Harapan

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Oleh: Rifan Nazhif Dalimunthe

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku tak mungkin lagi melewati hari-hari dengan tawa lepas. Semua kejadian serasa menghimpit dada. Tak ada yang menarik. Tak ada kejadian bombastis sekedar membuatku sumringah, misalnya tulisanku dimuat salah satu penerbitan terkenal, juga terbesar di negeri ini. Malas-malasan kuseruput kopi. Aku melongok ke luar dari kamar kontrakan melalui jendela berkaca nako. Mendung di sana. Sepi. Atau, apakah hanya hatiku yang mendung dan sepi? 


Aku memilih keluar melintasi Jalan Angsoko. Pak Parmin yang biasa membakar sate di samping gerobaknya, belum tiba. Seorang lelaki berjambang dan berdada telanjang saja yang berjongkok di situ. Parlan namanya. Lelaki gila yang sudah empat tahunan ini selalu hadir di Jalan Angsoko setiap pagi. Dan aku sering memberikan uang seribuan kepadanya. Atau, setidak-tidaknya makanan. Tapi kali ini pikiranku kusut. Tak ada iba apalagi keinginan berderma. Sorot mata Parlan berharap. Aku  membuang kasihan ke comberan. Kukebut langkah menuju kota. Atau, mungkin ke suatu tempat yang tak bernama.


"Pagi, Harapan!” sapa Ical---seorang guru esde---dari teras rumahnya. “Singgah barang sekejab. Kenapa terburu?” Aku merasa ucapannya basa-basi. Dia mungkin hanya ingin berbincang denganku, sekaligus mengejek. Barangkali saja menceritakan lemari kreditannya yang baru. Atau, istrinya memperoleh gelang emas dari orangtua murid. Sementara aku, wah! Aku tak lebih seonggok sampah tak berarti. Pengangguran yang hanya mengaisi hidup dengan tangis. Tak lebih! Bahkan air mata yang terbuang setiap saat, tak memiliki arti apa-apa. Tangis istri tak mampu mengatrol semangatku, semisal banting stir menjadi pedagang asongan,  pedagang bakso, dan berbagai pilihan kerja lainnya. Aku tetap saja menulis, meski setiap tulisanku selalu tak bisa menembus penerbitan terkenal, juga terbesar di negeri ini. Aku bagai dianaktirikan. Karya-karyaku seolah dicekal.


Kutinggalkan Ical, meski istrinya telah mengapung-apungkan sepinggan gorengan tempe. Wajah Ical kecewa. Dia gagal membangga-banggakan seluruh barang baru di rumahnya. Wajah si istri datar. Mungkin dia senang-senang saja aku tak sudi mampir. Sepinggan gorengan tempe tentu tak usah diganggu-gugat oleh orang seperti aku. Biarlah jatah itu hanya dinikmati mereka berdua, orang-orang berbadan gajah dan doyan makan.


Aku teringat Alisayah, Ambarwati dan Feodalistik. Mereka orang-orang yang mulai, bahkan sudah kaya. Mereka hidup dari menulis seperti aku. Bedanya, menulis memperkaya mereka, sementara aku mendapat sedikit keuntungan, sekadar mengganjal tiga perut agar tak masuk angin. Untung saja istri rela berjibaku, berjualan pulsa di teras rumah kontrakan. Kalau tidak, sudah pasti kami akan menjadi orang yang hanya berharap iba.


Teringat Alisayah, aku berbelok ke Jalan Ramona. Seorang tukang ojek menawarkan jasa. Kukatakan tak perlu. Tungkaiku masih kuat melangkah sejauh apapun. Cukup siang ketika aku tiba di depan rumah Alisayah yang besar. Seekor anjing Doberman menggongong. Seorang lelaki sangar mengekori. Dia membuka gerbang yang langsung berbunyi keras menyakitkan telinga. Bisa jadi sudah lama roda penggeraknya tak diminyaki.


"Mau cari siapa, Mas?” Dia bertanya. Kiranya suara lelaki itu tak sesangar wajahnya.


"Saya teman Alisayah. Apakah saya bisa bertemu dia?” Aku berharap-harap cemas. Lelaki itu permisi sebentar ke pos jaga. Dia mengangkat gagang telepon yang menempel di dinding pos jaga itu. Berbicara sebentar, lalu menemuiku dengan tatapan kecewa.


"Belum datang, Mas! Dari kemarin Tuan Alisayah sudah pergi.”


"Apakah dia sudah menjadi orang kantoran sekarang?” Lelaki itu menggeleng. 


“Tuan Alisayah tetap menjadi penulis skenario. Sekarang dia sedang menggarap skenario tentang anak-anak gelandangan di Jalan Ropal.  Dia sengaja mendekam di salah satu rumah kardus di sana sambil membawa laptop. Ya, biar skenarionya bisa bagus, Mas.”


"Oh, terima kasih,” Aku langsung permisi dan merenung di jalan. 


Betapa Alisayah sangat gigih memperjuangkan dunia kepenulisannya. Dia sampai nekad tinggal di rumah kardus hanya demi kesuksesan skenario yang sedang dia kerjakan. Bahkan hampir dua harian tak pulang. Apakah aku tak segigih dia sehingga riwayat kepenulisanku tetap menempe? Aku merasa kerdil. Selama ini aku hanya menulis beberapa lembar cerpen di kamar rumah kontrakan. Mengirimkan cerpen itu ke penerbitan. Lalu, menunggu. Aku murni mengandalkan imajinasi. Lagi pula bila sedang malas, dua hari aku absen menulis, kemudian membiarkan mulut istri dan anakku menganga.


Kulanjutkan langkah menuju rumah Ambarwati. Senja mengapit langkahku. Meski tak sebesar rumah Alisayah, tapi ketika dibuka, pagar rumah mereka sama-sama berbunyi keras menyakitkan telinga. Seorang perempuan ubanan menemuiku. Senyumnya menyapa. “Mau mencari siapa, Nak? Bu Ambarwati? Maaf, Ibu baru saja tidur setelah menulis di kamarnya sejak shubuh tadi.”


Aku buru-buru mundur menjauhi pintu pagar sambil mengucapkan kata terima kasih yang kaku. Perempuan ubanan menatapku kasihan, sementara perasaan ini sangat tak karuan. Ambarwati berbilang jam sanggup menulis, dan baru istirahat setelah senja. Wajar saja dia bisa hidup dari kreatifitas menulis. Sebaliknya aku paling betah duduk di belakang mesin tik hanya sejam-dua. Selebihnya teriakan-teriakan dari warung Mang Samian lebih menggodaku. Beberapa pengangguran dan penarik becak, selalu sibuk memirit kartu di situ. Tidak berjudi memang, hanya membunuh waktu sambil saling mengolok dan berkelakar. Ah, kasihan kau Harapan! Namamu sama sekali tak menjadi doa buat kehidupanmu! batinku galau.


Aku tak lagi memikirkan pergi ke rumah Feodalistik. Selain akan tiba di sana selepas maghrib, belum tentu aku bisa menemui lelaki yang betah berlama-lama di ruang tulisnya.  Itulah yang membuatku menghela langkah menuju rumah. 


Melintasi Jalan Angsoko, Pak Parmin sedang bertarung dengan asap pembakaran sate. Kulit wajahnya yang memang kecoklatan, seperti berubah legam berbelang-belang. Keringat saling mengejar di keningnya. Tapi sapaan ramah, senyum dikulum, tetap dia lemparkan kepada pembeli yang setia berdiri menunggu berbungkus sate pesanan, atau kepada pembeli yang sudah mendecap-decap menanti pinggan-pinggan hangat bertimbun sate dan lontong. Hmm, Pak Parmin yang kuat. Sosok lelaki yang sabar. 


Pak Parmin menyapaku seolah ingin satenya kubeli. “Sate, Mas Harapan!”


Tapi aku tak memiliki uang yang cukup untuk sebungkus sate. “Lagi buru-buru mau pulang, Pak! Hampir Maghrib!” ucapku menghindari sapaan-sapaan --> yang membuatku tak enak hati.


"Tak apa-apa. Ini khusus untukmu dan keluarga.”


Nah, khan! Inilah yang sangat kutakutkan dari seorang Parmin. Setiap kali aku melintasi gerobak satenya yang sedang mengebul-ngebul, selalu saja dia berharap aku membawa buah tangan ke rumah. Padahal tak selalu cukup uang di kantongku. 


"Bawalah! Gratis! Mudah-mudahan anak-istrimu senang!” Dia mengangsurkan kantong plastik yang entah di dalamnya berisi berapa bungkus sate. Dihitung-hitung, ini kali kedua puluh satu aku mendapat sate gratis darinya. Kapan-kapan aku berjanji dalam hati akan memberikan sesuatu sebagai gantinya. Toh aku bukan pengemis yang tahunya romantis (rokok makan gratis) saja. 


Saat aku mengucapkan terima kasih banyak, Pak Parmin sudah tenggelam di tengah pembelinya. Aku kemudian menuju rumah setelah memberikan Parlan uang seribu. Dia jejingkrakan. Warung rokok Mat Ramon langsung disambanginya.


Tiba di ambang pintu rumah, istri dan anakku menyambut dengan tawa lebar. Kata istriku, “Apa yang paling Mas inginkan selama ini?”


Aku menelengkan kepala. Anakku tertawa sambil merebut kantong plastik di tanganku, lalu membawanya ke meja makan. “Aku hanya ingin membahagiakan kalian!”


"Lebih khusus lagi?”


Aku tersenyum malu. “Aku ingin menjadi penulis terkenal dan kaya seperti teman-teman lain.”


"Lebih khusus lagi?”


Aku menggaruk-garuk kepala. “Apakah ini mungkin terjadi?”


"Segalanya mungkin terjadi, Pak!”


"Barangkali tulisanku dimuat di koran anu yang terkenal, juga besar itu, ya?”


"Tepat! Ini!” Dia mengangsurkanku sebuah koran, persis di halaman mana tulisanku dimuat.


Aku mengucapkan syukur berulangkali. Aku seolah mengapung. Untunglah istri menyadarkan agar aku lebih giat menulis seperti teman-temanku. “Buat buku atau skenario saja seperti mereka!”


"Pasti!” jawabku. Kali ini harus kubuktikan bahwa namaku memang memiliki arti. “Harapan, Harapan!” Aku tertawa pelan sambil menyusul anakku menyantap sate. 

***

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...