Cerpen Sejarah

Tanah Merah di Kaibar

Penulis: Muhammad Furqon Az Sang surya di wilayah bagian timur Indonesia begitu terik. Bayang-bayang manusia tercermin di bumi kering lagi berdebu. Berdiri seorang lelaki berambut gimbal dengan alis tebal tanpa beralas sandal di tanah Kaibar. Detupan jantungnya berdebar-debar. Hawa panas nafasnya ribut saling sambut menyambut. Parasnya kering lagi berdecak debu bergulir buliran-buliran keringat.

Kesempatan Kedua

Penulis: Ghazy Fatihan   Juli 1825, bulan yang akan diingat Larasati seumur hidupnya. Bulan dimana belahan jiwanya terenggut dari sampingnya. Larasati terpaku menatap dua tubuh identik yang tergeletak di depannya. Pertempuran di Logorok di bawah komando Mulyosentiko tetap saja memakan korban, meski pasukan asuhan Diponegoro itu berhasil keluar sebagai pemenang. Apakah ini Badar?

Spirit of Fatih

  Penulis: Rahmat Darmawan   Hawa angin musim gugur menyelusup kalbuku. Berhembus halus menggugurkan daun-daun maple yang sengaja mengugurkan daun-daunnya. Simponi ini pun cukup menggetarkan hatiku karena entah mengapa memori akan perang empat tahun lalu menghantuiku. Bukan karena aku takut akan kekuatan musuh-musuh Islam, namun trauma akan kehilangan orang yang kita cintai

Revolution of the Holy Seed

  Penulis: Rosmen Rosmansyah   Jakarta, 07.30 PM, 05 Mei 2028 Senayan bergelora. Merah putih berkibar dimana-mana. Gerbang utama stadion Gelora Bung Karno padat luar biasa. Tak ada pertandingan sepak bola. Timnas kebanggaan kita sudah lama pensiun berlaga. Sejak sepuluh tahun lalu, dunia sudah tidak mengenal lagi olahraga. Maka keramaian seperti sekarang ini adalah sesuatu

Akhir Sebuah Perang

Penulis : Donny Muhammad Ramdhan Mosul, Irak, 2004 Aku melihat yang tak kau lihatKetika buta hati manusiaKetika gelap merampas cahayaraga jiwa sayang sang cinta Apa yang engkau harap, Kawan?Untuk melangkah tiada jalanUntuk bermakna tiada alasanUntuk memilih tiada pilihan Hanya menunggu ajal merengkuh jiwaHanya menunggu doa mencapai nirwanaWalau yang kulihat