Cerpen

Minan Tidak Percaya Kebetulan

Sudah beberapa hari ini, ku lihat Minan Zul gusar. Ia terus menyapu lantai rumah. Ia juga berulang kali mengepel lantai. Ia menggoreskan kapur di bawah pintu atau di sudut-sudut lantai. “Kulihat rumah kita beberapa hari ini banyak didatangi semut, Ria!” ujar Minan Zul. “Banyak remah-remah berserakan barangkali, Nan?” aku lupa kalau Minan Zul perempuan

Jemuranku Oh Jemuranku

Mendung lagi, mendung lagi. Gerutuku dalam hati. Entah berapa kali aku angkat-jemur pakaian gara-gara hujan. Kalau mau hujan ya hujan aja. Jangan mendung cerah, mendung cerah, capek bolak-balik angkatin jemuran. Hujan yang deras sekalian biar besok ngga hujan lagi. Aku makin kesal. Brukk!! Kulempar pakaian-pakaian basah itu ke dalam keranjang. Akhir-akhir ini memang sering hujan. Mulai dari

Aku Bukan Koruptor

Putusan hakim membuat lelaki itu terperanjat. Ia divonis sepuluh tahun penjara ditambah denda seratus juta atas tuduhan korupsi. Tubuhnya lemas. Di tengah-tengah teriakan dan cacian peserta sidang, ia merasa sangat malu. Tak jauh di belakangnya, istri dan kedua anaknya serta beberapa anggota keluarganya terdengar menangis histeris. Namun ia tak berani menolehkan wajahnya. Seisi dunia seakan telah

Bungkus Pisang Goreng

Pagi itu untuk pertama kalinya aku bangun sebelum shubuh. Biasanya aku baru terbangun kalau ibu yang membangunkanku. Itupun setelah entah berapa kali ibu memanggil-manggilku yang masih terlena dalam mimpi. Keberadaanku di rumah sebagai anak tunggal membuatku menjadi sedikit manja dan malas. Sifat anak perempuan yang rajin dan suka membantu ibunya sangat jauh dariku.   Aku memang anak

Awal 2015

Sebuah dering singkat terdengar dari smartphone di tepi ranjang. Pemiliknya, perempuan dengan tahi lalat kecil di dagunya itu masih terlelap tidur. Notification bar memberitahukan ada pesan dari aplikasi WhatssApp. Perempuan itu menghidupkan smartphonenya, membaca pesan sambil menggenapkan kesadaran. “Visum jam delapan!” Pesan singkat dari grup teman-teman koas itu