Harta

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 

Penulis:   Mayahana

 

 

 

Pernikahan harusnya menjadi saat yang paling membahagiakan dalam hidup seseorang.

Saat aku melihat album pernikahan ibuku, aku bisa melihat senyum luar biasa di sana, bahkan aku nyaris bisa melihat sinar di matanya. Ibuku adalah orang paling bahagia saat itu. Namun, aku tak tahu kenapa hal yang sama tak terjadi padaku. Di sini aku berdiri, di tempat dan gedung yang sama dengan saat ibuku menikah dulu, tapi tak ada senyum di wajahku. Tak ada gemilang bahagia di mataku.

Pria di sebelahku nampaknya sudah melaksanakan tugasku. Dia terus tersenyum, menampakkan giginya yang putih bersih pada semua hadirin. Aku berusaha mengikuti jejaknya, namun yang tampak hanya sesuatu yang nyaris mendekati seringaian. Aku berharap tak ada yang menyadarinya.

Aku menatap orangtuaku. Mereka nampak bahagia. Tawa keras terdengar dari Ayahku. Aku hanya bisa  mendesah, memikirkan kenapa hal seperti ini bisa terjadi padaku.

Saat itu aku dan orangtuaku sedang berbicara mengenai masa depanku, karena kebetulan bulan lalu aku baru menyelesaikan pendidikanku di SMA. Aku ingin meneruskan kuliah, dari dulu aku sangat berminat di bidang komputer. Orangtuaku pun mampu untuk membiayaiku kuliah di salah satu universitas swasta terbaik di kotaku, jadi uang bukan masalah. Sebenarnya, tradisi keluarga besarku sejak dulu melarang seorang wanita untuk bersekolah terlalu lama. Kebanyakan, setelah lulus SMA kami diharuskan sudah menikah. Paling lama adalah kursus satu atau dua tahun, itupun dilakukan untuk ‘menunggu’ pasangan yang siap dijodohkan oleh orangtua kami.

Kebanyakan orang, terutama teman-temanku, berpikir bahwa nasibku malang sekali terjebak di keluarga yang sangat kolot. Namun, aku merasa hal ini bukan masalah. Sejak kecil aku telah di bentuk oleh pola pikir keluargaku yang seperti ini, sehingga tak ada beban apapun di hatiku.

Namun, yang jadi masalah adalah jodoh yang dipilihkan orangtuaku. Di antara semua pria yang menyukaiku, kenapa harus dia?

“Arya?” ulangku pelan.

“Iya, Arya kan, anak yang baik. Ramah, pintar, rajin sholat, dari keluarga baik-baik…” kata Ayah penuh harap.

“Udah gitu ganteng lagi,” kata Ibu menambahkan dengan senang. Ayahku memutar bola matanya. “Lho, itu kan salah satu nilai plus,” lanjut Ibu membela diri.

Ayahku kembali menatapku. Aku mengernyit. Arya memang sempurna. Maksudku, dia seperti apa yang digambarkan oleh orangtuaku. Usianya juga tak terpaut jauh dariku, karena dia baru 24 tahun. Matang, dari keluarga kaya dan baik-baik. Tetapi, dia sendiri belum bekerja dengan mapan. Dia hanya menjadi manajer pengganti di toko ubin ayahnya, yang, dari apa yang kudengar, sedang mengalami kemunduran…

Maksudku, bukannya aku menyeleksi pria dari ukuran kantongnya, tapi, ini adalah tuntutan zaman. Bukannya aku ingin sombong, tapi aku adalah anak orang kaya. Ayahku adalah pedegang paling sukses nomor tiga di kotaku, dan sangat terkenal. Maksudku, siapa, sih¸yang nggak tahu Pak Haji Brata?

Aku sudah terbiasa hidup berkecukupan, malah bisa dibilang mewah. Barang-barangku selalu bermerk, dan teman-temanku memujiku karena aku tak pernah membeli sesuatu dengan merk yang belum pernah terdengar di negara lain.

Aku adalah Sania, gadis yang cukup cantik, putih, cerdas, dan berkelas. Mana mungkin aku menikah dengan pria yang biasa saja!

Aku menatap orangtuaku ragu. Selama ini aku tak pernah menolak keinginan mereka, dan inilah yang membuatku menjadi anak favorit mereka di bandingkan empat saudaraku yang lain. Ayahku menatapku dengan tatapan penuh harap.

Aku menatap kukuku. Aku tahu alasan apapun tak akan membuat orangtuaku mundur dari menjodohkanku dengan Arya. Semua orang tahu bahwa orangtuaku sangat mengagumi Arya. Bahkan, saat aku masih SMA pun Ayah sudah selalu mengikutkan nama Arya di hampir setiap percakapan kami.

Dan saat ini, aku berada di gedung besar ini, berdiri di samping Arya yang puas, menatap merana masa depanku.

                                                ***

Tiga bulan kemudian

“Sania, kamu kesini lagi?” Ibuku tak nampak terkejut melihatku, hanya mengatakan itu untuk membuatku merasa tidak enak.

Aku tersenyum terpaksa. Selama tiga bulan pertama pernikahanku, mungkin setengahnya kuhabiskan di rumah orangtuaku. Maksudku, di rumah ini aku punya kamar yang besar, denagan AC dan segala fasilitas lain. Di rumah suamiku, yang bertetangga dengan rumah mertuaku, hanya ada komputer yang bahkan tidak dihubungkan dengan internet. Sama sekali tak ada TV, karena mertuaku adalah pria yang sangat menentang kebodohan yang ditimbulkan oleh TV. Astaga!

Jadilah, dalam seminggu, aku telah membenci suamiku, membenci mertuaku, membenci rumah mertuaku, dan membenci nasibku.

“Iya, Bu, soalnya di rumah Arya lagi nggak ada orang,” kataku ngeles. Ibuku menatapku, mendesah.

“Kamu nggak masak buat suamimu?” Tanya Ibu lagi.

Aku mengangkat bahu. “Kami makan malam di rumah Mama,” kataku. Mama adalah panggilanku untuk mertuaku, karena Arya juga memanggilnya begitu, sehingga akupun diharapkan memanggilnya begitu.

Ibuku mengernyit. “Kenapa kamu nggak masak?”

Aku mendesah. Sebagai Ibu, aku tahu bahwa Ibu tahu rumahtanggaku tidak dalam keadaan baik-baik saja. Maksudku, dalam minggu ini saja aku sudah lima kali ke rumah orangtuaku!

“Mama masak banyak hari ini,” jawabku seadanya.

Ibuku masih mengernyit, tapi tidak memperpanjangnya. Aku mendesah lega.

 Malamnya, aku malas sekali harus kembali ke rumah Arya. Jadi aku memutuskan untuk mengirim SMS meminta izin untuk menginap di rumah orangtuaku. Arya bilang dia kangen padaku dan dengan semena-mena tak memberiku izin untuk menginap! Astaga! Memangnya dia pikir siapa dia? Aku memutuskan untuk mengabaikan perintahnya, dan tetap tidak kembali kesana. Biarkan saja dia marah.

Tapi tampaknya Arya lebih kreatif daripada yang aku kira. Dia datang menjemputku duapuluh menit kemudian.

“San, ayo pulang,” katanya sok lembut.

Dengan wajah cemberut yang tak repot-repot kututupi, aku menaiki motornya. Bisa apa aku, di bawah tatapan Ibu yang jelas-jelas memaksaku untuk mengikuti perintah Arya.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Arya mengikutiku, sambil berkata, “Kamu sudah makan?”

Aku tersenyum terpaksa. Selama ini, Arya mengira bahwa hubungan kami baik-baik saja. Padahal aku sudah berusaha keras mengacuhkannya, tapi tampaknya dia berpikir bahwa aku hanya malu-malu.

Astaga!

“Belum,” jawabku akhirnya. “Tapi aku lagi nggak lapar.”

Arya mendesah, lalu dia keluar kamar untuk makan entah apapun yang ada di kulkas. Yang jelas bukan masakanku. Aku tak pernah masak untuknya. Biarin saja, dia aja kerja belum bener, kenapa aku harus repot-repot melayani dia.

Tapi ternyata dia tidak mencari makan. Dia masuk kembali ke kamar hanya dengan berbekal sarung dan senyum penuh arti. Aku mendesah. Arya memang tampan, tapi entah mengapa, tak ada yang bisa  membuatku menyukainya.

I hate my life.

                                                ***

Sebulan kemudian.

“Hoek.”

Apa yang terjadi padaku?

Sudah seminggu ini badanku terasa seperti habis diinjak gajah. Benar-benar lelah. Padahal kerjaku hanya membaca novel romantis atau online di rumah orangtuaku. Aku tidak pernah melakukan hal yang berat. Apa yang bisa membuat diriku merasakan hal tidak nyaman ini?

“Ada apa, Sayang?” Tanya Arya, tanpa mengetuk langsung nyelonong masuk ke kamar mandi.

Aku memelototinya. “Ketuk pintu dulu sebelum masuk,” gumamku sebal.

Arya menegrnyit, mengacuhkan protesku dan malah menatap ngeri isi perutku yang terpapar di kloset. “Kamu sakit? Kenapa? Salah makan? Mau ke dokter?” tanyanya langsung.

Entah kenapa, mendengar cerocosannya membuatku semakin sebal. “Masuk angin. Bukan hal heboh,” ketusku.

Arya tampak tak yakin. “Kamu yakin nggak mau ke dokter?”

Nggak.”

Tiga hari kemudian, tampaknya keadaanku justru makin parah. Kali ini Arya benar-benar memaksaku untuk ke dokter. Dr Rani, langganan kami, hanya menatapku sekali untuk berkata, “Selamat, ya, kalian akan menjadi ayah dan ibu.”

Dan saat itulah aku tahu bahwa duniaku hancur.

                                                ***

Aku terbangun mendadak dari tidurku, perutku sakit sekali. Ini sudah minggu ketiga sejak aku divonis hamil, dan perasaan terinjak-gajah ini masih belum hilang. Tak ada dokter yang berani memberiku resep karena nyaris tak ada pain killer yang aman untuk ibu hamil.

Aku menatap Arya. Dia tertidur nyanyak disampingku, seolah rasa sakitku ini bukan masalahnya. Padahal jelas-jelas dialah yang menyebabkanku harus menderita seperti ini. Perasaan benciku padanya semakin tak terkira, rasanya bahkan sampai sesak. Saat itu aku memepertimbangakan untuk mencekiknya. Dengan begitu aku tak perlu menatapnya lagi. Dengan begitu dia akan pergi dariku dan aku akan kembali bahagia di pelukan orangtuaku.

Entah kenapa, pemikiran itu membuatku menagis. Dulunya, aku tak seperti ini. Aku wanita yang tegar, tapi lebut. Aku sangat disukai sepeupu-sepupu-ku karena perhatian dan ramah. Kenapa? Kenapa Arya harus mengubahku sampai seperti ini?

Arya bergerak disampingku. Sepertinya dia mendengar suara isakanku. Dia bangun, menatapku horor.

“Sania, kamu kenapa? Ada masalah apa?”

Aku tidak menjawabnya. Aku benci kamu, itulah masalahku, rasanya ingin kuteriakkan kata-kata itu. Aku terus menangis, memeluk bantalku, berharap ada dimanapun selain di tempat ini.

Arya berusaha memelukku, tapi aku mendorongnya menjauh. Arya menatapku pasrah. Aku hanya ingin dia pergi, apakah itu permintaan yang terlalu berat.

Kami berada di posisi yang sama sampai terdengar azan Subuh. Dan dia tidak ke masjid. Ini pertama kalinya aku melihat dia tidak pergi ke masjid. Mungkin dia tahu bahwa jika dia meninggalkanku, aku akan langsung pergi. Pergi dari rumah ini selamanya.

Selesai sholat, dia menghampiriku, duduk di sebelahku, dan berkata lembut,        “Sholat dulu, gih.”

Aku tidak bergerak. Mataku menatap nanar dinding kamar kami yang sempit ini. Yang terdengar oleh telingaku adalah suara desir kipas angin yang cukup keras, yang membuatku merindukan AC di kamarku yang lama.

Arya tak tahu harus melakukan apa, dia terus membujukku untuk melakukan sholat sampai matahari terbit. Tak sekalipun aku menatap matanya, dan Aryapun mulai panik.

Kejadian setelah itu terasa samar-samar di telingaku. Aku bisa mendengar suara Arya yang menelepon seseorang. Beberapa saat kemuadian, aku merasakan pelukan ibuku. Orang yang sangat kurindukan. Aku bisa merasakan saat ayahku menggendongku, membawaku entah kemana.

Dan saat itulah semuanya terasa gelap.

                                                ***

Pelupukku terasa berat, tapi kupaksakan terbuka dan yang kulihat adalah putih. Aku mendesah saat menyadari bahwa aku masih hidup dan sedang tertidur di tempat yang aku sadari adalah rumah sakit.

“Sania, akhirnya kamu sadar juga,” Aku mendengar suara ibuku. Aku mendongak dan melihat mata sembab wanita yang paling kusayangi di dunia. Aku memeluk ibuku, dan sejenak kami terdiam dalam rasa pelukan yang sangat nyaman.

Ibu melepaskanku, senyum lelah di wajahnya. “Kamu sudah tertidur selama dua hari. Dokter sudah nyaris panik, karena bagaimanapun juga, janin yang ada di kandunganmu butuh makan.”

Teringat kembali pada semua alasan mengapa aku sampai berada di tempat ini membuat perasaan nyaman yang baru saja kurasakan menghilang. Mendadak aku menyadari ada seseorang di belakang ibuku, seseorang yang sama sekali tak ingin kulihat…

HOEK,

Arya langsung maju, tapi aku membuat gerakan yang menyuruhnya mundur. Entah kenapa, tubuhku langsung memberi reaksi menolak begitu melihat Arya. Sayup bisa kudengar suara Arya memanggil dokter.

Dokter yang menangani kasusku, dokter Bowo, adalah pria tua yang tampak berwibawa dan sangat berpengalaman. Dia memeriksaku sekilas, lalu membuka stetoskop-nya sambil berkata, “Mbak Sania ndak apa-apa, kok, ini namaya ngidam, hal yang hampir selau terjadi pada waniata hamil.”

Arya, Ibu, dan ayahku mendesah lega. Aku tersenyum kecil pada dokter Bowo, tapi saat mataku menangkap sosok Arya, aku tak kuasa menahan rasa mual yang mendadak muncul. Dan aku kembali memuntahkan cairan apapun yang ada di perutku.

Dokter menatapku dengan kernyitan kecil, lalu menatap Arya. “Ah,” katanya kemudian, “Tampaknya penyebab mualnya Mbak Sania ini adalah nggak bisa menatap suaminya sendiri.”

Arya dan orangtuaku sedikit tertegun mendengar pernyataan dramatis tersebut. Tapi dokter Bowo tetap tersenyum dan berkata, “Bukan hal yang aneh, kok, banyak sekali wanita yang nggak tahan melihat suaminya sendiri. Bukan hal yang patut dikhawatirkan. Malah, seringkali hal ini terjadi karena sang istri terlalu menyukai suaminya.” Beliau tertawa penuh arti pada Arya, yang langsung tersenyum puas, membuatku makin mual.

                                                ***

Aku dirawat selama sebulan penuh di rumah sakit dan masih harus menjalani rawat jalan setelahnya. Menurut dokter Bowo, yang harus dikoreksi dariku hanya daya tahan tubuhku yang tampaknya cukup sulit menerima tambahan kecil berupa janin.

Bukannya aku tak menginginkan anakku. Aku mencintainya betapapun dia sangat menyiksaku. Yang membuatku tak bisa menerima keadaan ini adalah orang yang bertanggungjawab terhadap kehamilanku, yaitu suamiku yang memuakkan dan miskin.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku tetap menolak untuk menatap Arya. Setiap kali melihat gayanya yang tak berkelas membuatku ingin gantung diri saja karena kenyataan bahwa dia adalah suamiku. Aku malu. Aku benci padanya. Aku benci karena teman-temanku tahu bahwa dia adalah suamiku. Aku benci melihat tatapan meremehkan teman-temanku pada suamiku. Aku benci semua tentang Arya.

Hari-hari yang kulewatkan di rumah orangtuaku sungguh mudah. Aku tak perlu merasa stress karena tak ada Arya yang harus kulihat setiap kali aku berpaling. Lega sekali. Akhirnya aku bisa berpisah sejenak darinya…

Berpisah.

Itu dia. Astaga, aku heran kenapa hal itu tak pernah terpikirkan olehku. Sungguh simpel. Sederhana sekali. Aku hanya perlu memintanya menceraikanku. Dan bukankah ini saat yang tepat?  Yang akan orang-orang tahu hanya bahwa saat ini aku memang tak ingin melihat Arya karena hormon kehamilan yang tak seimbang. Mereka tak akan bertanya alasan sesungguhnya aku membenci Arya. Aku tak perlu menjalani saat-saat tidak enak interogasi dengan orangtuaku karena aku akan selalu bisa menyalahkan hormonku.

Orangtuaku tak akan menyalahkanku karena aku ingin bercerai dengan suamiku.

Yang segera akan menjadi mantan suamiku.

Dengan senyum puas, aku mulai menyusun rencana.

Aku menarik napas, memikirkan segala keburukan Arya dan nasibku karena dipaksa menerima keburukan itu dalam kehidupanku, dan tanpa lama, air mataku mulai mengalir. Dengan langkah pelan, aku berjalan ke ruang keluarga. Ayahku langsung mematikan tv begitu melihatku menangis.

“Sania, kamu kenapa, Sayang?” Tanya Ibu cemas.

Aku menggigit bibir, lalu berjalan menuju sofa di depan mereka. Aku menarik napas, menatap kedua orangtuaku yang balas menatap penuh khawatir. Sekilas aku merasa bersalah, karena aku tahu orangtuaku pasti sedih sekali mendengar keputusanku ini, tapi aku tahu bahwa inilah hal terbaik yang harus kulakukan.

 “Ayah, Ibu,” kataku memulai. “Maaf, tapi Sania ingin bercerai dengan Arya.”

Hening.

Ayah dan ibuku mentapku seolah mereka tak yakin pada apa yang mereka baru dengar. Mereka melihat keteguhan di mataku, dan akhirnya sadar bahwa ini semua nyata.

“Sania, Sayang, apa yang membuatmu berpikir seperti itu. Cerai itu kata yang besar, Sayang,” kata ibuku, bisa kutangkap nada panik di sana.

Aku mendesah. “Ibu dan Ayah tak perlu berpura-pura tak sadar bahwa rumah tanggaku tak berantakan. Aku tak mencintai Arya, Bu,”

Ibuku menggeleng. “Sayang, ini cuma hormon. Kamu tahu bahwa kamu sangat mencintai Arya. Dokter Bowo juga bilang begitu, kan?”

Aku menggeleng. “Tidak, Bu, aku tetap ingin bercerai.”

“Kenapa?” Ayah akhirnya berkata juga. “Apa alasannya sampai kamu ingin bercerai dengan anak sebaik Arya? Kamu tahu, Arya adalah pria yang diidam-idamkan oleh semua ayah untuk anak wanitanya. Dan kamu harusnya bangga karena Arya memilihmu, Sania.”

Aku mengernyit. Bangga? Yang benar saja! Apa yang bisa  diberikan Arya padaku untuk bisa  membuatku bangga?

“Ayah,” kataku pelan. “Apa Ayah tak ingin melihatku bahagia?”

Ayah menatapku tertegun. “Tentu saja Ayah ingin kamu bahagia…”

“Kalau begitu kumohon, Yah,” kataku, menatap ayahku dengan mata berair, penuh permohonan. Dalam hidupku, aku tak pernah memohon seperti ini, dan kuharap ayahku sadar bahwa aku benar-benar serius dengan keputusanku ini. “Sania serius ingin berpisah dengan Arya.”

Dan tanpa kata lagi, aku berdiri dan masuk ke kamarku, meninggalkan ayahku yang terdiam dan ibuku yang berurai air mata.

                                                            ***

Aku mendapat anak perempuan.

Bayi yang sangat cantik. Aku tak bisa berhenti menatapnya. Dia begitu sempurna, membuatku ingin menangis melihat kerapuhannya. Jika sebelum dia lahir aku mecintainya, aku tak tahu semburan perasaan apa yang menyerbuku sekarang. Jelas ini melebihi level cinta.

Arya menatap bayi yang kupegang dengan bangga. Dia juga mencintai anak ini, yang kuputuskan untuk kupanggil Hana.

“Mirip sekali denganmu,” kata Arya, mengusap lembut kepala Hana.

Aku mengangguk, lalu memberikan anak itu pada Arya, yang menyambutnya dengan senang. Kami menatap memuja Hana, tatapan orangtua bodoh yang menimang anak pertama mereka.

Entah berapa lama kami terlena dalam buaian Hana, sampai akhirnya aku mengatakan, “Pengadilannya dimulai minggu depan.”

Arya berjengit. dia sangat menentang keputusan yang kuambil. Bisa kulihat dia memang mencintaiku, tapi tak ada yang bisa kulakukan. Tak ada Arya di hatiku secuilpun. Aku masih membencinya.

“San, tak bisakah kita bicarakan ini dulu…” Arya memulai.

Aku menggeleng tajam. “Keputusanku sudah bulat, Ya.”  Dan aku tak akan mundur. Aku sudah menunggu-nunggu saat ini, dan aku tak akan mundur. Aku sudah ingin sekali menyingkirkan Arya dari hidupku.

Dan akhirnya saat yang kunanti tiba juga. Dengan perasaan yang campur aduk, tangis membanjir, ketidaknyamanan dengan orangtuaku, akhirnya aku sekali lagi menjadi manusia bebas.

Saat itu, aku bahkan sama sekali tak berpikir bahwa peristiwa ini akan menjadi alasan tangisku tumpah setiap malam kelak.

                                                            ***

Empat tahun kemudian.

“Ibu!”

Aku bisa mendengar teriakan Hana. Dia sedang bermain dengan sepupu-sepupunya, dan mendengar nada suara menahan tangis itupun aku tahu bahwa sekali lagi, Hana terlibat masalah.

“Apa lagi, Han?” tanyaku pada anakku itu. Dia menatapku dengan mata besarnya yang berkaca-kaca.

“Hana  tadi mukul Rani,” katanya, “Terus Rani mukul Hana keras banget…

Aku mendesah. Entah sejak kapan, aku mulai menyadari perubahan sikap Hana. Dia menjadi anak yang ringan tangan dan selalu mencari perhatian dengan cara-cara yang membuat semua orang nyaris membencinya.

Aku tak tahu apa yang salah dengan cara mendidikku.

Aku tahu aku adalah ibu yang baik. Aku tak pernah sekalipun memukulnya atau mengatkan kata-kata yang tidak baik. Aku selalu berusaha menyenangkan dan menjadikan Hana pribadi yang baik. Tentu saja semua itu harus kulakukan sendiri.

Pikiranku pun melayang ke Arya. Empat tahun berlalu, dan Arya masih tetap seorang sosok yang lembut. Dia selalu meluangkan waktunya dengan Hana, bahkan selalu berusaha mengantarkan Hana ke playgroup-nya setiap hari. Dia masih sering berkunjung ke rumah orangtuaku (yang aku tinggali bersama mereka), dan sikapnya masih sangat hormat pada mereka.

Dan aku tahu Arya masih mencintaiku.

Mengingat hal itu, aku merasakan ada yang mengganjal di tenggorokanku yang membuatku nyaris tak bisa menahan tangis.

“Ibu…” rengekan Hana membawaku kembali kealam nyata. Aku memeluk Hana sambil berkata,

“Kenapa kamu memukul Rani?”

Hana hanya mengernyit, tapi tidak menjawab. Dia bahkan tak punya alasan untuk itu. Astaga, apa yang salah dengan anakku? Apakah karena perceraian kami dia menjadi seperti ini?

Aku tak pernah tahu bahwa menjadi single parent sama sekali tak mudah. Aku harus melakukan dan memikirkan semuanya. Aku harus mendidik, merawat, menangis saat dia sakit, dan mencari uang.

Semua kulakukan sendiri.

Bukannya Arya tak membantu. Arya selalu berusaha ikut memikirkan masa depan Hana, tapi aku dan egoku tak bisa menerima semua itu.

Ya, selama empat tahun terakhir, entah apa yang terjadi. Rasanya seperti dijungkirbalikkan. Setahun setelah perceraian, tiba-tiba ayahku bangkrut. Habis. Tak ada sisa sama sekai. Kami harus pindah ke rumah Nenek karena rumah kami yang besar itu harus di jual untuk membayar hutang. Dan dengan tanggungan anak yang begitu banyak, aku tak tega membebani ayahku dengan Hana. Dan akhirnya, akupun bekerja.

Bahkan aku tak menyangka bahwa proses bekerja begitu melelahkan. Sejak tiga tahun lalu, sudah tiga kali aku terkena tipus dan dua kali terkena demam berdarah. Aku harus bekerja keras sekali untuk diriku dan Hana. Kenapa? Karena aku tak bisa menjadi miskin. Sekali lagi egoku menolak untuk menjadi orang miskin. Aku butuh banyak uang untuk membeli semua barang bermerk dan gadjet terbaru. Aku tak bisa tak memiliki semua itu. Aku tak tahan dengan tatapan orang lain jika aku tak memiliki semua itu.

Aku bekerja keras, siang di kantor, malam memasarkan daganganku di internet. Aku berusaha mencari kenalan seseorang, pria yang mampu menanggung diriku dan Hana. Tapi tak ada pria yang cocok. Mereka selalu mundur begitu tahu aku membawa anak. Orang-orang yang mau denganku hanya pria-pria yang belum matang pekerjaannya, dan aku tidak sudi harus bekerja untuk mereka..

Aku mendesah lagi, mengusap-usap kepala Hana.

Tuhan, tolong aku.

                                                            ***

Assalamualaikum.

“AYAH!” Aku mendengar teriakan girang Hana, disusul sprint supercepatnya menuju halaman depan untuk menyambut Arya. Aku memakai jilbab-ku, karena sekarang aku sudah bukan mukhrim lagi dengan Arya, dan menyusul Hana untuk menemui ayahnya.

Aku melihat Hana sangat senang. Arya menggendongnya dan memutar-mutarnya di udara. Mereka tertawa berdua, dan aku tak bisa menahan senyum.

Aku selalu menikmati saat-saat Arya datang. Dia akan membawa keceriaan pada Hana, dan padaku.

Arya nyengir melihatku, dan mendadak aku menyadari bahwa sebenarnya mantan suamiku itu sangat tampan. Arya punya alis yang tebal dan membentuk, dengan mata besar berwarna coklat. Semua itu sangat sesuai dengan tipe wajahnya dan kulitnya yang putih. Perawakannya yang tinggi dan gagah memberi nilai plus yang membuatku bertanya-tanya apa yang membuatku ingin melepaskan orang ini dulu?

Harta. Suara kecil di kepala-ku menjawab.

Aku mendesah. Harta yang dulu tak dimiliki Arya, tapi sekarang…

Aku mempersilakan Arya masuk. Dia duduk di ruang tamu dan mengobrol denagan ibuku dan Hana. Dia sedang menceritakan soal bisnis perumahannya saat aku masuk ke ruangan tersebut dengan membawa sirup dan cemilan.

“Iya, Bu, Alhamdulillah bisnis lancar. Akhir bulan ini akan ada serombongan keluarga yang ingin membangun perumahan untuk mereka sendiri, dan keluarga itu mempercayakan proyek mereka pada Arya,” katanya penuh senyum.

Aku menggigit bibir. Saat keluargaku mengalami keruntuhan ekonomi, Arya justru sedang membangun kerajaannya. Dalam waktu dua tahun, Arya sudah menjadi kontraktor yang terkenal, bahkan sampai ke luar pulau Jawa. Semua itu karena koneksi ayahnya yang tersebar di seluruh pelosok, dan Arya yang mulanya hanya menjalankan ide ayahnya, kini menjadi pemilik perusahaan sendiri. Segera, aku bisa melihat rumah kecil yang dulunya kami tempati disulap menjadi rumah yang cukup luas untuk di tempati lima belas orang, dan motor yang selalu Arya pakai kemana-mana telah berganti menjadi mobil-mobil Eropa seri terbaru.

Arya sungguh berubah.

Tapi semua itu tak membuat Arya membenciku. Tidak sepertiku yang membenci dirinya yang miskin, Arya tidak membenciku yang miskin.

 “Gimana pekerjaanmu, San?” Tanya Arya saat melihatku diam saja.Aku hanya tertawa.

“Doakan saja, Ya, kami sedang berusaha mendesain kain bergambar kartun. Semoga aja laku di pasaran,” kataku seadanya.

Arya tersenyum. “Amin, kalau ada yang bisa aku bantu, bilang aja ya, San,” katanya.

Aku hanya mengangguk, padahal aku tahu aku tak akan pernah meminta bantuan Arya. Aku terlalu malu untuk itu. Bagaimana bisa dulu aku sangat membencinya karena dia miskin dan sekarang aku meminta bantuannya? 

Dan seolah ingin meledekku, tiba-tiba seorang sepupuku datang. Dia gadis berumur dua puluh tahun yang cantik dan cerdas, dan sedang kuliah di jurusan teknik di salah satu universitas negri di kotaku. Namanya Ami.

“Kak Sania, Kak Arya, apa kabar?” sapanya ramah, sambil ikut duduk bersama kami.

“Baik,” jawab Arya, dia tersenyum manis pada Ami, senyum yang dulu pernah dia berikan padaku.

Deg.

Tiba-tiba aku merasakan hatiku sesak.

Aku hanya bias melihat saat Ami dan Arya langsung bercerita panjang lebar masalah bangunan dan sebagainya, hal yang sama sekali tak aku mengerti. Mereka tertawa karena lelucon yang tak aku mengerti. Tapi mereka bertukar pandang aneh, pandangan yang aku mengerti.

Aku akan kehilangan Arya.

Dan aku tahu aku tak mungkin kembali pada Arya. Tidak, karena akulah yang bersikokoh meminta berpisah. Tidak, karena Arya sudah menemukan penggantiku.

Sekilas aku teringat kata-kata Ayah ‘Kamu harusnya bangga karena Arya memilihmu, Sania’.

Dan hatikupun hanya bisa menangis penuh sesal.

Penyesalan tak terhingga karena aku pernah kalah.

Kalah oleh harta.

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...