pernikahan

Jodoh, Terkadang Lebih Penting Mengandalkan Intuisi daripada Kriteria

Sobat Nida, kamu tipe yang mengandalkan intuisi atau kriteria dalam mencari jodoh? "Duh, aku kok ngerasa sreg ya sama dia? Sayangnya tinggi badannya kurang, wajahnya juga nggak masuk kriteria aku." Kebanyakan orang berfokus pada kriteria, harus yang lulusan S1, suku anu, warna kulit begini begitu, tinggi badan di atas 170, dan lain sebagainya, padahal

Ketika Lebih Banyak yang Takut Nikah daripada Takut Zina

Beberapa tahun lalu seorang Ustadz pernah bercerita padaku. Cerita sekilas saja tentang orang terjerumus pada zina justru ketika dia sedang mendakwahkan kebaikan pada buruh migran di negeri seberang. Bermula dari curhat si buruh pada dia, lalu iblis membisikkan syahwat, si buruh tentu tak bersama suaminya bekerja di negeri orang, orang itu juga tidak ditemani istrinya, pergaulan yang tak

Kisah Kasih Tak Sampai yang Membawa Sang Pecinta ke Surga

Sobat Nida, hari ini kita begitu akrab dengan kisah kasih tak sampai yang berujung tragedi. Misalnya saja kisah Romeo dan Juliet yang keduanya mati bunuh diri atau cerita Qais dan Layla (Layla Majnun) yang akhir ceritanya pun tak lebih baik dari kisah pertama. Dan beragam novel serta film yang mengambil pola serupa. Kisah cinta yang tak direstui lalu memilih kematian menjadi

Mau Tips Jadi Calon Suami Idaman? Jadilah Laki-laki MANDIRI, Syukur-Syukur Juga Punya BCA, BRI, BNI dan seterusnya

Kawan, apa yang kalian cari di usia 20an tahun? Setelah lulus SMA atau kuliah, kebanyakan pikiran anak muda zaman sekarang sepertinya nggak beda dengan zaman dulu deh. Kerja, kerja, kerja! Benar apa betul? Malah nasihat orangtua nggak jauh-jauh dari seputar sekolah rajin, kuliah yang rajin, kerja yang benar, nyicil rumah, nabung terus nikah. Atau prosesnya dibalik, kerja yang

Aku Ingin Menikah dengan Sederhana

Tak ada puisi hari ini. Sekalipun judul tulisan mengingatkanmu pada karya Sapardi Djoko Damono, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”. Bukankah tanda sejati mencinta itu dengan menikah? Ah, bukan beda antara cinta dan pernikahan pula yang hendak dibahas. Lalu mengapa judulnya harus “menikah” bukan “menikahimu”? Karena