History of a City

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Donny Muhammad Ramdhan

 

         Aku rasa tidak semua orang bisa belajar tentang arti hidup. Aku cukup heran juga. Bagaimana mungkin orang bisa sulit untuk memaknai hidup padahal mereka hidup! Kita hidup, ya, kan? Aku sendiri sangat mengingatnya, persis setelah aku melarikan diri dari kejaran Kloin Si Tukang Roti sepuluh tahun silam.

“Tikus keparat! Jangan lari!” begitu teriak Kloin sambil menyeret badan gemuknya seraya melambai-lambaikan pengocok adonan. Aku sempat berhenti berlari sekedar menggoda sekaligus menantangnya, dan aku yakin dia tidak melihat senyum nakalku di balik kain rombeng yang menutupi setengah wajahku.

Waktu itu aku masih bocah, mungkin tidak lebih dari dua belas tahun, tapi aku cukup tangkas dan cekatan. Dalam waktu singkat aku bisa meloloskan diri bersama sekotak besar kue panggang berhiaskan gula-gula warna-warni yang konon pesanan Pak Gubernur. Aku berlari memasuki bagian kumuh kota, menelusuri gang-gang sempit nan lembab bak labirin yang terbentuk oleh bangunan-bangunan tak teratur yang kian bertumpuk dan berdesak-desakan. Hasil dari apa yang mereka bilang peradaban….

Aku tahu kemana tujuanku. Labirin itu sudah menjadi lapangan bermainku! Aku tuju gudang tua di dekat pelabuhan yang sudah aku jadikan markas bersama teman-temanku.

Tapi tentu saja, di kota ini banyak hal yang tidak diduga. Ketika aku mendekati markas kami, sudah terbayang kami akan berpesta kue manis persembahan Pak Gubernur, tapi aku berhenti mendekat ketika aku dengar keributan; suara peluit dan teriakan yang silih berganti dan tindih menindih. Dengan menyelinap naik ke atap sebuah gudang pelabuhan, aku melihat markas kami tengah dikunjungi berpuluh-puluh penjaga pelabuhan bersenjatakan pentungan dan peluit. Mereka datang bukan karena kue Gubernur yang aku curi, aku bisa yakinkan kamu soal itu, karena beberapa hari kemudian gudang tua itu berubah menjadi gudang baru bagi saudagar baru di kota ini. Penjaga pelabuhan itu hanya bertugas membersihkan gudang tua itu dari gelandangan dan tikus macam kami.

Sempat aku melihat beberapa temanku yang gagal melarikan diri diseret-seret penjaga dan dipaksa masuk ke sebuah kereta kuda. Aku tidak tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya, juga nasib mereka yang berhasil melarikan diri. Kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak terlalu mengenal mereka. Mungkin mereka sebenarnya bukan temanku, hanya bocah-bocah sebaya yang punya perasaan mutual terhadap latar belakang dan kondisi kami, yang artinya, kami saling membantu sebatas bertahan hidup sebagai tikus jalanan, selebih itu, yah bisa dikatakan, tidak ada kehormatan di antara sesama tikus jalanan….

Aku runut kembali langkahku, turun dari atap gudang itu, meninggalkan markas sebagai masa lalu yang tidak akan pernah lagi akan aku kunjungi.

Kotak kue itu masih aman di dalam pelukanku. Aku menyelinap keluar pelabuhan dan melesak masuk ke dalam keramaian pasar. Kamu tahu? Di setiap kota pelabuhan, pelabuhannya selalu bersebelahan dengan pasar. Hanya saja, meski membantuku sembunyi, ramainya pasar itu tidak memberiku ruang untuk menikmati manisnya kue Pak Gubernur.

Lapar mulai tak tertahankan dan membuatku sembarangan mencari tempat. Aku rapatkan arah langkahku ke pinggir jalan utama pasar, lalu memasuki celah sempit di antara dua bangunan. Setelah agak dalam di celah itu, aku mulai merayap memanjat dinding; sempat berpapasan dengan jendela yang memperlihatkan kamar seorang pelacur bersama pelanggannya, juga sempat memukul seekor kucing yang menghalangi arah panjatanku.

Di atap, aku menemukan sebuah tempat yang bisa aku anggap tempat yang aman; sebuah menara jam tua di ujung jalur utama pasar. Sebenarnya menara itu tidak terlalu aman jika pada kondisi biasa, tapi ketika aku mencapai atap, hujan gerimis tengah turun dan itu cukup untuk melindungi aku dari perhatian orang-orang di bawah. Dengan melompat dari atap bangunan ke atap bangunan yang lain, aku capai menara itu dengan harapan kue manis akan segera meleleh di atas lidahku, hmmmm….

Kamu tentu bisa menduga kalau setiap menara jam di kota manapun memiliki liang palka untuk para petugas, entah itu untuk memperbaiki atau memelihara mesin jam. Melalui lubang itu aku menyelinap masuk. Hati-hati aku memeriksa setiap sudut ruang mesin jam itu, memastikan tiada orang. Lalu aku pilih sudut di samping sebuah jendela dan duduk.

Aku bukan orang beradab—aku cuma tikus jalanan. Jadi, aku rasa aku tidak perlu menjelaskan bagaimana aku makan kue panggang itu. Meski memang aku tengah menikmatinya, sebagaimana tikus umumnya, aku selalu siaga akan sekitarku, karenanya ketika aku dengar suara pintu liang plaka yang terbuka di antara gemeletuk gigi roda mesin jam, aku terperanjat dan mencabut belatiku—sebenarnya bukan belati, ya, tapi sendok yang aku runcingkan dan aku asah hingga setajam pisau.

Aku lihat seorang laki-laki muda berjubah memasuki liang palka itu. Kerudung jubahnya mencegahnya segera menyadari kehadiranku. Ketika dia menyadari kehadiranku, dia sempat terkejut, tapi kemudian dengan ramah dia berkata, “Oh, teruskan saja. Jangan pedulikan aku.” Dia lepaskan jubahnya seraya mendekati sebuah jendela di sudut yang satu sisi dengan sudut jendela tempatku. Dia jadikan jubahnya alas di atas lantai berdebu dan kemudian duduk. Dia membawa semacam tas besar yang tampaknya cukup berat.

Aku masih bersiaga dengan pisauku. Yang aku lihat itu adalah seorang pria muda yang cukup tampan meski kulitnya gelap bekas sengatan matahari. Tapi saat itu juga aku yakin kalau pria itu tidak hanya tampan, tapi juga punya karisma; semacam ada keagungan yang terpancar dari dirinya. Tapi tetap saja karismanya tidak membuat kewaspadaanku mengendur. Terlebih lagi ketika aku melihat ia melepas sebilah pedang dari pinggang kirinya dan meletakkannya di lantai.

Kulihat dia duduk di atas jubahnya sambil membuka tasnya. Dia sempat melirik ke arahku saat mengeluarkan semacam dua buah pipa berwarna keemasan.

“Jadi kau yang merusak pestanya Pak Gubernur? Kue itu kue kesukaannya, kau tahu itu?” ucap pria itu seraya memasang dua pipa keemasan itu saling menyambung, lalu ia arahkan ujung pipa itu ke jendela dan mengintipnya dari ujung yang lain; sebuah teropong.

“Tenang saja,” sambung pria itu dengan mata masih melekat ke teropong itu, “aku tidak akan menangkapmu atau semacamnya. Nikmati saja kuenya.”

Agak ragu aku menurunkan ujung pisauku, tapi tidak aku singkirkan. Aku masih menggenggamnya, dan dengan tangan kiri aku kembali melahap kue curianku. Mataku tetap melekat ke pria itu; aku tidak boleh lengah.

Cukup lama aku memperhatikan pria itu. Lalu mendadak aku memperhatikan sesuatu dari dirinya; aku melihat dia memakai semacam medali yang mengkilat, keperakan dengan butiran permata. Aku memperhatikan medali itu cukup lama.

“Kau akan mencurinya?” pria itu mengejutkan aku. “Bagaimana caranya? Kuharap engkau tidak sampai berniat membunuhku untuk mendapatkannya.”

Aku terpekur dan menatap mata pria itu tajam. Ada marah di dadaku. Tapi, dia malah tersenyum, tanpa aku sangka dia melepaskan medali itu dan melemparkannya kepadaku.

Agak canggung aku menangkap medali itu. Medali itu memang indah. Tidak hanya berhiaskan permata, medali itu memiliki gambar yang aku kenali sebagai lambang kerajaan.

“Apa yang akan engkau perbuat dengan benda itu?” tanya pria itu.

Aku menangkap pertanyaan itu dengan sebuah kenangan pahit. Aku pernah punya seorang teman, dia lebih tua dariku. Dia pernah mencuri sekotak perhiasan dari rumah seorang saudagar kaya. Dia hendak menjualnya ke tukang tadah. Kamu bisa menduga apa yang terjadi? Tukang tadah itu menangkap temanku, dia ambil sebagian dari isi kotak perhiasan itu, lalu mengembalikan kotak perhiasan itu ke si saudagar kaya, dan kemudian si tukang tadah mendapat hadiah dari si saudagar. Aku tidak pernah lagi bertemu temanku.

“Aku hanya mencuri makanan!” geramku seraya melemparkan kembali medali itu.

Pria itu dengan sigap menangkapnya. Dia tersenyum. Kemudian dia membenahi duduknya dan bersandar ke dinding. “Kau mau dengar sebuah cerita?”

Aku mengerenyit heran.

Tanpa mendapat persetujuanku, dia melanjutkan, “Dahulu kala, ada seorang Nabi, seorang Utusan Tuhan, namanya Ibrahim. Dia diperintahkan Tuhannya untuk membawa istrinya beserta bayi laki-lakinya, Ismail, ke sebuah negeri. Negeri itu terletak di tengah padang pasir yang panas. Dia diperintahkan Tuhannya untuk membangun sebuah kota di tengah padang pasir itu. Dia tinggalkan istrinya dan bayinya di padang pasir itu untuk mengumpulkan orang-orang untuk memulai membangun kota. Sepeninggal Ibrahim, ibu dan anak itu kehabisan bekal, dan si bayi mulai kehausan. Si ibu pun meninggalkan bayinya untuk mencari air, dia berlari dari puncak bukit ke puncak bukit yang lain untuk mencari air, tapi sia-sia. Berkali-kali ia berlari sampai kemudian menyerah dan kembali ke bayinya. Dan ketika ia kembali ke bayinya, kau tahu apa yang dia temukan? Dia temukan mata air memancar di dekat Ismail.”

“Kenapa kamu ceritakan ini kepadaku?” tanyaku heran

“Daripada menjadi pencuri, bukankah lebih baik membangun kota sendiri?” jawab pria itu tersenyum. “Dari cerita tadi, yang diperlukan pertama hanya air. Di mana ada air, di situ kita bisa membangun kota. Kau tahu yang lebih menarik lagi? Sebelum membangun kota itu, Ibrahim berdoa kepada Tuhannya, ‘Jadikan padang pasir ini kota yang damai.’ Jadi syarat kedua sebuah kota adalah damai. Lalu Ibrahim melanjutkan doanya, ‘berilah penduduknya kesejehateraan dari segala macam buah-buahan.’ Maka syarat ketiga adalah kesejahteraan.”

“Damai sejahtera,” gumamku tanpa aku sadari.

“Tepat sekali! Damai sejahtera! Sebuah kota harus memiliki keduanya! Sebuah kota tidak bisa memiliki damai saja atau sejahtera saja! Harus keduanya!” seru pria itu. “Dan kau tahu? Ibrahim tidak hanya berdoa sampai di sana. Dia melanjutkan, ‘jadikan kami orang yang tunduk patuh kepada-Mu, begitu pula keturunan-keturunan kami, dan utuslah kepada mereka Utusan-Mu yang membacakan ayat-ayatmu, mengajarkan kitab-Mu dan Hikmah, dan yang menyucikan mereka.’ Kau perhatikan? Kenapa dia merasa perlu berdoa seperti itu? Kenapa Ibrahim merasa perlu berdoa kepada Tuhan untuk mengutus juga Utusan-Nya kepada keturunan-keturunannya kelak di kota itu?”

Terus terang aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Demi Tuhan, aku cuma bocah dua belas tahun! Tapi sepertinya dia tidak peduli dengan usiaku.

Dia melanjutkan, “Kau tahu? Setelah sebuah kota mencapai damai dan sejahtera, maka seiring dengan waktu… muncullah korupsi….”

Aku terpekur. Memang aku tidak sepenuhnya mengerti, tapi dengan mendengar itu aku bisa mengerti kalau dia sebenarnya tidak sedang bercerita tentang kota yang dibangun Ibrahim. Tapi… kota ini….

Aku melirik ke jendela. Damai…, sejahtera…, lalu korup…. Lalu, apa Tuhan akan mengutus Utusan-Nya kepada kota ini?

Aku beringsut tiba-tiba karena sudut mataku melihat pria itu bergerak. Aku melihat dia kembali melekatkan matanya ke teropong. Agak lama dia melihat lewat teropongnya, sebelum dia kemudian berkata kepadaku, “Kau bisa lakukan sesuatu untukku?”

Kemudian aku lihat dia beranjak dan mengayunkan tangannya, memberi isyarat kepadaku untuk mendekat dan melihat lewat teropongnya.

Rasa penasaran seketika melibas keraguanku hingga membuatku berani mendekat dan melekatkan satu mataku ke ujung teropong. Teropong itu terarah ke puncak bukit di ujung kota, karena di sanalah terletak istana gubernur. Dari teropong itu aku bisa melihat dengan sangat jelas deretan jendela di istana gubernur itu.

“Kau melihat jendela ketiga dari sisi kanan istana itu?” tanya pria itu, “Di sana ada lukisan kecil laki-laki berkuda, di balik lukisan itu ada lemari besi, dan aku ingin engkau mengambil sesuatu dari dalam lemari besi itu; sebuah buku, dan hanya itu! Hanya itu yang aku ingin kau ambil. Kau bisa?”

“Kamu ingin aku mencuri di istananya Gubernur?” ucapku tak percaya seraya melepaskan mataku dari teropong itu.

“Kau bisa?”

“Tapi itu istana Gubernur!”

“Lalu? Apa bedanya dengan pasar?”

Aku tercenung. Entah kenapa, kata-kata pria itu membuat hatiku tergerak, seolah-olah ada percikan api yang mulai membakar semangatku.

“Apa imbalannya?” kataku akhirnya.

Pria itu menarik nafas panjang. “Aku hanya bisa bilang, aku akan berusaha membuatmu tidak akan merasakan lagi kelaparan.”

Keningku mengerenyit. Belum pernah aku mendengar ada yang menjanjikan imbalan seperti itu. Dan malah itu membuatku semakin bersemangat.

“Sepertinya tidak akan mudah,” kataku.

Pria itu tersenyum. “Nanti malam Gubernur akan mengadakan pesta, itu kesempatan yang baik. Kau bisa menyelinap dari sini,” pria itu menggeser teropongnya untuk memperlihatkan sesuatu kepadaku.

 

Ini terlalu mudah…, bisik batinku.

Aku tengah memanjat dinding istana Gubernur, berusaha mencapai sebuah jendela. Tidak sulit, karena batu-batu di dinding itu cukup menonjol untuk menopang tubuh kecilku. Sesekali aku berhenti ketika mendengar suara penjaga yang lewat di bawahku. Setelah sampai, aku congkel jendela itu dengan pisauku hingga terbuka. Ruangan itu cukup gelap, tapi tidak terlalu gelap buatku untuk menemukan lukisan bergambar laki-laki berkuda di salah satu sisi dinding. Dan memang dibalik lukisan itu terdapat lemari besi. Aku rogoh celanaku untuk mengambil kunci pemberian pria itu. Aku tidak tahu darimana dia mendapatkan kunci itu, tapi itu jelas bukan urusanku. Aku juga tidak tahu nama pria itu karena, harap dimengerti, dalam “bisnis” seperti ini nama tidak pernah dilibatkan, demi keamanan dua belah pihak.

Aku temukan buku yang dimaksud pria itu. Aku juga melihat butiran permata dan batu-batu berharga, tapi tidak aku pedulikan. Aku ambil bukunya, mengunci kembali lemari besi itu, dan menutupnya kembali dengan lukisan. Aku selipkan buku itu ke punggungku seraya berjalan ke jendela untuk kembali keluar. Tapi, aku urung ketika tiba-tiba aku mencium sesuatu. Aku mencium sesuatu yang lezat.

Rasa ingin tahuku menjauhkan aku dari jendela dan mengendap-endap menuju pintu. Pintu itu tidak dikunci, aku membukanya sedikit dan melihat lorong yang cukup terang. Bisa kucium aroma lezat itu berasal dari lorong itu. Aku juga melihat iring-iringan laki-laki berseragam tengah mendorong beberapa kereta hidangan yang di atasnya, aku tidak tahu hidangan apa itu, tapi dari tampilannya pastilah hidangan lezat. Dan aku ingin mencicipinya.

Kulihat iring-iringan itu berhenti! Seketika aku melihat celah sempit kesempatan, dan aku mengambilnya! Aku menyelinap keluar dengan cepat seraya merendahkan tubuhku dan bersembunyi di kolong salah satu kereta hidangan; aman dalam lindungan taplak putih kereta hidangan itu….

Dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku!

 

Plak!”

Laki-laki tambun itu menamparku sangat keras! Aku mengenalinya sebagai Pak Gubernur. “Dimana buku itu?!” pekiknya ke mukaku.

Ya, aku tertangkap. Aku duduk terikat di sebuah kursi di penjara bawah tanah. Terus terang, sulit aku membayangkan diriku yang dulu kecil terpasung rantai yang sebenarnya untuk orang dewasa.

“Di mana buku itu?” sekali lagi Pak Gubernur berteriak ke mukaku.

Ya, buku itu tidak ada padaku. Sebelum tertangkap aku sempat menyembunyikannya.

Sewaktu di kolong kereta hidangan itu, aku masih merasa aman. Saat kereta hidangan kembali berjalan, aku merangkak cepat mengikuti laju kereta.

Aku masih aman saat mencapai hiruk pikuk meriah pesta, dan akupun berhasil mendapatkan sebutir apel di atas kereta hidangan tempatku sembunyi. Aku juga berhasil menyelinap pindah dari meja hidangan ke meja hidangan yang lain, juga berhasil mencuri beberapa hidangan lezat yang entah apa namanya. Lalu akhirnya, ketika lenganku tengah meraba atas meja untuk meraih santapan yang lainnya, tiba-tiba lenganku ditarik kasar.

“Wah,wah, rupanya ada ti—,” aku yakin siapapun yang menarik lenganku itu hendak menyebutkan kata “tikus” ketika aku menendang—ehm!—lututnya keras-keras hingga aku berhasil melepaskan diri.

Aku berlari sekencang yang aku bisa! Aku menghindar selihai mungkin dari sergapan orang-orang! Sesekali aku menggulingkan meja untuk memperjauh jarak antara aku dan siapapun yang mencoba menangkap aku! Pesta Pak Gubernur hancur dengan kehadiranku!

Mungkin aku memang tolol; kesalahanku mencuri hidangan sebelumnya, kini ditambah lagi dengan kesalahan mengambil arah melarikan diri; aku tuju ruangan asalku sebelumnya. Aku yakin seharusnya aku mencari jalan keluar yang lain, tapi mungkin hanya inilah jalan yang aku tahu. Ketika aku memasuki ruangan itu aku langsung ke jendela, hanya saja aku segera memutuskan tidak jadi memanjat turun lewat jendela itu karena kulihat di bawah jendela para penjaga tengah berlalu lalang mencari aku. Aku terjebak di ruang ini!

Aku segera berpikir mencari jalan keluar yang lain! Hanya saja, entah kenapa yang seketika terpikir adalah sebuah ide; hilangkan barang bukti! Aku ambil buku dari balik punggungku. Buku curian itu kemudian aku ikat dengan robekan kain bajuku lalu menyembunyikannya di jendela dengan menjepitkan ujung kain oleh daun jendela. Sebelum itu, aku sempat menatap keluar jendela, sempat menatap kota di bawah sana, ke menara jam tua di pusat kota. Aku sempat melambai-lambaikan tanganku, berharap pria berjubah itu ada di sana dan melihat aku dengan teropongnya dan tahu di mana aku sembunyikan buku itu.

Kemudian aku berjalan kembali ke pintu, menyelinap dan mencari jalan lain untuk melarikan diri. Tapi, belum jauh dari pintu, sesuatu menghantam kepalaku hingga aku tak sadarkan diri.

Lalu di sinilah aku; terikat rantai di kursi dan harus bertahan dari nafas bau Pak Gubernur yang marah-marah. Oh, ya, aku memang tolol. Seharusnya Pak Gubernur berpikir aku hanya tikus yang sedang mencari makan; tidak menghubungkan bocah kecil macam aku dengan hilangnya bukunya. Aku memang telah menyembunyikan buku itu! Tapi aku tidak membuang kunci lemari besi itu; kunci itu ditemukan di saku celanaku. Oh, tololnya aku….

“Di mana bukunya?!”

Pak Gubernur kembali menyalak ke mukaku. Aku diam, tidak bisa menjawab—bukan karena mulut bau Pak Gubernur. Aku tidak menjawabnya bukan demi keselamatan pria berjubah itu. Atau aku juga tidak menjawab bukan karena kebencianku kepada gubernur. Tapi, aku hanya ketakutan—sangat ketakutan! Aku belum pernah tertangkap sebelumnya, dan sekalinya tertangkap, aku dirantai di penjara bawah tanah istana gubernur. Lidahku kelu karena takut.

“Dia tidak akan menjawab, Yang Mulia,” kata seorang pria berbaju zirah di dekat Pak Gubernur.

“Patahkan jemari-jemarinya!” perintah Pak Gubernur kejam.

“Dia hanya bocah, Yang Mulia,” tanggap pria tadi.

“Jangan katakan kau jadi lemah, Kapten!”

“Ti-tidak, Yang Mulia! Maksud hamba, dia pasti tidak sendirian.”

Kulihat Pak Gubernur termenung sesaat. “Benar juga. Kita bisa menjadikan tikus ini contoh bagi yang lainnya. Baiklah, kita eksekusi dia besok di alun-alun kota!”

Ketika itu aku tidak sepenuhnya mengerti tiap kata yang keluar dari mulut Pak Gubernur, tapi aku bisa mengerti kalau esok aku akan mati….

 

Tidak ada yang bisa ditawarkan ruang sempit dan gelap penjara itu selain lembab, dingin dan hening. Dan tidak ada yang bisa aku lakukan sisa malam itu selain diam dalam penyesalan; batinku merajuk atas kebodohanku sendiri. Kenapa aku mau melakukan semua ini? Aku merasa dikhianati dan dibohongi oleh pria berjubah itu. Tapi kemudian, aku tidak bisa menyalahkannya.

Ya, dia tidak memaksa aku, pikirku. Aku bersedia hanya dengan imbalan janji kalau dia tidak akan membuatku kelaparan lagi…. Dan dia hampir memenuhi janjinya, karena besok aku tidak akan lagi lapar setelah… algojo melakukan tugasnya.

Tiba-tiba aku merasa merinding. Aku sering menghadapi situasi bahaya sebelumnya, tapi aku belum pernah menghadapi wajah kematian senyata ini. Tubuhku merinding makin kuat hingga kemudian terlepaskan oleh rintihan tangis yang juga kuat. Nafasku terpenggal-penggal, dan di antara penggalan nafas itu, aku bersuara, “Wahai Tuhan…, aku tidak ingin mati… aku ingin… aku ingin… membangun kota….”

         

         Pagi telah datang, tapi aku tidak bisa menikmati hangatnya mentari. Aku hanya bisa melenguh lemah saat penjaga mendorong-dorong punggungku. Aku digiring ke alun-alun kota. Banyak orang telah berkumpul, tentu saja untuk menyaksikan akhir dari diriku. Aku tahu kebanyakan dari mereka mengasihani diriku, aku tahu kebanyakan mereka benci dengan kekejaman Gubernur. Dan aku ingin meminta belas kasihan para penduduk kota untuk membela aku. Demi Tuhan, aku cuma bocah….

“Puji Tuhan, dia cuma bocah,” kudengar seorang pria bergumam dan aku sempat menatap matanya. Aku tidak mengenalnya, tapi aku tahu dia seorang pandai besi; pria dewasa yang kekar dan kuat, tapi dari sorot matanya aku tahu dia tidak berdaya untuk menolong dan membela aku.

Di tengah alun-alun kota aku melihat balok kayu telah tersedia, tempat aku menyimpan leherku dan tempat sang algojo mendaratkan kapaknya. Melihat itu aku gemetar, bibirku juga gemetar. Tikus ini telah terpojok, tidak ada lagi cara untuk meloloskan diri. Lepas siang aku akan menjadi seonggok bangkai, dan penduduk kota akan kembali ke kesibukan mereka masing-masing. Aku hanya menjadi jeda yang segera terlupakan dalam hidup mereka.

Pengumuman dikumandangkan dan aku telah disajikan di balok ekesekusi. Aku pejamkan mataku; yakin akan akhir dari hidupku. Oh, saat itulah aku tahu betapa besar arti hidup, dan aku tidak bisa menghadapinya selain dengan penyesalan. Mendadak keramaian alun-alun berganti hening yang tiba-tiba, bak nafas yang tiba-tiba ditahan karena saat-saat kebenaran telah datang! Ayunan kapak sang algojo….

Tiba-tiba aku dengar suara logam yang beradu! Diikuti keributan besar yang kemudian keributan itu dipaksa berhenti dan beralih menjadi gumaman-gumaman orang-orang yang berulang-ulang dan silih berganti.

“Lencana kerajaan….”

“Lencana kerajaan…”

Aku membuka mata dan mendongak. Aku melihat pria berjubah itu di dekatku; tangan kanannya menggenggam sebilah pedang, menahan laju kapak sang algojo, sementara tangan yang lain mengangkat tinggi-tinggi medali yang pernah ia tawarkan kepadaku.

“Pa-Pangeran Avalan,” kudengar suara berat sang algojo memanggil pria berjubah itu.

“Ya-Yang mulia Pangeran,” kudengar suara Gubernur, “apa arti semua ini?”

Pria berjubah itu tidak menjawab pertanyaan Pak Gubernur. Dia berpaling kekerumunan penduduk kota dan berseru, “Wahai penduduk kota! Armadaku berada setengah hari dari cakrawala kalian! Aku telah memerintahkan mereka untuk meluluh lantakkan kota kalian! Dan demi Tuhan dengan senang hati aku akan membiarkan mereka, karena kalian telah membiarkan kelaliman! Kalian telah membiarkan seorang anak dihukum tanpa kalian tahu untuk apa! Kalian tahu apa yang telah dia lakukan? Anak ini telah bersusah payah mencarikan aku bukti atas kejahatan gubernur kalian! Maka dengan ini, dan dengan wewenang yang terlimpah kepadaku sebagai pewaris tahta raja kalian, mohonlah pengampunanku dengan menangkap gubernur kalian!”

Suara pria berjubah itu menggema, namun kemudian disambut keheningan yang mencekam. Keheningan itu hanya sesaat karena kemudian aku melihat seorang dari kerumunan penduduk kota melangkah maju; si pandai besi bersama palunya, yang kemudian diikuti sang algojo, lalu seluruh penduduk kota ikut melangkah maju.

Aku masih merunduk di balok eksekusi, aku tidak bisa melihat seluruh kejadian, aku hanya bisa mendengar. Aku bisa mendengar derap langkah penjaga kota; aku tidak tahu apakah langkah mereka seiring dengan penduduk kota atau untuk melawan. Saat itu aku menyangka sebentar lagi akan terjadi pertumpahan darah, tapi ternyata aku keliru. Tak lama kemudian aku mendengar Pak Gubernur berteriak, “Apa-apan ini Pangeran Avalan!—Hey, lepaskan tanganku!—Hamba tidak bisa terima ini, Pangeran! Hamba tidak bisa terima ini! Ayahandamu akan tahu semua ini! Kau dengar aku! Sang Raja akan tahu ketidaksopanan ini!” Teriakan Pak Gubernur itu menjauh dan makin menjauh.

Aku yang masih merunduk di balok eksekusi dibantu berdiri oleh pria berjubah itu. “Sudah, jangan khawatir, sekarang sudah berakhir,” ucapnya.

Aku diam, tidak bisa menanggapinya. Tapi kemudian aku menjatuhkan tubuhku ke tubuhnya dan menangis keras dalam pelukannya.

“Sudah berakhir sekarang,” bisiknya lembut seraya mengusap-usap kepalaku.

 

Aku hanya tikus, tidak pernah bermimpi menjadi pahlawan, tapi kini aku diperlakukan sebagai pahlawan. Kini aku menjadi tamu kehormatan di istana gubernur. Tapi, aku tidak merasa sebagai seorang pahlawan—bahkan aku tidak merasa terhormat. Pangeran Avalan-lah pahlawan sebenarnya.

Dengan cepat Pangeran Avalan mengambil alih kepemimpinan gubernur. Panji-panji kerajaan mengambil alih dekorasi istana gubernur. Sebelum senja tiba, armada kapal perang Sang Pangeran berlabuh; tidak untuk menghancurkan kota, tapi membantu menjaga keamanan kota dan menegakkan keadilan yang telah lama terabaikan. Aku sempat melihat beliau menunjukkan buku yang aku curi semalam kepada salah seorang laksamananya. Sepertinya buku yang aku curi itu akan memakan banyak korban—entah saudagar mana yang pernah menyuap Gubernur. Tapi sayangnya, aku tidak bisa menyaksikan proses itu. Pangeran menyimpan aku di istana.

Kini hidangan-hidangan terlezat tergelar dihadapanku, tapi sayangnya aku tidak bisa menikmatinya. Alih-alih di pinggir jalan atau di bawah jembatan, kini aku berbaring di atas ranjang besar nan lembut, tapi malam itu aku tidak bisa tidur. Aku merasa… aku merasa tidak layak menikmati semua ini.

Malam makin larut dan udara terasa menyesakan. Aku gelisah. Aku bangkit dari ranjang dan aku buka jendela. Awalnya aku membuka jendela hanya untuk mendapatkan udara segar, tapi kemudian terbersit niat untuk melarikan diri dari istana ini. Tapi, ketika baru satu kakiku menjejak di jendela, aku dikejutkan suara dari belakangku.

“Kuharap engkau tidak berniat melarikan diri.”

Seketika aku membalikan badan dan mendapati Pangeran Avalan berdiri di pintu.

“Oh, tidak! A-aku hanya… aku hanya…,” Aku tidak bisa menemukan alasan untuk menepis kebenaran sangkaan beliau. Aku tarik nafas sejenak sebelum melanjutkan, “A-aku… aku hanya merasa tidak layak menikmati semua ini…, aku hanya tikus. Bukan pahlawan.”

“Ya, engkau bukan pahlawan,” ucap Pangeran Avalan seraya mendekat, “tapi kau juga bukan tikus.”

Beliau kemudian berdiri di sampingku, berdiri menghadap jendela. Beliau menarik nafas sejenak sebelum tangannya meraih medali yang menggantung di lehernya.

“Kau tahu ini apa?” tanyanya seraya menunjukkan medali itu.

“Lencana kerajaan,” jawabku.

“Bukan. Ini hanya logam yang ditaburi batu-batu. Tapi, di balik logam ini ada ayahku yang menjadi raja kita. Di balik ayahku, ada kakekku, dan di balik kakekku ada leluhur-leluhurku yang berhasil menaklukkan kaum Visigoth, dan di balik mereka ada leluhur mereka yang menyeberangi selat Gibraltar, dan di balik mereka ada leluhur-leluhur yang membangun utara Afrika, dan di balik mereka ada leluhur dari semenanjung Arab yang diberi kehormatan berjuang bersama seorang utusan Tuhan bernama Muhammad, yang membacakan mereka ayat-ayat Tuhan, yang menyucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab Tuhan dan hikmah…, dan dibalik utusan itu ada Ibrahim yang berdoa agar diutus utusan itu kepada penduduk kota yang dibangunnya…. Dan Tuhan mengabulkan doanya, tidak hanya untuk penduduk kota suci itu, tapi untuk seluruh umat manusia….”

Aku tercenung sesaat. “A-aku pikir cerita itu hanya dongeng belaka.”

“Itu nyata, dan tertulis dalam kitab yang sempurna. Aku akan mengajarkanmu kitab itu,” ucapnya penuh semangat.

“Ta-tapi aku hanya seorang pencuri, Pangeran… aku hanya tikus jalanan.”

“Hentikan! Kau anak manusia, bukan tikus!”

“Tapi tetap saja aku merasa tidak layak untuk mendapatkan budi baik Pangeran!”

Beliau mendengus sesaat dan menarik nafas panjang sebelum menanggapi aku. “Kamu tahu yang lebih mengagumkan lagi dari kisah itu? Ibrahim berdoa kepada Tuhannya agar mengutus utusan yang membacakan ayat-ayat-Nya, mengajarkan kitab-Nya dan hikmah dan menyucikan penduduk kota suci itu1, tapi Tuhan mengabulkannya dengan mengutus utusan yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan dan mengajarkan kitab dan hikmah2. Kamu perhatikan kalau Tuhan mengubah urutan doa Ibrahim? Tuhan sucikan dulu sebelum mengajarkan kitab dan hikmah! Kamu tahu itu artinya apa?”

Aku menggeleng. Tidak tahu dan tidak sepenuhnya mengerti.

“Itu artinya, jika kau ingin membalas budi baikku, belajarlah dengan giat!” beliau tepuk keningku perlahan. “Sekarang, tidur sana!”

Agak ragu aku melangkah ke ranjang dan menaikinya.

“Aku bisa mengerti kau pernah mencuri,” lanjut Pangeran Avalan seraya menyelimuti aku, “dan itu memang dosa; tidak sepatutnya engkau mengulanginya lagi. Tapi camkan ini, Nak, hancurnya sebuah negeri bukanlah karena merajalelanya para penjahat, tapi karena diamnya orang-orang baik!”

Aku tercenung. Aku tatap mata beliau yang memancarkan kehangatan seseorang yang memiliki rencana besar untukku.

“Tidurlah,” bisiknya seraya beranjak

“Pangeran,” panggilku, “Tuhan mensucikan dahulu sebelum mengajarkan kitab dan hikmah karena… Tuhan sayang terhadap umat manusia. Benar, bukan?”

Beliau tersenyum. “Itu benar. Tapi tidak hanya itu. Tuhan juga hendak mengajarkan kalau ilmu Tuhan dan hikmah-Nya tidak diperkenankan bagi mereka yang hatinya kotor.”

Kembali aku tercenung. Jelas sudah kalau aku mesti banyak belajar.

“Tidurlah. Semoga Tuhan memberkahimu dengan ilmu dan hikmah.”

 

14 Ramadan / 3 Agustus

 

1 Al Baqarah ayat 129

2 Al Baqarah ayat 151

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...