Harga Mahal

Penulis: Afika Awwaliyah R


Ren duduk sambil memangku wajah
, ia memainkan pulpennya di atas meja. Wajah Ren terlihat sendu dan rambutnya juga sedikit berantakan.

“Haaaah...!Gerutunya sambil menghembuskan napas dalam-dalam, kemudian merebahkan tubuhnya di kursi. Ia membiarkan kepalanya mendongak ke arah langit-langit ruang kuliahnya yang kosong.

“Reeen!” Lengkingan suara perempuan itu menggema di dalam otaknya.

Ren membiarkan memori yang baru terjadi kemarin, terulang.

“Reeen! Bibi Han! Bibi Han!” Perempuan bernama Rasi itu mendatanginya dengan berlari. Wajahnya memerah menahan lelah, napasnya juga terengah-engah. “Bibi Han, Ren...!

Ren baru menghentikan ketikan di keyboard-nya walaupun matanya sudah menanggapi kedatangan Rasi. “Bibi Han? Ada apa?” Jawab Ren santai.

Rasi menyerahkan layar handphone yang  dari tadi digenggamnya. Ren pun menerima dan melihat sendiri.

Rasi menjelaskan. Tadi malam kampung Bibi Han terkena badai, banyak rumah yang roboh, di sana banjir besar, listrik putus, alur darat tertutup, jalur udara juga tidak memungkinkan karena cuaca buruk.

Ren terdiam lalu melirik Rasi sebentar. “Jadi maksudmu?”

“Kita ke sana.Jawab Rasi.

Aku sudah tanya anak-anak, tapi mereka menolak. Alasannya jauhblah, daerahnya terpencil lah. Tapi kalau kamu yang memerintahkan, mereka pasti mau ikut.”

Rasi tersenyum seakan ia pasti mendapatkan jawaban yang baik dari Ren. Sayangnya...

“Mereka benar,”

Rasi terdiam, ia sudah tidak tersenyum lagi.

“Kampung Bibi Han ini terlalu jauh, daerahnya terpencil, jauh dari kota, medannya juga berat. Kita harus melewati hutan, aku tidak mau mengorbankan anak-anak. Lagipula bukan urusan kita saja, pemerintah mereka pasti akan mengambil tindakan.” Ren mengembalikan handphone Rasi. Ia tersenyum seadanya. “Tolong, mengertilah.

Rasi menggeleng, ia merebut handphone-nya dengan cepat.

“Aku tidak mengerti.Ia tersenyum kaku.

“Sewaktu kita naik gunung bulan lalu, kita tersesat, kita juga sekarat karena tidak ada minuman dan makanan di tengah dingin. Lalu kita bertemu Bibi Han yang membawa kayu bakarnya,” Rasi menghela napas.

“Bibi Han tahu mana yang lebih penting antara kayu bakar atau kita. Jadi, ia meninggalkan kayu bakarnya dan pergi meminta bantuan untuk menolong kita. Sekarang, di saat dia butuh bantuan, kita malah merasa tidak terjadi apapun di masa lalu,”

“Ras, aku sudah beritahu alasannya dan alasan itu bukan karena aku tidak mau menolong Bibi Han!” Nada suara Ren meninggi.

Rasi menggeleng lagi.

“Begini saja, lebih baik kita kumpulkan dana, lalu…,” Ren menghentikan kalimatnya ketika melihat Rasi tetap saja menggeleng ketika dirinya berbicara. Ia bingung bagaimana menghadapi perempuan di hadapannya.

“Bibi Han butuh kita!Ucapnya pelan.

“Bibi Han butuh kita!Suaranya terdengar melemah.

Rasi tidak menangis, namun dari sana siapapun akan memahami bahwa Rasi hampir menyerah dengan permintaannya. Walaupun begitu, ia masih menjunjung harapannya pada Ren.

“Rasi, aku tidak akan berubah pikiran,”

Rasi terdiam cukup lama hingga bibirnya mengucapkan kata maaf. “Maafkan aku,” katanya sambil tersenyum. Ren memejamkan matanya dengan mudah, ia masih mengingat keseluruhan reaksi Rasi kala itu.

Rasi pasti sedih, pikirnya. Ren menghembuskan napasnya. Tanpa siapapun tahu, percakapan itu membuat kenangan buruk yang sudah ia kubur dalam-dalam, kembali membuncah memenuhi tubuhnya. Pikirannya kabur namun ia atasi dengan melirik Rasi. Ia berpura-pura tidak mengerti dan hanya menanyakan, “Jadi, maksudmu?” Ya, Ren berusaha menghindari percakapan itu. Ia berusaha melindungi alasannya.

“Ren!

Ren melirik siapa yang memanggilnya, lalu ia membenarkan posisi duduknya. “Ada apa, Di?”

Adi menunjukkan map kertas yang dibawanya. “Ini susunan acara untuk bakti sosial minggu depan. Aku mau memberikannya ke Rasi, katanya proposal bakti sosial belum beres gara-gara aku belum buat susunan acara. Sekarang sekretarismu itu mana?”

Ren menggeleng singkat. “Aku belum melihatnya hari ini, coba saja telepon.

“Hmm! Aku sudah mencoba meneleponnya dari tadi tetapi nggak pernah nyambung. Sepertinya dia sedang ada di daerah tanpa sinyal,”

Ren mengernyitkan alisnya.

***

“Rasi, aku tidak akan berubah pikiran!

Rasi terdiam. Ia benar-benar tidak dapat berkutik. Bukan diam biasa, ia memperhatikan setiap wajah yang ditorehkan Ren. Hatinya memang kecewa, tapi ia tahu bahwa lebih baik ia diam. Ia tahu, tiap kalimat akan menyakiti salah satu di antara dirinya atau laki-laki di depannya.

“Maafkan aku,” Rasi tersenyum kemudian meninggalkan Ren.

Rasi berjalan gontai. Ketika sudah berada di depan ruangannya, ia membalikkan wajahnya. Ia melihat Ren lagi dari tempatnya berdiri. Kamu pasti tidak ingin kejadian bulan lalu terulang, kan? Jangankan mengulang, mengingatnya saja mungkin rasa sakitnya masih ada. Aku juga begitu. Tapi di sana ada Bibi Han, Ren...

Rasi melanjutkan langkahnya dan ia sudah memutuskan.

***

BRUUUUUK!

Sebongkah kayu masjid tua itu rubuh. Bibi Han dan pengungsi lain membelalakkan matanya, detak jantung mereka berdetak lebih kencang, napasnya tidak berirama teratur. Mereka ketakutan. Ketakutan yang menciutkan sebesar-besarnya keberanian. Mereka saling merangkul tubuh saudaranya, ada juga yang merangkul tubuh mereka sendiri dengan kepala yang disembunyikan di antara lutut.

“Bibi Han, bagaimana ini?” Pandangan Bibi Han mengelilingi sudut-sudut masjid tua itu, satu-satunya tempat yang dapat mereka jadikan sebagai tempat berlindung. Matanya sudah mulai berair. Ia tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir atau ia tidak akan mengerti bagaimana semua ini akan berakhir.

“Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!” Seru Bibi Han, air matanya benar-benar mengalir. Ia memeluk erat tubuh kecil keponakannya.

Setelahnya, di tengah siang yang redup, mereka berusaha terpejam dalam hujan yang masih deras. Tidak lama kemudian, pintu masjid terbuka. Hampir semua orang di dalam masjid memusatkan perhatian mereka dengan kedatangan seseorang. Seorang gadis berkerudung menerobos banjir yang sedang menggenang demi mencapai tujuannya. Ia tetap basah kuyup walaupun memakai jas hujan yang besar. Sayangnya, gadis itu terlihat bingung, ia berjalan sempoyongan dari pintu masjid, menatap satu per satu para pengungsi dengan tidak sabaran. Wajahnya bertambah memucat, apalagi setelah tampaknya ia belum menemukan apa yang dicari.

“Bibi Haaan!” Pekiknya.

Bibi Han mengerutkan alisnya, matanya mengarah ke arah seseorang yang memanggilnya. Keningnya mengerut, ia seperti pernah mengenal orang yang memanggilnya, tapi ia menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin, pikirnya. Bibi Han yang tadinya berpaling, kini melihat sekali lagi. Tatapannya menajam dan ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gadis itu memang...

“Rasi?” tanya Bibi Han ragu.

Rasi tersenyum. Gadis itu memeluk Bibi Han, air matanya mengalir namun ia tertawa bahagia. “Syukurlah, Bibi Han selamat!

Bibi Han melepaskan pelukannya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Bibi Han cepat, sambil memukul kecil lengan atas Rasi. Ia melihat beberapa luka yang ada di wajah Rasi. Tentu saja, untuk datang ke tempat ini satu-satunya jalan adalah dengan melewati hutan. “Kau tahu tempat ini tidak aman?” Bibi Han tidak dapat menahan air matanya. “T-t-e-mpat ini t-i-dak aman! Kenapa kau malah datang ke sini!”

BRUUUUUK! BRUUUUUK!

Rasi kaget, spontan ia menatap beberapa retakan genting yang hampir menjatuhi kepalanya, ia menelan ludah. Ternyata air hujanpun dengan mudah menuruni ruang masjid di beberapa titik. Dari genting yang terlepas juga tampak bahwa angin masih bertiup kencang. Bersyukur letak masjid ini lebih tinggi daripada tanah. Jadi, walaupun di luar sudah banjir, air di sini belum terlalu tinggi. Tapi jika hujan semakin deras dan angin bertiup kencang, mungkin masjid ini juga akan dipenuhi air banjir.

“Lihat, kan? Masjid tua ini pun sudah hampir roboh! Kami tidak ada tempat lagi! Sementara hujan masih... hujan masih belum berakhir.” Bibi Han terduduk lelah dan lemah.

Rasi menggelengkan kepala. Bibi Han menatapnya bingung.

Bersama dengan para pengungsi, Rasi membetulkan langit-langit masjid. Itu adalah idenya ketika melihat banyak pohon tumbang. Laki-laki dewasa memotong pohon tersebut sehingga kayunya dapat digunakan untuk menutupi atap. Rasi membantunya mengangkat potongan kayu dari pelataran masjid, beberapa kali ia merasa tidak kuat untuk mengangkatnya, namun ia tidak ingin terlihat seperti itu.

“Kalaulelah, kau tidak perlu melakukannya,” ujar seorang bapak yang menanggapi potongan kayu yang Rasi bawa. Rasi tersenyum tanpa berkata, ia menuju pelataran masjid kembali.

“Ah, hujannya sudah mereda,” gumam Rasi pelan Ia berusaha mengangkat potongan kayu yang lain. Ia berusaha mengangkat, tapi kali ini... berat.

“Sini, aku bantu,” Uucap seseorang tiba-tiba. Ia mengambil alih Rasi untuk mengangkatnya.

“Oh, terima kasih.Ucap Rasi sambil melirik seseorang yang membantunya. Lalu bola mata Rasi membesar. Ia menatap wajah seseorang itu, berusaha melihat tanpa kesalahan. “Ren? Ke-na-pa kamu di sini?”

Ren tidak menjawab, ia hanya tersenyum. “Lihat di sana!” Ren menunjuk suatu arah. Rasi tidak mengerti, namun ia tetap menurut. Tidak lama, Rasi tersenyum pula. “Seperti rombongan malaikat!” kata Rasi.

Orang-orang itu datang berbondong-bondong sambil membawa banyak dus makanan, minuman, obat-obatan, pakaian dan lainnya. Mereka adalah bantuan yang datang bersama Ren. Melihatnya, Rasi tidak berhenti tertawa, tidak ada ekspresi yang mampu menggambarkan perasaan senang Rasi, hanya hatinya yang mengerti: ia harus banyak mengucapkan syukur.

“Bibi Han,” Ren mengampiri Bibi Han yang sedang menyelimuti keponakannya. Bibi Han menengok, ia tersenyum lebar.

“Aku tidak tahu bagaimana cara kalian datang, kalian seperti malaikat.

Ren tersenyum, ia pun tidak mengerti bagaimana caranya ia memutuskan untuk menyusul Rasi. “Bibi Han yang pertama kali menjadi malaikat di malam itu.

Bibi Han tertawa ringan. “Memang siapa yang memaksaku menjadi malaikat?”

Ren buru-buru menggelengkan kepalanya. “Walaupun aku memaksa Bibi Han, Allah lah yang menggerakkan hatimu,” Ren menghela napas. “Karena Bibi Han bisa saja tetap menolak.

Bibi Han terdiam lalu mengiyakan. “Hari ini aku tidak percaya, Rasi datang untukku. Bagaimana bisa dia masih mengira aku yang menolongnya waktu itu?” Bibi Han melirik Ren dengan penuh misteri. “Apa kau belum mengatakan yang sebenarnya?”

“Bibi Han memang menolong Rasi.” Ren memasukkan kedua kepalan tangannya di saku jas besarnya. “Bibi Han ingin berhitung serinci apapun dan mempertimbangkan serumit apapun, jika pada akhirnya memutuskan untuk melakukan sebuah kebaikan, maka ia adalah orang baik karena melakukan kebaikan, harganya sangat mahal.” Ujar Ren sambil memperhatikan Rasi dari jauh. Entah kenapa, baru sekarang ia melihat gadis itu tersenyum dengan cantiknya. Benar-benar harga yang mahal.

***

“Rasi! Bertahanlah!” seru Ren sambil memakaikan jaket terakhirnya untuk Rasi. Rasi sudah memakai beberapa jaket, namun tetap saja ia masih menggigil kedinginan. Ren melihat beberapa teman yang mendaki bersamanya. Kondisi mereka sama, walaupun kondisi Rasi paling parah. Hampir semuanya lemas dan terkapar di bawah pepohonan. Mereka kehabisan bekal di jalan. Belum lagi, mereka tersesat. Ren terduduk di samping Rasi. Lama-lama tubuhnya juga bergetar kedinginan karena hanya memakai kaos panjang.

Tiba-tiba seorang wanita tua berjalan melewati mereka. Tatapannya dan Ren bertemu untuk pertama kali.

“To-long,” ucap suara serak Ren.

Wanita tua itu tidak peduli. Ia hendak pergi, namun Ren menghalangi jalannya. Ren berdiri lemah di depan wanita tua itu. “Teman-temanku, kami tersesat, tidak ada makanan, minu-man. Kami kedi-ngi-nan. To-long,” bunyi suara Ren hampir menghilang.

“Aku membawa kayu bakar, jadi tidak punya waktu mengurusi kalian.Ucapnya.

Ren menunjuk Rasi. “Lihat, dia seorang perempuan, hampir tidak bergerak. Sekarat.” Ren menelungkupkan kedua tangannya yang bergetar. Wajahnya penuh ketakutan. “To-long! Ah, a-a-ku akan membayarmu. Aku punya banyak uang... di ranselku. Ba-nyak. A-ku a-kan membayarmu!

Mendengar pernyataan Ren, wanita tua itu tersenyum kaku. “Baiklah, aku akan membantu kalian.”

Ren tersenyum. Raut wajahnya benar-benar bahagia. Ia terduduk lemah sambil mengucap syukur.

***

“Aku hampir mati. Seperti mimpi, hari ini aku masih hidup.” Rasi melihat kedua telapak tangannya sendiri. Lalu ia melihat Bibi Han dan diam dengan waktu yang cukup lama.

“Hey, aku tidak akan pernah mau mengingat hari ini lagi. Menyeramkan, kan?”

“Beruntungnya kita dipertemukan dengan Bibi Han.Jawab Rasi sambil tidak mengubah arah tatapannya. “Aku akan mengingat kebaikan Bibi Han.

Ren mengernyitkan keningnya. “Belum tentu Bibi Han orang bai,k mungkin saja ia mendapatkan sesuatu dari menolong kita.

Rasi menggelengkan kepalanya dengan mudah.Ingin berhitung serinci apapun dan mempertimbangkan serumit apapun, jika pada akhirnya Bibi Han memutuskan untuk melakukan sebuah kebaikan, maka ia adalah orang baik. Karena melakukan kebaikan, harganya sangat mahal.

Ren terenyuh ketika mendengarnya. Ia tersenyum diam-diam.

Selesai.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...