baru beberapa langkah, Abdullah memanggilnya.

“Tunggu sebentar, akhi.” Abdullah pergi ke belakang. Selang beberapa menit ia sudah kembali dengan membawa souvenir lampion kecil.

“Ini untuk akhi sebagai kenang-kenangan. Asli buatan sendiri.”

“Terima kasih.”

Randy melangkahkan kakinya dengan gontai. Digenggamnya lampion kecil seukuran bola ping pong yang bertuliskan nama Aisyah dan mempelai laki-laki. Sedangkan dari kejahuan terdengar suara ombak laut yang seakan menjadi musik syahdu yang mengiringi kepergiannya dari pondok Nur Illahi. Dan jajaran pohon kelapa dengan daun yang melambai-lambai itu seakan mengucapkan selamat tinggal kepadanya.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...