Gara-gara Si Macan

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Syamsa Hawa

Ola merasa waswas. Dia sebenarnya sudah menolak permintaan Eno sebanyak 33 kali, mulai dari kemarin sore sampai tadi pagi, tapi tetangga samping kiri rumahnya itu tetap saja merayu untuk menemaninya ke mall.

“Ayolah, La! Aku traktir cendol sama gado-gado deh!”

“Ke mall kok traktir cendol sama gado-gado sih?” Ola mencibir, tidak puas dengan iming-iming yang dijanjikan Eno itu.

“Eh, jangan salah! Cendol dan gado-gado itu kan produk dalam negeri yang harus kita lestarikan, nanti kalau di-klaim sama negara tetangga sebagai warisan budaya mereka baru deh protes!” Eno mulai atraksi semangat nasionalismenya, seperti biasa.

“Iya...iya ngerti, tapi biar ditraktir cendol sama gado-gado seminggu penuh pun aku juga nggak bersedia nganterin ke mall hari ini.” Ola bersikukuh, “Besok bisa deh...

“Yee... hari ini kamu nggak ke mana-mana toh? Aku ada keperluan ke mall-nya hari ini! Harus beli beberapa buku sama belanja mingguan di swalayan, besok jadwalnya lain lagi!” Eno belagak membolak-balik buku agendanya. Di situ tertera daftar belanjaan yang kemarin pagi dicatatkan ibunya. Mulai dari deterjen sampai mie instan.

“Ya udah pergi sendiri emang kenapa sih?”

Eno terkesiap.

“Kamu nggak biasanya nolak ke mall gini, La.” Bukannya menjawab, Eno malah balik tanya dengan memasang tampang kecewa. Ola jadi merasa sedikit nggak enak.

“Aku punya alasan kuat, No! Hari ini aku nggak mau keluar rumah.” Ola ragu-ragu berkata.

“Lagi sakit?”

Ola menggeleng.

“Lagi ada kerjaan?”

“Nggak! Nggak... pokoknya aku punya alasan deh.” Diselidiki begitu Ola malah nggak nyaman.

“Pokoknya kalau kamu nggak ngasih tahu alasannya, aku tetap minta antarin ke mall. Pakai motorku, aku yang nyetir kok!” Eno duduk di samping komputer kamar Ola.

Akhirnya setelah lebih dari satu jam terjadi perdebatan alot, pertahanan Ola runtuh juga. Ia tetap tidak bersedia mengemukakan alasan sementara Eno terus mendesaknya. Terpaksa, ia pun memenuhi permintaan gadis itu, dengan syarat dibelikan setengah lusin donat. Kesepakatan telah terjadi.

***

Sepanjang “rekreasi” di mall siang itu, Ola sudah memperlihatkan gelagat super aneh. Ia terlihat seperti sedang siaga penuh. HP dan dompetnya yang berada di dalam tas terus-terusan dia tengok, seolah-olah takut kehilangan.

Kemudian, sedikit saja ada orang yang menyerempet mereka ia langsung melotot plus mendelik ketus layaknya penari Bali. Padahal kondisi mall sedang cukup ramai, hampir tiap menit ada saja orang yang bersenggolan dengan Ola dan Eno, jadi hampir tiap menit itu juga mata Ola berolahraga. Eno yang melihatnya sampai ketakutan.

“La, kamu kenapa sih?”

“Nggak kenapa-napa!”

“Nggak napa-napa gimana? Dari tadi kelihatan tegang banget.”

“Beneran... nggak napa-napa!”

Karena Ola tetap saja menolak menjawab, Eno pun bungkam. Meski dalam hatinya ia jadi ikutan waswas.

Sampai akhirnya mereka pulang dengan membawa banyak tentengan belanjaan, Ola tidak juga menjelaskan sepatah kata pun mengenai bahasa tubuhnya yang mengisyaratkan keganjilan itu.

Begitu sampai perempatan jalan menuju gang rumah mereka, mungkin karena terlalu banyak tentengan di stang motornya, tiba-tiba Eno kehilangan keseimbangan dan menyerempet tiang listrik ketika membelok. Sepeda motornya oleng, dan penumpang di belakangnya terbang dari jok. Kardus donat terlempar dan isinya berhamburan ke jalan.

Terdengar jeritan memilukan dari bibir Ola. Kemudian tanpa disangka ia berteriak dengan kesal, “Tuuh kaaan... kejadian beneraan!”

Sementara Eno masih melongo, berdiri di atas motornya yang tergolek.

***

Ola memang sedang kehilangan gairah hidup! Tepat sejak 14 Februari 2010 lalu.

Bukan karena di usianya yang ke-25 ini dia masih sendiri, atau karena tidak ada yang mengiriminya cokelat     dan bunga mawar, karena bagi Ola hari kasih sayang alias Valentine itu cuma bisa-bisaannya tukang jual cokelat, boneka, dan bunga mawar aja supaya barang dagangannya laku.

Ola kehilangan nafsu menjalani hari, karena sejak akhir tahun 2009 lalu ia sudah membaca sebuah buku yang membuatnya benci menghadapi pertengahan Februari ini.

Buku itu berjudul Peruntungan 12 Shio di Tahun Macan.

***

“Aku udah tahu, kalau hari ini keluar rumah bakal sial begini!” seru Ola sambil meringis mengobati pergelangan tangannya yang berdarah.

“Kok bisa?” Eno yang cuma lecet di kaki malah penasaran dengan pernyataan Ola barusan. Ia curiga jangan-jangan Ola memiliki indera keenam, atau... dia bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat.

Ola terdiam, menyesal karena keceplosan ngomong. Ia sebenarnya masih enggan membicarakan hal ini, tapi kalau sudah begini toh akhirnya ia harus menjelaskan juga karena Eno akan terus-terusan memaksanya sampai ia buka mulut.

“Aku baca buku, di situ dijelasin kalau tanggal sekarang tuh hari sial buat shio kerbau. Usahakan jangan keluar rumah.”

“Shio kerbau?”

“Iya, shio-ku kan kerbau! Aku lahir pas tahun kerbau...”

“Tunggu... tunggu... maksudnya tahun kerbau tuh apa? Yang aku tahu cuma tahun Gajah, Rasulullah kan lahir di tahun Gajah karena ada pasukan gajah menyerang Mekkah di tahun itu. Lha, kalau tahun kerbau tuh apa? Ada segerombolan kerbau membajak sawah di tahun itu gitu?”

Ola menghela nafas. Panjang nih urusannya kalau ngejelasin buat orang awam begini. Ia pun mencoba bersabar menjelaskan.

“Gini, No... kamu tahu zodiak nggak?”

“Mmm... Pisces, Aries, Libra... yang kayak ramalan gitu kan?” Eno mulai sedikit bisa menebak arah pertanyaan Ola, “Jadi... maksudnya shio itu juga sama kayak zodiak gitu?”

“Iya, tapi kalau shio tuh dari China.”

“Terus kamu percaya begituan?” Eno memulai investigasinya.

“Yaa bukan begitu, aku percaya pun, kan juga ada sejarahnya, No.” Ola tidak suka nada pertanyaan Eno barusan, kesannya kayak dia tuh percaya sama dukun atau paranormal.

“Dari kecil ayahku sudah menyuruh untuk baca buku shio, sudah dipesankan untuk pelajari karakter orang dari tahun lahirnya, kita bisa tahu sifat kita sama seseorang itu cocok apa nggak juga bisa lewat shio-nya,” seru Ola lagi.

“Oke, itu sih bisa ada penjelasan ilmiahnya. Sama seperti mengetahui karakter orang lewat tulisan tangan atau tanda tangannya. Tapi kok bisa juga tahu hari ini sial segala?” Eno terlihat penasaran pada titik ini.

“Jadi begini... shio itu kan ada 12, jadi tiap tahun dilambangkan sama binatang tertentu, misalnya tahun ini merupakan tahun macan. Nah, di tahun macan ini ada beberapa shio yang peruntungannya bagus, ada yang sedang, dan ada juga yang buruk.”

“Ya memang selalu begitu kan, jangankan tiap tahun... tiap hari aja banyak orang yang untung, sedang, atau rugi. Tukang es kelapa misalnya, kalau kebetulan hari lagi hujan, dingin-dingin mana ada yang mau minum es kelapa. Rugi kan jadinya!” tanpa diminta Eno berkomentar panjang lebar.

“Nah, yang menyebalkan... peruntungan shio kerbau di tahun macan ini sangat buruk. Mulai dari jodoh, pendidikan, karir, pokoknya lagi jelek banget, makanya aku nggak semangat ngejalanin tahun ini. Pengen cepat-cepat tahun depan!” Ola menekuk mukanya.

“Loh... kok gitu sih? Betewe, kamu tau dari mana kalau hari ini hari sial?” tampaknya Eno masih belum menangkap poin yang ia tanyakan ini.

Ola beranjak dari kasurnya, dengan tertatih berjalan menuju rak buku di kamarnya kemudian mengambilkan sebuah buku berwarna merah dengan sampul gambar macan untuk Eno. Eno langsung mengernyitkan kening.

“Di buku ini sampai dijelaskan detail dari bulan sampai tanggal-tanggal sial atau untung buat 12 shio. Aku udah nandain, hari ini harusnya nggak ke mana-mana, bener kan kejadian begini!” Ola tahu ia akan diejek sama Eno karena percaya sama ramalan begitu, makanya ia buru-buru menambah penjelasan.

“Dulu aku juga nggak percaya baca buku beginian, waktu di tahun apa gitu... aku pernah iseng-iseng baca, katanya tahun itu bakalan ada keluarga dekat orang ber-shio kerbau yang meninggal, ternyata benar loh... tahun itu juga kakekku meninggal!”

“Ya ampun, La! Jadi kamu uring-uringan terus pas di mall, itu gara-gara baca buku ini?”

“Yaa... maklum dong, soalnya aku kan nggak tahu bakal dapat kesialan macam apa. Kirain bakal kehilangan hape atau uang.” Ola lalu menempel plester pada lukanya.

“Makanya kamu terus-terusan periksa tas buat pastiin hape sama dompet, dan curiga terus sama setiap orang yang nyenggol tas kamu gitu?”

Ola mengangguk. Eno hampir-hampir mau ketawa.

“La, La... kamu aneh banget sih! Kalau memang percaya sama ramalan harian begini... buat apa kamu shalat dan berdoa lagi? Shalat kamu jadi nggak ada maknanya tauk, wong kamu sudah percaya sama penulis buku ini, sudah tidak percaya sama ke-Maha Besaran Allah. Kamu sudah yakin bahwa setahun ke depan nasibmu akan sial karena nasib kerbau di tahun macan buruk, gitu kan?”

“Yaa nggak lah No, aku masih percaya pada Allah!” Ola menolak dibilang begitu.

“La, kamu tahu nggak... Allah selalu menuruti persangkaan hamba-Nya?”

“Pernah dengar.”

“Nah, kalau pernah dengar itu, yaa kamu jangan pernah berprasangka jelek sama Allah! Karena prasangka jelek kamu itu bakal dikabulin loh.”

“Mana ada yang mau berprasangka jelek ke Allah, No? Jangan nuduh sembarangan dong!”

“Buktinya hari ini... gara-gara kamu sudah terlanjur prasangka jelek, yakin seratus persen kalau akan ada kesialan menimpa jika kamu keluar rumah, akhirnya Allah kabulin prasangka kamu itu kan! Memangnya kamu kira kecelakaan kita tadi itu gara-gara apa?”

“.....”

“Gara-gara aku nggak konsentrasi nyetir motor, habisnya selama di mall ngeliat kamu kayak orang aneh gitu! Gimana bisa tenang, makanya fokus nyetirku terganggu...” mendengar perkataan Eno itu, Ola terlonjak.

“Jadi?”

“Jadi jangan percaya ramalan begini! Bikin mati kreativitas aja sih!”

Ola tercenung. Lalu diam-diam melirik kalender di samping jendela kamarnya, ada begitu banyak bulatan di sana. Hari-hari bahaya yang harus diwaspadainya sepanjang tahun macan ini.

Aah... rasanya dia harus segera membuang kalender dan menyembunyikan buku bersampul macan loreng itu.

   

   
   


Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...