Bandul Unik Penghancur Persahabatan

Ihsania Aya   Terlahir dari keluarga petani kecil di daerah terpencil, Buluh Kapur, Lampung Barat, hidup kami sekeluarga sangat pas-pasan. Kakak perempuan saya tinggal di Jawa bersama Budhe. Didikan ayah dan ibu yang keras membuat saya bandel. Sering mencuri uang ibu, membohogi teman, melawan saat dinasihati... Huh, saya benar-benar durhaka pada mereka. Hingga awal kelas tiga SD,

Lapar yang Menggelisahkan

Alimuddin      Hujan malam itu. Sang hujan mulai beraksi semenjak petang sekitar pukul empat-an. Biasanya hujan akan reda dalam tempo sejam dua jam. Pukul enam, hujan masih juga asyik menurunkan air ke bumi. Pukul tujuh, dari masjid-masjid atau meunasah adzan magrib berkumandang. Tentu saja kami penghuni kos yang berjumlah empat belas orang lekas ambil air

MISTERI ROYALTI

Muhammad Yulius Nuansa tulisan Aksara kali ini mungkin agak berbau cerita detektif remaja macam Trio Detektif atau Lima Sekawan. Judulnya saja Misteri Royalti. Tentu ini bukan dalam rangka gaya-gayaan, melainkan memang persoalan royalty di negeri kita masih menjadi misteri. Misalnya saja soal angka 10-12 persen yang umumnya sudah menjadi angka mati bagi penulis yang mau menerbitkan

"IKAPI Hanya Menganjurkan Agar Penerbit Menghargai Penulis"

Kartini Nurdin, Ketua Kompartemen Hubungan Antar Lembaga dan Kerjasama Luar Negeri IKAPI Dari IKAPI tidak ada regulasi mengenai royalti, tapi hanya menganjurkan agar menghargai penulis. Umumnya royalti 10 persen untuk karya asli, kalau terjemahan beda lagi. Penerbit juga sangat rendah juga posisi tawarnya, karena lebih banyak mengedepankan idealisme. Khususnya buku-buku yang kurang

"Royalti Adalah Sistem Kapitalis"

Afifah Afra, Penerbit Indiva Kreativa   Penerbit Indiva memberi banderol royalti berbeda-beda, untuk penulis pemula kami bisa langsung memberi 8 persen, sementara untuk penulis yang sudah senior bisa sampai 10 persen atau bahkan 12,5 persen dari harga bruto, tergantung juga pada bobot naskahnya.Perbedaan persentase ini disebabkan oleh brand, untuk penulis pemula yang belum

"Persentase Penulis-Penerbit Hampir Sama"

Haidar Bagir, CEO Mizan Bentang Pustaka   Salah satu problem terbesar dunia penerbitan, khususnya terkait tulis-menulis yaitu royalti penulis itu sangat kecil. Bisa dilihat dari persentasenya. Saya tidak tahu kalau di tempat lain, di Mizan bervariasi tergantung pada berapa besar tingkat laku buku itu, Tapi biasanya tidak pernah kurang dari 10 persen. Persoalan kecilnya penerimaan

"Soal Prosentase Pendapatan, Cuma Toko Buku Islami yang Mau Terbuka"

Annida-Online-Misteri royalti masih sulit untuk dikuak. Beberapa toko buku yang punya jaringan menggurita menolak untuk menanggapi soal minimnya royalti bagi penulis, apalagi menyebutkan besaran angka yang diraup pihak toko buku. Toko Buku Gramedia yang cabangnya di mana-mana dan menguasai hampir seluruh kota, merahasiakan prosentase yang mereka peroleh dari penjualan buku-buku. Pihak

"Pemerintah Seharusnya Hapuskan Pajak dari Royalti Penulis"

Bambang Joko Susilo   Karya pertama saya dimuat di Sinar Harapan ketika saya duduk di bangku SMP tahun 1980, dengan honor tiga buah buku cerita anak. Buku pertama saya sendiri sudah mulai diterbitkan sejak 1997, namun baru pada tahun 2003-lah saya berani memutuskan untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada dunia menulis, khususnya menulis buku anak. Sebelumnya saya pernah menjadi

"Jangan Gantung Nasib Penulis"

Humam S. Chudori   Annida-Online-Tak banyak penulis yang punya komitmen kuat menyuguhkan karya-karya mencerdaskan bangsa. Di antara yang sedikit itu, ada Humam S. Chudori, pria kelahiran Pekalongan, 12 Desember 1958 silam. Mayoritas karya Humam sarat pesan-pesan religius. Bukunya yang sudah terbit antara lain novel Gufron (Republika, 2008), novel Sepiring Nasi Garam

BAHASA (APA) MENUNJUKKAN BANGSA (MANA)

Muhammad Yulius Disadari atau tidak, kita sering merasa sebagai bangsa penjiplak hampir dalam semua urusan, termasuk berbahasa. Sejumlah istilah asing kerap kali kita pakai sebagai bahan "gado-gado" dalam pembicaraan. Namun, you tahu kan bahwa basicly persoalan ini adalah problem hampir seluruh bangsa di dunia, termasuk bahasa Inggris yang konon bahasa aslinya sendiri cuma dua puluh

"Bahasa Slang Bermakna Tabu Membahayakan"

Dendy Sugono, Peneliti Pusat Bahasa   Persoalan  bahasa slang sejak dulu sudah ada. Yaitu untuk kepentingan komunikasi dalam komunitas tertentu. Mula-mula kalangan preman tidak ingin aktivitas mereka diketahui orang lain. Untuk menyebut bos, gubernur DKI misalnya, bokap. Kata prokem saja berasal dari kata preman. Diambil satu suku depan, prem, lalu di tengahnya disisipi

"Yang Slang Suatu Ketika Menjadi Baku, Itu Realitas!"

Remy Sylado, Sastrawan   Bahasa slang harus kita lihat bagian dari perkembangan sosial dalam tatanan budaya masyarakat berkembang. Realitas yang kita harus terima sebagai bagian yang harus ada. Jika pers dan sastra memakai kosakata bahasa slang frekuensinya sering maka otomatis yang slang suatu ketika menjadi baku. Kita harus menerima itu. Seperti sekarang kita tidak

"Gaya Bertutur Harus Jujur"

PIDI BAIQ (Penulis Drunken Monster, Drunken Molen, Drunken Mama)   Dalam keseharian, saya selalu menggunakan kata saya, oleh karena itu dalam buku pun saya bertutur dengan memakai kata saya, bukan gue atau lainnya. Bagi saya, gaya bertutur seorang penulis itu haruslah membuat dirinya nyaman dan nikmat, jangan sampai dibikin-bikin apalagi dibuat-buat seperti membikin-bikin dan

"Nggak Nyangka, Dokumentasinya Laris"

Debby Sahertian   MULANYA cuma buat mendokumentasikan saja, menyusun kosakata gaul ke dalam buku. Eh, nggak tahunya animo masyarakat lumayan heboh. Kamus gaulnya (diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan) tergolong best seller. Untuk edisi I (1999) dan edisi II (2004) tembus 60.000 eksemplar. Tentu saja, sang penyusun, Debby Sahertian (46) senang. Kamus Gaul edisi III pun lahir

Japemethe, Lucu-lucuan Jadi Lem Keakraban

"KEMEKELEN sepanjang masa, nesu mulih," jadi semacam semboyan Japemethe. Kemekelen, bahasa Jawa yang berarti tertawa terpingkal-pingkal, nesu mulih artinya marah pulang. Kalau marah/tersinggung ya lebih baik pulang saja.   Tahu kan Dagadu yang terkenal dengan kaos kocaknya? Dagadu itu kata walikan (kebalikan) dari matamu. Begitu juga dengan Japemethe yang berarti cahe dewe